Oleh: Fauzan A Sandiah*

Menjelang perumusan hasil sidang komisi C tentang agenda aksi “Jihad Ekologi” dan pembentukan bidang lingkungan hidup pada sidang Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Samarinda tahun 2016, isu ini nyaris kandas di tengah jalan. Waktu itu, perwakilan IPM Makassar menolak agenda aksi jihad ekologi dan bermaksud menggantinya dengan program media Syar’i. Beberapa hari setelah muktamar selesai, seorang aktivis IPM Jawa Tengah melalui komentarnya di akun instagram resmi PP IPM, mengatakan agenda aksi Jihad Ekologi “bukan merupakan isu pelajar”. IPM Yogyakarta, pada waktu itu tidak menunjukkan sikap mendukung atau menolak agenda aksi ekologi. Mereka mempermasalahkan sulitnya “mensosialisasikan gerakan ekologi di tingkat pelajar grass-root”. IPM Jawa Timur, IPM Surabaya, IPM Lamongan, IPM Medan, IPM Palembang dan IPM Kalimantan Selatan mendukung agenda aksi ekologi. Perdebatan mengenai seberapa jauh gerakan ekologi relevan bagi IPM terus terjadi hingga berakhirnya PP IPM periode 2016-2018.Pada masa PP IPM periode 2014-2016, isu ekologi terangkum dalam sayembara kepenulisan ekoliterasi untuk menyambut muktamar Samarinda 2016. PP IPM periode 2016-2018 kemudian menerbitkan hasil sayembara tersebut ke dalam bentuk kumpulan esai ekoliterasi pelajar. Setelah itu, masa panjang penggodokan lembaga lingkungan PP IPM. Dalam pengembangan misi ekologi, PP IPM periode 2016-2018 mengadakan Literacy Camp di Gunung Kidul dengan tema ekoliterasi.Dalam artikel singkat ini, saya bermaksud memaparkan secara garis besar perkembangan isu ekologi dalam IPM. Bagaimana dinamika yang berkembang, faktor-faktor yang mendukung penguatan isu ini, dan rekomendasi praktis bagaimana IPM akan mengaktivasi gerakan ekologi di tingkat pelajar. IPM merupakan organisasi pelajar struktural terbesar di Indonesia. Peran IPM dalam dakwah ekologi sangat penting. Berbagai lembaga konservasi, baik lokal maupun internasional selama dua puluh tahun terakhir menganggap suara aktivis muda muslim sangatlah penting untuk menjaga napas panjang konservasi lingkungan. Sementara itu, inisiatif gerakan pelajar dan mahasiswa di Indonesia belum begitu terhubung dalam mengkampanyekan ekoliterasi.

Akar Isu Ekologi di IPM

Ada tiga genealogi masuknya isu ekologi di IPM. Pertama, melalui pembaruan teks-teks perkaderan IPM yang sangat dipengaruhi oleh gerakan ekopedagogi Paulo Freire. Setidaknya ketika rezim Soeharto menjelang akhir dekade 1990an, dengan munculnya penerjemahan buku pedagogi kritis seperti Pendidikan Orang Tertindas karangan Freire, penyebaran buku Manifesto Intelektual Organik karangan Mansour Fakih dan intensifnya diskusi teologi pembebasan Moeslim Abdurrahman dan Dawam Rahardjo, aktivis IPM sangat terpengaruh dengan gagasan-gagasan pembaruan gerakan. Isu ekologi ini muncul secara simbolis dengan lahirnya buku Sistem Perkaderan IPM Hijau (SPI Hijau) yang banyak memuat pendekatan eco-community, buku Gerakan Anti- Kekerasan tanpa Kekerasan dan buku Pendampingan Kaum Sebaya. Lahirnya referensi-referensi keorganisasian ini menandai babak baru dalam kesadaran kelas dan ekologis IPM.

Kedua, ketika Muhammadiyah mendirikan lembaga lingkungan hidup tahun 2005 dan Aisyiyah dengan program Sustainability Development Goal’s(SDG’s), ada pengaruh terhadap keterlibatan wacana kaum muda Muhammadiyah terhadap isu ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, kesehatan, mitigas bencana dan lain sebagainya. Apalagi ketika Muhammadiyah membentuk Muhammadiyah Disaster Management Center(MDMC) atau lembaga mitigasi kebencanaan, keterlibatan aktivis IPM di tingkat daerah dan wilayah sebagai voluntir sangat berpengaruh terhadap pengembangan keterampilan praktis sadar-ekologi.

Ketiga, meluasnya material wacana publik mengenai darurat ekologi melalui dokumenter, gerakan-gerakan warga-berdaya, komunitas literasi dan aksi-aksi solidaritas, gerakan ekologi IPM makin menguat. Pengaruh faktor ketiga ini terasa sepanjang 2016 hingga 2019. Munculnya penulisan buku, pembentukan komunitas ekologi, mendiseminasi gagasan ekologi, serta menjadi umumnya kosakata lingkungan dalam kesadaran ber-IPM, menunjukkan pendalaman karakter misi ekologi.

Akar isu ekologi dalam IPM bersumber dari wacana teologi pembebasan dan pendidikan orang tertindas. Sebagai salah satu organisasi pelajar yang sangat sistematis mengembangkan wacana progresif, maka sangat wajar jika IPM justru yang pertama kali menggarap isu ekoliterasi pelajar. Belum lama ini, Nasyiatul Aisyiyah dan Kokam juga turut serta mengambil isu ekologi sebagai pembaruan pemikiran gerakan. Jika mendasarkan pada genealogi isu ekologi dalam IPM, maka gerakan advokasi lingkungan harus terhubung dengan misi teologi pembebasan dan semangat pendidikan pembebasan. Hal ini untuk menepis anggapan bahwa kampanye lingkungan di kalangan anak muda Muhammadiyah bernada pembangunanisme.

Program dan Aktivitas Ekoliterasi Pelajar

Program dan aktivitas ekoliterasi pelajar sebetulnya sudah banyak dipraktikkan oleh IPM. Mulai dari literacy camp, sayembara kepenulisan, dakwah ekoliterasi, pelatihan ekologi, diskusi dan kajian dampak lingkungan, serta keterlibatan partisipatoris dalam isu-isu pembelaan ekologi. Tapi ini harus dilengkapi dengan desain program dan aktivitas yang lebih komprehensif dan sistematis. Terbentuknya lembaga lingkungan hidup PP IPM harus disambut dengan baik, mengingat ini merupakan satu-satunya lembaga lingkungan yang pernah dibentuk oleh organisasi pelajar muslim di Indonesia.

  1. Pengembangan Kurikulum Ekoliterasi dalam SPI terbaruSistem Perkaderan IPM atau SPI merupakan sumber rujukan desain besar pelatihan kekaderan yang berfungsi memberi bekal dan rekomendasi penyelenggaraan kegiatan pada fasilitator dan calon fasilitator. IPM pernah memiliki SPI yang bercorak ecopedagogy pada SPI Hijau. Dalam SPI Kuning, unsur ecopedagogy bergeser menjadi ecosophy. Sebetulnya keduanya harus dirangkum dalam satu bentuk yang relevan dengan kebutuhan misi ekoliterasi IPM.
  2. Mendesain Madrasah atau Pesantren Ekoliterasi RamadhanSasaran utama madrasah atau pesantren ekoliterasi adalah anggota IPM di tingkat sekolah menengah pertama (SMP, MTs, dan setingkatnya). Dalam berbagai studi, masa-masa sekolah SMP sangat vital bagi pembentukan kesadaran ekoliterasi. Maka IPM perlu mendesain satu rekomendasi pelatihan dakwah atau keislaman yang bernafas ekoliterasi untuk mengisi kegiatan SMP ketika bulan suci Ramadhan.
  3. Panduan Eko-Dakwah PelajarIPM pada hakikatnya merupakan organisasi dakwah keislaman Muhammadiyah. Maka panduan eko-dakwah menjadi sangat urgen bagi IPM. Ada beberapa aktivis IPM yang pernah berupaya memformulasikan panduan eko-dakwah pelajar. Ada baiknya PP IPM meresponnya dengan membuat lokakarya tiga bidang (PIP, KDI, dan IPmawati) untuk merumuskan panduan eko-dakwah pelajar.

Kesimpulan

Gerakan ekologi merupakan sayap dakwah keislaman yang sangat relevan dan baru bagi Muhammadiyah. IPM sudah seharusnya menjadi pelopor dan inisiator gerakan ini, mengingat IPM memiliki infrastruktur pengetahuan yang memadai dalam merumuskan gerakan ekologi Islam. Dalam berbagai studi mengenai ekologi dan Islam, peran ogranisasi pelajar muslim sangatlah minim. Selama ini, peran ekologi-Islam lebih banyak diperentarai oleh lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren salaf. Kendati demikian, peran Muhammadiyah sangat besar dan berdaya tahan panjang jika gerakan ekologi ini menjadi nafas baru dakwah keislaman abad kedua.

*Pegiat Rumah Baca Komunitas

Komentar Pecinta RBK

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link