Kulit Hitam dan Diskursus Rasisme

Oleh: Andi Ar-Rahman
Mahasiswa UAD

Kira-kira sekitar tahun 2005an, ada gaya hidup baru yang tengah ramai dilakukan di kampung, yakni meluruskan rambut dan memutihkan kulit. Latah ini mewabah dari remaja perempuan sampai Mama-Mama. Waktu itu, untuk meluruskan rambut, hanya dua atau tiga orang saja yang punya alat elektronik yang terkenal dengan nama catokan, sedangkan lainnya pakai setrika. Dengan rambut dibalut krim makarizo (atau sejenisnya), setrika berjalan mulus. Rambut berasap, dan hasilnya terlihat. Praktik ini juga dilakukan oleh sebagian remaja lelaki. Hanya saja sebatas membaluri rambut depan mereka dengan makarizo, tidak sampai setrika. Bagi sebagian yang tak cukup mampu membeli makarizo, jalan lainnya adalah dengan mencampur kapur nginang dengan sabun cuci (di kampung, mereka mengenalnya dengan sabun kuning). Hasilnya hampir serupa.

Berbeda dengan praktik meluruskan rambut, memutihkan kulit justru berumur panjang, bahkan bertahan sampai sekarang, walau dengan intensitas yang sedikit menurun dari beberapa tahun lalu. Dari pratik ini, muncul wajah-wajah baru yang lucu, aneh bahkan menyeramkan.

Di beberapa remaja perempuan, entah dengan komposisi pemakaian yang bagaimana, hasil dari pemakaian krim pemutih itu justru aneh dan menyeramkan. Ini terlihat dari wajah mereka yang putih, namun beberapa senti ke leher justu hitam. Ini belum bagian tangan dan juga kaki yang sama nasibnya. “Mirip korban kebakaran” begitu lazimnya komentar banyak orang.

Latah ini mungkin juga berangkat dari rasa inferior yang menahun. Pembagian kerja berdasarkan warna kulit yang sudah mulai sejak ratusan abad sebelum masehi, kerja paksa dan perbudakan kulit hitam yang berlangsung ratusan tahun, dan penjajahan Eropa atas beberapa belahan dunia membuat dominasi berbasis warna kulit dan jenis rambut makin mengkristal. Faktar historis ini tak bisa dinafikan menjadi pondasi dari praktik-praktik yang lebih lanjut, termasuk yang dilakukan remaja dan Mama-Mama di kampung.

Dari sini, saya merefleksikan bagaimana kekuatan diskursus yang begitu kuat mampu menembus batas-batas waktu, teritorial, ras, agama, aktor, gender bahkan identitas. Dari refleksi ini pula saya berpikir, jika saya, yang berkulit hitam dan berambut keriting ini, begitu gampangnya melempar hujatan makian dan menyatakan “rasis” kepada mereka yang mendiskriminasi saya, pun juga kepada hampir sebagian besar orang yang memiliki ciri-ciri fisik demikian, berdasarkan warna kulit dan jenis rambut. Label atau pernyataan seperti apa yang pantas untuk remaja dan Mama-Mama di kampung tadi? Rasis kah mereka dengan diri sendiri? Atau bagaimana? Wallahu’alam.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup