Alam adalah satuan struktur dari semesta raya ini, bahkan sangat jelas Allah SWT menerangkan bagaimana pecintapaan semesta dan konstruksi alam ini serta menglihat tanda-tanda yang Allah ciptakan sebagai generasi berfikir.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ  . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dalam surah Al-Imron ayat 190-191 mempunyai dimensi spritual yang tinggi bagaimana  penggabungan dzikir yang bagian dari implementasi menglihat kekuasaan Allah melalui peciptaan alam dan lingkungan hidup dengan rapi ini. “Di sini bertemulah dua hal yang tidak terpisahkan yakni dzikir dan pikir,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. Kedua hal ini mempunyai daya yang kuat dalam pemaknaan untuk selalu menjaga lingkungan sehingga menjadi bagian dari generasi terbaik yaitu generasi ulul albab.

Dalam lingkungan hidup melalui penjabaran Alqur’an Surat Al-Baqoroh ayat 164  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi ; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan tentang surah tersebut yaitu Al-Hafidzh Abu Bakar ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Sa’id Ad-Dasytaki, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakek, dari Asy’as ibnu Ishaq, dari Ja’far ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hadits berikut: Orang-orang Quraisy datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami menginginkan kamu mendoakan kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas buat kami.

Untuk itu maka kami akan membeli kuda dan senjata dengannya, dan kami akan beriman kepadamu serta berperang bersamamu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berjanjilah kalian kepadaku, bahwa sekiranya aku berdoa kepada Tuhanku, kemudian Dia menjadikan bagi kalian Bukit Safa emas, kalian benar-benar akan beriman kepadaku.” Maka mereka mengadakan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk hal tersebut. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Tuhannya, dan datanglah Malaikat Jibril kepadanya, lalu berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu sanggup menjadikan Bukit Safa emas buat mereka, dengan syarat jika mereka tidak juga beriman kepadamu, maka Allah mengazab mereka dengan siksaan yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di antara makhluk-Nya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Tuhanku, tidak, lebih baik biarkanlah aku dan kaumku. Aku akan tetap menyeru mereka dari hari ke hari. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. (Al-Baqarah: 164), hingga akhir ayat. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula dari jalur lain melalui Ja’far ibnu Abul Mugirah dengan lafal yang sama. Ia menambahkan di akhirnya: . (Malaikat Jibril berkata), “Mengapa mereka meminta kepadamu Bukit Safa (agar dijadikan emas), padahal mereka melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang lebih besar daripada Bukit Safa itu?” Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah, telah menceritakan kepada kami Syibl, dari Ibnu Abu Nujaih, dari ‘Atha’ yang menceritakan bahwa diturunkan ayat berikut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di Madinah, yaitu firman-Nya: Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 163) Maka orang-orang kafir Quraisy di Mekah berkata, “Bagaimanakah dapat memenuhi manusia semuanya hanya dengan satu Tuhan?” Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia sampai dengan firman-Nya sungguh (terdapat) tanda-tanda (kebesaran dan keesaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Baqarah: 164) Dengan demikian, maka mereka mengetahui bahwa Tuhan adalah Yang Maha Esa, dan Dia adalah Tuhan segala sesuatu serta Yang Menciptakan segala sesuatu.

Iman Hijau Sering Terlupakan

Pengelolaan lingkungan hidup adalah pemanfaatan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup yang dibebankan kepada manusia sebab Allah telah menciptakan manusia dari bumi (tanah) dan menjadikan manusia sebagai pemakmurnya. Amanat Allah yang di bebankan kepada manusia ialah memakmurkan bumi ini dengan kemakmuran yang mencakup segala bidang, menegakkan masyarakat insani yang sehat dan membina peradaban insani yang menyeluruh, mencakup semua segi kehidupan sehingga dapat mewujudkan keadilan hukum ilahi di bumi tanpa paksaan dan kekerasan, tapi dengan pelajaran dan kesadaran sendiri.

Menyadari manusia dicipta dan dibangun dari komponen-komponen tanah dan oleh karena itu manusiapun bertanggung jawab sebagai pembangun, pemelihara dan pemakmur tanah. Karena pembangunan itu sendiri adalah bagian penting dari pengelolaan lingkungan menjangkau menjangkau semua segi lingkungan hidup, oleh karenanya harus dipilih prioritas pembangunan yang secara strategi mampu menjangkau sebanyak mungkin segi kehidupan.

Dalam alam semesta ini dan diantara sumber daya hayati, manusia sebagai faktor penentu kehidupansebagai kholifah Allah yang ditugaskan sebagai manajer sistem tunggal yang meliputi bumi dan yang tunduk dan taat kepada pengatur dan pencipta sistem, sebagaimana Firman Allah Q.S. Al-Israa’ ayat 70. Allah menciptakan manusia dengan satu tujuan tertentu ialah semata-mata hanya untuk mengabdi. Walaupun manusia ditetapkan Allah dalam posisi dan derajat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya tetapi tidak berarti bahwa mereka memilih kekuasaan yang yanpa batas terhadap alam dan isinya.

Dalam konteks memelihara jiwa, agama, keturunan, barang, serta akal berikatan langsung maslahat ekologi. kata mashlahat menurut ulama ushûltentang mashlaha tadalah identik dengan kata manfaat, baik dari segi lafal maupun makna. Imam Al-Ghazali meringkaskan definisi mashlahat dengan mengatakan bahwa pada prinsipnya ia berarti “mengambil manfaat dan menolak kemudharatan dalam rangka merawat tujuan-tujuan syara’. Dari definisi Al-Ghazali tersebut di atas, mashlahat terkait erat dengan almaqâshid al-syar’iyyah.

Memanfaatkan dan memelihara melalui grammar ekologi atau bahasa alam sangat erat kaitanya serta membangun kaidah berfikir. Yusuf Qaradhawi mengelaborasi prinsip ini dengan menyatakan bahwa menjaga lingkungan sama dengan menjaga agama. Merusak lingkungan dan abai terhadap konservasi lingkungan sama dengan menodai kesucian agama serta meniadakan tujuan tujuan Syari’ah. Melalui kontruksi al-maqâshid al-syar’iyyah tentang memelihara dan maslahat di atas Qaradhawi menyebut bahwa menjaga lingkungan sama dengan menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga properti. Rasionalitasnya adalah bahwa jika aspek-aspek jiwa, keturunan, akal, dan properti rusak, maka eksistensi manusia di dalam lingkungan menjadi ternoda.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Al Bawi

adalah Pimpinan Pusat IPM

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link