George Kahin: Metode Kualitatif dan Nasionalisme Indonesia

Oleh: Yogi S Permana)*

Alkisah, George Kahin muda menembus garis Van Mook untuk masuk ke daerah jantung republiken pada 1948. Demi pengerjaan riset disertasi, Kahin harus menemui para informan A1 tentang republik yang baru berumur jagung. Ia ditemani oleh Letnan Sutrisno sebagai Liason officer sekaligus sopir untuk mengawal keamanan dari perbatasan Gombong sampai ke Yogyakarta, ibukota revolusi.

Ketika berhenti untuk makan di Kebumen, Kahin hampir diamuk massa yang mengira dirinya adalah tentara Londo. Penjelasan Sutrisno bahwa Kahin bukan tentara Belanda tidak digubris. Semangat bambu runcing lebih menyala-nyala. Dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, Kahin setengah mati menerangkan bahwa Ia orang Amerika sembari menunjuk bendera yang dipasang di jeep. Massa saat itu belum banyak yang tahu beda bendera Belanda dan Amerika karena warnanya sama-sama merah, putih, biru. Namun untunglah, massa dapat ditenangkan dan Kahin selamat dari pembacokan kolektif pemuda-pemuda revolusioner Kebumen.

Sampai di Jogja, atas masukan Letnan Sutrisno, Kahin ingin memasang tiang untuk bendera merah putih di jeep. Mereka berpikir ini akan lebih menjamin keselamatan. Seorang pandai besi yang dimintai bantuan bersedia untuk membuatkan bahkan tanpa biaya sama sekali. Ia hanya mengajukan dua syarat. Pertama, posisi bendera merah putih lebih terhormat dengan dipasang di sebelah kanan. Kedua, tiang untuk bendera merah putih 10 cm lebih tinggi dari bendera Amerika. Tanpa banyak pikir, Kahin setuju.

Pengalaman di Kebumen dan urusan dengan pandai besi ini ternyata terpatri kuat di benak Kahin. “Assessment berbasis metode kualitatif’ itu mampu meyakinkan diri Kahin untuk meruntuhkan propaganda Belanda bahwa nasionalisme Indonesia adalah abal-abal dan hanya berputar di kelompok kecil elite saja (Southeast Asia: A Testament, 2002). Bagi kahin, nasionalisme Indonesia adalah kenyataan. impresi metode kualitatif ini kemudian berpengaruh dalam cara pandang dan nilai yang diperjuangkan Kahin pada dekade-dekade selanjutnya. Baik saat mendirikan dan memimpin Cornell Modern Indonesia Project dan perannya secara signifikan dalam menolak keterlibatan Amerika dalam perang vietnam.

Memang jelas tidak mungkin dilakukan survei publik untuk mengukur prosentase persepsi rakyat yang pro republiken atau pro Belanda saat itu. Namun, meremehkan metode kualitatif yang bernuansa etnografi juga tidak bijak, seperti yang banyak terjadi dalam akademia hari ini. Prinsip anti-kolonialisme yang Kahin yakini adalah hasil dari penalaran kualitatif berdasarkan simpati subjektif. Ia bukan hasil dari positivisme objektif yang berjarak dengan realitas.

Merdeka! Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia 74

)*Peneliti LIPI

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup