Nama Ziauddin Sardar mungkin lebih banyak dikenal di tanah air sebagai pengkritik ide Islamisasi pengetahuan khususnya yang dikembangkan oleh Ismail Raji Al Faruqi. Walaupun sebenarnya jika seorang membaca karyanya secara kritis maka akan didapatkan satu kesimpulan bahwa Sardar termasuk seorang intelektual yang meyakini dan juga memperjuangkan ide islamisasi pengetahuan –dalam arti mengacu pada model yang dikembangkannya sendiri. Di luar debat soal Islamisasi pengetahuan, Sardar sebenarnya merupakan intelektual yang juga dikenal sebagai futurolog, walau bukan dalam arti yang positivistik karena ia justru dikenal mengambil banyak prinsip-prinsip postmodernisme dalam membangun argumennya. Mungkin lebih tepat jika Sardar dikategorisasikan sebagai seorang futurolog “postnormal” karena perspektifnya yang unik dalam rangka menafsirkan realitas yang dipandangnya mengandung uncertaincy(ketidakpastian) sehingga membutuhkan kerangka baru dalam memaknai realitas yang tengah terjadi saat ini.

Sebagaimana eksponen Islamisasi pengetahuan yang lain –semacam Faruqi dan Al Attas-, Sardar juga memiliki kontribusi dalam pengembangan gagasan environmentalisme yang berakar dari tradisi peradaban Islam. Dalam konteks inilah menjadi penting untuk mengkaji bagaimana pemikiran Sardar terkait environmentalisme yang sekiranya dapat dijadikan inspirasi penting bagi siapa saja kalangan yang bergerak dalam perjuangan penyelamatan lingkungan hari ini.

Merujuk pada pengantar Sardar pada karya yang berjudul Touch of Midas, kita dapat melacak gagasan environmentalisme Sardar pada kritiknya terhadap rancang bangun sains kontemporer. Sardar menganalogikan sains dengan dengan sentuhan Midas dalam mitologi Yunani. Analogi yang dikemukakan Sardar menjadi menarik untuk dielaborasi lebih lanjut. Alasannya dengan memahami analogi tersebut kita dengan mudah menemukan kekeliruan dari sebagian kalangan yang berusaha membela sains dari berbagai “patologi” yang ditimbulkannya.

Midas dalam mitologi Yunani adalah seorang raja yang mendapatkan kekuatan supranatural berupa mampu merubah apa saja yang disentuhnya menjadi emas. Pada awalnya sang raja begitu kagum dengan kemampuan barunya tersebut. Akan tetapi lama-kelamaan kekuatan barunya tersebut justru mencelakakannya. Sebagai contoh untuk makan saja dia kesulitan karena apapun yang disentuhnya –termasuk makanan- menjadi emas ketika ia hendak mengambilnya. Tentu pencernaan sang raja tidak di desain untuk mencerna emas hasil sentuhannya tersebut. Tidak hanya masalah makanan, bahkan ketika sang raja tidak sengaja menyentuh anak perempuannya sendiri maka sang anak berubah menjadi patung emas. Akibat berbagai kemalangan yang menghampirinya tersebut, pada akhirnya sang raja meminta pada dewa Yunani Dionisos untuk mencabut kekuatannya tersebut. Dionisos mengabulkannya dengan cara memberikan petunjuk untuk mencuci tangannya di sungai Paktolos.

Mitos Yunani diatas secara menarik dipakai oleh Sardar untuk menunjukkan problem sains modern saat ini. Sebagaimana sentuhan Midas, sains telah menghasilkan apa yang tidak terbayangkan manusia sebelumnya. Ekplorasi dan eksploitasi dunia menjadi suatu hal yang dimungkinkan. Akan tetapi ketakjuban dan kegembiraan manusia dengan perkembangan sains tersebut pada akhirnya berujung sebagaimana kasus Midas. Justru kehidupan yang sebelumnya dapat ia nikmati –makan dengan tenang, bercengkrama dengan anak tercintanya- menjadi sirna digantikan oleh “kepedihan” akibat kekuatan supranaturalnya tersebut. Begitu pula sains hari ini yang menghasilkan aneka kecemasan, ketakutan, dan perasaan ngeri lainnya semisal dengan diciptakannya senjata pemusnah massal hingga munculnya teknologi yang semakin hari merusak lingkungan yang kita tinggali.

Melalui analogi tersebut Sardar hendak memberikan penyadaran pada kita semua bahwasanya sains tidak bisa dipisahkan dari aplikasinya di lapangan. Tidak sekedar sebuah proyek riset semata (terlebih lagi membatasinya di laboratorium yang terpisah dengan kehidupan manusia). Artinya bagi Sardar sains adalah sebuah “paket” yang tidak bisa dipisahkan –yang dalam bahasa Sardar unified system-. Sehingga kita mesti menerima akibat dari sains sebagai bagian tak terpisahkan dari eksistensi sains itu sendiri.

Analogi Midas ini membawa kita untuk memahami secara kritis bahwa rancang bangun sains kontemporer dapat dikatakan ikut bertanggung jawab terhadap problem lingkungan global yang kita hadapi saat ini. Hal ini berbeda dengan posisi sebagian “pembela” sains yang mencoba memisahkan antara sains sebagai proyek riset dan dampak dari sains sehingga kritik terhadap sains menjadi tidak dimungkinkan. Bagi Sardar upaya untuk memisahkan dua ranah tersebut justru menghalangi kita untuk mendiagnosis problem utama yang mesti kita hadapi dalam upaya penyelamatan lingkungan. Tanpa diagnosa yang tepat kita hanya akan berputar-putar pada problem yang non fundamental. Posisi Sardar ini dapat dikatakan memiliki sisi kebenaran karena tanpa kritik yang “menghunjam” ke jantung permasalahan maka upaya untuk mencegah kerusakan lingkungan tidak akan optimal atau bahkan sekedar solusi yang sifatnya kosmetik belaka jika meminjam istilah Nasr.

Sardar secara lebih jauh menunjukkan relevansi analogi sains dengan sentuhan Midas dengan mengetengahkan kritik sains dari para saintis kontemporer itu sendiri. Sardar menyebut pengakuan para saintis tersebut sebagai bagian dari gerakan “protesting scientist” yang bermakna bahwa mereka protes terhadap status quo pengembangan sains saat ini yang mendaku netral. Padahal telah terbukti secara empiris banyak problem yang tidak terpisahkan dari perkembangan sains tersebut. Diantara contohnya ialah pengembangan senjata nuklir, peningkatan jumlah sampah sebagai hasil dari industri modern, menipisnya sumber daya alam akibat memuja gagasan growth (pertumbuhan ekonomi), dan deretan “patologi” lain yang menyertai pengembangan sains selama ini.

Para saintis tersebut juga protes terhadap status saintis sendiri yang menjadi mirip “quasi religious figure” yang cenderung anti kritik. Adanya “imunitas” pada diri saintis  ini tidak dapat dilepaskan dari jargon netralitas sains sehingga para saintis menjadi pihak yang tidak dapat dipersalahkan dari apapun dampak yang muncul dari riset yang mereka lakukan. Menariknya justru kalangan saintis yang tergabung dalam gerakan “protesting scientist” tersebut tidak rela dirinya “disakralkan” sedemikian karena justru akan semakin menjauhkan interaksi para saintis dari dunia di sekelilingnya. Membuat sikap reflektifnya menjadi “tumpul” karena merasa tidak ada yang bermasalah dengan hasil kerja mereka selama ini.

Mungkin muncul sebuah pertanyaan terkait kisah Midas, dimana sang raja kemudian meminta pada dewa Dionisos untuk mencabut kekuatannya tersebut dengan cara mencuci tangannya di sungai Paktolos. Apakah maknanya Sardar ingin membawa kita pada sikap anti sains? Apakah bermakna bahwa proyek sains yang telah berkembang sedemikian rupa saat ini perlu dihentikan sama sekali? Dapat dikatakan Sardar tidak mdnorong kita untuk memiliki sikap anti sains. Analogi tentang sentuhan Midas bagi Sardar lebih dimaknakan pada kesadaran sang Midas akan kesalahan yang diperbuatnya. Dalam konteks ini munculnya kesadaran pada kalangan saintis tentang ada suatu yang salah adalah penanda penting bagi Sardar untuk memulai sebuah perubahan. Bukan dalam arti membuang sains, memaksa para saintis untuk meninggalkan pekerjannya, atau bahkan yang lebih buruk mempersekusi para saintis tersebut. Satu langkah yang mesti didorong adalah transformasi rancang bangun sains dengan aksiologi yang baru yakni memasukkan prinsip nilai –dalam bahasa Sardar social responsibility– dari proyek pengembangan sains tersebut. Sehingga para saintis sedari awal dikondisikan untuk bersikap bijak dalam membangun kerja intelektualnya.

Upaya Sardar untuk menguatkan argumennya dengan mengetengahkan fenomena munculnya gerakan  “protesting scientist” tersebut sebenarnya juga menguatkan posisi Sardar dari potensi serangan dari para “pembela” sains “ortodoks”. Dimana adanya gerakan protes dari para saintis sendiri tersebut menunjukkan bahwa di kalangan saintis sendiri sebenarnya sudah merasa ada yang tidak beres sehingga ide reorientasi sains menjadi suatu hal yang mendesak untuk dilakukan. Eksistensi gerakan protes tersebut menjadi satu pelengkap penting dari analogi Midas yang dibangun Sadar yakni kondisi dimana Midas menyesali perbuatannya. Bagitu pula yang terjadi dalam kasus sains, dimana para saintis mengakui bahwa dalam kerja mereka selama ini mengandung problem besar. Apa yang kemudian perlu kita lakukan justru mendukung “pertaubatan” para saintis tersebut dengan ikut serta mendorong perubahan pada rancang bangun sains kontemporer agar dapat mengintegrasikan aspek nilai –social responsibility– di dalamnya. Adalah suatu sikap yang salah jika kita justru menghalang-halangi upaya “pertaubahan” dari saintis tersebut dengan terus memasang sikap “defensif” sehingga dampak destruktif dari sains tidak dapat diurai sedemikian rupa karena mempertahankan “ortodoksinya”.

Penekanan pada nilai -atau social responsibility- dalam upaya reorientasi sains membawa Sardar pada penegasan soal apa nilai yang semestinya dipakai untuk pengembangan sains ke depannya. Sardar kemudian masuk dalam tradisi peradaban Islam khususnya dalam tradisi fiqh untuk merumuskan sistem etika baru yang sekiranya relevan dalam proyek reorientasi sains. Bagi Sardar konsep fiqh tentang halal dan haram sangat relevan untuk menjadi nilai baru dalam pengembangan sains. Konsep Halal disini bermakna pengembangan sains yang berorientasi pada kemaslahatan manusia (individu dan masyarakat) dan juga perlindungan terhadap lingkungan. Sementara konsep haram adalah sebaliknya, dimana upaya pengembangan sains yang memperkuat tirani manusia atas manusia lainnya dan menimbulkan kerusakan alam maka menjadi suatu hal yang mesti dicegah.

Sebagai penutup, satu hal yang dapat kita renungkan bersama dari gagasan environmentalisme ala Sardar ini ialah penekanannya pada aspek etika. Pentingya integrasi antara nilai dalam proyek pengembangan sains itu sendiri. Namun berbeda dengan Al Attas misalnya yang menekankan etika dalam arti yang lebih berorientasi pada kontrol diri (jiwa) individu tetapi etika Sardar ini lebih menekankan pada etika yang sifatnya struktural. Dalam konteks ini kita dapat menyatakan bahwa  tradisi yang dikembangkan Sardar mungkin dapat dikategorisasikan sebagai “tradisi fiqh lingkungan”. Sementara Al Attas yang lebih dekat dengan ide virtue ethic mungkin lebih tepat dikategorisasikan sebagai “tradisi etika lingkungan”. Tentu ide keduanya tidak perlu dipertentangkan tetapi menjadi bagian penting untuk memperlihatkan bahwa ada kekayaan ide environmentalisme yang berbasis pada penggalian terhadap tradisi peradaban Islam. Satu hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana tradisi intelektual tersebut dapat menginspirasi dan memperkokoh perjuangan penyelamatan lingkungan baik dalam konteks Indonesia maupun secara global.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link