Oleh: Nasarudin Amin

Terbitnya buku karangan Sdr. Arifin Muhammad Ade, seorang pegiat eco-literaci, ini tidak hanya memberikan “panduan dan sudut pandang” bagi seluruh penduduk bumi tentang kondisi Bumi hari-hari ini. Tetapi juga menjadi “alarm” sebab saat ini fauna serangga sedang dilanda kiamat akibat Bumi yang sedang berada dalam masa kritis. Buku ini tidak hanya mengampanyekan, tetapi juga menegaskan bahwa melindungi bumi tidak hanya menjadi tanggung jawab ahli biologi, virologi, atau ekologi. Tetapi harus di injeksi oleh semua komponen masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab bersama, yang dalam pengantar buku disebutkan :

…Gerakan penyelamatan planet bumi atau menunda kiamat serangga bukanlah urusan ahli biologi, virologi, atau ekologi, itu adalah urusan semua orang karena notabene kita (manusia) adalah milik alam yang kebetulan diberikan akal budi dan kebudayaan sehingga memikul tanggungjawab dan dosa berlebih jika alam kehidupan rusak oleh keserakahan manusia. Kita harus selalalu ingat kata Gandhi: bumi bisa menghidupi seluruh manusia, tapi tak cukup untuk satu manusia serakah (Arifin Muhammad Ade, 2020, xvi)

Tentu saya merasa tersanjung karena diberi kesempatan oleh pengelola Perpustakaan Independensia (Sebuah Komunitas Literasi di Maluku Utara) untuk menelanjangi secara berkeping-keping pikiran penulis yang ditumpahkan ke dalam buku ini. Penulis berhasil memotret perjalanan separuh hutan Indonesia yang tidak lagi perawan selama beberapa tahun silam, yang diimbuhi dengan refleksi, observasi dan pengalaman penulis tatkala aktif sebagai pegiat eco-Literasi di Yogyakarta. Pelibatan penulis sebagai pegiat eco-Literasi, setidaknya memberikan banyak ruang bagi penulis untuk mencermati pelbagai kekurangan dan kelemahan model dan pola advokasi lingkungan selama ini.

KEALPAAN PENDUDUK BUMI

Melestarikan nilai local wisdom merupakan salah satu cara dalam menjaga budaya tradisional di Indonesia. Sebagai negara multikultural dan multi-etnik, masyarakat memiliki kebiasaan yang dibangun atas tradisi-tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dari generasi ke generasi berikutnya. Kenapa? Karena Local wisdom merupakan seperangkat nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif.

Lintasan panjang perjalanan menjaga benteng ekologi bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, civil society mestinya menjadi pemegang hak „veto’ yang memiliki kepentingan menjaga kehormatan ekologi agar dapat terlaksana dengan tingkat kepercayaan tinggi (high trust) dari fauna serangga, disaat Pemerintah dan pemegang proyek perusak lingkungan sedang amnesia dari dosa-dosa besar setelah merusak lingkungan.

Ringkasnya adalah penulis mengajak kita harus pulang pada filosofi kearifan lokal masyarakat dalam mengelola sumber daya alam (SDA) maupun lingkungan. Yang demikian juga merupakan jalan agar bisa terhindar dari tuduhan penulis yang menyatakan bahwa : Paradigma dan kebijakan dasar pembangunan saat ini bersumber pada ideologi kapitalisme yang bersandar pada paradigma ilmu pengetahuan modern yang menganggap bahwa “Tradisi adalah suatu masalah” dan menghambat pembangunan, Padahal ilmu pengetahuan modern tidak sepenuhnya berhasil menjalankan sistem ekologi yang kompleks. Dengan kata lain, masyarakat ilmiah cenderung menyederhanakan sistem ekologi yang kompleks yang mengakibatkan timbulnya serangkaian persoalan dalam penggunaan Sumber Daya Alam (SDA) serta kerusakan lingkungan. (Arifin Muhammad Ade, 2020, 15).

Lalu pertanyaan kemudian mengemuka, apakah dengan pulang kepada filosofi local wisdom mampu meminimalisir dampak ekologi berkelanjutan, serta menunda jadwal kepunahan serangga dan kiamat ekologis. (Baca, Arifin Muhammad Ade, 2020, 1-11)? Di sini penulis hanya mengulangi peringatan yang pernah ditulis Rahmat K. Dwi Susilo dalam buku : Sosiologi Lingkungan, bahwa kita harus memanfaatkan ilmu kampung untuk menjalani hidup yang selaras dan harmoni dengan alam. Karena terdapat kepercayaan bahwa ada kekuatan spiritual dalam lingkungan yang harus diagungkan melalui suatu prosesi dan ritual tertentu. Dengan demikian, mencita-citakan suatu kehidupan yang harmoni, selaras dan seimbang dengan alam dapat terwujudkan. (Arifin Muhammad Ade, 2020, 16)

Lantas, bagaimana caranya kita harus pulang? Di sini ada hal menarik yang tidak sempat dicatat penulis. Saat buku ini mengajak penduduk bumi menyelamatkan serangga, di satu sisi ada juga sebagian petani-petani lokal yang menyebar hampir di semua daerah di Indonesia, termasuk di Maluku Utara sedang massif membasmi hama (jenis serangga juga) karena sering mengancam produksi gabah petani lokal.

Padahal faktanya, manfaat serangga bagi kehidupan manusia justru jauh lebih besar dibanding kerugian yang bisa ditimbulkan. Semua pakar lingkungan setuju bahwa musnahnya serangga dari muka bumi berarti malapetaka besar bagi kehidupan di bumi. Fungsi penting lainnya yang dicangking serangga yaitu dalam soal penghancuran bahan-bahan organik. Tanpa serangga di sekeliling kita, Bumi akan cepat dipenuhi sampah. Dengan keberadaan serangga, sampah-sampah organik dihancurkan. Serangga adalah pengurai pertama sampah-sampah organik, sebelum tahap penguraian selanjutnya dilakukan oleh bakteri (www.mongabay.co.id, 2020, 16,04).

Pada bagian ini, saya juga akan mengkorelasikan dengan kelemahan-kelemahan pada tulisan sebelumnya yang bertajuk : Kepunahan Serangga dan Kiamat Ekologis. Hemat saya, penulis belum betul-betul mengidentifikasi jenis serangga mana saja yang berpeluang punah di abad 21. Dalam tulisan ini, penulis hanya sekadar mengulangi hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli entomologi di Univestity Of Connesticut, dan ahli Biologi Kelautan Amerika Serikat (AS). Padahal semestinya, pada bagian ini penulis mesti betul-betul menggugah penduduk bumi dengan menyajikan data-data yang up to date dan relevan dengan kondisi serangga yang kritis hari-hari ini.

Berbeda dengan tulisan yang bertajuk : Krisis Ekologi Berkelanjutan, Sampai Kapan? Meski penulis tidak mencantumkan jumlah perusahaan tambang mineral logam di daratan Halmahera, namun di dalam tulisan ini penulis berhasil menggugah pembaca dengan menyajikan data-data yang kongkret tentang kondisi hutan Halmahera, Provinsi Maluku Utara hari ini yang tidak lagi perawan. Kesuciannya dirampas, hingga fauna serangga tak mampu lagi membangun benteng pertahanan terakhir.

PEREMPUAN DAN GERAKAN KONSERVASI

“Lelaki adalah laut yang melindungi pulau. Sedang perempuan adalah gunung yang membenahi pulau” (Nukila Amal).

Penggalan kalimat yang dikutip dari novel Cala Ibi karangan Nukila Amal tersebut diatas bila ditafsir sepertinya masih relevan dengan pandangan kelompok konservatif perempuan yang bergerak di bidang lingkungan. Setidaknya ini yang terlihat di dalam Buku Narasi Ekologi. Bahwa Arifin Muhammad Ade membagi empat tema tulisan di dalam bukunya yakni : (1) Ekofeminisme : Memahami Alam dan Perempuan. (2) Pohon, Perempuan, dan Vandana Shiva. (3) Perempuan dan Krisis Ekologi, dan (4) Petani, Revolusi Hijau dan Rachel L. Carson, yang kesemuanya mengangkat tema tentang gerakan konservasi lingkungan dengan dipelopori oleh kaum hawa.

Memang, di jaman modern seperti sekarang semangat perubahan, kemajuan teknologi, revolusi, dan pertumbuhan disepakati oleh para pemikir eco-feminis sebagai produk dari peradaban patriarki. Perempuan belumlah merdeka dan masih berjuang dalam gerakan emansipasi meruntuhkan kelompok kapitalistik, terlebih yang mengeksploitasi alam dan perempuan itu sendiri. Itu sebabnya, penulis menarik kelompok perempuan yang notabene memiliki kepekaan yang sangat kuat sebagai saluran pelapis perlawanan terhadap ancaman eksploitasi lingkungan.

Tak heran, tokoh-tokoh yang dimunculkan adalah yang begitu berpengaruh di bidang ekologi, seperti Maria Mies–Seorang Profesor Sosiologi Jerman Dan Penulis Beberapa Buku Feminis, Vandana Shiva–Cendekiawan, Aktivis Lingkungan, Dan Penulis Anti-Globalisasi India, Aleta Baun (Mama Aleta)–Aktivis Lingkungan Dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Saras Dewi–Filsafat Di Universitas Indonesia, Rachel Louise Carson–Biolog Kelautan Dan Penulis Alam Amerika Serikat. (Baca : Arifin Muhammad Ade, 2020, 23 – 45).

Meski mengangkat tokoh-tokoh eco-feminisme yang paling central berbicara mengenai issue-issue domestik ekologi, namun penulis sepertinya agak luput dengan beberapa data yang mestinya dijadikan sebagai lumbung pikiran dan alat peperangan membangun benteng masa depan bumi dan mencegah kiamat serangga yang berpeluang terjadi secara prematur. Semestinya, pada empat topik tulisan ini, penulis lebih banyak mengulas tentang issue-issue yang bersentuhan langsung dengan masamasa kritis bumi di Indonesia, terlebih di kawasan Indonesia Timur, seperti issue deforestasi, biodiversity, ancaman pertambangan, perampasan ruang hidup suku pedalaman yang hidup di tengah-tengah rimbarawa yang tidak lagi perawan, pemanasan global dll, dan disertai dengan jawaban yang kongkret yang tidak hanya bicara pada batas-batas regulasi dan teori ekologis semata, tetapi menyentuh sampai ke akar masalah yang paling dalam.

Kenapa? Karena penulis menempatkan tiga tokoh eco-feminisme internasional dan dua tokoh eco-feminisme nasional yang kesemuanya memiliki pengalaman dan keragaman basic pengetahuan yang beragam tentang ekologi dan mitigasi. Sehingga dengan demikian soal dalam filsafat lingkungan yang menyatakan bahwa manusia dan alam adalah sebuah kesatuan yang dipisahkan oleh wacana dapat terjawab sesuai tugas dan fungsi masing-masing yang bergerak melindungi bumi dan menyelamatkan fauna serangga.

Sejalan dengan itu, Surya Saluang pada tahun 2014 juga pernah menurunkan laporan hasil study di Hutan Halmahera, Maluku Utara berjudul : Perampasan Ruang Hidup Melalui Pendekatan Tubuh. Dalam laporan tersebut, Surya Saluang menjelaskan mengenai cikal-bakal pemerkosaan hutan-hutan belantara Halmahera bagian Timur hingga Tengah oleh individu-individu yang terlihat eksis dan berorientasi pada kerja spesifik (profesi) penambang hingga berakhir pada kekalahan suku tobelo dalam (Togutil) dalam pertarungan menjaga bentangan hutan yang oleh penulis digeneralisir dalam sebutan pohon sebagai penyuplai oksigen (O2) bagi penduduk bumi.

Menurut Surya Saluang, Pertumbuhan bisnis dadakan memanfaatkan remah ekonomi tambang berlangsung sejak 1997 sampai 2000. Kios-kios di Buli, selain bermunculan amat banyat, juga relatif berukuran jauh lebih besar. Pendatang terus bermunculan memutar roda ekonomi informal, menjadi ojek bentor, menjual nasi tenda, kaki lima, sampai panti pijat dan terapi salah urat khusus kuli tambang. Para pendatang ini, baik dalam rangka profesional maupun informal, menjadi acuan selanjutnya atas kemajuan. Masyarakat mulai “tersadarkan” bahwa alam mereka mampu mendatangkan banyak orang berkat kekayaan kandungannya.

Selain kesuksesan besar para petani transmigran memasuki era 1990-an yang sudah duluan menjadi bukti atas potensi alam sekitar. Potensi tersebut dimaknai sepenuhnya sebagai uang. Relasi manusia-alam terus berubah. Alam kini sepenuhnya sudah menjadi komoditas, ketika sekian petak lahan mulai diukur dan disetarakan sebagai sejumlah uang. Alam tidak lagi sebagai bagian simbiosis dari diri sendiri. Alam kemudian dikapling-kapling sebagai milik pihak-pihak. Dulu garis tapal batas bukanlah hal penting, kini tumbuh sebagai kesadaran kompetitif antara satu sama lain. Kesadaran kompetitif yang selalu terarah pada soal, siapa yang paling banyak mendapatkan uang, dia yang paling banyak uang, menjadi dia yang paling maju. (Surya Saluang, 2014, 16-17).

Ada hal menarik lainnya yang tidak sempat dicatat penulis. tiga tokoh eco-feminisme internasional dan dua tokoh eco-feminisme nasional yang diangkat menjadi empat topik di dalam buku : Narasi Ekologi, mestinya memberikan porsi yang lebih seimbang berbicara mengenai ekonomi. Karena selain memiliki kepekaan yang tinggi, perempuan juga dipercaya memiliki kemampuan untuk bicara mengenai keuangan. Penulis mesti juga menulis tentang potensi kesejahteraan masyarakat yang bermukim di areal pertambangan yang kawasan hutan-nya sudah disulap menjadi kawasan industry pertambangan dalam bentuk angka-angka yang ril. Seperti misalnya angka kemiskinan di Maluku Utara yang selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2017, 2018, 2019, 2020, oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara melaporkan bahwa di tengah-tengah aktivitas industry pertambangan yang begitu pesat, masih ada ribuan warga Maluku Utara yang hidup dalam garis kemiskinan.

TAUBAT DARI DOSA EKOLOGIS

Tahun 2014, M. Bashori Muchsin, Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Malang meluncurkan sebuah opini yang terbit di Media Indonesia, berjudul “Mungkinkan Penjahat Ekologi Tobat?”. Tulisan ini sempat menjadi perbincangan hangat pegiat lingkungan. Kala itu, M. Bashori memulai tulisannya dengan mengatakan, saat komunitas elitis berani dan congkak melakukan perbuatan dosa, memproduksi ketidakadilan, menganyam gaya hidup berkebinatangan, menyuburkan kezaliman, memekarkan kultur „penjarahan‟ atau „perampokan‟ hak-hak sesama, dan menjadikan wajah negeri ini semakin buram akibat praktik kleptokrasi yang tumbuh subur di mana-mana, idealnya mereka (komunitas elitis) tidak ciut nyali jika ada prediksi yang menyebut pasca terjadinya bencana alam di beberapa daerah, dikemudian hari masih akan banyak bencana yang mengeksplosi dan potensial menghancurleburkan Indonesia.

  1. Bashori Muchsin menulis, bahkan saat bencana mengekplosi, kita serta-merta menyebut “Tuhan sudah tidak lagi memartabatkan kita”. Kita tempatkan Tuhan sebagai akar masalah utama terjadinya dan maraknya bencana. Tuhan kita identikkan sebagai sumber problematik bencana.

Penulis pada persoalan ini berupaya menyadarkan pembaca dan menguliknya sebagai persoalan serius dalam peristiwa ekologis hari-hari ini. Upaya penyelamatan lingkungan memang sudah banyak dilakukan baik oleh masyarakat, stakeholder dan Pemerintah melalui beragam kegiatan, termasuk penguatan pada aspek regulasi. Namun hasilnya masih belum nyata. Perusakan lingkungan di beberapa wilayah masih tetap massif berlangsung, bahkan lebih cepat lajunya serta lebih intens seolah upayaupaya pengendalian dan perbaikan yang dilakukan tak ada pengaruhnya sama sekali. (Arifin Muhammad Ade, 2020, 52).

Jika M. Bashori menulis bahwa bencana menjadi tanda Tuhan sedang mengingatkan kepada umat manusia agar lebih giat melakukan jihad spiritualitas dan humanitas supaya manusia bisa kembali bersama Tuhan. Penulis dengan sepenggal ayat Allah SWT, mengajak pembaca bertaubat di bulan ramadhan. Puasa menurut penulis memberikan kesempatan untuk merenung, bahwa planet bumi kita adalah terbatas, bukan tidak terbatas dan mengonsumsi (eksplotasi) secara berlebih-lebihan, sebab sumber daya yang diciptakan pun terbatas.

“…Hai anak Adam, pakai pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan…” (QS. Al A‟raf : 31)

ECO LITERASI HINGGA NASIB BAWANG TOPO

Penulis mengakui, salah satu tantangan penting dalam pelestarian ekologi adalah pengembangan pola pikir yang harus dimulai dari level individu, komunitas hingga ke level yang lebih luas yakni masyarakat. Dan harus dilakukan secara kontinuitas dan konsisten. Harus ada gerakan yang lebih serius untuk memulihkan publik dari melek ekologi dengan merajut gagasan Fritjof Capra (1996), yakni memberikan penyadaran pada masyarakat global akan pentingnya menyadari keadaan dan paham serta mengerti terhadap pekerjaan prinsip-prinsip ekologi dalam sebuah kehidupan. (Arifin Muhammad Ade, 2020, 86).

Ini sejalan dengan gagasan Rene Descrates dalam : Cogito Ergosum “Aku berfikir maka aku ada”. Ke-Aku-an inilah yang menyebabkan manusia cenderung bersikap eksploitatif, destrukrif, dan tidak peduli terhadap lingkungan karena beranggapan bahwa relasi antara manusia dengan alam adalah relasi subjek dengan objek. Padahal alam sendiri punya paradigma. Jika terus-terusan dieksploitasi maka dengan sendiri alam akan mengeluarkan kekuatan dengan daya rusak yang sangat besar, seperti terjadi bencana gempa dan banjir di daratan Halmahera, kepunahan spesies serangga, hingga munculnya wabah pandemi seperti yang terjadi sekarang yakni Virus Corona. Di sinilah Eco-literasi menjadi jembatan pengetahuan (knowledge) sekaligus mengenalkan dan memperbaharui pemahaman masyarakat akan pentingnya keseimbangan ekologis global.

Penulis juga dengan mengutip Yuval Noah Harari dalam buku Homo Deus : Masa Depan Umat Manusia (2018) mencoba meyakinkan pembaca bahwa penyebab kematian umat manusia bukan lagi disebabkan karena kelaparan, tetapi kebanyakan manusia mati disebabkan karena obesitas (kelebihan makan). Bahkan penulis juga membuat riwayat dan historiografi modern, pada awal abad ke-20. Lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat McDonald dan KFC ketimbang akibat kekeringan, Eboa, atau serangan al-Qaeda. Bahkan sepanjang sejarah umat manusia, matinya manusia dalam jumlah jutaan disebabkan karena ancaman dari wabah. (Arifin Muhammad Ade, 2020, 93)

Tentu model penyelamatan ekologi di masa mendatang haruslah disesuaikan dengan perkembangan dunia saat ini, disamping itu juga diperlukan strategi dan kepercayaan tinggi (high trust) yang kongkret dan bisa menyentuh sampai ke akar masalah. Di lain sisi, penulis juga membeberkan data-data sampah plastik yang dikutip dari salah satu media nasional berdasarkan data ScienceMag dengan menyajikan data-data sampah plastik global sejak tahun 1950 hingga tahun 2015 yang apabila dikaitkan dengan datadata penyebaran sampah plastik terbaru maka tentu akan sangat menyeramkan.

Dr. Costas Velis dari Universitas Leeds di Inggris pernah membuat kajian yang hasilnya sangat mengejutkan. Dalam kajian tersebut menyebutkan sampah plastik sebanyak 1,3 miliar ton diperkirakan bakal mencemari daratan dan lautan dunia pada 2040 mendatang, kecuali jika khalayak menggelar aksi global. Dalam sebuah artikel yang terbitkan www.bbc.com/indonesia mengungkap fakta mengerikan itu. Dr. Ian Kane, peneliti mikro-plastik di dasar laut dari University of Manchester di Inggris berpendapat, peningkatan rata-rata produksi plastik guna memenuhi permintaan global punya konsekuensi mengerikan bagi lingkungan.

Pada poin ini, penulis mengajak seluruh penduduk bumi segera menyelamatkan bumi, kesadaran di dalam diri perlu ditanamkan, kepedulian perlu ditumbuhkan yang di dalam tulisannya disebutkan :

“…Mari sama-sama kita bergerak sebelum kita semua tenggelam dalam laut plastik dan tertimbun di atas tumpukan sampah yang menggunung…” (Arifin Muhammad Ade, 2020, 98)

Sebagai pria kelahiran Topo, Penulis barangkali sengaja menempelkan identitasnya pada bawang topo yang kini hampir punah. Meski tidak memiliki korelasi dengan tulisan-tulisan sebelumnya, namun bawang merah topo tetap menjadi plasma nutfah dan sekaligus kearifan lokal penduduk yang bermukim di daerah ketinggian (±700 MDPL). Varietas lokal ini sering dijumpai di lereng-lereng bukit dengan kemiringan lebih dari 35 derajat yang merupakan habitatnya.

Di dalam tulisan ini, penulis hanya menitipkan pesan kepada pengambil kebijakan maupun pihak-pihak berkepentingan (stakeholder) agar senantiasa merawat dan memaksimalkan varietas lokal yang menjadi identitas warga Kota Tidore tersebut.

CATATAN AKHIR

Pada setiap tulisan, penulis dengan elegan mengurai tentang keadaan bumi yang semakin kritis dan fauna serangga yang sedang menuju kiamat prematur. Disamping itu, penulis juga dengan elegan mengajak seluruh penduduk bumi agar bersama-sama menyelamatkan bumi dengan tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang melawan hukum alam.

“…Menyudahi persoalan lingkungan yang semakin kritis memang terasa sulit, dikala masyarakat modern sudah tergantung dengan teknologi yang semakin memudahkan manusia untuk beraktifitas. Kita juga tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengembalikan kondisi lingkungan/alam seperti sedia kala. Tetapi, paling tidak untuk membangun keharmonisasian dengan alam dapat dilakukan dengan menggali kembali kearifan-kearifan lokal yang tenggelam dalam arus globalisasi…” (Arifin Muhammad Ade, 2020, 113).

Karena itu, pilihan judul “Narasi Ekologi – Kiamat Serangga dan Masa Depan Bumi” memang lebih memberikan perspektif lebih jauh, bahwa penulis mencoba mengurai peran-peran strategis dan begitu vital seluruh komponen penduduk Bumi secara filosofi, ekologi, biologi, virologi, atau geolog yang selama ini mungkin terlalu berjarak dengan realitas alam hari ini. Karena itu, “Kiamat Serangga” mengisyaratkan bahwa bumi harus segera diselamatkan.

Mengahiri pengantar diskusi ini, perlu disampaikan, bahwa proses pelestarian alam dan atau perlindungan terhadap alam di masa mendatang harus dilakukan secara sinergi dengan tidak memisahkan manusia dengan alam pada batas-batas wacana atau pada batas-batas objek dan subjek.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link