Bulan April tidak hanya menjadi daftar dari urutan bulan yang ada dalam setiap tahunnya. Lebih dari itu, tepat tanggal 21 April telah menyimpan momentum penting dalam merawat ingatan masyarakat yang ditandai hadirnya sosok perempuan tangguh pejuang emansipasi perempuan Indonesia yang dikenal dengan R.A. Kartini alias Raden Ajeng Kartini. Kartini merupakan potret perempuan Jawa kalangan Bangsawan yang bersahaja dibuktikan dengan spirit anti kolonial dan anti feodalisme. Kartini lahir di Jepara, pada 21 April 1879 dan tutup diusianya yang ke 25 tahun (1904). Dalam usia yang terhitung masih muda Kartini sudah meninggalkan banyak karya besar yang menjadi kebanggan dan sumber inspirasi banyak kalangan sampai hari ini misalnya, dalam bukunya Habis Gelap terbitlah Terang yang merupakan kumpulan tulisan dengan sejumlah sahabatnya di Eropa.

Tak heran atas jasa perjalanan panjang perlawanan dan pembebasan kartini untuk emansipasi perempuan diapresiasi melalui gelar kehormatan dengan penetapan Kartini sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno. Namun, siapa sangka dibalik penobatan gelar pahlawan tersebut, Kartini merupakan korban nyata pergulatan politik etis Belanda yang hendak menutup aksi kebiadaban yang serakah, melakukan perampokan dan kekerasan selama berlangsungnya sistem tanam paksa. Kala itu Belanda melakukan beautifikasi dengan menampakkan citra keadaban yang berhasil membangun negeri jajahan yakni dibuktikan klaim Belanda berhasil melahirkan Pribadi Pintar yang ada pada sosok Kartini kala itu dan juga mendirikan proyek besarnya membuat Yayasan Kartini. Sejalan itu, nama Kartini sebagai subjek penting kala itu terus menyebar luas bukan hanya tekstual melainkan visual. Kartini tampil dengan segenap keanggunan mempesona dengan khas Jawa. Itulah mungkin mengapa alasan saat ini tradisi perayaan hari Kartini terus mengalir dan identik dengan simbol kebaya khas Jawa.

Terlepas dari hal itu, pasca penokohan Kartini menjadi sosok pahlawan perempuan nasional nyatanya bukan hanya untuk dijadikan teladan di masyarakat untuk pejuang masa depan melainkan, juga digunakan beberapa kalangan untuk membangun dogma tentang pentingnya value pada proses pembangunan karakter seseorang. Adapun dogma tersebut seringkali dibangun sejak kecil melalui pertanyaan sederhana “siapa nama pahlawan perempuan Indonesia? Jelas dipastikan diantara barisan nama pahlawan perempuan seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meuthia, nama Ibu Kartini menjadi jawaban paling awal yang sering disebut anak-anak sekolah dasar menengah. Tanpa melihat banyak alasan, dapat dipastikan bahwa peran gurulah yang cenderung mengkontruksi nama besar Ibu Kartini menjadi role model penting bagaimana semasa hidup Kartini digunakan sebagai perjuangan emansipasi untuk perjuangan pendidikan. Harapannya dari ajaran itu akan melahirkan Kartini masa depan yang lebih baik. Bukan hanya melahirkan emansipasi saja tapi, melahirkan inovasi untuk proses pembangunan bangsa yang berkelanjutan.

Emansipasi yang dimaksud pada dasarnya yakni tentang persamaan praktik relasi antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, tak jarang seringkali konsep emansipasi ini mengalami bias makna bahwa perjuangan Kartini bukanlah melawan laki-laki atau menjadi pesaing laki-laki namun, hanya ingin menjadikan konsep harmoni peran berlangsung seimbang dalam ranah publik maupun domestik. Pesan Kartini menekankan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan yang tak lain akan menjadi sosok pendidik atau madrasah (Ibu) pertama dan utama dalam sebuah keluarga untuk masa depan. Sungguh besar cita-cita Kartini bagi Indonesia sebagaimana penggalan lirik lagu karya Wage Rudolf Supratman.

Celakanya hari ini pemaknaan gerakan emansipasi semakin tidak terarah misalnya lahir perempuan yang ambisius dengan karirnya yang kemudian lalai akan kodrat kewajiban menjadi istri sekaligus Ibu. Selain itu, melihat perkembangan dan pergeseran gerakan emansipasi selalu menjadi perdebatan serius diranah politik, ekonomi dan sosial. Perdebatan emansipasi di area politik dapat dilihat melalui representasi perempuan yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan (decision making). Pemerintah melalui konsensus politiknya menyatakan 30% untuk keterwakilan perempuan. Apesnya sampai hari ini sebagaimana laporan literatur yang ada menyatakan representasi perempuan sejumlah 30% belum tercapai terlepas adanya peningkatan jumlah representasi perempuan dari tahun sebelumnya. Masalah keterwakilan inipun semakin lantang disuarakan mengingat urgensi penting bahwa isu representasi mempengaruhi proses kebijakan yang dinilai tidak pro perempuan misalnya akhir-akhir ini desakan seluruh aktivis untuk segera mengesahkan RUU penghapusan kekerasan seksual (RUU PKS) belum mendapat titik terang dalam agenda prolegnas. Tentu hal ini memang bukan hanya minimnya keterwakilan melainkan tarik menarik kepentingan masing-masing fraksi yang ada dalam tubuh parlemen.

Sementara, perdebatan serius makna emansipasi dalam ranah ekonomi sosial bisa dilihat dari cakupan kesejahteraan dalam suatu keluarga. Tak bisa dipungkiri lingkungan keluarga merupakan unit terkecil yang juga memiliki pembagian peran. Tradisi pra Kartini perempuan kuat dengan konco wingking (sumur, kasur dan dapur), yang kemudian laki-laki mendapatkan porsi luas bekerja sebagai kepala keluarga yang otomatis menjadi tulang punggung ekonomi. Lantas apa jadinya ketika peran suami sebagai penyokong ekonomi ini tidak bisa mengcover kebutuhan hidup? Konfliklah yang seringkali akan timbul. Maka tak jarang saat ini kita melihat banyak kasus KDRT menjadi isu penting kekerasan dan diskriminasi. Tak hanya itu dalam konteks ini korelasinya semakin meluaskan kesenjangan tentang reproduksi mata rantai kemiskinan yang tentu berhubungan dengan beberapa hal lainnya termasuk aspek kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam konteks keluarga faktor ekonomi merupakan dasar ketahanan hidup. Oleh karenanya, saat ini kita sudah menyaksikan normalisasi fonemena harmonisasi peran dimana perempuan mendapatkan kesempatan bekerja dalam urusan publik untuk membantu ekonomi keluarga. Tentu hal tersebut berlangsung setelah konsensus pasangan keluarga (suami-istri) bisa merefleksikan bersama masalah yang ada.

Dengan demikian, menurut hemat saya hari ini kita menyaksikan bahwa meskipun kedaulatan perempuan pada dasarnya sudah ada kemajuan melawan patriarki sebagaimana jejak kartini sebagai pelopor utama. Akan tetapi, kuatnya warisan patriarki ini kemudian terus berkembang dan menyatu dalam konsolidasi politik oligarki yang mayoritas laki-laki. Tentu hal ini melewati proses kontruksi wacana yang panjang. Patriarki dan oligarki merupakan dua virus besar hari ini yang membuat konsepsi emansipasi belum berjalan paripurna. Oleh karena itu, sebenarnya perjuangan Kartini belum selesai dan membutuhkan perjuangan Kartini masa kini untuk membuat konsep emansipasi hadir di semua lini kehidupan baik di organisasi, komunitas, sampai dilingkup keluarga yang seringkali menyebabkan pergeseran relasi kuasa yang ada. Sekali lagi, semangat hari kartini merupakan refleksi penting untuk semua yang merindukan harmonisasi keadilan dan kesetaraan.

Selamat merawat ingatan, Selamat menjadi Kartini Masa kini

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Mia Sarmiasih

adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas, mahasiswa Pasca Sarjana pada departemen Ilmu Politik Pemerintahan UGM

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link