RBK Bersama Keluarga Difabel: Gerakan Literasi Inklusif (1)

Oleh: La Halufi)*

Dalam perjalanya yang telah memasuki usia 7 tahun, Rumah Baca Komunitas (RBK) telah memberikan banyak kontribusi positif nan besar pada lingkungan, keilmuan dan juga pada kemanusiaan. Meminjam tulisan David Efendi (Pendiri RBK) dalam tulisannya “Merayakan Kesunyian Bagian 1” bahwa RBK adalah sebuah komunitas yang bergerak untuk memerangi “kebodohan” yang menjadi masalah yang sangat serius yang sedang melanda masyarakat dan bangsa ini. Kebodohan inilah yang menjadi penyebab utama atas bobroknya semua aspek kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

RBK dengan berbagai program yang dimilikinya mampu meretas “kebodohan” tersebut dengan menyediakan beragam jenis bacaan dan aksi nyata bagi anak kecil sampai orang-orang dewasa. Mulai dari Reboan yang mendiskusikan topi atau masalah hangat, bedah buku dalam program Dejure, membuka lapak bacaan gratis bagi masyarakat dikawasan Publik yang dinamai RBK On The Road dan juga aksi nyata seperti berkebun dan menjaga lingkungan hidup.

Namun RBK memiliki ruang gerak dan kontribusi lebih luas lagi yang salah satunya ialah pengabdian pada masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini nampak jelas ketika dihari H Plus 1 Idhul Adha 2019 ini. Melalui diskusi dan briefing yang cukup alot pada jumat malam (09/08/2019) yang melibatkan teman-teman pegiat RBK, Cak David dan juga dihadiri oleh Mbak Lina dan Mas Aan untuk membahas teknis pelaksanaan kegiatan. Meminjam bahasa Mas Aan “yang penting datang saja dulu. Setelah itu, kita baru tahu apa yang bisa kita lakukan”.

Maka disepakatilah jika teman-teman RBK akan mendampingi adik-adik untuk bermain games, menggambar, mewarnai, bernyanyi dan ditutup dengan senam.

Mungkin bagi sebagian teman dan tidak terkecuali saya yang belum pernah terlibat dalam kegiatan bersama kaum difabel akan sangat sulit. Pasalnya berhadapan dengan adik-adik difabel butuh tenaga ekstra dan kesabaran yang sangat-sangat besar mengikat mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tunarungu, tunadaksa, tunawicara dan sebagainya.

Sekitar 20 orang lebih adik-adik yang memiliki kebutuhan khusus ini telah berkumpul di sekitar Mushollah Al Falah pada senin pagi yang ditemani Mbak Lina dan juga teman-teman RBK. Mereka dipasangkan tanda pengenal dengan nama mereka sendiri dan tak terkecuali kami juga selaku pendamping mereka dan juga mereka diajak bermain dalam kurun waktu sekitar satu jam. Sesaui kesepakan dalam briefing bahwa adik-adik difabel akan diajak keliling Dusun Kanoman dan berakhir di RBK.

Ada yang berjalan kaki namun ada juga yang menggunakan alat bantu berupa kursi roda. Sebanyak lima orang anak memakai kursi roda berkeliling yang juga didampingi oleh orang tua mereka.

Berbagai peralatan penunjang untuk semua kegiatan adik-adik difabel selama di RBK telah disediakan. Sesi pertama adalah kegiatan menggambar dan mewarnai yang didampingi oleh teman-teman dari RBK namun ada juga adik-adik yang sibuk dengan buku bergambar. Nampak kegembiraan dan kegirangan terpancar diwajah adik-adik ketika mereka menggambar. Ada yang menggambar buah, hewan dan juga gambar umum yang hampir semua anak kecil baik normal ataupun berkebutuhan khusus yakni pemandangan gunung.

Dipenghujung kegiatan menggambar, Mbak Lina mencoba menghibur adik-adik tersebut dengan menyanyikan beberapa lagu anak. Dari lagu lagu daerah Jawa sampai pada lagu Nasional. Suasana makin meriah dan dipenuhi rasa gembiran ketika teman-teman RBK ikut menyanyi. Seolah mereka tak ingin ketinggalan terlebih lagi mereka yang tunarugu. Walaupun dalam keterbatasan bertutur kata namun itu tidak menjadi penghalang dan penghambat bagi mereka. Semuanya yang hadir saat itu ikut larut dalam keceriaan tersebut.

Dipenghujung kunjungan dan keberadaan mereka di Rumah Baca Komunitas, teman-teman RBK kembali lagi mencoba menghibur mereka dengan music, senam dan joget. Acara ini diawali dengan tari Poco-poco, disusul joget Tobelo dan kemudian diakhiri dengan senam ala Pinguin. Mereka seakan tidak ingin melewatkan semua kegiatan yang ada, mereka turut larut dengan gerakan mereka masing-masing. Acara tersebut dipandu oleh Kak Sahrul, Kak Enzo dan Kak Laode Alimin yang berasal dari Maluku Utara.

sebagian anak meminta beberapa tanaman yang berada dikebun Ekoliterasi milik RBK. Dengan senang hati RBK memberikan pada mereka untuk dirawat dan ditanami dirumah mereka masing-masing.

Semua yang hadir saat itu tidak lupa mengabadikan momen-momen tersebut dalam kamera ataupun gudget mereka baik itu berupa foto ataupun video.

Setelah semua rangkaian kegiatan selesai, teman-teman RBK kembali mengantar mereka ke sanak keluarga mereka yang berada dalam acara “Kurban Bersama Difabel” di Mushollah Al Falah. Semua lelah, capek dan keletihan teman-teman RBK terbayarkan ketika mereka mengucapkan “Kapan kita bermain lagi?”

Hal ini memiliki nilai tersendiri bagi semua terlebih lagi bagi teman-teman RBK terlebih lagi bagi yang baru mengenal dunia disabilitas. Dun juga menjadi kepuasan tersendiri bagi adik-adik yang berkebutuhan khusus tersebut.

)* Pegiat Rumah Baca Komunitas

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup