Oleh: Sri Lestari Linawati*

Program “Satu Pohon untuk Negri” berikutnya adalah untuk orang tua. Kebetulan hari jumat pagi para murid juga sedang praktek menanam, sehingga pagi itu suasana ‘gayeng’. Beberapa murid perempuan antusias membantu saya menyiapkan segala sesuatunya.

Murid kelas 4 itu didampingi mbak Afifah dan mbak Annisa menanam di depan kelas mereka. Mbak Mia juga sempat hadir dalam keterbatasan waktunya. Teman-teman Rumah Baca Komunitas ternyata juga hadir dengan pasukan lengkap dan peralatan lengkap. Cangkul pun dibawa serta. Hadir di antaranya adalah Kak Dafrin, Kak Sanny, Kak Sahrul Pora, Kak Arief, Kak Lukman.

Untuk kelas orang tua murid, kegiatan diselenggarakan di masjid sekolah. 60% undangan hadir. Maklum, ternyata hari ini ada beberapa sekolah yang raportan, tidak semuanya Sabtu. Meski demikian, acara tetap berlangsung meriah.

Program “Satu Pohon untuk Negri” saya sampaikan dengan sederhana dan gamblang. Berawal adanya tugas mendampingi mahasiswa Bioteknologi untuk melakukan dakwah masyarakat, muncullah ide dimitrakan dengan pihak-pihak terkait. Singkat cerita, jadilah program kali ini, Satu Pohon untuk Negri, kerjasama Bioteknologi Unisa Yogyakarta, Komite SDN Kanoman, Rumah Baca Komunitas, Bank Wakaf Mikro Unisa (Usaha Mandiri Sakinah) dan BRI Syari’ah.

Kepala SDN Kanoman yang diwakili Pak Wahid menyampaikan pentingnya kegiatan menanam ini. Dalam pelajaran, masih banyak anak yang tidak tahu bagaimana bentuk tanaman ubi, misalnya. Dalam konteks inilah, kegiatan menanam dirasakan sangat menunjang pembelajaran sekolah.

Hadir pada kesempatan ini dari Bank Wakaf Mikro Unisa adalah mbak Devi dan mbak Mera. Beliau memaparkan apa dan bagaimana Bank Wakaf Mikro itu. Pinjaman usaha tanpa bunga ini misalnya pinjaman satu juta rupiah, pengembalian juga satu juta rupiah. Diangsur 40 kali, jadi tiap angsuran sebesar 25 ribu. Tiap pertemuan angsuran itu ada bermacam kajian, baik bagaimana memajukan usaha, bagaimana memandirikan usaha, bagaimana komunikasi dalam keluarga dan hal terkait lainnya sesuai dengan visi misi BWM Unisa.

Pak Afif Sumariyanto dari Bank BRI Syari’ah menyampaikan terima kasih dan penghargaan adanya inisiatif program Satu Pohon untuk Negri ini. Simpel atau Simpanan Pelajar ini sangat simpel, sederhana. Hanya seribu rupiah sudah bisa buka rekening. Kenapa? Ini untuk edukasi, pendidikan menabung pada anak. Caranya cukup mudah. Fotocopy KK dan KTP Bapak/ Ibu untuk kelengkapan datanya, sedangkan buku tabungannya adalah atas nama anak.

Apa hubungannya menanam dan menabung Simpel? Hasil jual panen tanaman murid yang ditabung ini akan membawa sebuah kepuasan rasa “Ini hasil jerih payah kami”. Nilai ini diharapkan mampu menanamkan rasa tanggung jawab dan kemandirian pada diri murid.

Adapun Rumah Baca Komunitas, diwakili juru bicaranya, Kak Dafrin, menyampaikan dukungan penuh terhadap program Satu Pohon untuk Negri ini. “Kami senang dilibatkan juga dalam program ini karena menanam adalah juga bagian program kami. RBK “Membaca Menulis Menanam”, kata mas Dafrin.

Acara inti menanam dipaparkan oleh Dodi, mahasiswa Bioteknologi Unisa Yogya. Orang tua murid mendengarkan dengan antusias, terlebih setelah dilakukan pembagian bibit tanaman cabe dan terong, polybag dan pupuknya. Otomatis pertanyaan-pertanyaan mengalir dari para peserta. Ketiga mahasiswa yang bertugas tampak sibuk melayani peserta dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan.

Tentu ada sebuah perasaan lega, bahagia, haru dan bangga. Ini memang baru langkah awal. Pohon pun masih kecil dan baru ditanam. Kami baru berkumpul. Namun semangat yang tampak di wajah murid maupun orang tua murid, memberikan harapan bagi kami, yaitu kesuksesan.

Perlu kami tuliskan langkah kecil di awal ini sebagai rasa syukur kami atas nikmat Allah yang tidak terhingga. Kami yakin atas ijinNya saja pertemuan itu bisa terlaksana. Semua unsur bisa hadir dalam forum menanam “Satu Pohon untuk Negri” ini: SDN Kanoman, Komite SDN Kanoman, Bioteknologi Unisa Yogya, Rumah Baca Komunitas, Bank Wakaf Mikro dan BRI Syari’ah.

Dengan tetap memohon ridha Allah, kami semua berharap agar langkah ini bisa berjalan lancar, ditindaklanjuti dengan baik dan sesuai dengan rencana.

Hendaklah ada rasa takut pada orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan tak berdaya setelah mereka, khawatir akan nasib mereka. Maka takutlah kamu kepada Allah dan hendaklah berbicara dengan tutur bahasa yang penuh kasih sayang.

Yogyakarta, 21 Desember 2019

Sri Lestari Linawati akrab disapa Lina. Pegiat literasi ini adalah penggagas BirruNA, PAUD Berbasis Alam dan Komunitas. Aktif di RBK, Komite SDN Kanoman dan kini mengabdi sebagai dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Facebook Comments
Mari Berbagi