https://www.theguardian.com/uk-news/2019/feb/16/karl-marxs-london-memorial-vandalised-for-second-time

Saat Orang Khawatir Karl Marx Bangkit dari Kubur

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah

Belum lama ini ada kabar soal corat-coret di makam Karl Marx (1818-1883). Tidak diketahui dengan jelas siapa yang menuliskan “Doctrin of Hate” dan “Architect of Genocide” pada nisan makam tokoh komunisme ini. Dengan jenaka, James Freton, seorang penulis komedi TV dan Radio menduga ada empat jenis kelompok atau orang yang punya motif; Brexiter garis keras, Fans Corbyn, mahasiswa acakadut, dan brigade FBPE. Jangan terpingkal, bisa jadi emang bener. Saya tak ingin membahas analisa James, yang ingin saya utarakan adalah mengapa Marx menjadi momok paling menakutkan, bahkan di saat neoliberalisme katanya nyaris mengokohkan diri sebagai nalar ekonomi dan politik masa kini kendati kita sudah nyaris mati karena krisis? Mengapa pula makam tua di London itu harus kena imbas? Apa orang takut bahwa Marx akan bangkit dari kuburan andai tidak segera rusak? Tren pengrusakan makam bisa jadi keisengan dan kegilaan.

Apakah orang-orang suka memperkarakan simbol? Jawabannya pasti iya. Pengrusakan makam Karl Marx adalah depresi akut. Sama seperti pengrusakan terhadap makam bersalib di Yogyakarta. Sama juga seperti pertengkaran pendukung Jokowi dan Prabowo pada pilpres 2019 soal siapa yang paling nasioalis. Sama juga dengan ketakutan tentara atau polisi pada akronim PKI (Pecinta Kopi Indonesia) yang membuat Adlun Fikri masuk bui. Apakah simbol adalah momok bagi kegelisahan nyata kita sehari-hari? Momok bagi identitas yang resah? Keterancaman yang lebih nyata daripada ketimpangan ekonomi dan keterancaman ekosistem?

Kembali ke Marx, orang ini telah menjadi figur dan momok bagi ide-ide politik kita sekarang. Kita tidak mungkin membicarakan sistem ekonomi dan krisis ketimpangan tanpa merujuk atau menggunakan analisis kelas. Bahwa ada banyak kondisi yang telah berubah ketika Marx menuliskan Manifesto Komunis dan Das Capital itu sama sekali tidak berarti manusia sekarang tidak mengalami alienasi, mereproduksi pertentangan kelas berbasis ekonomi, serta problem komodifikasi dan privatisasi. Hal ikhwal rinci memang tidak sama, tapi problem keserakahan dan klaim hegemonik sistem dominan terus terjadi bukan?

Tidak perlu menjadi pembaca Marx yang militan untuk sadar bahwa ide-ide politiknya masih relevan hingga hari ini. Jika kita merenung, suluh yang dituliskan Marx mungkin tidak cukup untuk menerangi gelapnya masa-masa krisis yang kita alami. Tugas kita, manusia yang hidup pada masa kini adalah tugas kesejarahan di mana pemikiran tampaknya bukan lagi pekerjaan intelektual yang dibutuhkan. Kita sedang mengalami semua jenis kedaruratan, ekologi, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Seperti lazimnya masa-masa darurat, senjata yang kita miliki hanyalah tubuh dan pikiran.

Perselisihan dan pertengkaran ikhwal simbolik, entah dalam manifestasi pengrusakan makam atau penyitaan buku-buku, hanya memperlemah tubuh dan pikiran. Marx selalu menekankan pentingnya mengambil inspirasi hidup dari kehidupan yang senyatanya kita alami. Kehidupan yang kita refleksikan, di mana kita telah bertaruh nyawa dan harkat hidup untuk menjalaninya. Seorang tentara atau polisi yang khawatir akan bangkitnya komunisme hanya karena dua remaja memegang novel Pramoedya Ananta Toer harus mempertanyakan sumber ketakutannya. Seorang presiden yang memerintahkan aparat menggebuk habis komunis, padahal tak ada satu pun tanda-tanda mereka eksis, berarti hidup dalam kemelut ketakutan simbolik. Memuaskan dahaga perang simbolik yang tak berkesudahan. Apakah orang-orang ini takut pada sesuatu yang bahkan tidak senyata daripada keterancaman ruang hidup? Alih-alih bangkit, mereka bahkan tak mungkin sempat bernapas. Problemnya jelas, ketakutan simbolik telah bikin repot semua orang yang bahkan tak ada sangkut pautnya sama sekali.

Saya berpikir, jangan-jangan orang hidup dalam dunia simbolik dan terperangkap dalam ketakutan dirinya sendiri sebagaimana digambarkan dengan ciamik oleh Umberto Eco dalam Pendulum Foucault. Karena orang takut dengan konspirasi eksternal, mereka justru memproduksi sendiri konspirasi-konspirasi. Mereka membuat seolah-olah keterancaman dan manifestasi yang tak seberapa di dunia nyata, menjadi seolah-olah merepresentasikan keterancaman yang besar. Logikanya mereka balik, masalah itu seperti gunung es yang terbalik. Keliatannya besar di atas, tapi di bawahnya cuma segenggam. Itulah yang kelihatan pada orang-orang yang takut terhadap pikiran dan tubuh mayat berusia 136 tahun.

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup