@doraemon_hari_ini

Penilaian Moral Atas Figur Politik, Relevankah?

Oleh: Andi Ar-Rahman Tuhuteru
Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, pegiat muda

Satu dari beberapa cara untuk mengenalkan figur calon tertentu, baik eksekutif maupun legislative, beserta visi misinya menjelang pemilu adalah dengan mengulik kehidupan pribadi, mulai dari etos kerja, kehidupan religius,unggah-ungguhnya, serta hubungan personalnya dengan orang lain. Semua yang menyentuh sisi personal dari calon kadidat, yang cenderung positif, saya sebut sebagai “penilaian moral”.

Belakang, saya justru curiga bahwa ini menjadi salah satu strategi kampanye. Maraknya sanak-saudara, teman sejawat, teman organisasi atau yang lainnya yang memilih jalur legal-formal untuk melakukan upaya “perubahan dari dalam” (jika tidak mau lancang disebut sebagai titian karir politik) menjadi kian massif.

Tapi sekali lagi, relevankah?

Pertanyaan ini setidaknya mengarah pada dua hal yang saling berkaitan. Pertama soal visi misi para kandidat, dan kedua perihal penguasaan “medan” oleh calon kandidat sendiri.
Dua pertanyaan di atas pertama-tama mengantar kita untuk beralih dari pertanyaan “apa visi misinya?” untuk kemudian menekankan kepada “bagaimana merealisasikan visi misinya?”. Pertanyaan terakhir ini akan menguji para kandidat untuk menguasai atau tidaknya “medan” yang mereka lalui nantinya. Hidup atau mati tergantung cakap atau tidaknya, bukan?

Bahwa K.H. Ma’ruf Amin itu orang baik, benar. Atau si anu yang calon legislatif dari PKS yang kebetulan saudaramu yang taat sembahyang itu memang tak salah. Juga si ono yang dari PSI yang selain muda, juga rada ganteng/cantik, dan rata-rata segar itu memang begitu adanya. Tapi modal ini bahkan jauh dari cukup.

Persoalannya bakal muncul ketika kita bergeser pada situasi makro, yakni birokrasi politik. Di sana adalah medan konfliktual yang sangat subur. Jangankan jotos-jotosan antar-partai, sesama anggota dalam partai yang sama saja bukan hal baru untuk saling berebut kuasa dan pengaruh. Dan tak jarang pecah kongsi, bukan?

Pengujian atas pemahaman calon kandidat atas medan tempur ini bakal menyingkap kecakapan mereka dalam mengenali tantang dan hambatan dalam merealisasikan visi misi mereka, setelah melewati tahap identifikasi ini, barulah mereka bisa menjawab pertanyaan di muka “bagaimana merealisasikan visi misinya?”

Kongkritnya begini, taruhlah si anu yang dari PKS tadi, yang kebetulan saudaramu itu, mencalonkan diri dengan visi misi untuk kelestarian lingkungan. Di sini “bukan niat mulia” saja yang jadi pertimbangan untuk memilihnya, selain latar emosional karena ia saudaramu, tetapi bagaimana ia mengatasi hambatan-hambatan struktural? Hambatan struktural itu bisa jadi berupa elit partainya yang sekarang berkoalisi dengan Sandiaga Uno, pemilik tambang yang menjadi salah satu factor kerusakan lingkungan. Itu juga belum termasuk persaingan antar-partai yang pemiliknya juga punya atau berinvestasi pada perusahaan-perusahaan perusak lingkungan lainnya.

Ini soal daya tawar kandidat di hadapan birokrasi politik. Seberapa mampu kah dia? Jadi, biarpun secara pribadi ia rendah hati, baik, jujur, manis dan ganteng. Taat beribadah, berbakti kepada orang tua, selalu berbaik budi kepada sesama, sampai hafal Qur’an, Injil, Taurat atau Zabur sekalian. Latar moral seperti ini masih jauh dari cukup sebagai modal untuk melakukan “perubahan dari dalam”.

Jangan sampai seperti seekor hamster dalam kandang rodanya yang terus berputar berkat geraknya, yang dengan itu ia jumawa dan merasa sudah melakukan sesuatu yang berarti, padahal dia di situ-situ saja.

Jadi, niat baik saja tak cukup, bukan? Selamat memilih (untuk tidak memilih

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup