Sejak fenomena awal Covid 19 di Cina pada Desember 2019, warga dunia pun menjadi khawatir. Dan betul, dalam rentang waktu lebih dari tiga bulan saja, sudah terdapat 722.435 kasus dengan 33.997 orang meninggal (30 Maret 2020). Beragam cara dilakukan untuk membasmi corona, cara yang instan dan kita dapat saksikan sehari-hari, yaitu dengan penyemprotan disinfektan.

Disinfektan yang menggunakan bahan pembersih pakaian ataupun clorin memang dapat menghancurkan lapisan lemak virus corona, namun juga berbahaya bagi manusia jika berlangsung lama dan tidak sesuai prosedur. Hal ini telah diimbau oleh WHO untuk menghentikan penyemprotan disinfektan pada manusia, karena bagian-bagian tertentu seperti mata, hidung, dan mulut sangat rentan terkena cairan kimia, lantaran terdapat enzim-enzim khusus pada bagian tersebut yang membantu proses metabolisme.

Menyangkut disinfektan, kita pun kembali diingatkan pada seorang saintis wanita asal Amerika Serikat, bernama Rachel Carson. Suaranya begitu menghentak pada ‘Silent Spring’ atau “Musim Bunga yang Bisu”. Buku tersebut berhasil memancing perdebatan publik untuk tema khusus, yaitu bahaya pestisida, dan akhirnya melebar menjadi gerakan lingkungan secara umum di Amerika Serikat. Rachel sendiri, dinobati sebagai ‘Mother of Environmental Movement’.

Dalam buku itu, Rachel memulai bab-nya dengan sebuah fabel. Pada sebuah taman yang indah, terdapat jenis pakis, pepohonan ek, bunga yang berwarna warni yang memantulkan cahaya pada musim semi. Riuh rendah suara-suara indah dari beragam jenis burung-burung, lolongan rubah, maupun suara gaduh kijang berlari. Namun, entah kenapa, semua itu berhenti.

Kata Rachel itu hanya fabel, tapi pada dasarnya itu telah terjadi akan terus berlangsung, bahkan hingga saat ini, dan entah sampai kapan. Aktivitas manusia modern yang gila, memproduksi larutan untuk memberantas hama pertanian, perkebunan, dan belakangan perikanan, dengan menggunakan kacamata kuda. Lagi-lagi, tujuannya adalah produktivitas pertanian. Namun, dampak dari penggunaan pembasmi hama itu, hingga tahun 60-an di masa Rachel hidup, sudah begitu bejibun.

Pratek penyemprotan bahan kimia sintetis maupun kimia organik berbahaya, yang mulanya adalah senjata kimia yang diproduksi di gudang-gudang militer, terbukti dapat mematikan serangga, tungau, lalat, gulma, sehingga dianggap bermanfaat untuk meningkatkan produksi pertanian dan praktek produksi skala luas (besar). Namun, celakanya juga membasmi apa saja yang ada di sekitarnya. Bakteri-bakteri baik yang ada dalam tanah, tanaman-tanaman liar, ikan-ikan yang ada di sungai, bahkan burung-burung yang melintas di area itu pun terkena imbas. Katak dan lebah, ular, dan hewan-hewan pun menghindar, terjangkiti, atau mati. Area itu pun menjadi steril.

Salah satu yang disorot oleh Rahcel adalah DDT (dichloro-dipehenil-trichloro-ehtane), dahulu pernah populer di Indonesia. DDT ini menyebabkan penemunya, yaitu Paul Mueller menyabet Hadiah Nobel. DDT ini tampak tidak membahayakan secara langsung, tapi ia memiliki efek kumulatif. bahan aktifnya bersarang di hati dan ginjal dan lama kelamaan, ketika kita terus mengkonsumsi padi yang telah disemprot DDT, kita dapat diserang oleh penyakit berbahaya. Bukan hanya itu, racun yang terkandung dalam tubuh, misalnya Ibu, dapat turut tersalurkan ke bayi melalui proses menyusui. Sementara bayi sangat rentan terhadap bahan-bahan beracun.

Bahkan, DDT ini, ketika disemprotkan dari udara, turun ke tanah. Ia tidak berhenti di situ. terus merangsek, tembus ke sungai dan mengalir sampai jauh. Ikan-ikan yang mencari makan turut tercemari DDT ini.

Pada tahun 1960, staf Dinas Suaka Margasatwa mendapati ratusan burung-burung mati di sekitar Danau Tule dan Lewer Klamat. Kebanyakan adalah jenis burung pemakan ikan, seperti pelikan, camar, dan bangau. Ternyata, dalam tubuh burung-burung itu ditemukan residu-residu insektisida, seperti toxaphene, DDD dan DDE. Danau telah tercemar bersama ikan-ikan dan planktonnya. Hal ini diketahui bahwa racun berasal dari aliran buangan kawasan pertanian yang telah disemprot pestisida. Bukan hanya itu, racun telah masuk ke dala rantai makanan. Ia ada di segala lini, ada di plankton, ada di kutu-kutu air, hingga level-level yang lebih tinggi. Sebab, ketika satu tingkatan memakan tingkatan di bawahnya, residu itu berpindah ke konsumernya.

Rachel sedemikian dramatis, ketika menceritakan menghilangnya secara tiba-tiba burung robin di wilayah Hinsdale, Illionis, Amerika. Tak ada yang tahu kemana burung itu. Padahal, sebelum-sebelumnya, orang begitu gembira ketika melihat sang Robin, karena merupakan penanda datangnya musim semi, dan berarti berhentinya musim dingin.

Ketika burung-burung bermigrasi saat musim semi, mereka tidak menyangka terdapat bahaya di depan mata. Ternyata pohon-pohon itu telah disemprot DDT untuk membasmi cendawan. Burung Robin kehilangan keseimbangan dan tergeletak mati. Mereka terkena penyakit sawan/kerusakan syaraf.

Burung-burung menghilang. Manusia sepi. Dan bukan hanya sunyi, tapi juga bisa mati. Penggunaan fosfor organik dapat pula menyebabkan penyakit sawan, serangannya dapat melenyapkan fungsi dari asetilkolin, sebagai penyambung pada jaringan-jaringan syaraf. Sehingga menyebabkan korbannya kejang-kejang dan mati.

Belum lagi insektisida sistematik, yang kisahnya mirip dongeng Jubah Wanita Medea, dimana siapa pun yang menyentuh jubah wanita itu, pasti mati. Jadi, ketika terdapat serangga ataupun lebah yang menghisap buah tanaman, akan menemui ajalnya dengan segera. Tidak sampai di situ, ketika lebah itu sampai di nektarnya, pun akhirnya menghasilkan madu yang beracun.

**

Persoalan semprot menyemprot ini memang tidak ada matinya. Memang, soal semprot ini soal gampang, satu kali semprot, hama ambyar. Tapi, kita manusia modern kadang-kadang lupa, bahwa ada konsekuensi yang harus diterima, yaitu kerusakan lingkungan, beserta seabrek-abrek isinya.

Setiap permasalahan, pasti ada solusinya, namun, kadang-kadang lagi, solusi itu pun menjadi sumber persoalan baru yang justru lebih besar. Hal ini tak lain karena didorong oleh keinginan manusia untuk membereskan, menundukkan alam, termasuk untuk menundukkan wabah. Manusia selalu merasa berkuasa, merasa hebat mengatasi alam. Padahal, alamlah yang lebih tahu, ketika kita memborbardirnya dengan senjata-senjata kita, alam akan memukul balik. Hukum alam adalah hukum keseimbangan dan hukum kompensasi.

Namun, sayangnya, Rachel Carson telah meninggal pada tahun 1964, setengah dekade lalu. Ia sempat menyalakan gerakan lingkungan, sebagai respon dari gerakan revolusi hijau yang membuat alam merana. Kemudian redup. Pestisida kemudian mengalir hingga ke dunia ketiga, seperti di Indonesia dalam satu paket, pupuk kimia, irigasi, traktor. Di sini, pestisida terus digunakan, dan tentu terus menerus merusak, dan tak ada Rachel ang memperingatkan kita. Tanah-tanah rusak. Hewan-hewan mati.

Saat ini, corona merebak, langsung menodong kita, untuk segera menjalin hubungan yang harmonis dengan alam. Corona pula lah, yang kemudian membuat kota-kota yang dulunya bising, kini menjadi bisu. Dan, lumba-lumba bersorak, burung-burung dengan riang menari-nari di tengah kota.[]

 

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Idham Malik

adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link