“Dua Bung” dan Gagasan Regenerasi Islam (Catatan Diskusi Buku Sukarno dan Islam Karya M. Ridwan Lubis)

 “Dua Bung” dan Gagasan Regenerasi Islam (Catatan Diskusi Buku Sukarno dan Islam Karya M. Ridwan Lubis)

Catatan: “Bung” yang pertama adalah sebutan untuk tokoh Pahlawan Proklamator Republik Indonesia: Bung Karno—Sukarno. Ini sudah jamak diketahui publik sehingga seharusnya tidak perlu diberi penjelasan seperti ini. Tapi karena ada nama atau tokoh lain yang juga dilabeli dengan sebutan “Bung” sehingga penjelasan sebutan “Bung Karno” dirasa perlu. “Bung” yang kedua adalah sebutan untuk tokoh mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Bung Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii). Nah, sebutan “Bung” untuk tokoh yang kedua ini tiba-tiba saja menyela—layaknya orang yang sedang melamunkan sesuatu di masa lalu, tiba-tiba teringat akan banyak hal, serpihan-serpihan memori seakan-akan melayang-layang di dalam benak, lalu muncul ingatan-tingatan kecil seperti sebutan “Bung Ahmad Syafii Maarif” ini. Nah, cukup ini saja penjelasan tentang frase “Dua Bung” yang saya pakai untuk penulisan judul tulisan ini.

Catatan Ekstrinsik Buku

Agar seperti layaknya “bedah buku” beneran, perlulah di sini saya sampaikan beberapa catatan ringan seputar nilai ekstrinsik buku ini. Pertama, untuk ukuran buku 15.5 X 24 cm jelas sudah memenuhi standar akademik. Desain cover juga cukup bagus, khas Muhammadiyah. Tampak gambar Bung Karno sedang menerima vendel Bintang Muhammadiyah, sebuah anugrah kehormatan yang diberikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Badawi) kepada Presiden Sukarno kala itu (Sebenarnya ini “bukan tradisi Muhammadiyah” lho! Konon kebijakan ini sangat politis: untuk meredam ketegangan hubungan antara pemerintah dengan Muhammadiyah waktu itu). Back cover menampilkan gambar duo Muhammadiyah: Bung Karno dan KH. Mas Mansur. Dan di bawah tampilan duo Muhammadiyah sekutip paragraph endors dari Buya…eh, Bung Syafii Maarif. Maka lengkap sudah warna Muhammadiyah dalam unsur ekstrinsik buku ini. Tapi mohon maaf, baik sampul depan maupun sampul belakang sebuah buku layaknya wajah bagi manusia. Setitik tahi lalat di pipi ataupun di dahi akan kelihatan sekali, apalagi jika kulitnya warna terang. Begitu pula kesalahan sekecil apapun di cover buku akan kelihatan menonjol, seperti dalam sekutip endors dari Bung Syafii Maarif pada akhir kalimat yang menggunakan dua tanda baca sekaligus: koma dan titik.   

Kedua, masuk ke halaman isi buku, tapi masih pada unsur ekstrinsiknya, saya sempat mengalami perasaan kurang nyaman. Mula-mula masuk pada “Pengantar Penulis” yang muatan isinya sangat berbobot. Tapi gara-gara masalah teknis—terutama teknik editing yang mungkin kurang cermat—saya mulai beberapa penulisan kata/istilah yang tidak konsisten. Sampai pada akhir suatu paragraph terdapat penulisan yang menurut saya fatal. Saya kutip kalimat di akhir paragraph keenam dalam “Pengantar Penulis”: “Oleh karena itu, makam Islam adalah sesuai dengan segala waktu dan ruang (al islam salihun li kulli zaman wa makan).”—cetak tebal dari saya. Maksudnya adalah maqam (Arab: kedudukan/posisi) bukan “makam” (Indonesia: kuburan)—jika dilihat asal sumber kutipan yang berbahasa Arab.

Ketiga, apresiasi khusus untuk editor ataupun penyunting yang telah mengubah format naskah akademik (disertasi) ini menjadi sebuah buku yang sistematikanya mudah dipahami khalayak umum. Biasanya, untuk mengubah naskah akademik menjadi buku yang layak konsumsi publik, editor ataupun penyunting naskah harus berjibaku mengotak-atik struktur tulisan pada Bab I, II, dan Bab V (terakhir). Sekali lagi, apresiasi positif untuk hasil kerja intelektual dari editor ataupun penyunting buku ini.

Bung Karno dan Rejuvenasi Islam

Seperti pernyataan M. Ridwan Lubis, penulis buku Bung Karno dan Islam ini, ciri khas para pemikir yang menandai awal perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah kesungguhan mereka menggali dari berbagai literatur yang kemudian dipadu dengan berbagai pengalaman di lapangan (h. ix). Begitu pula Bung Karno, keluasan sumber-sumber bacaannya dan interaksinya dengan para tokoh nasional ditopang dengan pengalaman di lapangan terjun dalam organisasi pergerakan, baik organisasi sosial keagamaan maupun politik, menjadikan konstruksi pemikiran “Putra Sang Fajar” (julukan Bung Karno) sangat matang. Dan corak khas pemikiran semacam ini telah menemukan momentumnya.

Momentum tersebut adalah kebangkitan bangsa-bangsa yang tertindas oleh kolonialisme Barat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Munculnya kesadaran nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa tertindas di belahan bumi Eropa, Afrika, hingga Asia tidak terkecuali di Asia Tenggara, khususnya di tanah air kita ini. Buya…eh, Bung Ahmad Syafii Maarif berhasil menangkap gagasan utama Bung Karno dalam konteks situasi politik global yang tengah berubah tersebut dengan istilah “gagasan persatuan” (h. xvii). Dalam tahapan pembentukan suatu bangsa, maka dibutuhkan landasan historis dan filosofis yang sama sebagai modal utama membentuk payung besar kebangsaan yang bakal menaungi seluruh perbedaan etnis, agama, kelompok, kelas sosial, dan seterusnya—menurut saya, dari sinilah akar filosofis Pancasila digali.

Salah satu pilar penopang persatuan yang telah memayungi keragaman latar belakang bangsa Indonesia adalah unsur agama—tersurat dan tersirat dalam sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai seorang Muslim, Bung Karno meletakkan sumber-sumber ajaran Islam payung rasionalisme—sempat terjadi pro dan kontra sebagai respon rasionalisme keagamaan Bung Karno (lih. h. Bab V). Tapi apa yang menyebabkan Bung Karno berpikir dan bertindak rasional terhadap ajaran Islam tidak bisa lepas dari sumber-sumber bacaan yang telah menginspirasinya.

Dalam beberapa tulisan tentang Islam (surat-surat dari Ende), Bung Karno berkali-kali menempatkan posisi sebagai kaum pro ijtihad (modernis) dan menolak taklid (tradisionalis). Tetapi sekali lagi, dalam konteks dan momentum pembentukan kesadaran nasionalisme, gagasan persatuan tidak diterapkan secara kaku, karena memang harus mengakomodir banyak corak pemikiran dan kepentingan. Maka Ketika Bung Karno terjun ke medan dakwah Islam, ia memilih bergabung dengan Muhammadiyah (Bengkulen), menjadi guru di sekolah Muhammadiyah setempat, bersama Abdul Karim Oey dan HAMKA. Meskipun demikian, sumber-sumber bacaan Bung Karno tidak selamanya sama dengan para aktivis Muhammadiyah.

Dalam momentum kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau (1930), Bung Karno adalah salah satu utusan Muhammadiyah Bengkulen yang menyaksikan langsung perdebatan antara kaum tua dengan kaum muda perihal keberadaan tabir (hijab/kain penghalang) antara peserta kongres laki-laki dan perempuan. Dalam konteks ini, Bung Karno tidak sependapat dengan pandangan umum dalam permusyawaratan tertinggi di Muhammadiyah kala itu (h. 132-136).

Penggunaan tabir dalam pandangan Bung Karno adalah manifestasi dari perbudakan atau penolakan terhadap egalitarianisme. Sangat disayangkan bagi Gerakan Muhammadiyah yang kadung dilabeli “modernis” maupun “progresif” pada waktu itu masih percaya pada praktik penggunaan hijab untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah forum. Nah, dalam konteks ini paham Kemuhammadiyahan Bung Karno memang sangat rasional.

Terinspirasi oleh The Spirit of Islam, Bung Karno menghendaki paham keagamaan yang sudah usang hendaknya diremajakan kembali: rejuvenation. Di sinilah makna kehadiran ijtihad Kembali dibutuhkan untuk menemukan “spirit Islam” agar senantiasa selaras dengan dinamika zaman. Bung Karno menggunakan perumpamaan yang sangat luwes dalam konteks ini: “ambil apinya singkirkan abunya.” Dengan cara demikian, maka ajaran Islam yang agung akan senantiasa selaras dengan dinamika zaman dan dalam konteks sosial-budaya-politik tertentu di manapun.

Konsep rejuvenasi Islam ketika berhadapan dengan paham-paham keagamaan yang telah jumud jelas identik dengan konsep ijtihad. Namun lebih dari itu, rejuvenasi Islam menjadi ciri atau penanda penting bahwa konstruksi alam pikir umat Islam mayoritas diposisikan sebagai sesuatu yang dinamis layaknya organisme (sesuatu yang hidup). Dan siklus hidup dalam konteks stamina kebudayaan menghendaki proses regenerasi agar keberlangsungan hidup dapat terjaga di masa depan.  

Di mata Bung Karno, Islam lebih dari sekedar agama ritual. Ia merupakan pandangan hidup, bersifat kosmopolit, melintasi segala ruang dan waktu. Oleh karena itu, Islam tidak dapat disejajarkan dengan isme-isme yang hanya akan mengerdilkan makna keagungan Islam itu sendiri. Apalagi ketika Islam digabungkan dengan isme-isme dalam konteks ideologi politik, maka ia sebenarnya tidak simetris karena makna keagungan Islam hanya dapat disejajarkan dengan imperium dunia atau suatu label peradaban. Atas dasar inilah, Bung Karno memang tidak sejalan dengan pembentukan Negara Islam—yang secara teoritis berasal dari konsepsi-konsepsi yang amat parsial, seperti konsep nasionalisme, konsep bentuk negara, konsep pemerintahan, dan seterusnya. Sebab, makna keagungan Islam melampaui kesemuanya itu.

Kurang lebih itulah yang saya tangkap dari gagasan rejuvenasi Islam dalam pemikiran keislaman Bung Karno sebagaimana merujuk pada buku karya M. Ridwan Lubis ini.  

Catatan Kecil Bersama Bung Ahmad Syafii Maarif

Walaupun lidah ini agak kelu, tapi saya harus konsisten pakai istilah “Bung” untuk menyebut Ahmad Syafii Maarif ini. Jujur, saya sendiri lebih terbiasa menyebut “Buya” ketimbang “Bung.” Tapi mengingat sudah terlalu banyak orang yang menyebutnya “Buya,” padahal dalam beberapa kesempatan, terutama ketika berkomunikasi lewat WA, beliau sering memakai sebutan “Bung” untuk menyapa orang lain.  

Kali ini, saya merasa perlu mengisahkan beberapa pengalaman kecil bersama beliau, khususnya ketika kami masih dalam satu tim di Redaksi Suara Muhammadiyah pada sekitar 2016-2017. Meski di luar konteks bedah buku karya M. Ridwan Lubis, tapi beberapa catatan kecil bersama Bung Ahmad Syafii Maarif ini relevan dengan konteks regenerasi Islam.    

Peradaban itu Dibangun dari “Titik dan Koma”

Waktu itu, Bung Ahmad Syafii Maarif telah memiliki banyak waktu luang. Sering berkunjung ke kantor Redaksi Suara Muhammadiyah, dalam satu kesempatan beliau berujar: “di akhir sisa umur saya ini, saya akan fokus ke SM dan Muallimin.” Kurang lebih begitulah pesan beliau yang berhasil saya ingat-ingat, meskipun saya yakin redaksi yang beliau ungkapkan mungkin agak berbeda. Namun pesan utama yang berhasil saya ingat-ingat adalah “fokus ke SM dan Muallimin.”

Saking seringnya beliau terlibat dalam rapat redaksi rutin yang digelar tiap hari Selasa pagi, di satu sisi sangat menguntungkan karena banyak informasi terbaru yang masuk ke jajaran redaktur, tetapi di sisi lain agak ‘menakutkan.’ Kenapa? Karena para redaktur junior hampir dipastikan ‘mati kutu’ tidak bisa terlibat aktif dalam rapat redaksi tukar pikiran. Nyaris hanya beliau dan beberapa redaktur senior saja yang unjuk bicara dari awal sampai akhir rapat.

Corak pemikiran beliau ketika terlibat dalam diskusi redaksi sangat reflektif, mendalam. Masalahnya, topik-topik yang bersifat filosofis cenderung dihindari untuk penerbitan majalah kategori majalah resmi persyarikatan seperti SM. Tapi sekali lagi, dalam pengamatan saya, beliau ini termasuk orang yang sudah selesai dengan pengembaraan gagasan besar, sehingga ketika menyebut satu topik/masalah akan dengan mudah dituntun ke akar filosofisnya.

Bukan hanya itu. Beliau termasuk orang yang sangat teliti. Persoalan typo yang sudah menjadi kebiasaan warisan dari generasi terdahulu di SM ternyata tidak luput dari pengamatannya. Bung Ahmad Syafii Maarif pernah berpesan supaya kesalahan-kesalahan ketik tidak bisa ditolerir. Bahkan dari urusan kecil semacam ini, beliau sampai menuntun pada gagasan filosofis besar dari Konfusius. Saya memang kurang cermat betul ketika mengingat apa yang dikatakan beliau terkait pemikiran filosof China tersebut. Tapi kurang lebih isinya seperti ini: untuk membangun narasi besar peradaban dunia harus dimulai dari pemberesan istilah-istilah agar tidak disalahpahami oleh generasi berikutnya. Dari kutipan tersebut beliau berpesan kepada jajaran redaksi SM bahwa “peradaban itu dimulai dari titik dan koma.”

Memimpin itu Melepaskan

Bung Ahmad Syafii Maarif sangat memperhatikan generasi muda. Generasi muda adalah calon penerus, dalam konteks organisasi sosial keagamaan maupun negara, yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Tidak perlu saya sebutkan lembaga atau organisasi apa yang telah dibina oleh beliau dengan menempatkan kader-kader muda sebagai ujung tombak penggeraknya.

Dalam ingatan saya secara pribadi, beliau pernah mengungkapkan bahwa dalam sebuah organisasi, maka regenerasi menjadi mutlak agar selalu sehat dan dinamis. Generasi muda harus mendapat tempat. Tanpa proses regenerasi dapat dikatakan suatu organisasi gagal dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

Hingga suatu ketika, saya ingat betul momentumnya pada awal-awal beliau aktif kembali di Suara Muhammadiyah, beliau menegaskan bahwa “memimpin itu melepaskan.” Kader-kader muda diberi kesempatan untuk ambil posisi sebagai pemimpin pada beberapa bidang amal usaha dan di setiap level kepemimpinan. Watak kaum muda itu pemberani, cerdas, dan dinamis ibarat anak panah yang melesat. Nah, posisi kaum tua cukup memantau saja, jangan terlalu banyak mengekang kreativitas dan kebebasan generasi muda.      

Cermat Membaca Teks

Saya termasuk pelanggan tulisan “Kata Pengantar” dari Bung Ahmad Syafii Maarif untuk buku-buku yang akan saya terbitkan. Cara saya mendapatkan Kata Pengantar dari beliau sangat pragmatis, tapi beliau sudah tidak mempermasalahkan. Yaitu dengan cara saya Menyusun draf Kata Pengantar sekitar 2-3 halaman lalu diajukan kepada beliau untuk dibaca dan dikoreksi untuk kemudian diatasnamakan beliau. Misalnya, buku Benteng Muhammadiyah mendapat Kata Pengantar dari beliau dengan sekian catatan typo dan beberapa paragraph yang perlu dibetulkan. Tapi yang menarik dari Kata Pengantar buku ini, beliau mengapresiasi proses pencarian dan eksplorasi data-data sejarah sehingga ditemukan informasi yang cukup bagus dan menarik.

Kemudian pada buku Modernisasi Pendidikan Islam, saya kembali memohon Kata Pengantar dari beliau. Respon beliau kurang lebih sama seperti ketika saya memohon Kata Pengantar untuk buku Benteng Muhammadiyah. Tapi saya punya catatan penting dalam hal ini bahwa sosok Bung Ahmad Syafii Maarif sangat cermat membaca teks. Ketelitiannya membaca teks seakan-akan tidak mentolerir kesalahan ketik atau typo. Begitu juga ketika memohon Kata Pengantar untuk buku Covering Muhammadiyah, sekali lagi, menurut saya, beliau ini orang tua paling cermat dalam mengoreksi teks. Bagaimana tidak! Saya sudah berusaha semaksimal mungkin memilih kata dan memeriksa secara teliti agar tidak ditemukan kesalahan ketik atau kekeliruan dalam memakai istilah, namun jawab beliau lewat begini: “sudah bagus. Coba cek lagi di kamus penulisannya “ekstrim” atau “ekstrem.”

“Ya Allah, cermat sekali beliau ini!” begitu kataku dalam hati.     

Bagikan yuk

Mu'arif

Pengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.. See - https://ibtimes.id/author/muarif/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.