Tentang Kritik
Sumber: daras.id
Oleh: Umar Rizki Mardhatillah
Bagi akademisi, kritik adalah “makanan sehari-hari” yang membersamai pendidikan dan karier kita. Mulai dari semester 1, tulisan kita dikritik oleh dosen yang mau meluangkan waktu menulis feedback 3-4 paragraf di esai yang kita kumpulkan. Lalu ketika lulus, kita juga menulis skripsi yang kita pertahankan di depan dosen, dan belajar untuk menanggapi secara konstruktif. Begitu juga ketika S2 dan S3. Setelah lulus? Bahkan untuk menulis artikel jurnal saja kita juga mesti mereview (dalam banyak hal adalah: mengkritik isi tulisan orang lain), menanggapi review, dan memilah review mana yang perlu kita masukkan buat memperbaiki tulisan dan mana yang harus ditanggapi. Menulis buku? Juga ada review, tidak hanya dari reviewer tapi juga editor yang kritiknya biasanya lebih jitu daripada penulis. Begitu terus sampai jadi Guru Besar dimana kita membimbing mahasiswa (mengkritik lagi) hingga mereka menjadi ilmuan yang terlatih untuk dikritik, mengkritik, dan merespons kritik.
Sehingga, sebagai akademisi, kita dilatih untuk setidaknya (1) mengkritik; (2) menerima kritik; (3) merespons kritik, dan yang terpenting (4) memilah mana kritik yang perlu diterima dan diapresiasi, mana yang direspons, dan mana yang cukup dibaikan saja. Ini bukan hanya kita lakukan dalam pekerjaan. Dalam banyak hal karena sudah terlatih menerima kritik kita bisa tahu bagaimana caranya mendengarkan dan merespons jika ada yang mengkritik.
Persoalannya, seringkali kita tidak sengaja memaknai sebagai ‘serangan personal’ atas apa yang kita kerjakan. Hal ini bisa terjadi karena banyak hal. Bisa jadi karena ‘gaya’ kritik: ada yang ‘langsung’ dan ‘tepat sasaran’ tapi terasa menggetarkan jiwa, ada yang ‘sopan’ tetapi sebetulnya menyembunyikan maksud yang lebih dalam, dan ada yang ‘berimbang’: mulai dari kekuatan tapi masuk lebih dalam pada kelemahan. Tapi bisa juga karena ‘emosi’: entah kita yang tidak terbiasa dengan kritik dan hanya terbiasa dengan pujian, karena kita sendiri sedang terbebani oleh hal-hal berat, atau kita seorang politikus yang hidup dengan penuh kecurigaan pada orang lain.
Hal-hal semacam ini sebetulnya wajar dan bisa kita pahami. Namun, problem soal ‘gaya’ atau ‘emosi’ tidak menghilangkan pentingnya kritik. Dan di sinilah sebagai akademisi kita dilatih untuk punya seni dalam kritik. Yang sering dipesankan oleh pembimbing saya dulu adalah: kritiklah sebagaimana kamu makan donat. Fokus pada ‘roti’-nya, dan bukan pada ‘bolongan’-nya. Ada bolongan besar tidak mengurangi rasa nikmat yang ada pada roti-nya. Dan kritik yang diberikan pada ‘roti’ memungkinkan orang lain memperbaiki cara memasak, sehingga rotinya itu bisa dibikin lebih enak. Lho kok malah ngomong donat.
Tapi di hari dimana kita hidup di tengah polarisasi, seni kritik, menghadapi, dan terutama merespons kritik ini menghilang. Ketika ada yang mengkritik, kita justru fokus pada ‘gaya’-nya dan lupa dengan substansinya. Hal ini berbahaya karena ‘gaya’ tidak mengurangi esensi dari kritik. Dan yang lebih parah lagi, kita berhenti pada pembicaraan soal kritik dan lupa cara merespons kritik tersebut. Merespons kritik ini juga ada seninya. Karena ada hal-hal yang perlu direspons dengan fokus pada argumennya (bukan pada orang yg mengkritik), ada kritik yang sebenarnya perlu direspons sekadarnya atau malah diabaikan, dan ada kritik yang harus diterima karena memang bagus.
Pun ketika kita mengkritik, juga kita lupa untuk fokus pada ‘roti’ dan bukan pada ‘bulatannya’. Artinya: kritik memerlukan niat baik, proporsionalitas dan pemahaman yang jitu atas suatu permasalahan. Yang artinya juga memerlukan pandangan jernih untuk bisa berfokus pada isu, dan bukan sekadar ketidaksukaan atas satu dua orang. Sebab ketika satu dua orang berganti, belum tentu orang lain yang menggantikan akan lebih baik jika akar sebab masalah yang kita kritik tidak terselesaikan.
Ketika kita berfokus pada ‘gaya’ kritik dan bukan pada esensi atau respons terhadap kritik tersebut, kita akhirnya mencurigai orang yang mengkritik. Menganggap punya hasrat untuk mengkritik secara berlebihan atau meminta orang yang mengkritik punya solusi. Padahal fungsi kritik bukan untuk diberikan solusi. Karena kadang-kadang kitalah yang lebih tahu apa solusi kita, dan bukan orang lain. Tetapi kritik orang laih sebetulnya tetap valid, karena itu merefleksikan hal lain yang lebih luas: yaitu kondisi yang mungkin tidak nyaman. Dan salah satu cara untuk mengubah kondisi yang tidak nyaman itu adalah dengan kritik.
Omong-omong soal kritik, baru ingat kalau hampir 10 tahun lalu pernah menulis buku berjudul “Nalar Kritis Muslim Abad XXI” (Saga, 2017). Semoga masih relevan dan terutama: semoga masih beredar di pasaran.