Kali ini redaksi akan pameran beragam gambar dalam rangkah milad RBK ke-8.

 

 

 

Munir memang akrab di hati pegiat RBK, begitu juga Dauzan Farook yang berasal dari Kauman. Ada upaya meneladani kemenangan kecil dan belajar menghadapi bahaya besar.
.
Kita bikin Apsas untuk WS Rendra, Untuk Munir, untuk seniman rakyat, untuk Pram. Mendiskusikan sampai larut malam, sampai pagi berkumandang. Begitulah kisah kisah di Kalibedog antara 2014-2018, banyak hal berubah dan banyak pula spirit berlanjut hingga kini di Kanoman

Mengakrabi pikiran pikiran peraih nobel yang membela lingkungan hidup, membela ilmu ekonomi sebagai moral science di tengah teknikalisasi ilmu ekonomi. Bamyak sekali mengobrolkan urusan urusan pikiran besar di meja makan. Kita kenal revolusi sebatang jerami, mengukur kesejahteraan, small is beautifull,kecil itu Indah…. stiglitz, Fukouka, Schumacher, dsb…

Kita juga mendukung sekuatnya gerakan warga berdaya yang digerakkan mas Elanto mas Dodok. Krisis air, krisis akal sehat, jogja asat, dan kegilaan pada duit pariwasata… Kita bikin urban literacy campaign, buat gerakan membunuh jogja…..

Bagaimana agar gerakan membumi
Belajar dari perlawanan Orang biasa, kita melapakkan buku di jalanan. Kita rasakan dari dekat bagaimana menjadi manusia merdeka. Bagaimana juga menjalani The Art of not being governed ala James C Scotta, ala orang orang biasa yang berdaya.

Kita diapresiasi oleh Jagongan media rakyat (JMR), ruang komunitas memaknai peran yang paling humanis dan inklusif.

Ya delapan tahun di RBK yang sangat bermakna.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link