Pernyataan Menteri Kebudayaan dan Pendidikan (Mendikbud), Nadiem Makarim terkait pembelajaran tatap muka (PTM) pada bulan Juli menuai cukup banyak komentar pro dan kontra. Dilihat dari segi pendidikan, memang lebih baik secara tatap muka karena dinilai lebih efektif dalam proses belajar mengajar.

Mengapa dinilai lebih efektif? Karena pengajar (tenaga pendidik) dapat melihat secara langsung bagaimana respon dan ekspresi peserta didik ketika ia sedang mengajar, interaksi dan komunikasi juga lebih mudah karena tidak ada gangguan sinyal seperti saat daring (dalam jaringan), peserta didik juga lebih terkendali saat berada dalam pengawasan pengajar.

Tapi disisi lain, angka positivity rate Indonesia terus meningkat. Dilansir dari Kompas.com angka laju penularan (positivity rate) virus corona satu bulan setelah Hari Raya Idul Fitri 1442 H, meningkat 30% selama 4 hari berturut-turut. Angka tersebut enam kali lebih besar dibandingkan dengan standar aman yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) yang berkisar di angka 5 persen.

Dari standar tersebut, pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan banyak hal sebelum dibuka kembali sekolah secara tatap muka (offline), seperti fasilitas untuk menunjang protokol kesehatan (prokes), aturan-aturan yang tidak memperbolehkan siswa berkerumun setelah pulang sekolah, dan pemberian vaksin kepada seluruh siswa, tidak hanya untuk tenaga kependidikan saja.

Terlepas dari ungkapan pro dan kontra, kita perlu mengetahui bagaimana caranya menerapkan protokol kesehatan (prokes) dalam rangka menyambut pembelajaran tatap muka (PTM) lagi, setelah hampir 2 tahun pembelajaran secara virtual. Berikut cara penerapan protokol kesehatan (prokes) menyambut pembelajaran tatap muka (PTM), baik di lingkungan sekolah yang mengikuti standar pemerintah maupun di lingkungan pribadi:

Pertama-tama, kita bisa melihat kebijakan dari pemerintah terkait protokol kesehatan yang harus dijalankan kepada setiap institusi pendidikan sebagai bagian dari berlangsungnya PTM ini dan juga sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus maupun timbulnya kasus covid yang baru

1. Siswa yang hadir sebanyak 18 orang atau maksimal 50% dari jumlah keseluruhan

Hal ini bertujuan dengan harapan jika memangkas jumlah siswa di kelas, maka potensi penyebaran virus corona akan semakin rendah, mengingat jumlah tersebut tidaklah banyak dan siswa tidak akan berdesakan maupun berkumpul.

2. Siswa wajib menerapkan protokol 3M

Protokol 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak) merupakan protokol yang paling dasar dalam rangka mencegah penularan virus corona. Siswa juga diharapkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

3. Adanya surat izin mengikuti PTM

Sebagai tambahan, beberapa instansi pendidikan mewajibkan siswanya yang ingin mengikuti pembelajaran tatap muka untuk memiliki surat izin mengikuti sekolah daring. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa orangtua atau wali telah mengizinkan anak-anaknya setelah memenuhi beberapa syarat. Ada juga beberapa instansi yang mewajibkan siswanya untuk mengajukan surat permohonan terlebih dahulu.

Kebijakan protokol kesehatan dari pemerintah ini berlaku untuk setiap jenjang SD, SMP, SMA, dan yang sederajat.

Meskipun pemerintah telah menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang sudah menjadi standar, namun kita sebagai siswa juga diwajibkan untuk memperhatikan kesehatan diri kita sendiri dan tidak hanya menjalankan protokol kesehatan (prokes) hanya sebatas di lingkungan sekolah dan kampus atau bahkan hanya sebatas formalitas saja.

Selain kebijakan protokol kesehatan (prokes) yang diterapkan oleh pemerintah untuk pembelajaran tatap muka (PTM) kita juga wajib untuk menerapkannya hal-hal berikut dalam kehidupan sehari-hari dan di lingkungan luar:

1.Hindari mengkonsumsi minuman dingin

Minuman dingin dapat menyebabkan kita flu, ditambah cuaca saat ini yang tidak menentu kadang hujan kadang panas. Apabila kita sering mengkonsumsi minuman dingin lalu kita sakit, virus akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh kita.

2. Mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi

Dianjurkan untuk menjaga stamina dan imunitas tubuh, agar tubuh tetap dalam kondisi prima dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Kita juga perlu mengkonsumsi vitamin agar tubuh tidak mudah sakit.

3. Tetap dirumah kecuali keperluan mendesak.

Jika tidak memiliki urusan yang mendesak, ada baiknya untuk kita tetap stay at home, atau berada di rumah saja agar kita tidak tertular maupun menularkan virus corona.  Jika memang harus keluar rumah, usahakan tidak berkerumun. Pilihlah tempat yang agak jauh dengan orang lain.

Dengan begitu, harapannya pembelajaran tatap muka ini bisa berlangsung dengan lancar dan bisa meminimalisir penyebaran virus corona di Indonesia. Stay Safe, Indonesia!

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link