Ada buku menarik dengan judul Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta dengan judul asli The Old Man Who Read Love Storiesyang terbit tahun 1922. Kalau dilihat secara seksama buku ini terlihat seperi romansa percintaan seorang Pak Tua atau romansa percintaan receh antara dua pasangan . Tetapi sebenarnya ada kisah yang lebih menegangkan dalam buku ini.

Buku ini sangat mudah dibaca dengan tebal X+133 halaman terbitan Marjin kiri dan sebagai penerjemah Ronny Agustinus dengan ISBN 978-979-1260-71-8 dan buku menarik ini di tulis oleh Luis Sepúlveda seorang pria kelahiran 4 Oktober 1949, Ovalle, Chili dan meninggal pada 16 April 2020, Oviedo, Spanyol akibat positif Covid-19.

Buku-buku terbitan Marjin kiri memang memiliki ciri khas yang menarik dalam menterjemahkan buku-buku barat kedalam Bahasa Indonesia dan memang mudah dipahami secara alur cerita dalam buku, sebagai penikmat buku terbitan Marjin kiri atau PeMarKir merupakan hal menyenangkan bagi para pembacanya terutama membahas isu-isu yang memang menjadi permasalahan manusia melalui perspektif antropologi.

 

Buku yang saya boleh bilang merupakan genre sastra hijau dengan penggambaran keadaan situasi melalui pendekatan antropolgi sehingga buku ini sangat cocok dibaca bagi yang ingin lebih dekat dengan sastra hijau ataupun gerakan ekologi. Bahkan cerita menarik dalam setiap BAB nya akan membawa kita kedalam petualangan yang menegangkan di dalam lembah hutan, sehingga buku ini tidak terasa sudah selesai dibaca dalam sekali duduk.

Siapa Pak Tua?

Dimulai dari kehidupan Antonio Jose Bolivar yang berusaha menghindari gunjingan dari tetangga mereka yang menyebut bahwa Dolores (selanjutnya kita sebut istri pak tua) tidak dapat hamil. Pak tua memutuskan untuk tinggal di amazon yang pada saat itu sedang diperebutkan dengan Peru, pemerintah menjanjikan tanah yang luas serta bantuan teknis bagi siapa saja yang ingin menghuni wilayah tersebut. Tokoh ini dia suka membaca kisah cinta. Cerita-cerita cinta yang sendu, sedih, suram namun berakhir bahagia adalah favoritnya sehingga genre yang spesifik ini membuat ia bisa berimajinasi bagaimana percintaan manusia yang penuh dengan permasalahan tetapi berakhir dengan bahagia.

Perawan Amazon

Setelah pak tua memutuskan untuk menetap di wilayah tersebut, timbul masalah yang lebih rumit, pak tua serta para pendatang datang tanpa persiapan, mereka tidak tahu bagaimana cara untuk “menjinakan” hutan tersebut, curah hujan yang lebat menjadi penyebab bibit tanaman yang diberi oleh pemerintah hanyut tersapu banjir, serta dihuni oleh nyamuk malaria banyak dari pendatang yang terserang malaria dan kemudian tewas, termasuk istri pak tua sendiri.

Dalam mekanisme perubahan sosial perspektif antropologi hal ini menjadi penting untuk di lihat bahwa para pendatang dengan membawa modernitas dan menetap di dalam suatu kebudayaan baru dan tidak bisa bertahan bahkan membawa budaya luar serta merusak sistem kebudyaan yang ada seperti yang terjadi dengan Pak Tua ini.

Suku Shuar mencoba membantu Pak Tua untuk berteman dengan alam. Alam bukan untuk di taklukan tetapi alam harus menjadi teman, bahkan di beberapa kebudayaan alam adalah suatu wujud untuk terus dijaga termasuk di Amazon.

Penduduk asli mengajarkan membuat pondok yang kokoh agar saat badai datang pondok mereka tidak tersapu badai, bercocok taman sesuai dengan musimnya agar tanaman meraka dapat bertahan dari iklim yang terbilang ekstrim, serta mengajarkan pula bagaimana berburu dengan alat yang sederhana namun sangat efesien. Hal ini bukan termasuk eksploitasi karena sifatnya yang tidak merusak secara massal itulah mengapa alam tetap terjaga di tangan para masyarakat adat.

Pada halaman 132 penulis menyatakan pendapatnya ketika di beri pertanyaan tentang ketepukauan alam rimba Amazon katanya ” saya bukan orang kota. Saya suka menghabiskan sekian waktu di kota, tetapi saya perlu berhadapan tetap muka dengan kekuatan elementer alam bebas, untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa bertahan”.  Masyarakat adat menopang kehidupanya terhadap alam dari alam mereka bisa hidup dan tanpa memerlukan uang ataupun memerlukan birokrasi yang terjadi di kota.

Kemunculan manusia perusak

Ketika perawan Amazon masih cantik dan eksotis dalam bingkai keindahan alam muncul lah para penambang emas yang “dianak emaskan” oleh Mayor pemimpin El Idiilo. Mereka yang dengan sesuka hati ‘’melukai” perawan amazon tanpa ragu menebas habis pohon-pohon untuk membuka jalan baru, membunuh hewan asli hutan tersebut untuk diambil kulitnya. Para penambang melakukan perburuan diluar musim berburu dengan izin yang diberikan Mayor.

Dosa para perusak ini berujung kematian berantai karena mereka telah menggangu dan membunuh macan kumbang yang merupakan hewan endemik dari Amazon yang terkenal ganas apabila ia terancam.

Ekspolitasi dan perburuan binatang disajikan dalam buku ini. Dan juga mengabarkan pemimpin korup bahwa dibalik setiap ekspolitasi ada pemimpin yang memberikan regulasi terhadap para perusak ini. Hal ini saya rasa sebagai pembaca terjadi di setiap negara bahkan di Indonesia. Penulis memang cerdik membawa pembaca kedalam persoalan yang kompelks mulai kisah manusia yang gemar membaca kisah cinta serta perjalanan kepada suku Shuar serta hukuman dari dosa para perusak dan memperkosa Perawan Amazon.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Al Bawi

adalah Pimpinan Pusat IPM

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link