Saya biasanya menghindari resensi atas sebuah film sebelum menontonnya untuk menghidari bias dari si peresensi guna mendapatkan cara pandang saya sendiri yang orisinil. Tapi itu gagal untuk film “Parasite”. Banyaknya resensi atau sekadar pujian pendek atas satire tentang realitas kelas sosial yang menjadi substansi film ini yang bertebaran di dinding media sosial. Yang mendominasi perbicangan adalah “film ini mengkritik tatanan kelas sosial, yang dengan begitu mengkritik kapitalisme”.

Dengan pegangan atas bocoran informasi itu saya kemudian menonton. Dan bingung. Realitas sosial yang terbagi dalam kelas atas dan bawah memang mencolok dari film ini. Tapi apa bisa dengan begitu ketimpangan kelas yang mencolok dalam film ini diklaim sebagai kritik atas kapitalisme? Sebagian dari mereka yang mengikuti perjalanan karir si sutradara akan menjawab pertanyaan di atas dengan nasehat untuk menonton film lainnya, Mother, misalnya. Ini ada benarnya, tujuan utamanya untuk melihat karakter yang menjadi ciri khas dari si sutradara. Tapi ini hanya sebagian benar. Sebab, bukankah sebuah karya, termasuk film, dapat dinilai makna atau pesannya dari substansi karya tersebut tanpa menyeret-nyeret karya lain dari si pembuat karya?

Setelah menonton film ini, saya sependapat dengan komentar dominan bahwa film ini berbicara soal realitas ketimpangan kelas. Tapi, menurut saya, ketimpangan kelas yang digambarkan dalam film ini sekadar “peristiwa” semata. Artinya si sutradara hanya menggambarkan realitas ketimpangan kelas sebagai peristiwa – sejauh yang saya amati dalam film ini – tanpa menjelaskan kenapa dan bagaimana mulajadi terciptanya ketimpangan kelas. Ini mirip komentar para agamawan soal kaya-miskin tanpa mampu menjelaskan kenapa dan bagaimana tercipatnya minoritas kaya dan mayoritas miskin. Bedanya, kalau agamawan melegitimasi tatanan yang timpang dengan takdir, si sutradara bahkan tak masuk ke sana. Ia sekadar menggambarkan peristiwa.

Saya bisa pastikan bahwa mas, mbak, ibu, dan bapak pekerja, entah pada sektor formal maupun informal, baik jadi kuli bangunan maupun tukang jajal tahu sumedang di jalan raya, ketika nonton film ini akan sama bingungnya dengan saya ketika dikait-kaitkannya dengan kritik atas kapitalisme. Pertanyaan soal apa itu kapitalisme tidak didapatkan dalam film ini.

Saya setuju dengan Saut dalam kritiknya atas film tersebut. Kalimat berikut mewakili kesan yang saya dapat dari menonton film ini “Bong Joon-ho bermain dengan stereotipe kelas-pekerja tapi dia gagal menganalisis sistem yang menciptakan Keluarga Kaya dan Keluarga Miskin dalam filmnya itu. Alih-alih jadi kritik atas kapitalisme, Parasite malah jadi peringatan atas bahaya kalau mempercayai kelas pekerja!”.

Anda akan mendapatkan pengalaman menonton yang nyaris berkebalikan ketika melihat bagaimana Irffan Khan dengan sangat cerdik memperlihatkan mulajadi runtuhnya sebuah jembatan yang berhubung erat dengan korurpsi pada level institusi negara dalam film Madaari (2016).

*Pegiat Gerakan Sosial

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link