Program pemberdayaan desa berbasis komunitas, saat ini tengah digalakkan di pelbagai wilayah di Indonesia. Satu dari sekian banyak desa yang sangat serius menerapkannya adalah Desa Panggunghardjo, Sewon, Bantul. Hari minggu, (16/11/20) kemarin, telah berlangsung kegiatan Sarasehan Sekolah Rakyat Desa Panggunghardjo yang diprakarsai oleh Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Desa Panggunghardjo.

Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 10 pagi  di Aula Tempat Pengkajian Al-Qur’an RUQ ini, berlangsung secara luring namun  tetap mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Komunitas yang hadir pada kegiatan sarasehan antara lain, PAUD Among Siwi, RUQ, Sekolah Alam Akar Rumput (SEKAR), Kampung Dolanan, Yayasan Sanggar Inovasi Desa serta Rumah Baca Komunitas (RBK) yang baru saja bergabung.

Dalam sambutannya, Bapak Wahyu menyampaikan ucapan terima kasih kepada komunitas yang hadir, setelah itu beliau mulai memperkenalkan masing-masing komunitas beserta capainnya. Beliau juga sempat menjelaskan program kerja Yayasan Sanggar Inovasi Desa yang baru didirikan.

“Yayasan Sanggar Inovasi Desa didirikan oleh Pemerintah Desa Panggunghardjo guna menstrukturkan pengalaman baik yang ada di Desa Panggunghardjo dan desa yang lain menjadi sebuah pengetahuan untuk diduplikasi dan direplikasi.” Pungkasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa Sekolah Rakyat merupakan awal dari ide besar yang sedang dicita-citakan bersama. “Sekolah Rakyat Desa adalah embrio yang sedang kita dorong terus untuk mewujudkan gagasan Akademi Komunitas.”

Tiap-tiap komunitas yang hadir turut memberi masukan tentang proyeksi kegiatan akan datang. Mereka bersepakat bekerja sama guna meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya yang ada di dalam Desa Panggunghardjo maupun di luar desa. Dengan adanya sinergitas antar komunitas yang ada, harapan akan pembangunan desa yang partisipatif dan berkesinambungan serta mensinergikan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dengan pemerintah, akan terealisasi maksimal selaras dengan Permendes PDTT 17 Tahun 2019 Tentang Pedoman Umum Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah pembahasan lokasi kegiatan komunitas yang akan menjadi laboratorium bersama. Menanggapi pembahasan lokasi yang berpusat di Taman Hati Pertiwi itu, Cak David Efendi selaku pendiri RBK angkat bicara.

“Ekosistem ini seperti potongan surga kecil yang perlu diperjuangkan.” Komentarnya.

Di luar aula, para pegiat literasi RBK menyediakan perpustakaan keliling berisi bahan bacaan dari pelbagai pembahasan. Tujuannya adalah untuk memberi ruang kepada masyarakat yang ingin mengakses bacaan dengan mudah. Sebuah bentuk kepedulian terhadap pembangunan sumber daya manusia dalam hal pengetahuan umum. Ke depan, RBK mengaku akan lebih fokus melakukan kegiatan pembinaan, penelitian serta pengembangan minat baca masyarakat. Tentunya dengan dukungan dari teman-teman komunitas lain.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Avatar

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komputer UGM, Pegiat Literasi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link