Menanam Perlu Belajar

 Menanam Perlu Belajar

Menanam merupakan salah satu misi kegiatan RBK. Lihatlah moto RBK “Membaca, Menulis, Menanam”. Menanam termasuk pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh kaum terpelajar. Dengan menanam, kita memiliki kepedulian pada kelestarian alam dan ekologi.

Hari Ahad, Pak David silaturahim ke rumah bersama Mbak Rif’ah istrinya dan Tasbih Semesta Raya putra ketiganya.

Salah satu pembicaraan itu adalah rencana kegiatan berkebun pada hari Senin sore. Ya, esok harinya.

Segera siang itu saya menemui Mas Deni di sawah. Kalah cacak, menang cacak. Ketemu alhamdulillah, tidak pun tak apa. Yang penting usaha.

Alhamdulillah, qadarullah, siang itu bertemu Mas Deni. Kami sampaikan rencana kegiatannya. Mas Deni menanggapi dengan baik.

Pak David segera saya hubungi. Sesaat kemudian, Pak David dkk bergabung. Melihat satu per satu lahan Mas Deni yang telah dipetak-petak. Ada 4, yaitu lahan yang sedang diolah, lahan kacang panjang pasca panen, lahan timun siap panen, lahan kacang panjang yang sedang tumbuh. Mendengarkan penjelasan Mas Deni tentang dunia pertanian, sungguh mengasyikkan.

Waktu, jam, dan undangan dirapatkan sejenak.

Menghubungi para pemegang kebijakan di Kanoman pun kami lakukan. Maklumlah, ini memang masih masa pandemi. Musti hati-hati. Disiplin prokes tetap harus kami lakukan.

Senin sore, anak-anak remaja muda Kanoman telah berkumpul. Wuiiiih.. ramai sekali.

Petualangan pun kami mulai.

Di lahan, pembelajaran senantiasa diwarnai kehebohan anak-anak remaja muda Kanoman ini. Masker sudah dibagikan, sehingga dipastikan semua mengenakan masker. Mereka maunya melepas. Yang nggak ada Corona laaah, yang karena ada seorang kawannya nggak pakai masker laaah.. haha.. heboh kan..

Beberapa kali penyampaian materi oleh Mas Deni diinterupsi oleh ulah anak-anak remaja muda Kanoman ini. Kalau di kelas, para siswa cenderung terkondisi duduk manis mendengarkan penjelasan guru. Kalau ini, kami semua menikmati kehebohan suasana sore itu.. hahaha. Ya, inilah mungkin yang dinamakan pembelajaran berbasis masyarakat. Ada yang lari sana-sini. Ada yang olok-olok. Satunya lagi nggak terima, ganti balas. Hadeh.. benar-benar menempa kesabaran kami.

Bagaimana pun, kami tetap bersyukur. Mas Deni mengetahui dan memahami tingkah polah anak-anak remaja muda ini. Akhirnya materi pun tetap bisa disampaikan. Konsekuensinya, kami semua bagi tugas. Ada yang tetap stay mendampingi pembelajaran dengan beberapa remaja muda yang masih konsen belajar. Ada pula yang tugas ngereh-reh para remaja yang membelot. Xixixi… Meriah bukan?

Kegiatan terus dilangsungkan.

Saatnya panen timun. Mereka pun bergegas ikut panen. Semua tampak bersemangat. Satu per satu dikumpulkan. Mereka tampak bahagia. Alhamdulillah.

Lempar-lemparan tanah? Ya.. ya.. tak jemu kami terus mengedukasi mereka untuk fokus memetik timun. Begitulah, pendidikan tak mengenal kata lelah. Mendidik dan terus mendidik.

Berikutnya sesi makan. Satu per satu mencuci tangan terlebih dahulu, sesuai dengan protokol kesehatan. Dengan senang hati Bu Tatik mempersilakan para remaja muda ini cuci tangan. Bu Tatik pun tersenyum melihat tingkah polah mereka.

Menikmati sajian makan sambil duduk-duduk di pinggiran sawah. Khusyuk. Menu makannya diambil oleh Pak David di rumah Bang Alfian. Minumnya Thai Tea. Seger.

Sambil makan, mereka mendengarkan kami menerangkan pengulangan kegiatan yang telah kami semua lakukan.

Edukasi membuang sampah di tempat sampah juga terus kami ingatkan. Begitulah.. kegiatan sore hari yang cukup seru.

Sebelum pulang, mereka diminta baris, antri pembagian timun.

“Apa bahasa Inggrisnya “timun”?” tanya kami. Mereka masih ingat yang kami ajarkan dan mereka pun menjawab, “Cucumber.” Horeeee… Timun pun diberikan. Mereka pamit pulang.

Antrian berikutnya, pertanyaan sama, “Apa bahasa Inggrisnya timun?” Anak ini masih agak kecil. Diam memikirkan. Mungkin mendengar selentingan bisikan teman, dia pun menjawab ragu, “Ketumbar..” Kami tersenyum dan meralat jawabannya, “Cucumber”. Dia pun menirukan, “Cucumber”. Dia pun pulang dengan kegembiraan.

Tentu saja kami semua lega, bersyukur dan bahagia. Alhamdulillah ‘ala kulli hal..

Terima kasih atas doa dan dukungan Bapak Jumakir Kepala Dukuh Kanoman beserta Ibu, Bapak Budi Ketua RW 05 beserta Ibu, Bapak Deni dan Ibu Elis, Ibu Hj. Tatik, Bapak Fani Andartanto Ketua RT 01 beserta Ibu, Bapak Lilik Ketua RT 02 beserta Ibu, Bapak Andi Ketua RT 03 beserta Ibu dan Bapak Paijo Ketua RT 04, dan segenap Bapak & Ibu di seluruh wilayah Kanoman.

Mari bersama terus mengedukasi putra-putri kita. Merekalah calon penerus generasi bangsa. Di pundak merekalah harapan bangsa ini ditumpukan. Pengetahuan dan ketrampilan senantiasa kita berikan dan terus diasah. Bekali mereka dengan akhlak mulia dan utama.[]

Senja di Kanoman, 31 Oktober 2021

Bagikan yuk

Sri Lestari Linawati