Yogyakarta, 22/07/21. Pembagian daging qurban dusun Kanoman kemarin siang, tiap satu girik atau kupon mendapatkan 4 kresek. Kesek besar, daging sapi. Kresek tanggung, tulang sapi. Kresek kecil, jeroan sapi. Kresek transparan, kambing (daging & jeroan).

Wuih banyak sekali..
Benar, banyak sekali. Ada 8 sapi dan 1 kambing yang disembelih.

Apa yang istimewa di pelaksanaan Qurban Kanoman tahun ini?
Yaitu dilaksanakan dengan menjaga prokes. Dulu, hampir semua warga terlibat, baik saat penyembelihan, pemotongan, hingga pembagian. Kami pun pernah ikut.. untuk gayeng-gayeng hidup rukun bertetangga, walau kami adalah pendatang. Yang dibawa adalah pisau yang tajam, karena di sana harus siap potong-potong daging.

Tidak sibuk sekali. Hanya bantu-bantu. Istilahnya ngentheng-ngenthengi. Bila diperlukan, segera sigap membantu, di bagian mana pun. Bila dirasa sudah cukup, yang istirahat.

Kerja bareng akan dijeda saat adzan dhuhur berkumandang. Waktunya shalat dan makan. Beberapa panitia ibu-ibu telah menyiapkan makan siang di rumah salah satu warga. Kami pun makan bersama. Semacam pesta dusun. Saat itulah kami berkesempatan duduk bersama dalam sebuah kerja tim besar. Persaudaraan terasa memiliki keindahannya.

Tahun ini, panitia menerapkan prokes. Menghindari kerumunan adalah hal yang diutamakan. Rapat pun diselenggarakan oleh RW dan RT. Sosialisasi pelaksanaan disampaikan via grup WhatsApp RT. Ada 4 RT di dusun Kanoman, yaitu RT 01, 02, 03 dan 04. Saya kira ini menarik dalam konteks dinamika dan perkembangan kemasyarakatan desa. Teknologi dimanfaatkan dengan baik untuk media komunikasi.

Apakah ada hal menarik lagi?
Ahaaa.. tentu. Tahun ini, di Idul Adha 1442 H, panitia membuat alat pemotong tulang dan alat peroboh sapi. Dipimpin langsung pembuatannya oleh Pak Biin Ketua LPMD. Pak Muhajir Kesra Banyuraden mensosialisasikannya di grup WhatsApp PKK RT 01, sehingga kami ibu-ibu menjadi tahu info terbaru terkait pelaksanaan penyembelihan hewan qurban kali ini.

Mbak Yuli istri Pak Biin juga menginfokan alat peroboh sapi yang dibuat. Pak Muhajir melengkapi gambarnya secara detil. Subhanallah wal hamdulillah. Hati berbunga dan ikut bangga. Karya anak bangsa mustilah dihargai dengan apresiasi positif seluruh warga Kanoman. Tentu saja alat-alat itu dibuat untuk memudahkan pelaksanaan tugas, meminimalisir orang dan mempercepat dan melancarkan proses penyembelihan hingga distribusi.

Di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung. Demikian bunyi peribahasa yang saya dapatkan saat sekolah. Memajukan desa, memampukan desa untuk berdaya adalah tanggung jawab kita bersama. Melihat sisi-sisi yang dapat dikembangkan adalah sebuah tantangan bagi masyarakat akademik. Tidak mudah, namun bukan tidak mungkin.

Dari mana mulainya?
Mulainya dari apapun yang bisa kita lakukan, kita berikan. Perkuat solidaritas. Sesungguhnya keadilan itu dimulai sejak dalam alam pikiran. Kita pun tahu, innamal a’malu binniyyah, sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya. Bila kita sudah meniatkan dan membulatkan tekad untuk memajukan masyarakat menuju masyarakat utama, akan Tuhan bukakan jalan-jalan kemudahan menuju pencapaiannya, perwujudannya.

Bagi orang yang berusaha sungguh-sungguh, Tuhan meminjamkan tangan penolongNya. (Aeschylus)

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Sri Lestari Linawati

akrab disapa Lina. Pegiat literasi ini adalah penggagas BirruNA, PAUD Berbasis Alam dan Komunitas. Aktif di RBK, Komite SDN Kanoman dan kini mengabdi sebagai dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link