Pak Gendon dan Keindahan Alamiah dalam Praktik Ekologi Lokal di Yogyakarta

Namanya Pak Gendon, fasilitator seni dan ekologi Rumah Baca Komunitas. Kami berjumpa dengannya pada tahun 2014, saat mengontrak rumah Almarhum Mbah Djunaedi, Seniman Dagelan kondang era 80an, dan meskipun pernah menjadi mubaligh Muhammadiyah, dia kurang dapat begitu diingat saat ini. Artikel ini saya tulis sembari menemaninya membersihkan petak tanah seluas 600 meter di Barat Kasongan, Bantul, DIY.

Saat agenda berbuka puasa Rumah Baca Komunitas pada Jumat lalu (17/5) dia bercerita telah menyewa tanah dari seorang pengrajin keramik dan abdi dalem Kraton. Tanah itu berkaraker kering dan keras (dryland) yang sangat rentan terhadap kerusakan mineral. Jenis tanah semacam ini menurut Food and Agricultre Organisations mencapai 41% dari total daratan global. Ketika kami berdua tiba di area baru itu, saya melihat beberapa jenis pohon tumbuh di sana, mulai dari Mahoni, Gayam, dan Jati. Tanah di sini seringkali pada musim di mana curah hujan tidak begitu intensif akan retak. Saya menganggap bahwa pekerjaan besar tengah menanti Pak Gendon. Permukaan tanah tidak rata, menuntut cara berpikir yang lebih bijak untuk mengolahnya. Memadukan intervensi desain manusia dan respon alamiah alam terhadap perlakuan manusia.

Saya melihat Pak Gendon tengah menata dan mengukur pembagian ruang. Dia bahkan menawarkan saya untuk ikut merespon. Seperti biasa, Pak Gendon tidak pernah menganggap tanah (yang dia sewa dengan uang sendiri) sebagai komoditas privat. Saya mengangguk dan berpikir. Dia mengatakan bahwa di bagian tengah lahan akan didirikan panggung tari untuk Megatruh, anak lanangnya yang tengah menempuh studi di ISI Solo. Sedangkan dia akan mendirikan rumah di samping Barat. Sedangkan di sekitarnya akan dibuat hamparan rumput dan kebun yang terpadu sebagai unsur dominan. Pak Gendon memang tengah merencanakan pindah dari tempat tinggal yang lama di Kalibedog. Dalam satu tahun ke depan, dia punya waktu untuk bekerja seperti biasa mendesain hunian barunya di Sekar Pethak ini. Dia merencanakannya berbasiskan pengalaman dan pengetahuan yang sudah dipraktikkannya selama hampir tiga puluh tahun.

Saya ingin menuturkan bagaimana karakter Pak Gendon sebagai orang yang punya perspektif berbeda mengenai mendesain tempat tinggal. Jika orang pada umumnya berupaya “membangun rumah” dengan meninggalkan banyak jejak residu, Pak Gendon justru ingin meminimalisir itu. Selain lebih hemat biaya, dia berupaya memaknai rumah sebagai kreasi keindahan, di mana apresiasi alam juga harus muncul. Katanya, orang sekarang sangat konservatif. Mereka membangun rumah dengan prinsip fotokopi, sehingga cenderung menghasilkan bentuk yang nyaris serupa dan tanpa proses kreatifitas sama sekali.”Ya, memang bentuk rumah bisa mirip-mirip, tapi kan unsur kreatifitasnya harus tetap ada, terutama yang berhubungan dengan merespon unsur-unsur lokal yang tersedia” kata Pak Gendon. Maksud dia, “membangun rumah” itu lebih mirip kaidah tanpa pemanfaatan material-material lokal yang tersedia. Orang-orang cenderung abai dengan material yang ada, mereka malah mencari yang tidak ada. Eksternalitas semacam itu bisa saja tidak cocok dengan karakter ekosistem. Bayangkan, jika ingin “membangun” rumah berbahan beton sementara struktur tanah berpasir, dan cenderung berubah karena erosi dan curah hujan, maka itu bisa berbahaya bagi manusia. Tidak semua jenis lahan cocok dengan bangunan berbahan keras semacam semen. Makanya, di beberapa tempat, orang mendirikan rumah kayu yang lebih fleksibel merespon dinamika tanah.

Bagaimana Pak Gendon bisa sampai pada kesimpulan semacam itu? Pak Gendon adalah pelaku hidup yang menambatkan batin dan rasa terhadap pentingnya menjaga syarat-syarat ketahanan hidup ekologis. Pada tahun 1992, ketika tinggal di Jomegatan, dia menggarap seorang diri ruang terbuka hijau untuk warga. Jika orang bertanya darimana sumber pembiayaan kerja semacam itu, Pak Gendon pasti menjawab “Ya, rezeki bisa dari mana saja”. Waktu itu dia “nguli” atau bekerja sebagai kru Kiai Kanjeng Cak Nun. Sebagai teknisi panggung, bukan bayaran yang dia cari, tapi komunalitas. Dia selalu bilang, “hidup ngak usah ngoyo”.

Pak Gendon pernah menjadi fasilitator pendampingan program Satu RW Satu Perpustakaan tahun 2007. Waktu itu dia tinggal di Patang Puluhan, di sana dia mendirikan Komunitas Baca Satu Sembilan bersama mas Fajar Santoadi. Ini adalah bentuk belajar Pak Gendon terhadap perkembangan komunitas literasi. Perlu dicatat, dia juga sama sekali tidak bisa menjelaskan latar asumsi mendirikan komunitas. Bukan tidak bisa, tapi sesuai prinsip hidupnya, “lebih menarik mengerjakan sesuatu yang kita anggap penting. Kalau berhasil dan berdampak, itu bonus.” Saya yakin teman-teman motivator di Jakarta yang sangat effect-minded dalam konsepsi inovasi sosial bakal geleng-geleng kepala. Mereka pasti bertanya apa ada jenis manusia yang bekerja se-fenomenologis itu? 

Tahun 2010 ketika pindah ke Kalibedog, tanpa fundrising, dia mendesain perpustakaan umum. Sebagai pekerja seni yang menyenangi bambu, dia merancang konstruksi perpustakaan itu dengan bambu yang dikumpuli dan disumbang oleh teman-temannya. Tahun 2012, perpustakaan itu jadi. Bisa anda bayangkan bahwa kisah-kisah gerakan sipil itu bukan utopis. Tapi memang terjadi. Persoalannya adalah apakah kita membuka diri terhadap “kerja-kerja sunyi” semacam itu atau tidak. 

Ketika teman-teman pegiat RBK tiba di Kalibedog pada tahun 2014, kami kagum dengan apa yang dilakukannya. Gerakan sosial dalam pengertian yang paling mendasar tumbuh bukan karena etos pencerahan sebagaimana yang selama ini dibayangkan oleh kelompok progresif urban. Tapi melalui tumbuhnya perspektif keindahan alamiah. Ketika menyebut ini sebagai perspektif, kita bisa mengacu pada jenis kesadaran yang dimaksud oleh Fritjof Capra sebagai kesadaran ekoliterasi. Kesadaran ini tidak selalu bersumber dari epistemologi tekstual, tapi dari penemuan terhadap dimensi fenomenologis keindahan. Dalam teologi ini seperti kesadaran bahwa ruh kehidupan senantiasa imanen dalam kehidupan itu sendiri, bukan sebagai simbol, tapi sebagai dirinya sendiri. 

Sekar Pethak, 18 Mei 2019

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup