Panduan Menjadi Muslim Hijau: Belajarlah dari Buku Ibrahim Abdul-Matin

 Panduan Menjadi Muslim Hijau: Belajarlah dari Buku Ibrahim Abdul-Matin

“Islam tidak hanya menaruh perhatian kepada persoalan spiritual dan interaksi dengan sesama, tapi juga menginspirasi umat untuk peduli kepada alam. Al-Quran menyebut manusia sebagai “khalifah”, “wakil Tuhan” untuk melaksanakan titah-Nya di bumi, termasuk menjaga dan merawat bumi.”

Judul tulisan “muslim hijau” persis saya ambil dari salah satu bab dalam buku yang saya maksudkan untuk diteladani: greendeen, what Islam teaches about protecting the Planet. Jadi tugas saya hari jumat ini mendengungkan suara pemulihan planet dari seorang muslim yang shaleh dari benua Amerika. Bismillah.

Sebagai pegiat kader hijau—sebuah komunitas terbuka untuk siapapun yang punya perhatian, kegemaran membaca, bertindak untuk kebaikan planet bumi dengan berbagai motede yang paling memungkinkan memberikan kontribusi pada gagasan, perwacanaan, dan juga advokasi sisio-ekologis. Kader hijau adalah ruang berbagi dan tumbuh, sangat subur untuk benih-benih eko sosialisme islam.

Pernah saya menuliskan bahwa buku Greendeen yang diterbitkan di Amerika tahun 2010 karya Ibrahim Abdul-matin adalah buku bacaan utama bagi pegiat ekoliterasi Islam. Buku yang memberikan bimbingan, permenungan, ide/gagasan dan tindakan Islam rahmatan lil alamien, islam hijau yang sebenar-benarnya. Buku tersebut tahun 2010 dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia oleh penerbit Zaman dengan judul Greendeen Inspirasi Islam dalam menjaga dan mengelola lingkungan. Saya kurang oke dengan kata ‘mengelola’ karena itu terkesan utilitarianisme—tidak mengakui alam sebagai makhluk yang punya hak dan ‘perasaan’. Buku aslinya judulnya  green deen: what Islam teach about protecting the planet memang lebih sesuai. Saya mengusulkan kepada mbak Nana Firman, sahabat almarhum Ibrahim agar diterbitkan ulang dengan penerjemahan dan konteks yang lebih aktual, perlu juga pengantar dari aktifis lingkungan yang dapat menggiring agar buku ‘uswatun hasanah’ muslim hijau ini berdaya ubah bagi pemikiran dan tindakan kaum muda generasi hijau Indonesia.

Islam tidak hanya menaruh perhatian kepada persoalan spiritual dan interaksi dengan sesama, tapi juga menginspirasi umat untuk peduli kepada alam. Al-Quran menyebut manusia sebagai “khalifah”, “wakil Tuhan” untuk melaksanakan titah-Nya di bumi, termasuk menjaga dan merawat bumi (Abdul-Matin, 2010).

Ibrahim mempromosikan sekuat tenaga selama hidupnya ihwal keharusan umat Islam meneladani prinsip etis dalam berta’awanu dengan alam. Mengapa? Menurut keyakinan Ibrahim, prinsip tersebut didasarkan atas kesadaran menjalankan Islam yang berkomitmen kepada kehidupan alam.

Rukun Iman Muslim Hijau

Dalam buku agama hijau ini, kekuatan utama yang ‘diadzankan’ sekaligus dipraktikkan terdiri dari enam prinsip yang saya sebut sebagai prinsip sejati muslim hijau yaitu (1) memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya (tauhid), (2) melihat tanda-tanda Tuhan (ayat) di seluruh semesta, (3) menjadi penjaga (khalifah) bumi, (4) menghargai dan menunaikan kepercayaan (amanah) yang diberikan Tuhan kepada kita untuk menjadi pelindung planet ini, (5) memperjuangkan keadilan (‘adl), dan (6) hidup selaras dengan alam (mizan). Pertarungan menyempurnakan rukun iman hijau ini tentu saja di setiap ekosistem sosial mendapati tantangan masing-masing. Di Indonesia seorang muslim hijau bisa sangat berat cobaannya melihat kerusakan akibat ekonomi ekstraktif yang dikelola pemerintah. Ustadz atau mubaligh hijau pun demikian, mereka harus lebih lantang lagi berkhutbah sambil memperkuat keteladanan (leading by example, by uswah).

Prinsip enam tersebut diakui olehnya merupakan  panduan yang  benar-benar menuntun Ibrahim untuk menggambarkan Agama Hijau (baca: Muslim hijau). Sebagai seorang muslim, dengan ikhtiar terbaik, Ibrahim berusaha menjalani hidup dan menerapkan Islam seraya menghormati nilai lingkungan dalam Islam. Hadiah buku dari almarhum Ibrahim ini adalah jariyah ilmu-laku-nya, ditulis dengan niat penghidmatan luar biasa, tentu dia tidak mengkalim sebagai ahlinya ahli, bahkan dalam pengantar buku sangat humble bahwa ada banyak orang ahli dan pakar, tetapi pengalamannya itu dianggap layak dituliskan. Ia memberikan kesaksian ihwal buku ini ditulis:

“Alasan saya menulis buku ini adalah karena saya memiliki serangkaian pengalaman yang secara unik menempatkan saya sebagai muslim yang punya perhatian besar terhadap kelestarian lingkungan dan perlindungan planet yang kita cintai ini. Saya melihat Islam sebagai agama yang sangat menekankan pemeliharaan lingkungan. Buku ini sebagai pengantar perbincangan di antara kaum beriman, para pakar lingkungan, aktivis organisasi, pemuda, sesepuh, sarjana agama ketika saya berbicara tentang peran keimanan dalam gerakan hijau. Berkat pengalaman kerja yang beragam, dan juga karena pengalaman hidup saya di beberapa kota di Amerika, saya punya relasi yang cukup luas meliputi banyak orang dari pelbagai kalangan dan latar belakang. Melalui buku ini saya tak bermaksud menyatakan bahwa hanya kaum muslim yang memiliki Agama Hijau. Siapa pun bisa memilikinya. Saya menyajikan perspektif saya sendiri mengenai hubungan antara Islam dan pelestarian lingkungan sebagaimana terlihat di Amerika.”

Penulis buku Green Deen ini memang cerdas dan piawai dalam mengartikan makna hadis atau al-qur-an. Ibrahim mengambil contoh di dalam buku ini tentang sebuah hadis terkenal menyatakan bahwa ketika makan, Nabi Muhammad saw. selalu mengambil hidangan yang dekat dengannya. Ia bilang bahwa telah mendengar hadis ini berkali-kali, tetapi ia memikirkan dengan caranya menelaah maknanya secara lebih dalam untuk mengembangkan konsep Agama Hijau, versi muslim hijau. Menurutnya hadis ini mendorong kita untuk mendapatkan makanan dari sumber-sumber lokal. Hadis ini menganjurkan kita untuk memanfaatkan sumber daya lokal yang artinya rendah jejak karbon. Seperti itulah ia menangkap semangat hijaunya Islam Al-Quran.

Pertanyaannya adalah apa yang dipandu oleh penulis agar kita di Indonesia ini menjadi muslim hijau yang sebenar-benarnya? Mari kita simak kebaikan dan kemuliaan bukunya.

Buku ini punya 4 bagian dan 16 bab banyaknya. Ketebalan buku ini 315 halaman. Hanya dua jam membaca cukup—yang berat mengamalkannya. Pada bagian pertama diberikan judul Limbah yang membahas perilaku konsumsi yang berlebihan, obsesi manusia terhadap “barang” dan hasrat membeli, efek buruk konsumerisme pada jiwa manusia, serta pengaruh buruk limbah dan racun bagi Kesehatan bumi. Bagian berikutnya perihal masjid hijau, muslim hijau, Gerakan Lingkungan untuk merespon petaka konsumtif yang ternyata prinsip-prinsip Islam dipraktikkan banyak kalangan non-Islam. Nah ini yang menarik, pembahasan terkait “muslim Hijau”. Ia menyoroti kalangan muslim Amerika yang hidup mengikuti prinsip-prinsip Agama Hijau lalu menjadi pelopor, inovator, organisator, dan banyak kaum muslim  berusaha bertahan menjalani kehidupan mengikuti ajaran iman selaras dengan lingkungan hidup.

Bagian kedua bicara energi. Ia membagi energi dari bumi dan energi dari surga atau energi dari langit. Penting dan genting banget panduan pemikiran dan terobosan di sini. Orang berfikir energi dari bumi tidak merusak padahal super duper daya rusaknya dan energi jahatnya. Energi dari bumi disebut energi neraka yaitu yang berasal dari bawah permukaan tanah seperti Batubara, nikel, rare earth atau logam tanah jarang, minya bumi, logam lainnya. Sementara energi dari surga yang berasal dari langit seperti matahari dan angin. Bisa juga di atas permukaan bumi seperti ombak dan air.

Bagian Keempat buku ini memandu kita semua belajar dan merenungkan apa yang kita konsumsi alias makanan.  “Anda adalah apa yang Anda makan”,  kata Ibrahim mengutip istilah yang popular. Hal ini menyiratkan bahwa semakin bersih, sehat, dan alami makanan kita, semakin bersih, sehat, dan alami tubuh kita. Makanan sangat penting bagi kehidupan manusia, termasuk cara kita menyajikannya. solusi dalam bentuk kisah pribadi kaum muslim yang mengikuti pola hidup Agama Hijau, dan juga disertai ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang mendukung Gerakan Hijau. Ia juga menceritakan beberapa kisah dari kehidupan pribadinya dan perspektif pribadi  mengenai ayat dan hadis tertentu untuk mengklarifikasikan suatu masalah atau untuk mendukung solusi tertentu. Sebagaomana disampaikan di atas, tujuan utama buku ini adalah membangun gerakan yang menyatukan praktik spiritual dengan perlindungan terhadap lingkungan.

Pembahasan berikutnya terkaat keberanian  “Hidup tanpa Jaringan Listrik”, yang menuturkan kisah tentang sebuah komunitas muslim di Chiapas, Meksiko, yang memberikan pelajaran penting bahwa ada alternatif lain untuk efisiensi energi: hidup tanpa jaringan listrik dan tidak bergantung pada tenaga listrik. Beranikah anda pembaca muslim hijau Indonesia? Perlu dicoba tipis-tipis saja dulu, tebal kemudian.

Memasuki bagian Ketiga yang sangat vital yaitu bagian “Air”. Pembahasan meliputi makna  air bagi kehidupan. Tantangannya kan persediaan air yang bersih dan segar semakin langka dan menipis sehingga “Air Adalah Sumber Kehidupan” perlu menjadi manifesto muslim hijau untuk mengajak aksi nyata untuk keadilan air. Kenapa? Banyak sudah sumber-sumber air ttercemar, kotor, diracuni industri dan korporasi. Penulis dengan gembira menceritakan kisah saudara perempuannya, Tauhirah Abdul-Matin, yang mengabdikan hidup dan kariernya untuk kebersihan air.

Sederhana pelajarannya tentang keajaiban Wudu, ajakan kepada muslim semua bagaimana menghemat air wudhu dan memanfaatkan ‘bekas’ air wudhu untuk kepentingan taman dan kebun.

Pembahaan lainnya terkait standar makanan halal dalam Islam, berkebun yang produktif di setiap lingkungan komunitas kecil, cerita entrepreneur muda yang membawa hasil bumi kepada komunitas berpendapatan rendah di pusat kota Chicago, green zebiha yaitu daging yang dimasak dengan cara yang sah Islam, dan terakhir yang dibahas sebagai muslim Amerika adalah perihal  “American Halal Food” yang membahas pelbagai kontribusi seorang pelopor makanan organik dan halal salah satunya sosok Adnan Durrani.

Luar biasa bukan? Bener-bener menyalakan muslin hijau dan memprovokasi kita semua apakah kita sudah hijau atau masih ada dalam kegelapan dan kealpaan. Rupanya sudah banyak panduan, selain yang semua itu bagus juga teman-teman juga melengkapi dengan tulisan buku karya sahabat Ibrahim Abdul-Matin juga yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia lewat kebaikan Nashih Ahmad Luthfi atas izin penulisnya lalu berembug bersama saya dilibatkan dan dicetak pertama dibiayai oleh LLHPB PP Aisyiyah dan cetakan berikutnya dari teman-teman komunitas NU dan buku terakses bebas di internet sebagaimana link ini. Dan boleh juga dibaca  tulisan menjadi kader hijau dan beberapa buku yang saya rekomendasikan ini.

Inspirasi Muslim Hijau: Eco-biography

Karena buku inspirasi muslim hijau, tentu kita harus mengambil ibrah dari latarnya yang saya sebut sebagai ecobiografi Abdul-Matin (bayangkan di Tengah gempuran islamophobia komunitas Islam di Amerika memberikan kontribusi nyata merawat bumi). Saya hanya menuliskan ulang apa yang dikenali orang tentang sosok Ibrahim ini. Semua orang bisa menjadi ‘aktivis’, fasilitator, atau organisator gerakan lingkungan. Siapa pun bisa ambil bagian. Tidak ada yang disebut kontribusi kecil atau besar. Semua orang menjadi utama dalam semesta muslim hijau. Sungguhlah menarik berkaca dari perjalanan karier hidup Ibrahim, Ia menjadi corong yang lantang menyuarakan perubahan cara hidup yang berbasis pencemaran menuju cara hidup yang mementingkan keadilan bagi bumi dan manusia. Menurutnya, dengan menjadi aktivis lingkungan memberinya kesempatan terbaik untuk menggabungkan minat dengan keterampilan untuk mengembangkan gerakan yang unik, gerakan Agama Hijau.

Ibrahim Abdul-Matin terlahir pada 1977 dan dibesarkan sebagai muslim, Ibrahim mengembangkan pengertian spiritualitas yang mendalam sejak dini. Namun, sebagai anak kedua dari orangtua yang mualaf, ia menghadapi pelbagai tantangan selagi mengembangkan identitas keberagamaannya. Keberagaman komunitas muslim Amerika meliputi perbedaan budaya dan tradisi yang ia upa-yakan dan perdebatkan kepada praktik pribadi untuk melayani Tuhan, manusia, dan planet ini. Secara bersamaan, ia menguatkan hubungannya dengan alam di sekitarnya saat ia belajar mengenai para leluhurnya dan hubungan mereka dengan tanah sebagai para petani dan pemilik tanah di negara bagian New York, sebelah selatan Virginia, dan Nebraska.

Ketika masih bocah belia, Ibrahim pindah dari Brooklyn ke kota kecil Sidney, New York, dan kemudian saat remaja ke kota industri Troy, New York. Selama tahun-tahun ini, ia diperlihatkan pada gerakan seni budaya di komunitas kulit hitam, pengalaman kota kecil Amerika yang tradisional, serta tantangan keja-hatan dan kekerasan dari masa keretakan. Ia hadapi pelbagai tantangan ini dengan menjadi pembaca yang tak pernah puas dan atlet yang ulung. Pada akhirnya, olahraga memberinya beasiswa penuh ke University of Rhode Island, tempat ia menjadi mahasiswa teladan, organisator politik, dan penyair. Di perguruan tinggi ia mulai memahami kebutuhan terhadap aksi sipil seputar kelestarian untuk melindungi planet ini.

Ia lulus pada 1999 dengan keinginan melakukan dua hal: menerbitkan buku dan mengubah dunia. Ibrahim memulai agenda “mengubah dunia” bekerja sama dengan Corporate Accountability International di Boston dalam boikot mereka atas Kraft Foods, yang kemudian dimiliki Philip Morris. Di Boston pulalah ia dan beberapa rekannya mendirikan Urban Griots, sebuah perkumpulan membaca puisi di Lucy Parsons Center, tempat ia dan aktivis organisasi lain menggelar sesi pendidikan politik dan ngobrol mengenai tradisi dan puisi. Tak lama berselang, ia mulai bekerja dengan Outward Bound dalam Thomp-son Island di Pelabuhan Boston, tempat ia memimpin program untuk kaum muda agar lebih siap mengha-dapi bahaya dan tantangan. Ia berusaha menumbuh-kan pemahaman pribadi mereka melalui pengalaman hidup di hutan belantara.

Sekembalinya ke New York, Ibrahim membantu menciptakan basis data nasional para aktivis muda. Future 500 diterbitkan pada 2002, dan edisi cetaknya kemudian dikembangkan secara online dan dirilis ulang sebagai Future 5000. Ia kemudian menempati posisi direktur program kaum muda pada Prospect Park Alliance. Di sana ia melatih murid-murid SMP dan SMU untuk memahami bagaimana tindakan mereka bisa merugikan atau membantu planet ini. Dalam peranan ini, ia juga membantu membangun Akademi Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan Brooklyn (Brooklyn Academy of Science and the Environment), yang sekarang merupakan SMU sukses bagi nyaris lima ratus siswa yang berkomitmen kepada keunggulan akademik dengan fokus pada lingkungan.

Pada 2004, Ibrahim meninggalkan Prospect Park dan beralih untuk bekerja pada Movement Strategy Center, sebuah organisasi think tank yang fokus pada pembangunan gerakan keadilan sosial dengan memperkuat jaringan, fund rising, dan pengembangan. Di West Coast, Ibrahim juga punya kesempatan unik untuk belajar bahasa Arab di  Zaytuna College, berpartisipasi di masjid-masjid Bay Area, Masjid al-Iman dan Lighthouse Mosqua dan ini menurutnya penting dalam penguatan Agama Hijau-nya.

Kembali ke New York, Ibrahim diterima dalam program bergengsi National Urban Fellows dan menerima gelar master dalam bidang administrasi publik dari Baruch College. Bidang keahliannya kebijakan lingkungan membuatnya mendapatkan beasiswa bersama Green For All, organisasi yang komitmen memajukan Amerika melalui ekonomi energi bersih. Ibrahim berjasa dalam mengorganisasikan Hari Aksi Nasional Green For All yang menyerukan “Green Jobs Now”. Pada hari itu, lebih dari lima puluh ribu orang Amerika dari tujuh ratus lebih komunitas menyuarakan dukungan mereka terhadap ekonomi hijau dan pekerjaan hijau.

Sembari menulis Green Deen dan tinggal di New York City, Ibrahim bekerja sebagai konsultan untuk sejumlah organisasi, termasuk Green City Force dan Inner City muslim Action Network (IMAN). Di setiap organisasi ini ia menekankan kedudukan penting kaum muda, keimanan, serta lingkungan, dan bagaimana semua itu merupakan kekuatan pokok untuk membangun gerakan keadilan sosial ekologi yang kokoh.

Dengan berbagai aktivitas itu, dengan sendirinya Ibrahim tumbuh menjadi seorang pemimpin antar iman. Tulisan-tulisannya mengenai keimanan dan lingkungan dimuat di majalah-majalah Common Ground, ColorLines, WireTap, Left Turn, and Elan, dan dialah otak di balik blog popular “Brooklyn Bedouin”. la seorang pembicara nasional di berbagai forum organisasi-organisasi muslim, kelompok antari-man, universitas dan komunitas lingkungan. Ia mendorong para pemimpin keagamaan lebih kuat bicara Islam dan lingkungan di forum Kantor Agamawan Yale University dan organisasi antariman “Farm the Land, Grow the Spirit” di Stony Point, New York.

Selama hidup sebagai muslim hijau, Ibrahim memanfaatkan seluruh kepakarannya untuk melatih kaum muda dalam hal pembangunan gerakan dan pengetahuan tentang lingkungan. Ia juga bekerja sebagai penasihat kebijakan di kantor Walikota Michael Bloomberg. Ia memusatkan perhatian pada masalah perencanaan dan kelestarian jangka panjang. Ibrahim tinggal di Brooklyn Heights bersama istrinya dan kebun perkotaan mereka yang mungil berisi tanaman herbal dan bawang.

Hal yang luar biasa dalam semesta pikiran dan refleksinya adalah: “Melalui buku ini saya tak bermaksud menyatakan bahwa hanya kaum muslim yang memiliki Agama Hijau. Siapa pun bisa memilikinya. Saya menyajikan perspektif saya sendiri mengenai hubungan antara Islam dan pelestarian lingkungan sebagaimana terlihat di Amerika (hal 16).” Kemenangan aktifis lingkungan ini adalah keyakinan bahwa hidup terbaik versi  muslim hijau di Amerika adalah perihal keteladanan paripurna: “hidup secara lokal, maju secara global”. Ini adalah ajaran islam bagaimana kita melindungi planet bumi. Lagi-lagi, itu menurut keyakinan iman hijaunya Ibrahim Abdul-Matin dan semua orang yang ikut diyakinkan termasuk saya sebagai penyusun cerita dalam artikel ini. Saya berutang budi pada penulis buku ini dan pernah berencana mengundangnya untuk memberi kuliah umum di kampus tempat saya mengajar-belajar, UMY muda mendunia.

Kita merasa kehilangan sosok aktifis muslim hijau di bumi. Insyallah kita semua mendoakan, semoga Ibrahim Abdul-Matin husnul khotimah dan ditempatkan di Jannah-nya yang hijau lestari-abadi.

Bagikan yuk
Avatar photo

David Efendi

David Efendi adalah seorang akademisi dan peneliti di bidang ilmu pemerintahan yang aktif mengkaji relasi antara politik, masyarakat sipil, dan lingkungan. Ia mengajar sebagai dosen di Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan minat kajian yang mencakup politik lokal, gerakan sosial, demokrasi, serta tata kelola pemerintahan dan lingkungan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *