Saya baru saja mendapat kiriman poto sebuah lukisan nan elok karya tangan piawai sang maestro sastra dan budayawan (Madura). D Zawawi Imron. Beliau seolah ingin mengekalkan semangat juang bangsa bahari. Dari teman yang mengirimkan poto itu, saya juga dapat arti sebuah kosa kata bahasa Makasar. “Ngaru”, artinya ikrar.

Saya pun merajutnya jadi tajuk catatan ini:

Alkisah, menaklukkan samudera sudah menjadi ikrar nenek moyang kita. Mereka adalah pendiri sekaligus pewaris awal negeri bahari yang kita diami. Kisah kesatria pelaut ulung moyang kita terpatri dan bertebaran di berbagai literatur sejarah bangsa-bangsa besar dunia.Tak heran, Majapahit masyhur sebagai kerajaan maritim besar di zamannya. Tentu kita juga ingat Gajah Mada, patih Majapahit yang berikrar mempersatukan pulau-pulau Nusantara.

Namun, kita seperti tiba-tiba terjaga dari mimpi buruk. Betapa tidak, sebuah berita muncul dari laut China, tentang Ari, Sefri, dan Alfatah yang mati disiksa dan jasadnya dibuang ke laut. Mereka saudara sebangsa. Anak-anak kandung bangsa bahari yang besar dan kesohor ini.Mereka bekerja di kapal-kapal berbendera RRT sejak tahun silam. Sungguh tak terbayang, anak bangsa bahari hengkang pukang dari negerinya, dan meregang nyawa sebagai budak kapal-kapal ikan bangsa asing itu.

Ambiguitas Pemerintah

Ternyata, sampai hari ini Pemerintah pun masih ambigu menyikapi dengan tegas dan berwibawa peristiwa memilukan itu.Dengan upaya tak memuaskan, Pemerintah hanya melugaskan kembali aturan bahwa kematian orang di laut dan mayatnya dilarung adalah hal normatif. Sesuai aturan internasional (ILO).

Tentu saja bukan jawab itu yang ingin kita tahu. Kita menghendaki suatu pertanggungan jawab yang terang dan masuk akal dari sebuah peristiwa gelap kematian yang diduga akibat penyiksaan.

Benarkah mereka kerja menanggung siksa selaku budak di kapal-kapal itu? Setidaknya, itu dulu yang ingin kita ketahui pasti.

Namun, pemerintah seolah enggan mempertanyakan tegas tentang hal itu dan menginvestigasi detil sebab kematian ketiga anak kandung bangsanya sendiri. Meskipun, berbagai media beramai-ramai telah melansir dugaan kuat–sejak cuplikan vidionya viral pada 6/5/2020, bahwa mereka didera pedihnya siksa perbudakan.

Pertanyaan lain pun merebak, ada apa dengan sikap lembek pemerintah?

Apakah sikap lembek itu akan menjadi pembenar kecurigaan bahwa pemerintah tidak akan pernah sanggup berdiri tegak di hadapan pemerintah China lantaran beratnya hutang dan harapan investasi?Jika itu benar, berarti pejabat-pejabat itulah manusia bermental budak yang sesungguhnya.Dugaan tentang perbudakan di kapal-kapal asing itu sungguh tak terbantahkan, mengingat kejadian yang sama pernah terjadi di negeri kita. Di Benjina, Kepulauan Aru.

Malang nian, anak bangsa bahari yang amat luas nan kaya lautnya, melimpah sumber daya ikannya, hengkang ke negeri orang dan bekerja serupa budak belian.

Ketika mati, jasadnya pun tak pulang.Bangsa bahari yang besar itu, mungkihkah kini masih relevan kita gaungkan?

Wallahu’alam

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link