Kelas Pemuda Ekoliterasi

Oleh: Arifin Muhammad Ade)*

Seiring perkembangan zaman dengan arus modernisasi yang semakin pesat, kehidupan manusia yang dulunya selaras dan harmoni dengan alam, kini telah hilang dari dalam diri manusia. Alam yang adalah suatu komunitas telah berubah dan dilihat hanya sebagai komoditas yang selalu saja dieksploitasi untuk menopang kehidupan mahluk manusia. Memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk kesejahteraan manusia memang dapat dibenarkan. Tetapi, memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan hanya untuk mengakumulasi kekayaan pribadi tanpa melihat dampak yang nantinya ditimbulkan adalah sesuatu yang harus dihindari.

Kerusakan lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini, diberbagai belahan dunia adalah akibat dari perubahan pola pikir manusia yang lebih melihat alam sebagai komoditas untuk dieksploitasi. Dan, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan modern, dalam waktu singkat kondisi lingkungan/alam dapat dirubah dalam sekejab. Sehingga dapat dibenarkan bahwa, kemajuan teknologi yang semakin pesat pasca revolusi industri di Inggris hingga abad 21 ini, semakin memperburuk kondisi alam (bumi) yang kita huni ini.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, banyak para pakar berpendapat bahwa, masalah-masalah lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini dapat diselesaikan dengan penggunaan teknologi mutakhir. Namun nyatanya, hadirnya teknologi justru lebih banyak memberikan dampak negatif daripada dampak positif bagi lingkungan. Menyudahi persoalan lingkungan yang semakin kritis memang terasa sulit, dikala masyarakat modern sudah tergantung dengan teknologi yang semakin memudahkan manusia untuk beraktifitas. Kita juga tidak bisa kembali kemasa lalu untuk mengembalikan kondisi lingkungan/alam seperti sedia kala.

Melihat kondisi alam saat ini yang semakin memperihatinkan, lingkungan yang semakin terdegradasi akibat eksploitasi secara berlebihan tanpa memperhatikan ambang batas lingkungan, perubahan iklim akibat efek rumah kaca (global warming), dan berbagai bencana yang datang silih berganti menghantui manusia, sudah seharusnya manusia sadar akan perilakunya. Hal ini bukan saja mengancam keberadaan manusia dan mahluk hidup lainnya, namun juga menggerus budaya dan identitas suatu komunitas masyarakat.

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, maka hal utama yang dapat menjadi sebuah solusi untuk segera diimplementasikan adalah perubahan pola pikir. Hanya dengan mengubah pola pikir inilah akan muncul perilaku dan cara hidup baru dalam suatu masyarakat yang selaras dan harmoni dengan alam. 

Dalam rangka mengubah dan mengembangkan pola pikir ini, kita harus memulainya dari level individu, komunitas hingga ke level yang lebih luas yaitu masyarakat. Mengubah pola pikir manusia harus dilakukan dengan berbagai kegiatan-kegiatan oleh suatu lembaga yang memiliki visi menyelamatkan lingkungan. Tetapi, disisi lain, dibutuhkan upaya terus menerus dan konsisten. Tentu saja mimpi mengenai masyarakat berkelanjutan perlu kita dukung. Bahkan, masyarakat berkelanjutan sangat layak secara ilmiah dan teknis untuk diwujudkan (Fritjof Capra).

Lebih dari itu, pengembangan pendidikan untuk menumbuhkan melek ekologi sangat perlu direplikasi di seluruh dunia demi mewujudkan mimpi besar Fritjof Capra tentang masyarakat berkelanjutan. Akan tetapi, melek ekologi sebagai sebuah kesadaran individu tentu tidak cukup untuk memungkinkan terwujudnya sebuah masyarakat berkelanjutan. Melek ekologi harus merasuki semua anggota masyarakat menjadi sebuah cara berada yang baru masyarakat modern (Arne Naess).

Untuk itu, kegiatan Kelas Pemuda Ekoliterasi yang dilaksanakan oleh Ruma Baca Komunitas (RBK) merupakan salah satu kegiatan mendidik yang sangat peduli terhadap keberadaan manusia dimuka Bumi ini, serta kepeduliannya terhadap kondisi alam (lingkungan) yang semakin terdegradasi. Disamping itu, dengan adanya kelas pemuda ekoliterasi ini juga dapat memicu timbulnya kesadaran dari dalam diri masing-masing untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Kelas Pemuda Ekoliterasi yang diinisiasi oleh Rumah Baca Komunitas juga secara tidak langsung telah mengimplementasikan apa yang dicita-citakan oleh Fritjof Capra dan Arne Naess, yaitu pendidikan untuk menumbuhkan melek ekologi yang tidak hanya pada level individu tetapi padal level yang lebih luas lagi yaitu masyarakat. 

Dari paparan diatas, alasan saya tertarik mengikuti kelas belajar ekoliterasi karena, selain manambah pengetahuan dan wawasan kita sebagai individu soal pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Kelas ekoliterasi juga memberikan semangat literasi, memberikan penyadaran betapa pentingnya lingkungan hidup, pentingnya menjaga dan merawat bumi, ekosistem, alam sebagai tempat tinggal dan berkembangnya kehidupan. Ketika manusia mulai tersadar akan pentingnya lingkungan hidup, maka terciptalah suatu masyarakat yang berkelanjutan.

Disini, perubahan pola pikir yang diinginkan oleh Fritjof Capra akan terwujud, yaitu, tidak sekedar memandang alam sebagai komponen beraset ekonomi yang hanya dieksploitasi semata untuk kebutuhan manusia. Tetapi, alam, bumi, dan ekosistem didalamnya merupakan suatu komunitas yang perlu dirawat dan dijaga demi keberlangsungan kehidupan ini. Karena, kerusakan alam akan berdampak pada kehidupan manusia, dan kehancuran bumi berarti kehancuran manusia itu sendiri.

)*Institut Teknologi Jogjakarta,arifinmuhammadade@gmail.com

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup