Bagaimana seorang anak memuliakan rasa kehilangan dan peristiwa mudik seorang mama. Fauzan jenis manusia reflektif yang penuh kekuatan. Kalimat pengantar itu teramat berkesan dan mendalam.

.
.
.
Mengantar mama ke tempat terbaik se-jagad semesta, bersama segenap rasa sayang. Mama kami, Sutarni Hadji Ali, perempuan yang membawaku ke dunia ini, kembali pada sang Maha Pemilik Hidup. 17 Agustus 1962 — 22 Februari 2020.
.
Mamaku sayang kembali ke pelukan bumi. Mama, tiada lagi rasa sakit yang kemarin. Dan aku tidak lagi mendengar suaramu menangis. Kuingat Desember 2019, aku terbang ke Manado menemuimu. Aku memelukmu sambil menangis. Kau merangkulku, dan aku merasakan seluruh tubuh luruh dalam keadaanmu. Waktu itu, aku mengantarmu pulang ke rumah. Engkau masih sempat kurawat. Kondisimu alhamdulillah membaik.

Februari 2020, engkau mulai merasakan lagi sakit setelah operasi. Mamaku sayang, di depan layar telpon genggam istriku menyuruhku untuk menemuimu segera. Aku berangkat bersama bapak mertua. Aku masih melihat engkau, walau kondisi makin lemah. Aku memelukmu, menemanimu, walau itu tak mengurangi sakit.

Mama, kata papa, saat ini engkau ada di tempat tidur yang baru. Tempat tidur di mana aku akan menemuimu melalui kata-kata merayu pada sang Rabbul ‘Alamin di sepertiga malam tiap harinya. Semoga aku berhasil membujuknya mempertemukanmu denganku. Sesaat pun tak masalah. Aku ingin engkau mengusap rambutku, memasakkan aku ikan kuah, sambal dabu-dabu, ikan woku, garo rica, dan aku berbagi denganmu nasi kerak di panci tua.

Di atas ranjang, kasur dan bangku tempatmu berbaring dan duduk, aku mengenang seperti masih ada di sini, di dekatku. Barangkali, menyuapimu di bulan Desember itu adalah berkah yang tak bisa kutukar. Engkau mamaku tersayang.❤❤ (Fauzan A Sandiah).

*keluarga Rumah Baca Komunitas berduka dan turut melayangkan doa doa terbaik untuk ibunda Kak Ozan dan keluarga semda di Manado.

Komentar Pecinta RBK

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link