Mendengar sebutan Brasil, pikiran kita pun akan langsung membayangkan tentang sepak bola dan juga pantai-pantai indahnya. Brasil yang dikenal dengan julukan “zamba” adalah sebuah negara yang terletak di paling timur Benua Amerika. Negara yang satu ini memang tak ada habisnya untuk di kulik. Entah itu kondisi alamnya yang subur atau deretan festival unik yang hanya ada di negara tersebut, semisal Mis Bum Bum atau yang paling terkenal adalah karnaval yang sangat meriah itu.

Sama halnya dengan Indonesia, Brasil merupakan salah satu negara yang termasuk dalam kategori berkembang. Negara yang memanfaatkan sumber daya mineral dan minyak bumi sebagai salah satu komoditi yang membantu pendapatan perekonomian negara (Central Intelligence Agency, 2019). Secara geografis, Brasil memiliki kondisi iklim tropis yang dimana memiliki banyak hutan tropis atau hutan hujan serta tidak memiliki musim dingin dan biasanya terdapat beberapa periode dimana kondisi lingkungan Brasil sangat kering, terik dan juga curah hujan yang begitu besar (Meyer, 2010).

Sebagai salah satu negara tropis, mayoritas kehidupan masyarakat Brasil bermata pencaharian di sektor pertanian. Produk-produk pertanian seperti jagung, jeruk, dan kedelai menjadi salah satu sumber pemasukan negara dari sektor pertanian selain pertambangan. Selain itu, komoditas utama yang menjadi andalan bagi negara dengan jumlah penduduk terbanyak keenam di dunia tersebut adalah kopi. Tak heran Brasil dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dan terbesar di dunia yang telah di ekspor ke berbagai negara.

 Jogo Bonito ala Zamba

Berbicara soal sepak bola, Brasil adalah satu-satunya negara paling sukses di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia. Dalam pesta sepak bola paling akbar di muka bumi itu, Canarinho alias “Si Kenari Kecil” sudah memenangi gelar juara dunia sebanyak lima kali, lebih banyak dari negara-negara lain. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kesebelasan dengan julukan “Seleccao” adalah yang terbaik di planet bumi. Kehebatan mereka di lapangan hijau adalah murni dari para pemainnya yang memiliki skill olah bola yang mumpuni dengan dipadukan gaya bermain secara team.

Lahirnya pemain-pemain bintang dan fenomenal yang mampu menghadirkan kejutan di si kulit bundar sekelas Pele, Zico, Socrates, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka hingga Neymar adalah bukti bahwa negara ini tak pernah kehabisan stok pemain-pemain bertalenta. Tetapi, satu hal yang perlu diketahui bahwa dari sederet pemain-pemain berkelas di setiap generasi dengan status terbaik di dunia, bahkan dengan value market termahal dunia sekalipun adalah mereka yang terlahir dari sepak bola jalanan atau bakat alam. Permainan ini bersifat spontan dan natural, bisa dimainkan oleh siapa pun, tanpa membutuhkan seragam atau peraturan resmi. Hanya untuk bersenang-senang.

Permainan sepak bola yang dipertontonkan kesebelasan yang terkenal dengan tarian zamba yang khas ini juga tak lepas dari “Jogo Bonito” (Bahasa Portugis yang artinya “tarian indah”) dari para seniman lapangan hijau. Jogo Bonito merupakan teknik dan taktik yang melekat dengan sepak bola Brasil, mereka menerapkan gaya permainan yang indah dan menghibur. Beberapa pemain akan melakukan gerakan lincah bak orang yang menari-nari di lapangan untuk mengelabui lawan.

Istilah Jogo Bonito sendiri pada mulanya diperkenalkan oleh legenda Brasil, Edson Arantes do Nascimento alias Pele pada perhelatan Piala Dunia 1970 di Meksiko setelah tim zamba menundukkan Italia di partai puncak dengan skor 4-1. Mulai saat itu, istilah jogo bonito sering digunakan untuk menggambarkan permainan timnas Brasil, terutama dalam ajang piala dunia. Walaupun kini permainan indah ala jogo bonito oleh sebagian kalangan telah berakhir. Tetapi, jogo bonito Brasil tetaplah arus utama di negeri dimana pedagogi kritis dikembangkan Paulo Freire.

Selain memadukan tarian dan olahraga, khususnya dalam sepak bola yang dipertontonkan lewat aksi-aksi akrobatik di lapangan hijau. Bagi masyarakat Brasil, sepak bola adalah metafora kehidupan. Untuk menjelaskan hal ini, antropolog Brasil Roberto DeMatta dilansir Mojok.co (10/6/2017) mengajukan konsep jeitinho yang berarti “jalan kecil”, yakni meditasi personal untuk mencari jalan mengelakkan diri dari hukum atau konvensi sosial. Mengelak bukan dengan konfrontasi yang frontal, tapi lewat improvisasi dan kelenturan sikap untuk mengendalikan situasi.

Jeitinho pada hakikatnya adalah ekspresi yang muncul dari meditasi individual. Tetapi lewat sepak bola ia dengan cepat menemukan ekspresi khas identitas komunal Brasil dalam bentuk trik-trik yang tak pernah terlihat, bahkan lebih unggul dari kelompok kolonialis dan elite. Karenanya dengan mudah sepak bola menjadi simbol yang menyatukan pengalaman hidup serta ruang ekspresi kegembiraan masyarakat. Tak heran jika kultur sepak bola dibanjiri kegilaan dan kejenakaan yang sulit dicari bandingnya di belahan dunia lain.

Melalui sepak bola, keragaman ras tidak lagi dilihat sebagai masalah atau beban bagi Brasil, melainkan menjadi sebuah keuntungan. Sama halnya sepak bola mempersatukan masyarakat Maluku (antara Islam dan Kristen) akibat konflik berkepanjangan atas nama agama yang terjadi saat itu. Di Brasil, sepak bola sangat disukai karena ia membuka pintu bagi semua orang untuk memainkannya. Semua anak-anak boleh bermimpi menjadi pesepak bola profesional. Olahraga ini adalah sebuah peluang mengubah kehidupan dengan mendapatkan banyak uang.

Hutan Amazon tak Sehijau Rumput Stadion

Mengukir prestasi yang gemilang di lapangan hijau lantas tak membuat Brasil mampu melakukan hal yang sama, khususnya dalam menjaga hijaunya hutan yang mereka miliki. Amazon, hutan tropis terluas di dunia. Berdasarkan data INPE (2019), hutan Amazon memiliki luas sekitar 670.000.000 hektar dan 60 persen berada di Brasil.

Kasus kebakaran yang melanda hutan Amazon setiap tahun menjadi bukti bahwa hutan yang menjadi paru-paru dunia dan menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati tersebut berada dalam ancaman. Padahal hutan Amazon merupakan hutan hujan terbesar di dunia sekaligus sebagai reservoir biologis terkaya dan paling beragam di dunia.

Menurut Pujayanti (2019), lembah Amazon terdiri dari 40% hutan tropis yang menyumbang 10-15 persen keanekaragaman hayati bumi. Amazon juga menyumbang sekitar 20 persen oksigen dunia dan membantu mengatur suhu di bumi (CNN, 2019). Secara demografi Amazon juga merupakan tempat tinggal jutaan suku asli yang terbagi dalam 350 etnis. Sebanyak 60 suku diantaranya masih terisolasi di Brasil.

Walaupun demikian, dalam sebuah laporan yang dipublikasi di jurnal Nature Climate Change dilansir Media Indonesia (1/5/2021), menjelaskan bahwa hutan Amazon Brasil melepaskan hampir 20% lebih banyak karbon dioksida (CO2) ke atmosfer daripada diserapnya selama dekade terakhir. Laporan ini menunjukan bahwa dari 2010 hingga 2019, cekungan Amazon Brasil mengeluarkan 16,6 miliar ton CO2 dan hanya menarik 13,9 miliar ton. Artinya, umat manusia tidak dapat lagi bergantung pada hutan tropis terbesar di dunia untuk membantu menyerap polusi karbon buatan manusia.

Lebih mengerikan lagi, World Wild Life (WWF) memperkirakan bahwa lebih dari seperempat Amazon akan kehilangan pohon pada tahun 2030 jika laju deforestasi saat ini terus berlanjut. Perkiraan tersebut dapat dipastikan akan terjadi bila aksi penebangan hutan secara illegal, mulai dari membuka jalan bagi peternakan, memperluas lahan pertanian, membuat areal pertambangan dan bertujuan untuk kegiatan-kegiatan lain.

Pada tahun 2018, berdasarkan data dari Global Forest Watch mengatakan bahwasanya dunia telah kehilangan 12.000.000 hektar hutan atau sebanding dengan luas 30 lapangan bola per menit. Dalam sumber yang lain, Institut Kehutanan Amerika Serikat memberi data negara di dunia yang paling banyak melakukan perusakan hutan adalah Brasil, Republik Kongo, Indonesia, Columbia, Bolivia, dan Malaysia. Dan Brasil menduduki peringkat teratas paling banyak melakukan aktivitas deforestasi. Dari data yang ada, Brasil dan Indonesia telah melakukan deforestasi sekitar 46 persen pada tahun 2018, dan sejak Januari hingga Agustus 2019, sebanyak 51,9 persen dari 88.816 kebakaran yang tercatat di Brasil terjadi di hutan Amazon, dan sejumlah pakar mengatakan hal tersebut diakibatkan oleh deforestasi (CNN, 2019).

Padahal jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, pada 1992, Brasil merupakan salah satu negara yang menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi yang diadakan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Diselenggarakannya konferensi tersebut juga menjadi sejarah bagi dunia karena merupakan konferensi pertama yang membahas tentang lingkungan hidup. Bahkan, motto “hanya satu bumi” (The Only One Earth) dikenalkan dalam konferensi tersebut untuk memperkenalkan pentingnya menjaga lingkungan bagi penduduk dunia.

Atas dasar hal tersebut, di tengah isu perubahan iklim yang semakin menguat, Brasil harus mampu menjaga hutan Amazon-nya yang kaya akan keberagaman hayati agar dapat meredam isu perubahan iklim, sebagaimana yang telah disepakati pada KTT Bumi di Rio de Jeneiro beberapa dekade lalu. Atau, dengan kata lain, Brasil harus mampu melindungi Amazon yang menjadi sandaran bagi 7 miliar penduduk bumi untuk memperoleh oksigen dari pohon-pohonnya.

Demikian, sebagai negara yang mendewakan sepak bola, Brasil boleh saja memberikan perhatian lebih pada rumput lapangan sepak bola mereka agar tetap hijau. Tetapi, hijaunya hutan Amazon menjadi lebih penting karena menyangkut hajat hidup penduduk bumi. Brasil boleh saja menghibur para penggemar bola dengan filosofi jogo bonito-nya yang menghipnotis. Tetapi, Brasil harus juga melindungi penggemarnya dari ancaman krisis oksigen yang memvonis.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link