Ketika Laut Murka

 Ketika Laut Murka

Oleh: Naufal Banu Mibras / Santri Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kab. Tegal.


Sudah empat hari lamanya para nelayan tak bisa turun ke laut. Setiap malam, hujan lebat mengguyur. Gemuruh gelombang dan tiupan angin kencang di kegelapan malam seolah menjadi pertanda bahwa alam sedang murka; laut sedang marah. Bahkan bintang-bintang di langit pun seolah tak berani menampakkan diri.

Para nelayan miskin yang menggantungkan rezeki pada laut merasa sangat bersusah hati. Ibu-ibu nelayan terpaksa menjual simpanan emas mereka yang hanya satu atau dua gram demi menyambung hidup sehari-hari. Sementara mereka yang tak memiliki benda berharga, dengan berat hati terpaksa meminjam uang kepada lintah darat.

Namun, di tengah hari-hari sulit itu, pemandangan berbeda tampak di rumah Pak Yono. Ada sebuah “pesta” di sana. Padahal, tidak ada yang menikah, tidak ada yang berulang tahun, dan Pak Yono pun bukan orang kaya. Ia hanyalah nelayan biasa, sama seperti tetangganya yang lain.

Pada hari yang sulit itu, Pak Yono menyuruh istrinya memasak nasi dan berbagai macam lauk-pauk dalam jumlah banyak. Ia lalu mengundang anak-anak tetangga yang berkekurangan untuk makan di rumahnya. Dengan begitu, rengek tangis anak-anak yang kelaparan tak lagi terdengar, digantikan oleh perut yang kenyang dan wajah-wajah yang berseri.

Kini tibalah hari kelima. Pagi-pagi sekali, Bu Yono melapor dengan cemas, “Pak, uang kita hanya tinggal 20.000 rupiah. Kalau hari ini kita menyediakan makanan lagi untuk anak-anak tetangga, besok kita tidak punya uang sama sekali. Belum tentu juga Bapak bisa melaut nanti sore.”

Pak Yono terdiam sejenak. Sosok tubuhnya yang legam melangkah ke luar rumah, menatap keadaan pantai dan langit. Nun jauh di sana, segumpal awan hitam tampak menggantung, menjanjikan cuaca buruk saat petang nanti. Namun, ia kembali masuk ke rumah dan berkata dengan mantap, “Ibu pergi saja ke pasar. Berbelanjalah seperti kemarin, ajak anak-anak tetangga makan. Urusan besok janganlah dirisaukan.”

Bu Yono pun pergi ke dapur dan mengambil keranjang pasar. Seperti biasa, ia patuh pada perintah suaminya. Selama ini, ia tahu Pak Yono selalu sanggup mengatasi kesulitan apa pun.

Sementara istrinya ke pasar, Pak Yono masuk ke kamar untuk berdoa. Ia memohon agar Tuhan memberikan cuaca yang baik nanti petang dan malam hari. Dengan begitu, para nelayan bisa melaut untuk menangkap ikan, sehingga esok akan ada cukup makanan untuk seisi desa.

Siang harinya, anak-anak kembali makan di rumah Pak Yono dengan gembira. Setelah selesai, mereka menyalami Pak Yono dan Bu Yono sambil mengucapkan terima kasih.

“Pak Yono, apakah besok kami boleh makan di sini lagi?” tanya seorang gadis kecil bernama Titi sambil menggendong adiknya. Matanya yang besar dan hitam memandang penuh harap.

Bu Yono hanya bisa tersenyum sedih, tak tahu harus menjawab apa. Namun, dengan suara yang besar dan berat, Pak Yono menjawab mantap, “Tidak, Titi. Besok kamu akan makan di rumahmu sendiri. Kamu dan semua anak-anak ini akan makan enak di rumah masing-masing.”

Titi dan adiknya pun tersenyum. Mereka percaya pada perkataan Pak Yono. Sebagai nelayan berpengalaman, mereka yakin Pak Yono tahu bahwa nanti malam cuaca akan cerah dan para nelayan akan panen ikan.

Kira-kira pukul empat petang, Pak Yono keluar rumah dan memandang ke arah pantai. Laut tampak tenang, angin bertiup sepoi-sepoi, dan daun-daun pohon kelapa bergemirisik ringan. Segumpal awan hitam yang tadinya mengancam kini sirna entah ke mana. Tanpa pamit, ia segera bersiap.

Malam itu, Pak Yono dan para tetangganya pergi melaut. Perahu-perahu meluncur tenang di atas air. Doa Pak Yono terkabul; para nelayan berhasil menangkap banyak ikan. Ketika fajar merekah, perahu-perahu mereka merapat ke pantai, disambut oleh anggota keluarga dengan sorak kegembiraan.

Pak Yono teringat pada anak-anak tetangganya. Tuhan benar-benar telah menjawab doanya. Hari itu, semua nelayan mendapatkan rezeki. Tak ada lagi pesta di rumah Pak Yono, karena semua anak kini bisa makan di rumah mereka masing-masing. Sekali lagi, di atas perahunya, Pak Yono memanjatkan doa syukur yang mendalam.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *