Pagi ini, ketika terbangun dari tidur untuk segera bergegas melakukan penjemuran tubuh di matahri pagi. Memang belakangan ketika wabah Pandemi Covid-19 sedang merajalela, masyarakt dianjurkan untuk lebih sering berjemur. Menurut para ahli virus tidak dapat dibunih oleh obat, melaikan harus dengan imun tubuh. Oleh karenanya berjemur dibawah terik matahari pagi dapat meningkatkan imun tubuh. Terlebih untuk aku yang terhitung mulai kemaren yang di tetapkan sebagai ODP karena nekat menuruti kemauan orang tua untuk mudik.

Tubuhku masih terasa lelah, tadi malam tidur sangat larut karena masih harus menyesuaikan dengan suasana kamar lagi untuk bisa nyaman dengan kondisinya. Berjemur di pelatarana rumah sembari membaca buku yang telah lama ku beli namun baru sempat kubaca. Buku sejarah yang diangkat dari desertasi sejarahwan Belanda tuan Remi Limpach tetentang kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia. Nikmat rasanya bisa bersahabat dengan buku kembali, tapi memang gadget punya daya tarik sendiri untukku. sembari membaca beberapa kesempatan aku membaca story teman-teman di WA. Ada salah satu story dari salah satu teman yang memang intes sekali dengan isu-isu ekologis. Dia bercerita tentang kemirisan hatinya melihat kurangnya simpati temen-temen di grup mahasiswa daerah kami tentang isu-isu kerusakan lingkunagn di daerah. Bahkan dirinya berargumentasi jika kukar tidak akan mati oleh Covid-19 justru akan kiamat karena lingkungannya sudah rusak. Memang sehari sebelumnya ada rekan kami membagikan info terkait aktivitas pertambangan illegal di desanya yang tetap berjalan di tengah wabah atau pandemi ini.

Mirisnya lagi ketika masyarakat memaksa menghentikan justru mendapat intimidasi dan ancaman dari pemilik tambang tersebut.

Bukan lagi hal yang tabu lagi mendengar istilah tambang illegal bagi kami yang tinggal di Kalimantan timur, bahkan beberapa dari kami hidup dan besar dilingkungan sekitar pertambangan. Hati akan meringis ketika melihat kondisi hutan lewat udara, tandus sekali tak sehijau yang dibanyakan banyak orang. Bahkan lubang-lubang yang mengaga lebar tidak di reklamasi dengan jelas bisa kita lihat dan juga hitung. Rasanya hasil kesepakatan dunia bahwasanya “Borneo” sebagai paru-paru dunia udah di ingkari. Bagaiman bisa menjadi paru-paru dunia jika kondisi hutannya saja sudah tak perawan lagi. Gilanya,  juga ditambah kebijakan relokasi ibukota ke Kaltim, memang pada akhirnya bukan tahura yang dijadikan sebagai lokasinya, namun siapa yang bisa menjamin tahura disekitarnya dengan kondisi yang tidak perawan tersebut masih bisa di pertahankan, pasti akan menjadi imbas pembangunan juga pada akhirnya.

Ada hal menarik dari kalimat pada story teman tersebut, dirinya menuliskan “Kukar kiamat lingkungannya sudah rusak, bukan karena Covid-19”. Kalimat tersebut merupakan teguran keras sebenarnya kepada kita yang takut kepada Covid-19 tapi tidak memperkarakan bumi yang terus-terusan diperkosa. Aku teringat dengan salah satu esay yang di tulis oleh Bosman Batubara beberapa waktu yang lalu. Ia melihat pandemic Covid-19 sebagai momentum revolusi ekologi, dengan karakter  revolusionernya si virus yang notabene unsur non-manusia  dari penyebab revolusi. Lanjutnya Bosman Batubara berpendapat bahwa Covid-19 merebak karena habitatnya hidupnya sudah tidak ada sehingga mengincar manusia sebagai inangnya. Hematku yang dimaksud dengan habitatnya adalah ekosistem alam, karena berbagai spekulasi ahli bahwa Covid-19 ini berasal dari hewan-hewan liar, walaupun secara eksplisit yang menyatakan kebenaran hal tersebut.

Terlepas dari hal tersebut, kita bisa mengambil sudut positif bahwa apa yang terjadi hari ini adalah akibat dari sebab yang telah kita lakukan. Semsta sedang ngambek dengan sikap dan perilaku kita yang hari ini begitu kelewatan. Rakus dan tamak terhadap alam, menganggap sebagai makhluk yang paling sempurna dan paling berhak untuk menguasai bumi. Sebagai makhluk yang paling berakal, sehingga terlalu sombong bahwa makhluk lain tidak punya peran penting dalam keseimbangan alam semesta (ecological balances).

Ada sebuah bagian dari buku yang menjadi favorit saya dan hal ini relevan dengan realitas yang terjadi hari ini. Dalam bukunya Masanobu Fukuoka menulis satu bagian yang sangat mempengaruhi diriku beberapa waktu belakangan. Judulnya bagiannya saja sudah sangat jelas untu menyampaikan maksudnya “Sederhana Saja, Layani Alam dan Semuanya Baik”. Kalimat judul tersebut sangat dalam dan mengena, dalam part tersebut Tuan Fukuoka mengjak untuk tidak belebihan dalam memperlakukaan alam. Hal itu akan memisahkan manusia dana lam itu sendiri yang berakibat dengan kesengsaraan.

Hal itu jelas sesuai dengan apa yang kita rasakan, ketika unsur manusia dan non-manusia tidak seimbang hanya kesengsaraan yang kita terima pemanasan global yang ekstream, meluruhnya lapisan ozon,  kualitas udara yang tidak wajar kadar karbonnya, racun pestisida,  gunung plastik,  dan semua ulah manusia yang mencelakai alam, menciptakan kesesengsaraan-kesengsaraan di bumi. Haruslah disadari, pada akhirnya jika alam ngambek memboikot manusia maka neraka ini juga akan memusnahkan manusia.

Idealnya kita sebagai manusia harus bijaksana dan tau diri dalam memperlakukan bumi ini. Hari ini kita merasakan dari akibat yang kita perbuat sendiri. Selain itu kita juga tidak boleh melepasakan unsur non-manusia dari perputaran semseta ini. Tuan Fukuoka juga berpesan bahwasanya manusia harus mensto pencarian keuntungan pribadi yang hanya mensensarakan makhluk lainnya dan menanamkan kesadaran tersebut sebagai sebuha kesadaran spiritual.

Akhirnya kita harus menyadari bahwa semesta sedang ngambek hari ini, tugas kita adalah membujuknya untu kembali berperilaku kepada kita yang menghuninya.

Caranya bagaimana? Ya dengan memperlakukan makhluk lainnya dengan bijaksana dan menata ulang relasi yang adil terhadap planet bumi. Saat ini saat terbaik untuk melakukan pertaubatan ekologis bukan malah genderang omnibus law yang meneror alam semesta yang dikumandangkan.[]

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Tengku Imam Syarifuddin

adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas, Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Pemerintahan UMY

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link