Nama Ibnu Taimiyyah dapat dikatakan telah dikenal luas di kalangan Muslim Indonesia. Ibnu Taimiyyah misalnya disebut sebagai tokoh yang menginspirasi lahirnya gerakan “reformasi islam” yang terkenal dengan slogannya kembali pada Quran dan Sunnah serta menolak taqlid buta. Spirit inilah yang kemudian diwarisi dan memicu berbagai gerakan serupa di berbagai wilayah dunia Islam. Sebut saja gerakan “modern” Islam yang dimotori oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha disebut-sebut juga terinspirasi gerakan ini. Maka tidak mengherankan nama ibnu Taimiyyah relatif populer di kalangan Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, dan “gerakan modern islam” lainnya di tanah air yang terinspirasi oleh ide Abduh dan Ridha tersebut.

Selain dikenal sebagai inspirasi bagi “gerakan reformasi Islam”, di kalangan dunia filsafat Islam nama Ibnu Taimiyyah juga kerapkali menjadi perbincangan karena posisi Ibnu Taimiyyah yang cukup unik yakni “berseberangan” dengan para filusuf Muslim semacam Ibnu Sina dan Al Farabi yang notabene berpijak di atas tradisi “deduktif”. Ibnu Taimiyyah mencoba keluar dari “mainstream” cara berfikir tersebut dan kemudian menggagas satu tradisi yang kemudian digolongkan sebagai  cara berfikir model “induktif” dalam tradisi Islam.

Kontribusi Ibnu Taimiyyah dalam debat filosofis ini diakui oleh para pengkaji Ibnu Taimiyyah di Barat –sebagaimana dinukilkan dalam karya pengkaji Ibnu Taimiyyah bernama Carl Sharif El-Tobgui berjudul  Ibn Taymiyya on Reason and Revelation– . Ambil contoh Yahya Michot yang dikenal sebagai salah satu pengkaji Ibnu Taimiyyah paling intens di Barat menyatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah merupakan sosok yang paling mendalami argumen para filusuf di dunia Sunni –selain tokoh lain yakni Ar Razi-. Senada dengan Michot, Wael Hallaq, sosok yang dikenal sebagai akademisi yang mengembangkan gagasan Orientalisme Said, juga secara terbuka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyyah merupakan salah satu kritikus paling kuat terhadap model logika Yunani yang dipakai oleh para filusuf Muslim.

Namun belakangan ini nama Ibnu Taimiyyah seringkali disandingkan dengan “ekstremisme” karena ide-idenya dianggap mempengaruhi kaum Jihadi. Bahkan oleh sebagian kalangan ibnu taimiyyah diberi gelaran “godfather of jihadism”. Dapat dikatakan kesimpulan semacam ini cukup prematur dan telah mendapat kritik dari banyak akademisi. Terkait dengan pengutipan oleh kaum Jihadi, dapat dikatakan memang benar karya Ibnu Taimiyyah menjadi salah satu rujukan mereka. Akan tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh David Aaron -salah satu peneliti Jihadis – dalam karyanya In Their own Words bahwa adalah suatu kebiasaan lumrah di kalangan Jihadis untuk “memutilasi” ayat-ayat Quran misalnya agar sesuai dengan kepentingan mereka. Temuan ini tentunya menjadi penting bahwasanya jika terhadap Quran saja mereka bisa memanipulasinya tentunya terhadap karya tokoh Islam semacam ibnu Taimiyyah yang tidak lebih sakral dari Quran juga potensial mereka lakukan.

Lebih jauh, sejumlah akademisi yang mendalami karya Ibnu Taimiyyah misalnya Yahya M Michot secara terbuka –sebagaimana dinukil dalam artikel Emdad Rahman berjudul Ibn Taimiyyah: The Father of Islamic Radicalism?– menyatakan bahwa karya ibnu Taimiyyah memang telah dimanipulasi sedemikian rupa untuk mendukung gerakan Jihadis. Padahal jika membaca karya Ibnu Taimiyyah secara seksama menurut Michot kita akan mendapatkan gambaran sosok yang sama sekali berbeda. Secara khusus Michot telah menulis satu buku yang berjudul Ibn Taymiyyah: Muslims Under Non-Muslim Rule untuk menyoroti misinterpretasi tersebut. Bahkan dalam bukunya tersebut secara eksplisit misinterpretasi terhadap karya Ibnu Taimiyyah sebenanrya sudah dilakukan oleh kaum orientalis. Menarik ketika ternyata para Jihadis justru “mewarisi” cara baca yang cende rung“distortif” terhadap Ibnu Taimiyyah tersebut.

Tidak hanya Michot, akademisi semacam Stuart Casey-Maslem yang dikenal dengan kajiannya dalam hukum HAM Internasional juga menyebutkan dalam karyanya Jus ad Bellum: The Law on Inter-State Use of Force bahwa kalangan Jihadis telah melakukan misinterpretasi terhadap karya ibnu Taimiyyah untuk menjsutifikasi serangan terhadap warga sipil.  Begitu pula dengan akademisi Muslim terkemuka di Barat, Tariq Ramadhan, yang menyatakan dalam karyanya Interpretations of Jihad in South Asia bahwasanya sudah banyak pengkaji/akademisi yang menyatakan bahwasanya Faraj –salah seorang pimpinan Jihadis Mesir terkemuka- telah melakukan distorsi terhadap karya Ibnu Taimiyyah demi menjustifikasi aksi radikalnya membunuh Anwar Sadat –Presiden Mesir saat itu-. Secara khusus Ramadhan bahkan juga menegaskan bahwa sosok seperti Qardhawi dalam kajiannya tentang Jihad sampai pada kesimpulan bahwa Ibnu Taimiyyah tidak sebagaimana diyakini oleh kalangan Jihadis.

Tulisan ini secara khusus berupaya untuk berkontribusi secara akademik dalam upaya menghadirkan sosok Ibnu Taimiyyah sebagai sosok yang kompeks tidak reduktif atau bahkan distortif sebagaimana terjadi dalam kasus para Jihadis. Salah satu aspek yang tidak banyak disinggung oleh para pengkaji Ibnu Taimiyyah adalah soal idenya tentang environmentalisme. Secara khusus tulisan ini mencoba melihat bagaimana sumbangsih sang tokoh Islam asal Harran (Anatolia Turki) tersebut upaya perlindungan alam terkhusus dengan pendakatannya yang khas yakni “ekonomi moral”. Gagasan “ekonomi moral” ini menjadi menarik karena bagi Ibnu Taimiyyah tanpa memastikan aspek etika dalam pengembangan ekonomi maka dampak yang sangat destruktif bisa terjadi baik pada manusia maupun pada alam. Dapat dikatakan gagasan Ibnu Taimiyyah ini menjadi penting jika dikaitkan dengan kajian ekologi kontemporer yang salah satu poin utamanya adalah bagaimana “mengerem” logika ekonomi kapitalistik yang cenderung tidak ramah terhadap lingkungan.

Dalam upaya memahami gagasan “ekonomi moral” pro lingkungan yang diwacanakan oleh Ibnu Taimiyyah maka tulisan ini secara khusus menjadikan karya ibnu Taimiyyah berjudul Al Hisbah sebagai referensi utamanya. Buku Al Hisbah fi Al Islam tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Public Duties in Islam:  The Institution of Hisba. Sebagai informasi, secara khusus dalam karya tersebut membahas tentang institusi hisbah dan kaitannya dengan penegakan “ekonomi moral”. Dalam tradisi Islam sendiri kajian tentang lembaga Hisbah, satu lembaga yang secara khusus memiliki kewenangan untuk mengawasi aktivitas ekonomi demi menghindari aneka kecurangan, sudah disinggung oleh tokoh lain semacam Al Mawardi dan Ghazali. Akan tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Abdul Azim Islahi, profesor bidang ekonomi di Institut Ekonomi Islam, Jeddah, dalam reviewnya terhadap karya Ibnu Taimiyyah tersebut –yang dipublikasikan di Journal of Research in Islamic Economics– menayatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah membawa wacana soal Hisbah dalam konteks peradaban, jadi tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja.  Sebagaimana Islahi, akademisi lain seperti Muhammad Umar Memon –akademisi dari Universitas Wisconsin- dalam reviewnya terhadap buku Ibnu Taimiyyah –dimuat dalam International Journal of Middle East Studies– tersebut juga sampai pada kesimpulan serupa. Bagi Memon pembahasan Ibnu Taimiyyah tentang Hisbah tidak hanya pada menyangkut persoalan ekonomi semata tetapi terkait dengan satu visi dunia yang khas berbasis pada “religious vision” –atau dalam bahasa lain satu peradaban berbasis pada etika Islam-.

Refleksi Islahi atas karya Ibnu Taimiyyah sangat menarik, dimana menurutnya gagasan Ibnu Taimiyyah dalam buku tersebut dapat dibangun atas satu konsep etika mengenai “the just society” (masyarakat yang adil). Konsep “the just society” sendiri  mendapatkan porsi pembahasan yang cukup banyak dalam karya Ibnu Taimiyyah tersebut. Sementara pembahasan soal ekonomi dapat dikatakan merupakan satu bagian penting dalam upaya mewujudkan “the just society” tersebut. Posisi Ibnu Taimiyyah sangat beralasan sebab tanpa ada keadilan dalam konteks ekonomi maka konsep masyarakat berkeadilan tidak akan terwujud. Sehingga menjadi satu hal yang vital untuk membangun satu “ekonomi moral” untuk memastikan aktivitas ekonomi dapat dikerangkai sedemikan rupa untuk memastikan keadilan dapat setiap aktivitas ekonomi tersebut dapat dijamin. Dalam konteks inilah ide hisbah sebagai “penjaga moralitas” menjadi penting untuk memastikan agar kegiatan ekonomi tidak melenceng dari aspek-aspek moral.

Menurut Islahi, poin penting dari karya Ibnu Taimiyyah ini ialah kesadaran kritis dari sang penulis bahwasanya ada peluang “kecacatan” dari sistem ekonomi pasar. Padahal menurut Islahi pada zaman Ibnu Taimiyyah hidup, kajian ekonomi secara sistematis sebagai satu ilmu tersendiri belum lahir. Dengan kata lain sosok ibnu Taimiyyah di mata Islahi merupakan seorang pemikir yang “futuristik” karena sejak lama menyadari perlunya merancang satu treatment khusus untuk mencegah agar aktivitas ekonomi berubah menjadi aktivitas yang destruktif -baik pada manusia ataupun pada kelestarian alam-.  Maka sedari awal Ibnu Taimiyyah berupaya memikirkan tentang pentingnya satu etika “struktural” yang sekiranya mampu “mendisiplinkan” pasar.

Jika melihat pada perkembangan perekonomian kontemporer saat ini yang dilandasi dengan nalar kapitalistik dapat dikatakan apa yang dikhawatirkan oleh Ibnu Taimiyyah ternyata benar-benar terjadi. Kapitalisme yang bergerak atas dasar logika untung rugi –dan bukannya sistem etika yang sifatnya permanen-  telah menghasilkan berbagai ketimpangan ekonomi dan juga sangat destruktif bagi alam karena cenderung mengabaikan soal sustainabilitas jangka panjang. Munculnya gagasan “sustainable development” misalnya dapat dibaca sebagai langkah awal munculnya kesadaran baru global tentang perlunya “mendisiplinkan” logika ekonomi dengan satu sistem etika tertentu. Dengan kata lain kini dunia tengah memikirkan apa yang sejatinya telah dipikirkan Ibnu Taimiyyah sejak lama.

Dapat dikatakan penekanan Ibnu Taimiyyah pada etika yang sifatnya “struktural” ini menempatkan Ibnu Taimiyyah sejalan dengan ide environmentalisme yang dikembangkan Sardar. Hanya saja Sardar tidak berbicara secara khusus mengenai “pendisiplinan” pasar tetapi lebih perhatian terhadap upaya “pendisipinan” sains. Meksipun keduanya masuk lewat jalur yang berbeda namun dapat dikatakan gagasan Ibnu Taimiyyah tetap memiliki perpotongan dengan ide Sardar. Sebab sains yang mendaku “netral” itu seringkali justru terjebak dalam logika ekonomi kapitalistik tersebut karena menganggap bahwa alam sekedar material belaka. Diam-diam nilai kapitalisme yang menjadi ukuran bakunya yakni mengkuantifikasi nilai material tersebut. Sehingga dapat dikatakan pengembangan Sains kontemporer sebenarnya rentan –atau sudah- “tersandera” oleh logika ekonomi. Baik Sadrar atau Ibnu Taimiyyah sama-sama menegaskan pentingnya untuk “melawan” kecenderungan tersebut dengan berpaling pada siasat etika yang sifatnya “struktural”.

Begitu desktruktifnya potensi logika ekonomi yang tidak terkontrol ini ternyata juga dirasakan oleh akademisi nusantara macam Kuntowijoyo. Dalam salah satu karyanya berjudul Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Kuntowijoyo secara khusus menyoroti konsep ruang yang telah didominasi oleh logika ekonomi. Salah satu dampaknya misalnya terlihat dari eksistensi Masjid yang dipaksa menjadi layaknya “stanplat bus”. Dengan kata lain bahkan ruang ibadah yang sakral sekalipun keberadaanya juga telah “dikooptasi” sedemikian rupa oleh logika ekonomi. Sehingga tidak heran misalnya kita melihat fasilitas masjid –atau ruang shalat- di berbagai ruang publik yang terkesan begitu minim fasilitas dan juga terbilang tidak terawat. Hal ini misalnya menyebabkan ketika orang mau Shalat saja mesti antri sedemikian rupa. Hal ini tentunya juga menganggu kekhusyukan jamaah lain yang ingin berdoa setalah shalat karena khawatir telah ditunggu oleh jamaah lain-. Dengan kata lain aspek “khsuyuk” dan “sakral” menjadi sirna –atau setidaknya tergerus- karena keberadaan ruang Masjid telah “terdefinisikan” sedemikian rupa oleh kapitalisme. Keadaan Masjid yang memperihatinkan tersebut tidak lain karena Kapitalisme memandang adanya Masjid atau ruang ibadah adalah pemborosan ruang karena tidak memiliki nilai keekonomian yang tinggi. Karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi maka eksistensinya mesti diminimalisir sedemikian rupa dan seringkali ditempatkan di posisi yang tidak strategis seperti di dekat WC atau tempat parkir yang semakin membuat tidak nyaman para jamaah untuk beribadah.

Dalam membendung logika ekonomi kapitalistik dewasa ini yang sangat hegemonik dengan wataknya yang anti humanis, anti lingkungan dan anti transendensi tersebut, dapat dikatakan gagasan Ibnu Taimiyyah tentang “etika struktural” ini menjadi sangat relevan. Hal ini tidak berlebihan sebab gagasan ‘ekonomi moral” yang dikembangkan Ibnu Taimiyyah ini dapat dikatakan lebih “radikal” dari sejumlah upaya untuk “memoles” kapitalisme dari sisi destruktifnya saat ini yang berkedok pengembangan etika kapitalis. Sebagai contoh bisa kita temukan misalnya aneka wacana tentang etika kapitalis namun yang dibicarakan adalah soal bagaimana membangun satu individu yang memiliki etos kerja yang tinggi dalam sistem kapitalisme tersebut Hal ini misalnya dapat kita lihat pada buku The Corporate Mystic yang menyatakan bahwa “spirit sufi/mistikus” justru dapat ditemukan di zaman ini pada sosok CEO berbagai perusahaan besar. Argumen ini kalaupun valid maka memiliki keterbatasan dalam merubah realitas karena ketika logika ekonomi yang sifatnya sebagai “struktur” tetap mendominasi maka jikalau ada satu atau dua individu bahkan puluhan orang yang memiliki spirit moral/etis yang tinggi tersebut tidak akan banyak mampu mengubah jalannya nalar perusahaan ke arah yang lebih berkeadilan –baik pada manusia atau pada alam-. Konsepsi “ekonomi moral” Ibnu Taimiyyah dengan jeli justru membidik pada problem “struktural”,  dimana bagi Ibnu taimiyyah mesti dibangun satu sistem etika yang sifatnya eksternal (di luar logika kapitalisme) yang sekiranya mampu mendisiplinkannya. Bukan sebatas individu yang masih berada di dalam “struktur kapitalisme” sehingga  sulit untuk merubahnya secara fundamental. Walaupun sekali lagi perlu ditegaskan, upaya membentuk individu yang memiliki etika tinggi juga menjadi perhatian bagi Ibnu Taimiyyah yang karya-karya lainnya secara lebih detail berbicara tentang “olah jiwa”. Dengan kata lain metode yang dikembangkan oleh Ibnu Taimiyyah sifatnya lebih holistik walau dalam buku Al Hisbah secara khusus Ibnu Taimiyyah lebih menekankan soal solusi yang siftanya  “struktural” yang dirasa sangat penting namun tidak banyak disoroti penulis lain di zaman Ibnu Taimiyyah hidup.

Dalam konteks “pendisiplinan” logika kapitalisme di bawah payung etika sebenarnya kita  dapat mengkontekstualisasi gagasan Ibnu Taimiyyah sedemikan rupa dengan memegang prinsip pentingnya soal menekankan aspek “struktural” dalam rangka memastikan upaya “pendisiplinan” tersebut dapat dilakukan secara optimal. Salah satu bentuk kontekstualisasi yang sekiranya relevan adalah dalam konteks reorientasi rancang bangun ilmu ekonomi kontemporer yang dipengaruhi kuat oleh logika ekonomi kapitalis.

Jika merujuk pada Kuntowijoyo, era hidup kita saat dinyatakannya sebagai zaman logos, yang ditandai dengan dominasi ilmu pengetahuan yang diproduksi kampus-kampus sebagai sumber ilmu paling otoritatif. Maka upaya untuk merombak wacana keilmuan kontemporer yang sedikit banyak berkontribusi bagi langgengnya sistem kapitalisme dapat dikatakan merupakan bagian penting dalam upaya membangun “ekonomi moral” tersebut di zaman Logos.

Perombakan wacana keimuan dapat dimaknai dengan perubahan pada level “struktural” karena menyasar aspek paradigmatik yang menjadi “struktur” penting dalam pengembangan keilmuan. Dalam konteks intellectual war –meminjam bahasa Kuntowijoyo- inilah gagasan dediferensiasi ilmu menjadi relevan. Poin penting dari dediferensiasi ilmu yang dicetuskan oleh Kuntowijoyo adalah menolak pemisahan ilmu, terkhusus antara ilmu agama dan bidang keilmuan lain seperti ekonomi.  Agama bagi Kuntowijoyo adalah fondasi bagi transformasi sosial menuju satu tatanan peradaban yang berasaskan nilai transendensi, humanisasi, dan liberasi. Dengan kata lain dalam konteks keilmuan, dediferensiasi ilmu adalah reorientasi rancang bangun ilmu yang ada saat ini dengan mendasarkannya pada nilai transendensi, humanisasi, dan liberasi (etika profetik).

Dalam upaya melakukan proyek dediferensiasi terkhusus dalam bidang ilmu ekonomi inilah kita bisa memulai dengan melacak fondasi gagasan ekonomi kontemporer yang sedikit banyak berakar pada ide pemikir macam Adam Smith dan para tokoh setelahnya. Sebagaimana Ibnu Taimiyyah yang sedari awal berupaya “menutup cacat” tersebut dengan menginisasi ide “ekonomi moral” yang salah satunya ditopang dengan badan hisbah, maka logika dediferensiasi ilmu juga mesti diarahkan pada upaya “menutup cacat” dalam bangunan ilmu ekonomi kontemporer tersebut dengan “menyuntikkan” etika Profetik dalam bangunan keilmuan yang telah eksis tereebut. Dalam konteks inilah ide tentang selfish economy yang menjadi ruh dari ekonomi ala Adam Smith misalnya mesti dirombak sedemikian rupa dan menggantinya dengan konsep perekonomian dalam Islam yang menekankan pada aspek keadilan.

Perombakan sistem pengetahuan –dalam hal ini mencakup pengetahuan tentang ilmu ekonomi kontemporer- yang dominan ini sejatinya juga sejalan dengan pandangan Ibnu Taimiyyah. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Najma Mohamed misalnya –seorang akademisi yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan- dalam disertasinya yang berjudul Revitalising an Eco-Justice Ethic of Islam by way of Environmental Education: Implications for Islamic Education, dimana ia menyatakan bahwa salah satu perjuangan ekologis yang penting jika mengacu pada gagasan Ibnu Taimiyyah adalah perombakan pada sistem pengetahuan yang dominan. Sebab menurut Mohamed, Ibnu Taimiyyah percaya bahwa pengetahuan adalah pemimpin sedangkan amalan (perbuatan) adalah pengikut. Sehingga upaya kontekstualisasi Hisbah dengan merintis upaya “mendisiplinkan” ilmu ekonomi kontemporer merupakan langkah yang yang dapat dibenarkan.

Terlebih lagi sebagaimana dinyatakan oleh Azrin Ibrahim –akademisi di Centre ISDEV Universiti Sains Malaysia- dalam tulisnnya Hisbah in Human Management bahwasanya Ibnu Taimiyyah menempatkan badan hisbah sebagai upaya pengejawantahan nilai amar maruf nahi munkar dalam bidang ekonomi. Pada saat yang sama etika profetik sebenarnya juga diambil oleh Kuntowijoyo dari spirit amar maruf nahi munkar tersebut. Sehingga dapat dikatakan ada paralelitas yang besar antara ide hisbah dengan ide dediferensiasi ilmu Kuntowijoyo -yang dalam bahasa lain disebut sebagai upaya menjadikan Islam sebagai Ilmu- sebagai ikhtiyar untuk memastikan rasionalitas ekonomi tidak berkembang menjadi suatu rasionalitas yang destruktif.

Sebagai penutup, inspirasi penting yang dapat diambil dari gagasan environmentalisme Ibnu Taimiyyah adalah bagaimana kerusakan alam berkaitan erat dengan logika ekonomi yang tidak “terkontrol” dengan baik. Fenomena inilah yang menghasilkan satu ironi karena saat ini bisa kita saksikan bukan logika ekonomi yang “terdisiplinkan” sedemikian rupa tetapi justru -sadar atau tidak- kita sebagai manusia yang “terdisiplinkan” oleh logika ekonomi tersebut. Efeknya kita menjadi bagian dari  proyek perusakan alam dan juga ikut serta dalam mendehumanisasi sesama manusia. Maka sebagaimana dinasehatkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bukunya, kita mesti keluar dari “jerat pendisiplinan” tersebut dan berupaya “mendisiplinkan” logika ekonomi kapitalisme demi terwujudnya satu peradaban yang berkeadilan, baik bagi manusia ataupun alam.

Ibnu Taimiyyah memberikan inspirasi pada kita bahwa visi peradaban yang menjunjung tinggi etika Islam itulah yang sekiranya mampu mencegah berbagai efek destruktif dari “pasar” yang tidak “terjinakkan” tersebut. Maka kerja-kerja lingkungan mestilah juga menyadari konteks yang lebih besar tersebut yakni bagaimana memperjuangkan satu sistem ekonomi baru berbasis pada etika profetik tersebut. Aktivitas ekonomi mesti dipandang sebagai komponen penting bagi tegaknya satu peradaban yang lebih “sustainable”, peradaban yang ramah terhadap alam dan juga sesama manusia. Termasuk aktivitas ekonomi juga tidak menegasikan aspek transendental. Maka menjadi tugas bagi kita semua –terlebih bagj siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan- untuk turut berkontribusi “menjinakkan” nalar ekonomi destruktif yang menggurita sedemikan rupa dan telah menghasilkan efek destruktif yang tidak terhitung di muka bumi ini. Satu langkah bersama dibutuhkan demi penciptaan masa depan peradaban yang bersendikan keadilan hakiki sebagaimana di cita-citakan oleh Ibnu Taimiyyah.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link