Jalan Tol Jalan Terus

Oleh: Alhafiz Atsari

Judul: Menaja Jalan
Penulis Jamie S. Davidson
Penerbit dan tahun: Insist Press, 2019

Tak terbersit sedikitpun untuk membeli buku ini. Tanpa ceramah-ceramah kebijakan kota oleh Abdullah Zed Munabari dan kebaikannya untuk menalangi pre order buku terbitan Insist Press ini, tentunya buku yang baik ini tidak akan sampai ke tangan saya.

Buku Menaja Jalan karya Jamie S. Davidson ini secara apik memaparkan bagaimana ide pembangunan jalan tol menyeruak di dalam setiap rezim pemerintahan Indonesia. Dengan narasi ekonomi yang dikampanyekan oleh Orla, Orba dan Reformasi dimana “kehadiran jalan tol akan mendorong laju ekonomi”, mampu menutupi muslihat politis yang menjadi tujuan utama.

Di awali dengan minimnya anggaran dan keahlian akan ide jalan tol, agenda-agenda privatisasi dan liberalisasi dituangkan dalam bentuk UU maupun peraturan lainnya untuk mengundang investor yang ragu akan negara miskin dan tak menjanjikan ini.

Ledakan harga minyak dunia pada masa Orba menjadi salah satu stimulan ampuh yang membuat ide pembangunan jalan tol mendapatkan momennya. Tapi apa daya, kesempatan untuk melejitkan sebuah bangsa yang baru beralih kuasa (Orla ke Orba) pun disesaki oleh praktik penyelewengan oleh anak-anak Soeharto yang mulai tumbuh dewasa.

Di bawah tampuk kekuasaan sang ayah, anak-anaknya mampu mendapatkan akses-akses pinjaman istimewa yang menghantarkan mereka menjadi konglemerat raksasa. Tapi Soeharto tak serakus itu, dia juga mendistribusikan kuasanya ke kroni-kroni kelas menengah Indonesia dan beberapa pribumi dan tionghoa kaya raya.

Semua keberhasilan ini diciptakan oleh stabilitas dan (baca: pelibatan tentara) untuk memuluskan proyek-proyek ambisius yang merugikan rakyat biasa. “Keterlibatan mendalam mereka dalam bisnis telah mengalirkan pundi-pundi yang jauh melampaui kebutuhan pemenuhan anggaran mereka. Selain menghisap kekayaan…, masing-masing kesatuan militer selama Orde Baru memiliki perusahaan dan yayasan-yayasannya sendiri.” (Hlm. 35).

Ini sudah menjadi keumuman rakyat Indonesia pada masa Orba, siapapun yang melawan (baca: menolak tanahnya dijual) komando sang Jendral, sudah barang tentu intimidasi dan pelabelan komunis tak terelakkan.

Malapetaka yang meruntuhkan kerajaan bisnis Soeharto dan anak-anaknya serta kroninya pada 1998 dimana krisis sudah menderu negeri ini di awal 90an. Kemudian, Digantikan oleh para reformis yang menduduki pos-pos strategis pemerintahan reformasi, ide pembangunan jalan tol juga dilanjutkan oleh Megawati dan SBY. Tujuannya adalah sama, menyelesaikan pembangunan jalan tol lintas Jawa, dan berujung kegagalan.

Jika tentara di bawah komando Soeharto mampu dengan mudah menjawab tantangan pembebasan lahan dengan merampasnya atas nama kepentingan umum. Dibenturkan oleh desentralisasi dan demokratisasi yang menjadi semangat reformasi dengan ambisi pemerintah pusat menyelesaikan tol lintas jawa, koersifitas tentara adalah jawabannya (hlm. 199).

Namun, pemaparan terkait kerugian dan intimidasi yang dirasakan rakyat jawa khususnya akibat proyek jalan tol lintas jawa yang selesai pada era Jokowi ini belum secara utuh dipotret.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup