Ironi Kota Peduli HAM dan Si Baret Coklat

Al Bawi*

Kota Bandung adalah kota yang modern, anak muda hingga keindahan yang menakjubkan. Sebuah Kota yang menjadi rujukan hampir seluruh kota di Indonesia. Kalau melihat Bandung rasanya dalam benak kita adalah keindahan kota yang megah dengan berbagai macam suansa. Tidak hanya keindahanya saja tetapi baru saja pada peringata Hari Hak Asasi Manusia yang jatuh pada 10 Desember lalu yang langsung diberikan oleh Kementrian Hukun dan HAM RI Kota Bandung mendapat predikat Kota peduli HAM. Sebuah pencapaian yang membanggakan atas seluruh warganya dan juga keindahan kota megah tersebut.

Tetapi dibalik kegembiraan atas penghargaan yang di terima oleh Kota Bandung ada warga RW 11 Taman Sari yang tidak bisa menerika kegembiraan tersebut mereka harus menangisi atas realitas yang terjadi melalui penggusuran rumah mereka. Tepat setelah dua hari (12/12) Kota Bandung mendaptkan penghargaan Kota Peduli HAM rumah para warga Taman Sari di gusur ada sekitar 33 kepada keluarga yang tidak bisa merelakan rumahnya dihancur.

Ada banyak video yang beredar atas pengurusan ini, mulai dari masih berjalanya proses persidangan, hingga ada banyak oknum aparat yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat. Dalam banyaknya video yang beredar tidak ada masyrakat membawa senjata tajam dan melakukan perlawanan yang membabi buta, namun tetap saja di seret dan dibawa untuk di amankan dan dihajar dengan pentungan.

Seharusnya tugas aparat adalah menjaga dan melayani bukan “meghajar”. Bahwa dalam hal ini tugas aparat sudah jelas seperti yang tertuang dalam Pasal 10 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.8 Tahun 2009 tentang implementasi prinsip dan standar HAM (Hak Asasi Manusia) dalam penyelenggaran tugas POLRI. Bahkan dalam aksi ini ada baret coklat dengan pentungan yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil yang kita tahu arti kata Pamon Praja sendiri adalah berasalh dari Bahasa Jawa yang artinya membimbing/mendidik Negara.

Melalui aksi pelanggaran HAM yang terjadi ini ada banyak aliansi masyrakat menyatakan sikap atas perlakukan Pemkot Bandung terhadap Warga Taman Sari. Bahkan ada beberapa eksponen dari kaum muda Muhammadiyah yang mengecam atas kejahatan HAM ini melalui Kader Hijau Muhammadiyah. Menyatakan sikap yang tegas atas terjadinya penggusuran yang tidak manusiawi hingga kekerasan dan kejahatan HAM di tanah Pasundan yang mendapat predikat Kota Peduli HAM, berikut pernyataan sikapnya.

SOLIDARITAS AKTIFIS MUDA MUHAMMADIYAH UNTUK #TAMANSARIMELAWAN

Malang, 15 Desember 2019

  1. Keislaman dan etika kemuhammadiyahan tidak membenarkan penghancuran ruang hidup manusia. Karena, tindakan represif aparat tak dapat dibenarkan secara etis dan moral islam.
  2. Solidaritas organik di kalangan aktifis masyarakat sipil ini adalah bagian utama dan pokok sebagai bentuk solidaritas insani. Karenanya, sampai kapan pun kebenaran dan keadilan harus diperjuangkan. Negara dan aparatnya tak boleh lupa bahwa ada konstitusi bangsa ini yang mewajibkan kemanasiaan harus dimuliakan dengan keadilan dan keberadaban.
  3. Kejahatan dan penggusuran terjadi di berbagai tempat, rasanya ada rasa keadilan yang terkoyak, sementara negara hadir justru sebagai penyebab persoalan. Karenanya, dibutuhkan kekuatan dan daya besar bernama solidaritas semesta untuk “kawan bantu kawan”, saudara bantu saudara.
  4. Solidaritas aktifis sebagai bentuk jihad konstitusi, praktik amar ma’ruf dan nahi munkar dalam menanggulangi darurat penggusuran. Aktifis muda Muhammadiyah melawan penyimpangan mengelola negara ini: dari “kerja kerja kerja”, jadi “gusur gusur gusur”. Kita tak akan membiarkan negara ini mengurus manusia seperti mengurus barang rongsok: bongkar-bongkar paksa.
  5. Bencana, ketidakadilan agraria, dan pengrusakan lingkungan adalah tak terpisahkan satu dengan lainnya. Karenanya, sebagai gerakan islam yang punya nalar pembebasan maka diperlukan revolusi teo-ekologis yang dapat secara aktif untuk urun daya menyelesaikan persoalan darurat tersebut. Karenanya, memperjuangkan keadilan lingkungan adalah tugas sekaligus kewajiban moral intelektual aktifis. Membela korban penggusuran itu adalah sebuah tindakan benar.
  6. Negara yang tak mendaruratkan persoalan lingkungan, keadilan distribusi tanah dan potensi bencana ekologi menunjukkan negara ini tak serius mengurus manusia dan alam. Negara ini bukan milik investor kapitalis, juga persoalan hidup bukan hanya soal radikalisme dan terorisme agama. Kenapa negara gampang mendaruratkan radikalisme tetapi rabun melihat persoalan keadilan lingkungan dan ruang hidup.
  7. Penataan ruang atau alih fungsi ruang yang tidak mempertimbangkan aspek kemanusiaan pada akhirnya akan menyingkirkan masyarakat, terutama masyarakat rentan dan miskin. Muhammadiyah sebagai elemen sosial yang besar sudah semestinya aktif merespon persoalan penggusuran paksa ruang hidup masyarakat seperti terjadi di Tamansari, Kota Bandung.
  8. Pada dasarnya, semangat Muhammadiyah adalah semangat pembebasan. Seabad lalu ijtihad KH. Ahmad Dahlan telah sangat maju mengatasi persoalan-persoalan sosial, dan abad ini Muhammadiyah harus mencangkupkan etika, perhatian, dan komitmennya pada persoalan-persoalan lingkungan, yang bukan saja tentang “zero waste”, namun juga hal-hal yang lebih mendesak, seperti perampasan ruang hidup. Muhammadiyah, dalam hal ini, tidak boleh terlambat atau enggan terjun merespon kasus-kasus eko-kemanusiaan.
  9. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, kami aktifis muda Muhammadiyah peduli lingkungan hidup menyatakan secara tegas dukungannya terhadap korban penggusuran di Tamansari, Bandung. Kami juga menyeru pada elemen-elemen Muhammadiyah lain untuk turut menyingsingkan lengan baju dan terjun membantu selayaknya Muhammadiyah selama ini sigap terjun membantu korban-korban kebencanaan lain.

Sebuah desakan dan memohon kepada seluruh lapisan masyarakat terutama warga muda Muhammadiyah untuk membantu korban dan memberikan dukungan penuh atas terjadinya kejahatan HAM yang terjadi pada akhir tahun ini. 

*Aktifis lingkungan di PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup