Nama Kuntowijoyo sudah tidak asing di mata akademisi maupun budayawan tanah air. Kuntowijoyo telah sukses melahirkan aneka karya dalam kategori fiksi dan non fiksi. Dalam bidang kajian yang digelutinya yakni sejarah telah menghasilkan karya-karya yang menjadi rujukan di kalangan para sejarawan Indonesia bahkan kalangan ilmuwan sosial pada umumnya. Karya-karya sastra Kuntowijoto juga mendapatkan apresiasi tinggi dari para budayawan dan masyarakat luas yang salah satunya tercermin dari sejumlah karya sastra yang ditulisnya mendapatkan berbagai penghargaan. Begitu pula dengan idenya mengenai ilmu sosial Profetik yang mendapatkan perhatian luas dari kalangan akademisi.  Diantara dua karya monumentalnya dalam bidang ini ialah paradigma Islam dan juga Islam sebagai Ilmu. Jika melihat bahwa du buku tersebut terus mengalami proses cetak ulang menunjukkan antusiasme publik yang luas terhadap gagasan intelektual asal Universitas Gadjah Mada tersebut.

Di tengah popularitas nama Kuntowijoyo di tengah masyarakat -entah dalam posisinya sebagai sejarawan, budayawan, atau intelektual lintas batas disiplin, hingga pionir pengembangan ilmu sosial profetik-, mungkin tidak banyak yang mengenal sosok Kuntowijoyo sebagai seorang pemikir di bidang environmentalisme. Padahal jika mencermati karya-karya Kuntowijoyo dengan seksama, termasuk dalam bidang pengembangan ilmu sosial profetik dan juga karya sastra yang ditulisnya mengandung gagasan environmentalisme yang kuat. Akan tetapi mungkin dikarenakan gagasan Kuntowijoyo cenderung “berserak” –karena kebanyakan ditulis dalam artikel-artikel lepas dan barulah digabungkan menjadi satu karya utuh semacam buku Paradigma Islamnya- maka dibutuhkan penelaahan secara lebih seksama. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengelaborasi secara singkat gagasan environmentalisme yang tersebar dalam berbagai tulisannya. Semoga langkah ini dapat menginspirasi para pembaca karya Kuntowijoyo terlebih yang berlatar akademisi dan aktivis lingkungan untuk melakukan telaah secara lebih mendalam sehingga gagasan environmentalisme Kuntowijoyo dapat diurai secara lebih utuh.

Kuntowijoyo secara eksplisit membicarakan soal environmentalisme dalam bukunya Muslim tanpa Masjid. Sehingga menjadi penting untuk memulai penelusuran gagasan Kuntowijoyo dari buku tersebut.  Bagi Kuntowijoyo isu lingkungan adalah salah satu isu penting yang mesti mendpaatkan perhatian dari cendikiawan Muslim. Kuntowijoyo menggolongkan masalah lingkungan hidup ini dalam kategori problematika global yang mesti diperbincangkan serius oleh cendikiawan Muslim di Indonesia untuk kemudian coba dicari pemecahannya. Pengkategorisasian masalah lingkungan sebagai problem global yang perlu untuk dibicarakan cendekiawan Muslim Indonesia menegaskan komitemen Kuntowijoyo pada pelindungan lingkungan secara global. Sebab sebagimana dikatakan oleh sejumlah intelektual lain semacam Nasr bahwasanya problem lingkugan itu sifatnya global sehingga setiap dari kita perlu menjadi bagaian dari upaya penyelamatan lingkungan. Begitu pula dengan aksi yang dibangun mesti melampaui batas-batas teritori negara walaupun tidak menegasikan perlunya kerja-kerja pro lingkungan dalam arti yang “lokal”.

Kuntowijoyo menyebut telah muncul kesadaran mengenai isu lingkungan ini salah satunya dpata dilihat dengan munculnya sejumlah LSM yang secara khusus memperjuangkan isu lingkungan ini. Bagi Kuntowijoyo tentunya ini merupakan perkembangan yang positif dan perlu didukung. Satu hal yang menarik meskipun Kuntowijoyo menyadari adanya berbagai gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat yang memperjuangkan perlindungan lingkungan namun satu hal yang kemudian dianggap Kuntowijoyo menjadi masalah krusial yang belum tertangani adalah soal problem dualisme dalam mempersepsikan realitas. Secara khusus Kuntowijoyo memperlihatkan efek dari logika dualisme ini dalam konteks keadaan umat Islam sendiri yang cenderung memisahkan antara perjuangan lingkungan dengan agama Islam. Artinya agama dan lingkungan hidup adalah dua entitas yang terpisah. Kuntowijoyo secara spesifik menyatakan masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius dari pada cendekiawan Muslim misalnya dengan mengembangkan satu teologi yang menegaskan perlindungan lingkungan sebagai bagaian dari amar maruf nahi munkar.  Kuntowijoyo bahkan menyebutkan bahwa otoritas keagamaan –seperti Majelis Tarjih- perlu menjadi garda terdepan untuk mengatasi problem dualistik tersebut.

Satu hal yang dapat kita simpulkan dari tulisan Kuntowijoyo tersebut adalah bahwasanya problem lingkungan terkait erat dengan problem dualisme dalam memandang dunia. Menjadi lebih miris ketika umat Islam yang mestinya menjadi garda terdepan dalam pembelaan pada kelestarian lingkungan bagi Kuntowijoyo justru mengalami problem dualisme pemikiran serupa. Maka bagi Kuntowijoyo di tangan para cendekiawan Muslimlah isu dualisme ini perlu untuk dilawan sedemikian rupa. Cendekiawan Muslim memiliki tugas stategis dalam memicu kesadaran ini yang dalam bahasa Kuntowijoyo mestilah mampu membantu umat dalam intellectual war. Intellectual war melawan satu zeitgeist (semangat zaman) baru yang hadir seiring dengan tumbunya “zaman teknik” dalam bahasa Kuntowijoyo. Dimana zeitgeist ini meskupun tidak dipaparkan secara eksplisit oleh Kuntowijoyo namun dapat dikatakan sejajar dengan ide desakralisasi yang dipahami oleh Nasr. Terbukti dari pemaparan Kuntowijoyo bahwa sebagai efek dari “zaman teknik” ini spriitualitas tersingkir sedemikian rupa dalam zaman baru tersebut. Kalaupun masih diakui ia telah mengalami “reduksi” sedemikan rupa sehingga tidak lagi memiliki “cukup kekuatan” untuk mendorong trasnformasi masyarakat. Hal inilah yang menurut Kuntowijoyo perlu untuk dilawan dengan sebuah model perjuangan intelektual yang mampu menyasar zeitgeist destruktif dari “zaman teknik” tersebut.

Sapat dikatakan Kuntowijoyo sendiri sadar akan posisi dirinya yang juga merupakan bagian dari umat Islam sehingga perlu turut berkontribusi memecahkan masalah tersebut. Strategi Kuntowijoyo dalam melakuakan perang inteletual demi penyeleamatan lingkungan tersebut ia tuangkan dalam gagasan besarnya tentang pengembangan paradigma Islam dan Ilmu sosial Profetik. Maka menjadi satu keniscayaan bagi kita untuk mengetahui gagasan environmentalisme Kuntowijoyo dengan melihat rancang bangun proyek profetik Kuntowijoto tersebut.

Dalam buku Islam sebagai ilmu Kuntowijoyo menegaskan perlunya melakukan upaya demistifikasi. Demistifikasi sendiri adalah istilah yang dikenal dalam karya-karya Kuntowijoyo lain sebagai upaya untuk meninggalkan mitos dan menyambut realitas. Apa yang dimaksud sebagai mitos dan apa yang disebut dengan realitas oleh Kuntowijoyo? Apa pula kaitan antara proyek demistifikasi dengan gagasan environmentalisme Kuntowijoyo? Jika merujuk pada buku Islam Sebagai Ilmu maka akan didapatkan ragam mistik yang melanda umat Islam maupun dunia secara umum. Salah satunya adalah mistik kenyataan, dimana mhilangnya koneksi antara agama dan kenyataan, yang dalam bahasa kuntowijoyo adalah diskoneksi antara teks dan konteks. Sehingga dari mitos ini perlu didorong upaya demistifikasi yakni menyatukan kembali atau membangun jembatan yang mampu memastikan konektivitas dua entitas yang terpisah oleh mitos tersebut.

Dari penjelasan Kuntowijoyo dalam bukunya tersebut dapat kita tarik kesimpulan penting bahwasanya mitos itu adalah semacam “false consciousness” yang tidak berkaitan dengan realitas. Maka demistifikasi adalah “purifikasi” cara pandang kita agar tidak “terselubungi” oleh berbagai mitos yang ada sehingga memungkinkan kita tidak lagi terjebak oleh distorsi-distorsi dalam melihat realitas. Salah satu jenis mitos yang disinggung Kuntowijoyo yakni mistik kenyataan terkait erat dengan problem lingkungan hidup yang dijelaskan oleh Kuntowijoyo sendiri dalam buku Muslim tanpa Masjid dimana diskoneksi inilah yang mestinya dilampaui. Kuntowijoyo mencoba membuat pelampuan tersebut melalui gagasan besarnya tentang demistifikasi realitas. Bagi Kuntowijoyo cara untuk “mempurifikasi” realitas ini ialah dengan menempatkan paradigma Islam –yang dalam buku Islam sebagai ilmu ia menyetujui posisi Faruqi bahwa visi Tauhid tentang realitas itulah fondasi paradigma Islam- untuk memastikan konektivitas yang hilang ini dapat dirajut kembali. Pelampuan akan dualitas dalam memandang agama dan lingkungan  hidup, atau lebih dalam lagi problem dualisme antara manusia dan alam dapat diatasi berbasis pada kerangka transendensi berbasis paradigma Islam.

Menriknya Kuntowijoyo tidak hanya berhenti pada upaya memberikan solusi yang sifatnya metodologis untuk mengatasi problem lingkungan yang sifatnya terkait dengan proble di level cara pandang terhadap realitas tersebut. Kuntowijoyo berupaya untuk memberikan satu “simulasi” bagaimana melalui proses demistifikasi tersebut akan memicu satu transformasi sosial menuju satu tata kehidupan yang lebih ranah terhadap lingkungan dan juga positif bagi kehidupan manusia. Berbeda dengan sosok macam Abdul Matin yang mencoba mencari praktik nyata kehidupan Muslim yang telah berhasil melampaui dualisme tersebut –atau dalam bahasa Abdul Matin telah menghayati Islam sebagi green deen-, Kuntowijoyo lebih memilih “mensimulasikan” efek positif dari demistifikasi tersebut melalui cerita novelnya.  Satu novel yang sekiranya menjadi contoh penting dari proses demistifikasi ini ialah novel Mantra Pejinak Ular. Kuntowijoyo sendiri memaparkan makna novelnya tersebut secara eksplisit dalam Maklumat Sastra Profetik. Dimana Kuntowijoyo menyatakan tokoh utama dalam novel tersebut adalah sosok yang ingin menjadi pribadi yang utuh. Tidak ingin terserap dalam mesin politik negara. Istilah mesin politik negara kembali mengingatkan kita bahwa negara bekerja dalam logika “zaman mesin” sebagaimana disinggung oleh Kuntowyijoyo dalam Muslim tanpa Masjid. Zeitgeist “zaman mesin” itulah yang mempengaruhi logika negara sehingga ia cenderung bekerja dalam kerangka dehumanisasi manusia dan juga alam.

Dari penegasan Kuntowijoyo tersebut kita bisa paham bahwa sosok tokoh utama dalam novel tersebut yang bernama Abu Kasan adalah seorang yang telah atau menolak proses mistifikasi dan ia memilih untuk menyambut realitas –kata-kata inilah yang juga menjadi penutup novel ini-. Mistifikasi yang terjadi dalam novel ini ialah upaya negara untuk melakukan proyek pembangunan namun berdasarkan nalar yang dikotomik sehingga potensial menghancurkan habitat ular-ular yang ada di wilayah tersebut –ular dapat dipahami secara majas sebagai wujud dari lingkungan itu sendiri-. Alih-alih menjalankan pembangunan yang berkiblat pada negara, sang justru membangun model pembangunnya sendiri yang lebih humanis dan pro lingkungan. Sehingga digambarkan dalam novel di wilayah tersebut penduduk dapat berinteraksi dengan ular secara intim. Hal ini terjadi akibat keberhasilan Abu Kasan untuk menyebarluaskan cara pandangnya pada penduduk dan juga aparatur desa. Artinya dari satu paradigma yang khas Abu Kasan kemudian tergerak untuk melakukan amar maruf nahi munkar sehingga penduduk desa sepakat dengan posisinya untuk menjalankan pembangunan yang ranah terhadap alam. Tenryata hasilnya ketika penduduk dapat berinteraksi secara intim dengan ular menunjukkan bahwa sejatinya dengan menjaga kelestarian alam maka secara otomatis juga menghasilkan dampak positif bagi manusia itu sendiri.

Kritik pembangunan yang dilancarkan Kuntowijoyo menjadi menarik bahkan untuk dikontekstualkan pada saat ini. Ular yang coba “diajak berdamai” justru menghasilkan perilaku ular yang ramah pada manusia. Maka jika gaya berfikir ini dibalik maka ketika mansuia justru memilih untuk merusak alam maka ular tersebut akan menjadi hewan yang ganas dan akan menyernag manusia. Ilustrasi ini menjadi sangat relevan untuk melihat apa yang terjadi di ranah lokal ataupun global dengan terjadinya perusakan alam. Munculnya lubang ozon dan juga hujan asam –yang disaksikan Kuntowijoyo pada zamannya- atau global warming dan juga yang terkini Covid-19 menunjukkan kebenaran apa yang diceritakan oleh Kuntowijoyo melalaui novelnya. Pandnagan yang dualistik ini justru menghasilakn tidak hanya kerusakan alam, tetapi juga mengancam kehidupan manusia. Bahkan dalam kasus Covid-19 menjadi satu analogi yang snagat mirip dengan ular yang dijadikan tokoh dalam novelnya. Covid-19 adalah hewan (virus, level mikroskopik) layaknya ular yang tidak mudah terlihat oleh mata –dalam konteks masyarakat tradisional- namun ketika habitanya dirusak maka yang terjadi adalah serangan Covid-19 pada manusia. Dampaknya sebagaimana digigit oleh ular, seorang dapat mengalami penyakit parah hingga kematian bahkan dalam skala yang sangat luas –hingga tulisan ini ditulis berdasar data WHO sudah lebih dari 700 ribu jiwa melayang di seluruh penjuru dunia akibat virus ini-.

Sebagai penutup, melalui novel mantera pejinak ular kita tidak hanya diperlihatkan satu bentuk ancaman terhadap kelestarian alam dari penetrasi negara modern saja (dengan spririt mesin) yang cenderung memisahkan antara manusia dengan ular (alam). Kita juga diajak memahami ada sisi “tradisionalitas” yang tumbuh di masyarakat yang juga menurut Kuntowijoyo juga punya potensi untuk menganggu kelestarian alam. Dalam kasus ular, misalnya diceritakan sejumlah orang yang atas nama tradisionalisme juga melakukan pembunuhan terhadap ular dengan alasan yang beragam –misal menjadi obat kuat atau obat kulit- sehingga muncul tendensi memperjualbelikannya secara luas. Maka bagi Kuntowijoyo cara untuk mengatasi kecenderungan ini ialah dengan kembali pada paradigma Islam sebagaimana termanifestasi dari sosok Abul Kasan ini. Dimana ia merupakan sosok yang mampu membangun relasinya yang harmonis dengan alam tanpa juga tidak terjebak pada tradisionalisme yang “kaku” yang pada hakikatnya juga memiliki potensi  merusak alam.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link