Membaca Tanpa Membaca

 Membaca Tanpa Membaca

Bepergian dengan anak yang baru belajar membaca adalah perjalanan yang keriuhannya sulit dilupakan. Di sepanjang jalan, si anak mesti berusaha membaca keras-keras setiap kata yang terlihat olehnya, entah nama toko dan jalan, tulisan di badan truk, spanduk dan papan iklan. Baginya, pesona teks tidak jauh berbeda dari pesona sebuah mainan. Ia menawarkan kesenangan sekaligus imajinasi.

Bagi pembaca kecil ini, membaca ibarat keajaiban. Lewat teks, dia menemukan banyak hal baru yang membuat dunianya terasa kian luas, penuh warna, aroma, bunyi dan rasa. Sastrawan Mario Vargas Llosa (2018) bahkan masih bisa mengingat keajaiban yang dirasakannya saat membaca buku cerita pada masa kanak-kanak. Bagaimana kata-kata berubah menjadi imaji-imaji fantasi yang hidup dan mampu menariknya masuk ke dalam lembar buku cerita demi berkelana dengan Kapten Nemo. Sayangnya, setelah tumbuh dewasa, sebagian besar anak tidak mampu lagi merasakan hal serupa kala membaca. Jadilah mereka seperti sebagian besar pembaca buku pada hari ini. Orang-orang yang membaca tanpa membaca.

Tujuan membaca adalah untuk mengerti makna sebuah teks. Hans-Georg Gadamer, sebagaimana dikutip Ignas Kleden (2004), memberikan pengertian tentang apa yang dimaksud dengan “mengerti” dalam hal ini. Pertama, mengerti yang bermakna memahami. Seseorang yang membaca diharapkan bisa menangkap dan memahami makna teks yang dibacanya secara keseluruhan dan utuh. Kedua, mengerti yang bermakna menerangkan. Selepas membaca, pembaca diharapkan mampu menerangkan teks yang telah dibacanya. Menerangkan bukan hanya sekadar menceritakan kembali isi teks, melainkan, sebagaimana dikatakan Kleden, mampu “membuat yang tersirat menjadi yang tersurat.” Ketiga, mengerti yang berarti menerapkan. Artinya, pembaca mampu menangkap konteks teks yang dibacanya yang disesuaikan dengan konteks kekinian.

Berbicara tentang membaca mesti selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dan duduk di rangking nomor berapa negara kita ini. Sebuah kondisi yang tentu saja tidak membanggakan, tapi jangan pula sampai disikapi dengan cara yang keliru hanya agar posisi itu lekas terdongkrak. Misalnya, cara yang menyamakan laku membaca seperti laku mesin fotokopi pencetak tulisan.

Membaca Dengan Kecepatan Cahaya

Teknologi maju telah membuat kehidupan seolah berputar cepat. Di dalamnya, orang-orang berusaha pula menyamakan kecepatan dalam segala hal, termasuk membaca. Menyandingkan kecepatan membaca dengan kecepatan internet dimana kian tinggi kecepatan membaca seseorang adalah sesuatu yang bagus. Sebuah kesadaran keliru yang kemudian menghadirkan frasa “tantangan membaca”. Melekatkan kata “tantangan” pada “membaca” tanpa menyadari bahwa seiring itu pula kata “membaca” direduksi nilai dan maknanya. Ia menjadi sedangkal laku mengeja.

Seorang penggiat literasi menantang para orangtua untuk membacakan anaknya 1.000 buku sebelum masuk sekolah TK. “Satu buku tipis sehari,” ajarnya, yang berarti 1.500 buku dalam waktu lima tahun, demikian hitung-hitungannya.

Di sebuah media literasi daring, seorang pembaca muda bersinar dalam salah satu berita berkat kemampuannya membaca super cepat. Dia sanggup “melahap” 100 halaman buku dalam waktu 10 menit. Kemampuan membaca kilat ini dianggap sebagai sesuatu yang patut ditiru, apalagi ketika dia bisa menceritakan kembali isi buku secara ringkas.

Seolah tidak mau ketinggalan, sejumlah komunitas literasi dan para pemengaruh di bidang perbukuan juga berlomba-lomba menyelenggarakan program tantangan membaca bertenggat waktu. Mirip sopir angkot yang ngebut demi mengejar setoran, itulah yang dikerjakan para pembaca pengikut tantangan macam demikian: ngebut membaca. Bedanya, bukan bayaran penumpang yang mesti disetorkan di akhir perjalanan, melainkan jumlah buku yang sanggup “dilahap” dalam kurun waktu tertentu, misalnya, setahun.

Demi duduk di ranking teratas atau mendapat hadiah, seorang pembaca memaksa dirinya “melahap” 925 halaman novel Murakami dalam waktu seminggu hanya agar bisa memenuhi kuota bacaannya. Pembaca lainnya mengaku terpaksa menggunakan jurus skimming agar bisa memenuhi kecepatan membaca yang sudah dibuatnya: satu buku per tiga hari. Bila obyek buku diganti makanan, adegan ini akan mengingatkan siapapun pada adegan mukbang dalam video makan-makan. Seorang tukang makan tersohor berusaha melahap berkilo-kilo daging bakso dalam sekian menit durasi video. Apakah si tukang makan benar-benar makan saat mukbang? Apakah si pembaca benar-benar membaca saat melakukan tantangan membaca?

Sebuah artikel daring yang mendorong pembacanya agar senantisa berpartisipasi dalam tantangan membaca berbaik hati membagikan daftar buku untuk setahun dan waktu baca per buku. Sarannya, mulailah membaca dengan buku tipis, seperti buku Metamorfosis karya Franz Kafka, karena bisa dituntaskan dalam waktu dua jam. Entah bagaimana tanggapan Gabriel Garcia Marquez sekiranya membaca saran itu. Sebab menurut Marquez (2019), Metamorfosis adalah “buku misterius dengan tebing berbahaya…” Buku yang mengubah nasib Marquez sejak baris pertamanya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada Marquez bila dia mengikuti program tantangan membaca.

Ketika laku membaca diletakkan dalam bingkai tantangan maka ia menjadi semacam permainan. Ada target yang harus dikejar dan dicapai apapun dan bagaimana pun caranya. Alhasil, niat baik yang ada di balik tantangan semacam itu, yaitu untuk meningkatkan minat baca, menjadi terkacaukan oleh tujuannya.

Mengembalikan Tujuan Membaca

Tujuan membaca hendaknya berada di dalam teks itu sendiri, bukan di luar darinya. Sebab membaca adalah membiarkan teks berbicara dan membuka diri lewat kata-kata, yang melampaui batas ruang dan waktu, demi mengungkap pesan dan makna yang ada di baliknya. Itulah saat dimana “sebuah pikiran asing diam-diam memanjat dinding,” meminjam istilah Nietszche (2019). Pada titik ini, tidak kalah dari serial drama Korea, sebuah buku bisa membuat seseorang lupa waktu.

Sebaliknya, ketika membaca hanya sekadar untuk memenuhi tugas sekolah atau menyetor judul buku atau masuk ke dalam daftar teratas pembaca paling rajin, jelaslah ia tidak akan bisa mengantar pembaca tersebut ke mana-mana, selain ke halaman paling akhir. Membaca juga tidak bisa dipaksakan dengan dalih demi memperluas wawasan, apalagi pada buku-buku fiksi. Bacaan “zona aman” atau “zona tidak aman” hanya bisa dijembatani oleh kesadaran bahwa teks hanya akan membuktikan dirinya bernilai pada orang-orang yang menyukainya dan mau mencermatinya.

Membaca di bawah todongan angka-angka, entah jumlah buku atau tenggat waktu, jelas tidak akan membuat teks terlihat menyenangkan. Ia bakal mengingatkan pada buku pelajaran.

Namun, lantaran setiap zaman mesti punya ciri khasnya sendiri maka anggaplah mungkin itu ciri khas zaman sekarang. Inilah zaman membaca tanpa membaca. Dari pelajar yang lihai menulis sinopsis buku dengan teknik “salin-tempel” dan pembaca lulusan program tantangan membaca barangkali akan lahir generasi baru kritikus sastra Indonesia. Kritikus-kritikus sastra yang benar-benar tidak membaca dengan sungguh-sungguh sebagaimana yang diharapkan oleh sebuah jurnal kritik sastra nasional. Para kritikus sastra spesialisasi “membaca jauh”. *

 

Ditulis oleh : Anindita S Thayf (Novelis dan esais)

Dimuat di Kompas id, 03/10/2021

Bagikan yuk

Rumah Baca Komunitas