Keadilan Biru dalam Ekonomi Kelautan Indonesia

 Keadilan Biru dalam Ekonomi Kelautan Indonesia

Oleh: Muhamad Karim, (Dosen Universitas Trilogi dan Pengamat Kelautan dan Perikanan)


Buku karya Dr. Suhana, S.Pi, M.Si, berjudul: “Ekonomi Kelautan Kontemporer: Menavigasi Tantangan Tarif, Digitalisasi, dan Keadilan Biru dalam Ekonomi Kelautan Indonesia 2025” adalah suatu karya monumental dan mendasar yang membedah ekonomi kelautan Indonesia komtemporer. Yang menarik dari buku ini adalah menyajikan data-data yang terbaru dan up to date. Artinya, ketika membacanya, maka kita memahami kondisi kelautan kita secara komprehesif dengan segala dinamikanya. Salah satu isu pokok yang menarik adalah “keadilan biru” sebuah paradigma kelautan dan perikanan yang sejatinya adalah antithesis dari “Ekonomi Biru”.

Pada bagian I, buku ini secara terang benderang menjelaskan kondisi makro sektor perikanan Indonesia yang terjebak dalam “pertumbuhan stagnan”. Akibatnya, orientasi pembangunan kelautan dan perikanan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi berimbas nasib nelayan terabaikan. Disinilah isu“keadilan biru” menjadi penting. Di bagian II, buku ini membahas isu geopolitik dan perdagangan internasional. Salah satu isu yang menohok dalam buku ini adalah soal pemberlakukan tarif Amerika Serikat terhadap ekspor produk-produk Indonesia ke negara tersebut termasuk perikanan. Juga, isu komoditas udang Indonesia yang terkontaminasi logam berat.

Apalagi sekarang terjadi perang USA-Israel vs Iran. Otomatis mempengaruhi perdangan ekspor komoditi perikanan. Suhana, sudah mengingatkan dalam Bab II ini. Meskipun, ia juga memberikan potensi pasar alternatif bagi komoditas perikanan kita, misalnya Uni Eropa dan China. Pada bagian III, Suhana membahas soal hilirisasi dan inovasi komoditas. Di sini Suhana menyajikan beberapa komoditas perikanan Indoensia di pasar internasional yang menjadi komoditas penting dan semuanya belum dihilirisasi. Diantaranya: Tilapia, Udang, Rumput Laut, Pangasius, dan Ikan Hias. Suhana menghendaki agar hilirisasi dan berinovasi di sektor perikanan dengan memberikan perhatian serius terhadap komoditas-komoditas ini. Intinya, jika ini dihilirisasi disertai inovasi akan memberika ilai tambah ekonomi perikanan kita.

Dalam bagian IV, membahas digitalisasi, Big Data dan Konsumsi. Suhana hendak mengingatkan bahwa urusan soal perikanan tidak boleh mengabaikan kemajuan teknologi informasi. Terutama digitalisasi dan big data. Di bagian ini Suhana memaparkan gagasan-gagasan bernas tentang apa saja yang mesti didigitallisasi dan dibuatkan big data-nya di sektor perikanan dan kelautan. Tetapi, ia juga memberikan kritik dengan memperingatkan bahwa harus berhati-hati juga memanfaatkan digitalisasi dan big data. Sementara aspek konsumsi ia menyoroti soal tren konsumsi ikan di daerah dengan populasi penduduk yang besar di Indonesia, yaitu Jawa Barat dan Jakarta.

Menariknya, ada satu artikel sisipan yaitu mengkonsumsi ikan laut menjadi solusi mengatasi susah tidut (iinsomnia). Pada bagian V buku ini membahas soal “ketahanan dan keberlanjutan”. Isu-isu penting yang diangkat adalah nilai tukar nelayan (NTN) yang menjadi indikator kesejahteraan nelayan. Bahkan secara sarkasme Ia mempertanyakan kesejahteraan nelayan tahun 2025. Jika NTN ini justru melemah otomatis akan melemahkan ketahan ekonomi keluarga nelayn dan keberlanjutan hidupnya. Tak lupa juga Suhana memberikan kritis soal ketidakadilan global yang ditandai oleh pergeseran nutrisi dunia bersumber dari seafood dari negara-negara Selatan ke Utara.

Bahkan secara spesifik ia menyoroti ekpor ikan di Filipina justru mengancam suplai gizi masyarakat pesisir Palawan. Artinya, jika pola ini tetap dibiarkan maka berpotensi memicu “tragedi komodotas” (Longo et al 2015). Makanya, Suhana juga memberikan suatu model ekonomi alternatif dari kehidupan nelayan yaitu wisata bahari berkelanjutan. Artinya, nelayan tidak mesti menggantungkan dirinya terhadap perikanan semata untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi di wilayah pesisir secara berkelanjutan. Dari seluruh bagian dari buku ini yang menjadi “kekuatannya” adalah dukungan data yang terbaru sehingga sulit membantah hasil-hasil analisisnya.

Satu hal yang perlu diperbaiki dalam buku ini adalah bukan substansinya yang lengkap dan tajam. Melainkan aspek teknis layout, yaitu ada beberapa sajian data dan gambar yang kurang bisa dibaca karena “font” terlalu kecil. Barangkali untuk edisi revisinya hal-hal teknis layout ini diperbaiki supaya tidak mengganggu pembaca secara teknis. Buku ini wajib dibaca oleh akademisi, pejabat pemerintah yang menjadi aktor pengambil kebijakan, gerakan masyarakat sipil, pemerintah daerah dan mahasiswa jika hendah membedah dan menganalisis soal kebijakan kelautan serta perikanan Indonesia kontemporer. Apalagi bagi pengambil kebijakan, data-data dan analisi yang disajikan buku ini mesti menjadi rujukan dalam merancang dan merumuskan kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional.

Bagikan yuk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *