Saya kira Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah keagamaan dan organisasi sosial tidak sepenuhnya dapat dilabeli sebagai organisasi yang terlambat di dalam memberikan respon, sebagai tanggung jawab moral keagamaan, terhadap krisis lingkungan baik dalam konteks keindonesiaan maupun dalam skala yang lebih besar yaitu krisis ekologi global.

Mengapa demikian, hal ini disebabkan oleh core bisnis yang memang tidak didesain dari awal untuk memperlihatkan sensitifitas di dalam kontek problem ekonomi yang notabene hadir dan lebih awal direspon oleh negara-negara maju yang mengalami frustasi berat akibat perkembangan teknologi dan industrialisasi yang tidak ramah terhadap ekosistem hidup mereka.

Memang, jika dibandingkan dengan keberadaa organisasi-organisasi lingkungan di Indonesia seperti WALHi, kiara,  WWF, Greenpeace, dsb tentu saja responnya sistematis tidak dapat ditemukan di dalam dokumen Muhammadiyah sampai akhir order baru. Namun demikian, dalam ekosistem Muhammadiyah terdapat respon-respon seruan moral tanggung jawab keagamaan dalam melihat krisis itu dapat diperlihatkan dari beberapa konten di suara Muhammadiyah pernah memuat tahun 1991 dengan cover yang menggugat: lingkungan,.amanah kemerdekaan lalu ada juga lebih tua lagi menurut kesaksian Habib chirzin bahwa suara Aisyiyah di tahun 1952 kalau tidak salah pernah menurunkan beberapa artikel terkait lingkungan di mana Pak Habib sendiri menuliskan tentang isu polusi pada edisi itu.  Tentu saja itu sangat monumental sekali bagi kita. Bayangkan di tahun 1952 an itu sudah ada isu itu di dalam organisasi yang notabene tidak didesain untuk merespon persoalan ekologi karena core bisnisnya ada di isu pendidikan, pelayanan sosial , dan pelayanan kesehatan. Di abad kedua kemudian muncul “trisula” barunya: pemberdayaan, filantropi, dan kebencanaan.

Saya kira respon-respon yang bisa kita identifikasi sebagai bentuk sensitifitas dan tanggung jawab moral terhadap krisis ekologi sebetulnya bisa dikenali dari bagaimana Muhammadiyah melihat gerak pembangunan atau pembangunanisme yang dimulai dari orde baru yang sangat menonjol dengan berbagai macam proyek infrastruktur Jalan Raya kemudian Bendungan Bendungan besar, dan pembangkit listrik yang tak ramah lingkungan.

Lalu kemudian respon juga dapat dilihat dari bagaimana Muhammadiyah memandang sains dan teknologi yang begitu masif di negara pasca kolonial mengimpor teknologi. Muhammaditah sebagai bagian dari saksi sejarah dakam menyaksikan Transformasi dari Masyarakat agraris menuju masyarakat industrialis baik dalam skala nasional maupun skala internasional sekira Muhammadiyah punya awarness, punya kepedulian terhadap kemanusiaan sehingga sering juga disampaikan oleh pak Haidar Nasir agar perkembangan sains dan teknologi itu tidak menjadikan proses dehumanisasi semakin mengerikan tetapi menjadi satu bentuk revolusi harapan meminjam bahasanya Erich Fromm. Jadi ada harapan di saat teknologi itu menguat pada saat industrialisasi itu muncul memang harus diakui itu ada berkahnya ada musibahnya. Sehingga peran negara itu untuk memastikan bagaimana distribusi berkah lebih ditonjolkan ketimbang distribusi bencana dan petakanya.

Sebagaimana amanah konstitusi tentu saja Pancasila menceritakan tentang keberpihakan manusia terhadap alam yaitu melalui penghargaan terhadap keberagaman itu seiring dan senada dengan keberagaman ekosistem sebagai organ yang harus dijaga keseimbangannya dalam ekologi sosial sama kita bisa belajar dari logika tersebut. Bagaimana kita menghargai multikultural keragaman hayati harusnya menjadi daya dukung kehidupan yang luar biasa bagi kehidupan bersama anak bangsa ini dan tidak sebaliknya menyerahkan berbagai macam kekayaan itu kepada kelompok-kelompok kapitalistik yang tentu saja secara jangka panjang akan mengancam kehidupan bukannya manusia tetapi alam kehidupan keragaman hayati tersebut.

dalam kesempatan ini saya ingin memperlihatkan satu temuan untuk mewakili bagaimana Muhammadiyah merespon krisis lingkungan yang dalam kesempatan ini diwakili oleh kalangan muda. Tentu saja kalangan muda juga tidak pernah sepenuhnya terpisah dari perbuatan dari golongan tua golongan senior, tapi saya ingin tidak melakukan generalisasi yang mengandung sesuatu yang sangat besar yang tidak bisa saya observasi sehingga saya ingin membuat penilaian yang lebih spesifik mengenai respon kaum muda Muhammadiyah sebagai prawacana.

Ada setidaknya tiga respon yang sangat menonjol yang saya lihat ya dalam kontek perwacanaan ekologi di Muhammadiyah yang pertama respon yang saya sebut mendaruratkan. sebagian kalangan anak muda dengan pengetahuan yang sangat besar mengenai isu lingkungan yang dihasilkan dari pembacaan dari media-media diskusi diskusi forum atau terpapar informasi yang melintas di sosial media di berita-berita di kanal-kanal platform sosial media ada gejala anak muda Muhammadiyah merasa ada keterancaman ada kegawatan atau kedaruratan ada krisis yang sangat serius sehingga menjadi bagian kelompok yang sadar bahwa lingkungan hidup tidak baik-baik saja namun praktek mendaruratkan itu tidak semuanya akan berujung pada sebuah model gerakan yang nyata, yang riil dalam kontek ini bisa berjejaring dengan gerakan-gerakan lingkungan lainnya. Saya melihat upaya mendaratkan ini sebagai suatu yang cenderung disimpan dalam hati, cenderung diyakini sebagai sebuah kebenaran tetapi butuh energi penguatan yang luar biasa untuk menjadi sebuah agenda dan komitmen perjuangan.

Tentu saja kita juga mensyukuri adanya kelompok yang menerapkan ini menjadi modal awal, menjadi modalitas perwacanaan untuk menggapai kesadaran yang lebih praksis.

Kedua, kelompok anak muda yang cenderung menormal kan krisis. Barangkali stigma ini tidak sepenuhnya bernada buruk tetapi menormalkan dalam arti ini memang cenderung mengabaikan perkara lingkungan bisa saja disebabkan oleh tidak berhubungan dengan informasi yang memadai, tidak mempunyai komunitas atau tidak bergabung dalam komunitas komunitas yang punya literasi ekologi atau ekoliterasi yang memadai sehingga pengapian ini tidak murni sebuah kesalahan tetapi ini karena ekosistem informasi yang asimetrik ya hal ini kemudian lebih banyak memperlihatkan situasi yang kurang ideal ya dan kadang-kadang kelompok-kelompok yang menormalkan kerusakan lingkungan ini sangat toleran terhadap praktek-praktek ekonomi ekstraktif ya apalagi mereka kalangan kaum muda ini ada juga irisannya anak muda Muhammadiyah yang cenderung menjadi bagian dari perwacanaan untuk mengatakan bahwa eksplorasi atau tambang atau apapun itu membangun infrastruktur itu dibutuhkan. Ada apologi yang di rasionalisasi apalagi mereka menjadi bagian dari rezim ekonomi pertumbuhan, menjadi bagian pendukung rezim infrastruktur dengan segala kelebihan dan kekurangannya tentu saja ini kadang-kadang menjadi polemik di kalangan kaum muda Muhammadiyah. Harus diakui apalagi mereka terhubung dengan rezim kelompok muda Muhammadiyah yang berada berjarak sekali dengan rezim kekuasaan, ada yang sangat dekat ada yang di dalamnya. Tentu saja menjadi sangat dinamis ya dan keduanya punya argumen satu sama lain untuk menjadi alasan melakukan aktivisme di posisinya masing-masing.

Ketiga adalah respon kaum muda yang mengadvokasi. Respon kaum muda yang menga bokashi terhadap krisis krisis lingkungan yang ada banyak sekali persoalan lingkungan yang kemudian menjadi alasan misalnya bagaimana teman-teman kader hijau Muhammadiyah, temen-temen aktivis majelis lingkungan hidup sedikit banyak atau email atau dalam jihad konstitusi, kampanye lawan pembakar hutan, dsb. Saya ingin memberi catatan pada kader muda Muhammadiyah yang bergerak secara aktif mengadvokasi komunitas yang terdampak proyek pembangunan misalnya di tumpang Pitu Banyuwangi di Madura, di Pakel Jember di Wadas, di Semarang, di Rembang yang tentu saja cukup beresiko. Selain itu advokasi perwacanaan juga muncul oleh  kaum muda Muhammadiyah yang tergabung di dalam beberapa komunitas dan lembaga seperti walhi, WWF, jurnalis,   jaringan advokasi tambang juga di ruang literasi misalnya di rumah baca komunitas, mangrove, sedekah sampah,  Imm, save meratus, yang itu semuanya dapat mengakselerasi  kesadaran untuk terus memberikan memberikan peran, memberi kontribusi terhadap misi misi dakwah di bidang ekologi karena kaum muda Muhammadiyah  ini sebetulnya juga mampu membangun narasinya bahwa dakwah di bidang kemungkaran ekologi adalah satu panggilan dakwah yang punya basis spiritual, punya kekuatan kekuatan yang bisa mendorong ideologisasi baru misalnya ada istilah menghijaukan almaun, menghijaukan Muhammadiyah, dan tentu akan mendiblnamisasi dan reaktualisadi visi gerakan Muhammadiyah di abad ke-2.

Saya kira respon-respon advokasi terhadap teknologi perlu dicatat. Apa itu respon-respon terhadap perkembangan teknologi?

John Neisbitt pernah mengatakan :

“sebuah pertemuan revolusioner dari perubahan teknologi telah menyiapkan pentas bagi sebuah lingkungan baru yang akan memberikan kekuasaan kepada individu-individu sebagaimana yang tidak pernah terjadi sebelumnya.”

Kita saksikan ada banyak revolusi yang penting untuk mendapatkan respon dari kalangan kaum muda Muhammadiyah karena beberapa revolusi itu ternyata memiliki dampak yang sangat serius terhadap upaya-upaya membangun kesadaran ekologi yang tangguh.

Kader-kader muda Muhammadiyah yang bergerak dalam isu lingkungan ini sebenarnya juga cukup aware terhadap beberapa perwacanaan yang up to date misalnya betapa banyak sekarang ada kelompok-kelompok keagamaan yang justru bangga dengan aktivitas aktivitas ekonomi yang merusak lingkungan sehingga mereka sering juga mengkritik kenapa mazhab ekonomi di Muhammadiyah itu tidak tidak hijau, kemudian Kenapa di Muhammadiyah seringkali isu kebencanaan itu terpisah berjarak dengan isu-isu krisis ekologi dan yang terakhir adalah prediksi semua kalangan kaum muda Muhammadiyah terhadap siasat kapitalisme yang membajak isu-isu hijau. Sebagian kritik telah terjawab dengan semakin mendekatnya bangak majelis dan lembaga serta tokoh Muhammadiyah terhadap isu krisis ekologi satu dasawarsa terakhir ini.

Kelompok respon ketiga sangat vokal menentang uu cipta kerja dan sejenisnya. Mereka bahkan mengudentifikasi kelompok muda ormas keagamaan yang menjadi pendukung perusak lingkungan yang mereka itu berbaris sebagai pendukung undang-undang Cipta kerja undang-undang Minerba, twk KPK, Pelemahan KPK.

Ada banyak gerak keserakahan mereka berkedok konservasi hutan tetapi sebetulnya mereka sedang mengincar untuk menyingkirkan kelompok adat untuk mengeksklusi kelompok adat sehingga dalam jangka waktu tertentu mereka bisa dengan mudah mendapatkan Keuntungan-keuntungan agraria ya menjadikan kapital tanah. Fenomena Land grabbing  bersiasat hijau itu sudah sangat banyak dasar-dasar yang pura-pura hijau juga sangat banyak.

Hal ini semua telah disoroti sedemikian menarik oleh kader-kader Muhammadiyah dalam beragam forum dan artikel.

Langkah progresif ini tentu saja ini menjadi satu harapan politik baru kaum muda untuk memperkuat Muhammadiyah di bumi yang semakin mengalami degradasi lingkungan yang menghebat. Tentu saja kita lihat respon respon reaktif, respon reformis, respon proaktif yang diperlihatkan oleh kalangan muda Muhammadiyah sehingga menjadi sebuah proses dan dinamisasi dalam gerakan keagamaan sekaligus gerakan yang mendekat dengan isu-isu lingkungan  tanpa kehilangan daya juang spirit ashabiquna al awwalun Muhammadiyah.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

David Efendi

Pegiat Rumah Baca Komunitas dan pendiri LibgenSpace serta aktif di Kader Hijau Muhammadiyah

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link