Nama Lynn White mungkin tidak asing di kalangan para aktivis lingkungan, terkhusus yang berlatar belakang religius. Dalam artikelnya yang dipublikasikan pada tahun 1967 White membuat kesimpulan yang sangat “berani” dengan memasang sikap konfrontatif dengan agama-agama semitik, khususunya Kristen yang dianggap memiliki tendensi anti lingkungan. Di sisi lain White menyebut bahwa agama-agama “tradisional” semacam agama yang dipeluk masyarakat asli Amerika atau masyarakat Afrika sebagai agama yang lebih ramah lingkungan karena memiliki kesadaran lebih soal relasi antara manusia dan alam. Kemunculan artikel ini segera memicu kontroversi di kalangan penganut agama semitik, khsusunya dari para akademisi Kristen. Mereka kemudian berupaya menunjukkan bahwa dalam tradisi Kristen juga mengenal spirit pro lingkungan tidak sebagaimana dituduhkan oleh White. Terlepas dari kontroversi tersebut dapat dikatakan artikel White dianggap sebagai salah satu “tonggak” dari berkembangnya pembicaraan terkait relasi agama dan lingkungan hidup. Dalam konteks inilah sebagian kalangan justru mengapriasi White yang dianggap “memantik” dialektika di kalangan penganut keagmaan soal posisi mereka dalam konteks lingkungan hidup.

Satu hal yang menarik jika kita mengamati karya White yang berisi kritiknya terhadap posisi agama semitik terhadap isu lingkungan pada tahun 1967, sebenarnya satu tahun sebelumya (1966) Hossein Nasr sudah membicarakan topik ini dalam sejumlah ceramahnya di AS dengan tema “encounter between Human and Nature” yang kemudian menjadi sebuah buku yang lebih sistematis di tahun 1968 (berjudul Man and Nature: The spiritual crisis of Modern Man). Nasr sendiri mengakui bahwasanya saat ia berceramah tentang topik tersebut dirinya mendapatkan cemooh dari sejumlah akademisi Barat saat itu yang bertendensi rasis. Misal Nasr mengakui bahwa dia dicemooh dengan ungkapan “siapa orang orang Timur Tengah ini yang sok mau mengajari kita”.  Dapat dikatakan cemoohan tersebut lekat dengan nuansa orientalis yang memadang peradaban Barat sebagai superior dari peradaban lain. Akan tetapi yang menjadi penting dalam ceramah tersebut sejatinya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa agama semitis tidaklah sebagaimana diasumsikan White dimana dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Tudingan itu mestinya lebih tepat dialamatkan pada peradaban Barat modern yang dianggapnya sebagai biang keladi dari kerusakan lingkungan saat ini.

Posisi Nasr yang berseberangan dengan White menjadi menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Nasr menggunakan kerangka peradaban untuk membuat analisisya menjadi lebih jelas. Posisi White mungkin ada benarnya ketia ia menyatakan tradisi keagamaan ala masyarakat Indian, Afrika, atau Aborigin misalnya lebih memiliki koneksi dengan alam dibandingkan dengan Kristen. Tetapi bagi Nasr bukan soal Kristen yang menjadi titik sentral, tetapi lebih kepada soal peradaban Barat dan non Barat yang berbeda secara diametral dalam memahami konsep sakral. Nasr menyatakan bahwa dalam peradaban non Barat sakralitas masih dihayati –tidak terbatas pada masyarakat Indian atau Aborigin, tetapi misalnya di wilayah Persia dan wilayah lainnya seperti China dalam derajat tertentu- sehigga ide tentang konektivitas antara manusia dan alam memang menjadi suatu yang natural. Perbedaan yang mencolok terjadi di Barat dimana konsep sakral telah hilang akibat menguatnya logika antroposentris yang berkembang sejak zaman pencerahan. Ada pencerahan menjadi penanda munculnya konsep baru tentang manusia dan alam yang dikotomis dan hilangnya nuansa sakral pada alam sehingga memudahkannya diekspoitasi secara berlebihan.

Satu konsep kunci yang dikemukakan Nasr ialah tentang absennya sakralitas dalam peradaban Barat modern. Maka Nasr secara terbuka mengakui dalam wawancaranya dengan Ramin Jahanbegloo –seorang akademisi asal Iran- yang terekam dalam buku In Seach of Sacred bahwanya memang ia secara sadar menggunakan terma sacred secara masif dalam berbagai pidato, seminar dan juga karyanya agar istilah itu kembali diperbincangkan di kalangan akademisi Barat. Alasannya agar imaji tentang the sacred yang sudah “dibuang” dalam imaji intelektual dan masyarakat Barat pada umumnya dapat dikembalikan lagi. Menolak lupa mungkin istilah yang tepat untuk menyebut strategi bahasa Nasr ini.

Imaji tentang pntingnya spirit the sacred ini diilustrasikan oleh Nasr dengan seorang pria yang tidak akan memperkosa adik perempuannya setiap hari karena ada konsep sakral yang melekat pada diri sang adik. Maka sang pria tersebut –jika tergolong orang normal- tidak akan berani memperkosanya karena mengetahui kesakralan dari tubuh sang perempuan tersebut. Terlebih lagi dia adalah saudarinya secara biologis.

Kesakralan inilah yang membuat ia menghargai dan tidak akan bertindak melampaui batas pada adiknya. Ide melampaui batas dan tahu diri inilah yang ingin dibangkitkan kembali oleh Nasr tidak hanya pada kasus pemerkoaan tadi tetapi juga dalam lingkup yang lebih luas terkait dengan relasi manusia dan alam. Ketika manusia memahami ada sakralitas di dalam alam sekitar maka dia tidak akan bertindak melampaui batas terhadap alam tersebut.

Perlu ditegaskan bahwa upaya Nasr untuk mendekonstruksi konsep manusia dan alam yang telah terhegemoni oleh peradaban modern Barat sama artinya dengan menyatakan mansia tidak boleh mengolah alam. Nasr juga tidak menyatakan bahwa bukan artinya dirinya menolak pengembangan sains. Akan tetapi bagi Nasr dengan mengembangkan konsep manusia dan alam yang berbasis pada sakralitas maka orang akan lebih bijak bertindak terhadap alam di sekitarnya. Maka bagi Nasr ide tentang sains sakral (sacred science) menjadi penting dimana dalam upaya pengembangan sains mesti didahului dengan upaya membangun framework di kalangan saintis agar dalam melakukan pengembangan sains dia punya kepekaan yang lebih terhadap alam. Hal inilah yang juga perlu dikembangkan di tengah publik sehingga diharapkan kerusakan lingkungan dapat diminimalisir.

Menarik ketika Nasr menekankan pada transfromasi diri dalam memandang realitas berbasis pada perubahan konsep manusia dan alam seakan ide Nasr ini serupa dengan ide yang dikembangkan Al Attas yang menekankan pada olah jiwa. Hal ini tidaklah sepenuhnya keliru karena dalam wawancaranya dengan Ramin, Nasr menegaskan bahwa itulah ide yang dapat dia tawarkan sebagai sumbangsih untuk perbaikan lingkungan global. Perbedaannya mungkin di tingkat pengambilan sumber inspirasi dimana Al Attas berupaya membangun upaya oleh jiwa ini secara khusus berbasis spirit tasawuf. Berbeda dengan Al Attas, Nasr mencoba meluaskannya dengan menunjukkan paralelitas tradisi peradaban non Barat baik yang berasal dari tradisi Islam maupun non Islam seperti peradaban China atau India yang dianggapnya sama-sama mewarisi spirit harmoni alam dan lingkungan.

Poin yang cukup membedakan antara posisi Al Attas dan Nasr dalam konteks penyelamatan lingkungan dapat dikatakan bahwa Nasr sendiri mengakui pada Ramin bahwa dirinya tidak cukup optimis jika sepenuhnya mengandalkan kesadaran diri saja tetapi konteks yang melingkupi dunia ini (baik di Barat maupun di Timur) kini tidak kondusif terhadap upaya penyadaran tersebut. Bagi Nasr misalnya ada konstruksi global yang kuat sehingga menjadikan narasi tentang “normalitas” dan bukan “kedaruratan” lingkungan tetap lestari. Nasr memberikan ilustrasi menarik soal kecelakaan nuklir Chernobyl yang menghebohkan dunia saat itu. Bagi Nasr sejak awal persitiwa itu terjadi ada upaya untuk “menutupi” kejadian tersebut sebagai satu hal yang sifatnya “biasa saja”. Misal jumlah korban yang coba direduksi sekedar tiga orang. Pada akhirnya memang jumlah korban ini tidka bisa ditutupi sehingga puluhan orang dan juga diakui bahwa dari dampak radiasi yang ditimbulkannya bisa membunuh hingga satu juta penduduk. Dari kasus Chernobyl kita bisa berkaca bahwa hingag saat ini kasus tersbeut memang dikesankan hanyalah “kasus khusus” saja dan tidak mungkin terulang sehingga upaya kritik terhadap pembangunan PLTN di berbagai tempat dengan berbasis kasus Chernobyl dianggap “tidak update”.

Nasr juga menyoroti “reduksi” kasus lingkungan dengan “melokalkan” kasus tersebut. Misal Nasr mencontohkan Bhobal di India yang kemudian hanya menjadi “problem” India saja dan bukan negara lain apalagi Barat. Maka dalam konteks kuatnya narasi “normalitas” inilah Nasr sedikit pesimis jika penyadaran ini dapat berlangsung secara masif. Walau dia tetap menyatakan pada Ramin bahwa sekecil apapun langkah yang dapat kita lakukan harus tetap diperjuangkan karena itu adalah kontribusi kita pada dunia.

Satu hal yang menarik ialah ketika Nasr menyatakan bahwa kesadaran global yang lebih luas tentang lingkungan –yang memungkinkannya untuk diajak masuk dalam pembahasan pentingnya perubahan di level ontologis tentang konsep manusia dan alam- hanya dapat terbuka secara masif jika terjadi bencana yang terjadi dalam level besar yang membuat manusia dapat memilirkan kembali posisinya dengan alam yang selaamini dianggap “tidak bermasalah”. Nasr sendiri hanya membayangkan mungkin semacam dampak sasat mata dari global warming atau bencana dalam skala yang lebih luas dari Bhopal. Dari pernyataan Nasr tersebut kita dapat merenungkan kembali apakah misalnya bencana Covid-19 yang melanda dunia saat ini dapat menjadi “pemantik” kesadaran yang lebih luas terhadap perubahan cara pandang manusia terhadap alam? Jika mencermati analisis yang tersebar di berbagai media Barat nampaknya kesadaran itu mengalami pertumbuhan. Akan tetapi sejauh mana itu mampu menjadi “pemantik” untuk kesadaran yang lebih besar hingga saat ini belum dapat diprediksikan karena wabah masih melanda dunia.

Namun, satu hal yang sekiranya urgen dilakukan oleh para aktivis lingkungan saat terjadinya bencana besar semacam Covid-19 inilah yang mesti dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menggugah kesadaran global tentang lingkungan hidup dan perlunya mengubah relasi manusia dan alam. Tanpa perubahan yang berarti –dalam bahasa Nasr sekedar kosmetik- maka manusia akan terus “dihantui” oleh kembalinya bencana serupa. Sebagaimana keyakinan Nasr bahwa upaya penyadaran itu bukan perkara mudah tetapi sekecil mungkin upaya yang kita lakukan adalah satu hal yang bermakna untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link