Sosok Said Nursi mungkin tidak asing di mata publik Indonesia, khususnya di kalangan umat Islam. Namanya disebut-sebut sebagai salah satu pihak yang gigih memperjuangkan pengubahan Hagia sophia kembali menjadi Masjid setelah sebelumnya pemerintah republik Turki memutuskannya untuk mengubahnya menjadi museum seiring dengan kejatuhan Ottoman. Tulisan ini tidak akan mengelaborasi kontroversi di seputar konversi Hagia Sopia, tetapi lebih menyoroti sosok Said Nursi tersebut. Wacana tentang perjuangan Said Nursi mengembalikan Hagia Sophia hanyalah satu sisi dari kehidupan tokoh Islam asal Turki tersebut. Ada berbagai sisi-sisi lain dari kehidupan dan pemikiran Nursi yang sayangnya tidak mendapatkan elaborasi lebih detail, termasuk idenya soal lingkungan hidup. Padahal ide tentang lingkungan hidup yang dikembangkan Nursi misalnya terkait erat juga dengan upaya Nursi membangun dialog dengan agama lain –khususnya Kristen- untuk mengatasi problem lingkungan. Sehingga menjadi menarik untuk mengelaborasi gagasan Said Nursi terkait dengan environmentalisme agar kita dapat memahami sosok Nursi secara lebih holistik.

Tulisan ini berargumen bahwa gagasan environmentalisme Nursi tidak dapat dilepaskan dari ide Nursi tentang “sustainable development” yang berbasis pada kerangka Islam. Sehingga sejatinya apa yang diperjuangkan Nursi bukan sesuatu “ide yang cenderung asbtrak” yang sebagaimana dikemukakan sebagian pengkaji Nursi, tetapi suatu gagasan yang didorong oleh situasi yang sifatnya lebih “kongkrit” yakni kebutuhan transformasi sosial di wilayah Turki. Dimana bagi Nursi proses transformasi tersebut mestilah dibangun di atas landasan etika yang kokoh sehingga efek destruktif terhadap lingkungan dan juga manusia bisa diminimalisir.

Tulisan ini akan mencoba mengelaborasi tradisi “sustainable development” yang dikembangkan oleh Nursi yang menurutnya merupakan solusi bagi problem Turki saat itu dan juga dunia secara umum yang dilihatnya makin menunjukkan perubahan ke arah yang semakin destruktif baik terhadap alam atau sesama manusia.

Gagasan “sustainable development” yang dikembangkan oleh Said Nursi dapat ditelurusi pada diagnosis permasalahan bangsa Turki yang dikemukakannya pada berbagai kesempatan, khususnya pada masa Said Tua –istilah khas Nursi sendiri untuk menggambarkan periode kehidupannya di era Ottoman-. Tiga permasalahan krusial yang menurutnya mendesak untuk ditanggulangi mencakup problem poverty, ignorance, dan disunity (kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan) –sebagaimana juga ditegaskan oleh peneliti Nursi Thomas Michel dalam karyanya Insights from the Risale-i Nur-.

Poin penting yang perlu dipahami dari diagnosa ini ialah disunity menjadi sentral dalam cara berfikir Said Nursi. Bagi Nursi, dengan mengatasi problem disunity tersebut barulah problem ignorance dan poverty dapat diatasi dengan baik. Konsep disunity yang dimaksud oleh Nursi dapat dimaknakan menjadi dua hal yang saling terkait yakni disunity dalam arti sosiologis dan filosofis. Dalam arti sosiologis, disunity ini terkait dengan pembilahan masyarakat secara diametral di era Ottoman akhir (sebelum keruntuhannya). Pembilahan sosial ini salah satunya ditandai dengan pembilahan tajam antara kalangan “tradisionalis” yang menghendaki preservasi status quo dengan kalangan muda Turki yang menghendaki perubahan dengan menjadikan modernitas Barat sebagai modelnya. Bagi Nursi pertentangan ini tidak produktif bagi kemajuan Turki karena hanya akan menghasilkan deadlock politik akibat pembilahan tersebut.

Munculnya disunity secara sosiologis ini tidak dapat dilepaskan pula dari masalah filosofis yakni adanya dualisme dalam logika berfikir di tengah masyarakat Turki. Kalangan “tradisionalis” yang salah satunya dimotori oleh kalangan agamawan dan para sufi menekankan pasa sisi “olah batin” melalaui sistem pendidikan tarekat (tekke) dan madarasah (medrese) –yang juga dikelola oleh tarekat sufi-. Sementara pada sisi lain kalangan akademisi menekankan pada sisi “oleh pikir” melalui sistem pendidikan “modern” (mekteb) mereka.

Menariknya pada masa Ottoman akhir, kalangan akademisi ini semakin mendapatkan posisi strategis dengan izin Sultan untuk membuka universitas Istanbul yang kemudian menjadi basis pengembangan keilmuan mereka. Ide-ide positivisme –yang menjadikan sains modern sebagai motor utama kemajuan bangsa- juga berkembang pesat di Turki baik melalui pembacaan buku-buku akademik barat maupun dengan upaya menjalin kontak dengan para akademisi barat yang memperjuangkan ide ini seperti August Comte –bapak sosiologi modern yang juga pendukung kuat positivisme -. Dengan kata lain pembelahan sosial dan juga filosofis antara kedua kalangan ini semakin menimbulkan disunity di wilayah Turki.

Disunity ini mencapai puncaknya dengan “kekalahan” pihak “tradisionalis” dengan tumbangnya Ottoman. Republik Turki baru memungkinkan kalangan “muda” Turki untuk menghentikan deadlock dengan cara Yang lebih opresif dengan membatasi gerakan lawan termasuk berupaya menutup sistem pendidikan tradisional mereka. Walau dapat dikatakan kalangan “tradisionalis” tidak menyerah begitu saja. Konflik inilah yang bagi Nursi terus menerus menghalangi upaya untuk memajukan bangsa Turki ke depannya.

Said Nursi meyakini bahwa disunity inilah yang menghalangi upaya mengatasi problem ignorance dan poverty. Maka bagi Nursi mengatasi disunity menjadi prasyarat dua problem lainnya dapat diselesaikan. Bagi Nursi cara untuk mengubah disunity ke unity dapat dilakukan dengan perubahan pada sistem pendidikan sebagaimana dituliskannya pada koran Kurdish Teavun ve Terakki bertanggal 5 Desember 1908 –dipublikasikan ulang di website risaleinur-. Dari model pendidikan yang memisahkan dua keilmuan menjadi model pendidikan yang mengintegrasikan dua tradisi keilmuan tersebut.

Ide “integrasi ilmu” dapat dikatakan sudah diperjuangkan oleh Said Nursi sejak masa Ottoman tersebut hingga akhir hayatnya. Maka tidak heran jika Said Nursi membayangkan dapat membangun madrasah Az Zahra dimana visi integrasi ilmu menjadi fondsinya. Dari sistem pendidikan baru berbasis visi “integrasi ilmu” inilah diharapkan Nursi dapat mengurai “ketegangan” dua belah pihak dan juga yang terpenting menjadi fondasi untuk mengatasi dua problem krusial yang diderita bangsa Turki yakni ignorance dan poverty.

Ide “integrasi ilmu” yang dimunculkan Said Nursi sendiri menjadi penting untuk ditelusuri. Dapat dikatakan Said Nursi berupaya “menambal” paradigma sains modern yang menurutnya cenderung mereduksi realitas. Satu istilah menarik yang diperkenalkan Nursi untuk mengkritik cara pandang sains modern ini ialah dengan menyatakannya hanya menekankan aspek self referential meaning (ma ‘na-ye ismi)  tetapi melupakan sisi the other indicative meaning (ma ‘na-ye harfi). Bagi Said Nursi ibaratnya sebuah buku, cara pandang sains tersebut membuat alam layaknya “poorly read picture book” –sebagaimana disebutkan oleh Necati Aydin dalam karyanya Said Nursi and Science in Islam-.

Satu analogi menarik untuk menggambarkan reduksi alam di bawah lensa sains modern saat ini ialah dengan mengenalogikan alam sebagai cermin. Cermin dapat dipandang sebagai entitas yang memiliki sisi self referential meaning (ma ‘na-ye ismi)  sekaligus  the other indicative meaning (ma ‘na-ye harfi). Pada sisi self referential meaning (ma ‘na-ye ismi) cermin merujuk pada eksistesinya sendiri sebagai sebuah benda yang memiliki komponen-komponen penyusunnya. Misal kayu, kaca, hiasan, dan lain sebagainya. Sains modern membatasi cermin pada bentuk materialnya ini sehingga cenderung menghasilkan gambaran yang “poorly read picture book”. Alasannya karena tidak ada nilai yang melekat pada benda bernama cermin tersebut kecuali nilai material dari komponen-komponen yang menyusunnya.

Padahal bagi Said Nursi, ada aspek lain yang melekat pada cermin itu yakni ia memantulkan bayangan (gambar) dari realitas termasuk diri manusia yang memandangnya. Dalam konteks inilah cermin tidak hanya sekedar benda dengan kaca sebagai bagian pentingnya saja tetapi ia adalah sarana untuk memudahkan aktivitas manusia. Bayangkan meskipun cermin secara “material” tergolong “murah” tetapi tanpa benda yang penting itu manusia akan kesulitan melakukan berbgaai aktivitasnya. Misal tanpa cermin kita tidak akan tahu hasil cukur rambut kita, tanpa cermin kita akan sulit berkendara, tanpa cermin kita akan kesulitan berdandan. Sehingga ada nilai yang sangat besar maknanya dari sekedar nilai material semata. Cermin menjadi bagian penting menopang eksistensi kita sebagai manusia.

Sebagaimaan cermin, alam pada hakikatnya juga merupakan “cermin besar” yang memungkinkan manusia untuk mefleksikan eksistensinya. Alam adalah “cermin” dari kemahakuasaan Tuhan sebagai penciptanya. Melalui alam kita dapat “melihat” kemahakuasaan Tuhan secara gamblang sehingga kita akan menyadari hakikat spiritualitas diri kita.

Secara panjang lebar Said Nursi berupaya menegaskan dalam karyanya bahwa kemahakuasaan Tuhan dapat ditemukan dengan menggunakan cara pandang baru tentang alam yang tidak reduktif. Kita tidak akan membahasnya secara terperinci di sini. Tetapi misal Said Nursi menjelaskan dalam Risalah Nurnya bahwasanya alam ini tersusun dengan sangat kompleks dan saling terkait. Bagi Said nursi kompeksitas dan interkonektivitas alam dimana satu bagian saling menopang bagian yang lain layaknya satu tubuh. Hal ini menunjukkan kemahakuaan Tuhan yang merancangnya. Sebab tanpa adanya kemahakuasan Tuhan maka kompeksitas yang memungkinkan alam ini tetap bekerja dengan baik tidak akan terjadi. Karena satu kerusakan atau malfungsi dari kompekstitas ini akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekologis. Menariknya, malfungsi inilah yang dalam kajian ekologi kontemporer mendapatkan sorotan tajam khususnya dengan berbasis kerangka metabolic rift yang secara khusus melihat pengaruh aktivitas manusia dalam mengubah keseimbangan dari tubuh ekologis yang kompeks dan teratur ini sehingga menyebabkan berbagai efek destruktif baik bagi manusia maupun juga masa depan kelestarian alam itu sendiri.

Satu hal yang patut diperhatikan bahwa Nursi tidak mengingkari sains modern yang dianggapnya sebagai sarana penting untuk menyingkap hakikat dari alam ini. Namun yang menjadi persoalan adalah kemudian sains modern dengan mereduksi alam menjadi entitas yang tidak memiliki makna “eksistensial” tertentu bagi manusia. Upaya reduksi inilah yang kemudian ia tolak dengan menegaskan bahwa eksistensi alam juga sebagai penanda akan kemahakuasan Tuhan.  Dalam istilah Nursi alam bukan hanya mengadung sisi self referential meaning (ma ‘na-ye ismi)  tetapi juga mengandung sisi the other indicative meaning (ma ‘na-ye harfi).

Dengan cara pandang inilah bagi Nursi pengembangan sains secara otomatis juga akan memasukkan unsur etik di dalamnya karena sains tidak hanya sekedar memahami alam dalam posisinya sekedar sebagai “obyek penelitian saja” tetapi sebagai “obyek renungan eksistensial” sehingga mendorong manusia untuk mendayagunakannya secara bijak karena adaya aspek sakralitas di dalamnya.

Lebih jauh, melalui cara pandang baru ini pula gagasan integrasi antara sains dan agama menjadi tidak terelakkan karena agama dalam hal ini menjadi sarana untuk memahami pesan-pesan dari Tuhan yang Maha Kuasa tersebut secara lebih detail –termasuk di dalamnya larangan berbuat kerusakan di muka bumi termasuk perintah untuk tidak berbuat zalim terhadap sesama manusia-. Maka Tidak heran jika Nursi mendefiniskan Quran sebagai “penjelasan buku alam semesta” sebagaimana disebut dalam salah satu karyanya The words –yang merupakan bagian dari Risalah Nur-.

Dapat dikatakan konsepsi Said Nursi untuk memahami alam dalam dua sisinya tersebut (ma ‘na-ye ismi dan juga ma ‘na-ye harfi) juga akan semakin membantu manusia untuk memahami konsep amanah yang melekat pada dirinya sebagai ciptaan Tuhan . Sebagai informasi, sosok semacam Faruqi misalnya, yang juga mengembangkan “teologi lingkungan” berbasis paradigma Tauhid, menyebut posisi manusia sebagai kholifah dimaksudkan untuk mengemban amanah yang diberikan Tuhan tersebut kepada dirinya. Dimana manusia dituntut untuk memperbaiki bumi ini, menjadikannya lebih baik dari keadaan saat sang manusia itu hidup. Dengan kata lain tugas memakmurkan bumi menjadi bagian integral dari konsep amanah tersebut. Dapat dikatakan posisi Faruqi dan Said Nursi berkaitan dengan eksistensi manusia dan kaitannya dengan tugas transformasi sosial yang berwawasan lingkungan memiliki paralelitas pada tingkat ini. Cara pandang non reduktif terhadap alam akan membantu manusia menyadari hakikat kemanusiaannya sendiri dan juga akan merubah cara berelasinya dengan alam semesta berbasis pada sistem etika yang lebih detail sebagaimana ditunjukkan dalam Quran.

Menarik untuk memahami logika Said Nursi bahwasanya integrasi ilmu inilah yang kemudian menjadi fondasi mengatasi problem poverty, ignorance, dan disunity. Secara eksplisit Nursi menyebut -dalam karya Damascus Sermonnya– dua solusi yang hadir sebagai upaya mengejewantahan ide integrasi ilmu tersebut yakni science dan industry. Perlu diingat bahwa rancang bangun science yang dimaksud Said Nursi merujuk pada science yang berbasis pada logika intergrasi tersebut sehingga ketika diaplikasikan kepada masyarakat tidak akan menghasilkan dampak yang destruktif pada alam dan sesama manusia. Dengan kata lain Nursi sejalan dengan Sardar yang ingin mengambangkan sains yang dibangun dengan aspek etika yang tinggi sehingga tidak cenderung “lepas tangan” ketika ada berbagai patologi yang muncul di tengah masyarakat akibat perkembangan teknologi tersebut.

Begitu pula dengan istilah industri yang dipakai Said Nursi. Istilah ini mesti dibedakan dengan penggunaannya di Barat saat itu karena sebagaimana dinyatakan oleh akademisi pengkaji Nursi semacam Hakan Yavuz dalam artikelnya Nur Study Circles (Dershanes) and the Formation of New Religious Consciousness in Turkey, Said Nursi memang sering menggunakan istilah-istilah khas dunia modern yang sering menggunakan analogi mesin dan pabrik- namun dengan spirit yang tidak sepenuhnya sama (alias non mekanistik). Dengan kata lain industri dalam konteks ini mengacu pada industri yang ramah lingkungan.

Dalam bahasa yang lebih makro, konsep science dan industry yang dimaksud Said Nursi memiliki paralelitas dengan ide “sustainable development” yang berbasis pada paradigma integrasi ilmu tersebut. Harapannya sedari awal memiliki cara pandang yang berbeda dalam “berinteraksi” dengan alam dan manusia sehingga dapat mencegah potensi destruktif yang mungkin ditimbulkan dari pembangunan tersebut. Sebagaimana kita saksikan hari ini ide pembangunan menjadi sangat peyoratif karena seringkali justru menimbulkan dampak ekologis yang besar dan hanya menguntungkan sebagian kalangan elit saja. Hal inilah yang mestinya dirubah dimulai dengan menyelesaikan problem disunity melalui reformasi pendidikan.

Sebagai penutup, di awal kita menjelaskan bahwa Said Nursi berupaya membangun dialog dengan dengan agama lain –khususnya agama Kristen- salah satunya terkait dengan upaya untuk menyebarluaskan ide “sustainable developmentalisme” yang dikembangkannya tersebut. Said Nursi paham bahwa logika pembangunan yang dikembangkan oleh Barat ini -dan kemudian mulai menyebar ke berbagai penjuru dunia di masa hidupnya- memiliki potensi destruktif yang sangat besar. Dibutuhkan satu kerjasama yang sifatnya global untuk memastikan pembangunan tidak bergerak ke arah destruktif tersebut.

Dengan kata lain sedari awal Said Nursi sudah mengadopsi visi lingkungan yang tidak membatasi aktivitasnya pada teritorial tertentu misal Turki semata tetapi menjadi problem global umat manusia. Karena misalnya meskipun kesadaran baru akan pembangunan yang berbasis pada visi integrasi ilmu tersebut dapat diaplikasikan di Turki, tetapi ketika tidak menjadi perhatian di belahan bumi lainnya maka hasilnya tidak akan cukup kuat.

Terlebih lagi, Said Nursi pernah mengalami masa Perang Dunia I secara langsung dan masih hidup hingga berakhirnya perang dunia II tentunya menyadari kondisi pembangunan yang makin bergerak ke arah destruktif tersebut, salah satunya dengan penekanan pada industri militer yang memiliki dampak sangat mematikan (perang dunia II ditandai misalnya dengan munculnya bom atom). Kondisi tersebut tidak lagi dalam batas-batas teritorial tertentu tetapi telah menjadi satu ancaman kemanusiaan  yang sifatnya global.

Terkait dengan dunia Kristen yang secara khusus menjadi sasaran dialognya karena dapat dikatakan masyarakat Barat secara tradisional beragama Kristen. Said Nurudi sekiranya memandang menjadi penting untuk membangun aliansi dengan  dunia Kristen dalam upaya untuk membentuk satu kesadaran baru akan perlunya logika pembangunan yang lebih menghargai aspek spiritual dan etika.

Thomas Michel, seorang akademisi yang memiliki perhatian terhadap karya-karya Nursi –dia sendiri berlatar belakang Jesuit- secara khusus menyebut dalam karyanya Christian-Muslim Engagement bahwa dalam konteks membangun dialog dengan dunia Kristen –khususnya dengan masyarakat Kristen Barat- secara khusus Said Nursi menegaskan bahwa dirinya tidak sedang mengkritisi sains Barat secara total. Bagi Nursi, sains telah menghasilkan berbagai kemajuan yang penting bagi manusia. Akan tetapi yang dikehendaki Nursi adalah membangun kerjasama lintas peradaban untuk memastikan agar memastikan perkembangan sains dan juga ide pembangunan itu tidak mengalami prores pemiskinan akibat cara pandang yang reduktif terhadap alam yang pada akhirnya justru menghasilkan “self destructive civilization” alias peradaban yang sedang menggali kuburnya sendiri.

 

 

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link