“Di balik kemajuan ilmu dan teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia…”
(Kuntowijoyo “Islam Sebagai Ilmu”)

 

“The environmental crisis is primarily the consequence of an inner malaise and a whole worldview that gives human beings unlimited power over nature seen as desacralized reality…The traditional Islamic worldview is totally opposed to the prevalent modern paradigm of the relation between human beings and nature, which has caused unprecedented harm to the natural environment, has led to the loss of many species, and now threatens the very future of human life on earth”
(S.H. Nasr “The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity”)

Dalam sebuah grup Whatsapp yang diikuti penulis, penulis menjumpai ada teman (akademisi sekaligus aktivis literasi) yang membagikan status facebook terakhir dari AE Priyono sebelum ia menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. AE sendiri dikenal sebagai seorang akademisi dan aktivis kenamaan di Indonesia yang memiliki perhatian terhadap isu demokratisasi, HAM, hingga ilmu sosial profetik. AE sendiri sempat ditetapkan sebagai PDP (pasien dalam pengawasan) walaupun akhirnya dinyatakan negatif.

Status terakhir AE sangatlah menarik untuk disimak dimana ia berkata: “Melalui dua buku best-sellernya, Sapiens dan Homo Deus, ia sampai pada kesimpulan mengenai revolusi bioteknologis yang memungkinkan manusia mencapai kedudukan-tuhan untuk menguasai jagad-raya hingga masa depan tak terbatas. Tapi bagi saya kini, pandemi Covid 19 tampak membuyarkan fiksi homo-deus yang banyak diyakini para pemuja sejarahwan global yang agak ge-er itu”.

Melalui tulisan tersebut AE mencoba menempatkan Corona secara vis a vis dengan imaji Harari tentang era “Homo Deus” dimana dicirikan dengan kemampuan manusia mengembangkan teknologi hingga tingkat yang tidak terbayangkan sehingga mencapai tingkat “evolusi” yang lebih tinggi yakni spesies baru bernama Homo-Deus. Bagi AE, Corona mampu “membuyarkan” dan “merusak” imaji tersebut.

Posisi AE tersebut menjadi sebuah renungan sendiri bagi kita yang selama ini lebih banyak membincangkan soal Korona tanpa menempatkannya dengan konteks yang lebih makro. Korona dipandang sebagai sebuah wabah yang merugikan dan mengancam umat manusia. Dengan kata lain perspektif medis atau sains mendominasi pandangan tentang Korona. Termasuk dalam perdebatan di lingkup ini ialah kontroversi yang muncul di masyarakat soal seberapa berbahayakah Korona? Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah Korona? Maka kemudian muncul debat soal Lockdown, Karantina wilayah, social distancing, dan lain sebagainya. Apakah kemudian pandangan hal itu patut untuk dipersalahkan?

Tentunya tidak karena perdebatan di lingkup tersebut berguna untuk menemtukan strategi yang dirasa paling masuk akal dalam memastikan penyebaran Korona dapat diminimalisir. Termasuk juga mencari cara preventif paling ampuh agar tidak semakin banyak korban lagi yang jatuh akibat wabah. Akan tetapi AE sedang mendorong kita untuk tidak luput untuk memahami Korona melampaui perspektif medis tersebut. Dimana AE mencoba menggeser pembicaraan dari ranah medis ke ranah peradaban. Secara spesifik AE ingin menyoroti seperti apa implikasi Korona bagi peradaban kontemporer? Tetapi dari upaya AE menggeser pembicaraan tersebut kita juga bisa mempertanyakan adakah keterkaitan peradaban kontemporer saat ini dengan kemunculan dan ekspansi wabah Korona?

Selain AE sebenarnya sudah ada sejumlah akademisi yang mencoba menggeser pembicaraan soal Korona ini ke arah topik peradaban. Yasraf Amir Pilliang misalnya mengelaborasi implikasi Korona pada perubahan budaya global yang tadinya bercorak dubaya gerak (fast culture) menjadi budaya diam (Pilliang: 2020). Bagi Yasraf perubahan ini bahkan disebut sebagai de-kulturisasi karena Korona mampu merubah kultur yang dominan secara global semenjak globalisasi dunia menjadi kultur yang sama sekali baru (Pilliang: 2020). Mungkin jika dahulu Yasraf memberi judul bukunya “dunia yang dilipat” karena budaya gerak yang cepat ini memampatkan jarak dunia sekarang dalam konteks dunia baru ini judul yang tepat adalah “dunia yang dipalang” sehingga pergerakan sangatlah dibatasi. Selain Yasraf yang melihat dari sisi budaya, ada juga akademisi semacam Martin Suryajaya yang melihat Korona sebagai potensi krisis tatanan kapitalisme, karena tanpa adanya produksi (yang membutuhkan tenaga kerja aktif di pabrik/sentra produksi lain) maka pada girilannya akan membuka peluang bangkrutnya berbagai industri tersebut yang akan memicu efek domino munculnya krisis moneter dan krisis lainnya (Suryajaya: 2020).

AE tidak menukik dalam pembahasan soal ekonomi atau budaya tetapi memunculkan pertanyaan soal masyarakat teknologis. Bagi AE masyarakat teknologis yang dibayangkan akan terus mengalami perkembangan mutakhir ternyata mengalami “disrupsi” akibat wabah Korona tersebut. Tilikan AE ini menarik karena pada hari-hari ini teknologi justru menjadi suatu yang diharapkan oleh umat manusia –yakni vaksi Korona-. Termasuk juga alat rapid test, masker, hand sanitizer, bahkan juga ketersediaan APD dan fasilitas rumah sakit adalah bukti masyarakat makin condong –bahkan semakin bergantung- pada teknologi yang dianggap sebagai “penyelamat manusia”. Kembali lagi jika berfikir alat medis maka jawabnnya adalah AE adalah orang yang “bermimpi di siang bolong”. Bahkan penulis pernah mendengar sebuah narasi yang kira-kira berbunyi: “tanpa adanya teknologi canggih saat ini maka mungkin umat manusia sudah punah karena wabah Korona”. Dalam derajat tertentu mungkin narasi tersebut ada benarnya tetapi menjadi keliru jika kita berfikir sedikit saja melampaui medis. Korona dapat dikatakan menyebar juga berkat pengembangan teknologi mutakhir.

Tanpa adanya sarana transportasi cepat seperti pesawat, kereta api, dan mode transporasi modern lainnya mungkin virus tersebut juga tidak dapat menyebar secepat saat ini.
Bukankah logika modernitas juga membuat penanganan virus menjadi sulit karena modernitas dibangun berbasis asas teritorialisme dan birokratisasi masyarakat? Teritorialisme ini kemudian dalam bahasanya Yasraf justru menghasilkan dunia yang tersekat-sekat, dunia yang terpalang? Bahkan WHO sampai mengganti istilah social distancing menjadi physical distancing karena menyadari implikasi keterpalangan dunia akibat terma tersebut. Maka jangan heran ketika banyak jenazah yang tidak terurus atau ditolak karena merupakan implikasi natural logika teritorialisme ini karena imaji yang terbangun ialah virus ini mesti dihadapi dengan menyekat teritori agar steril. Maka teritori saya mesti steril dari virus dan amats angat beresiko memasukkan jenazah pasien virus Korona dalam teritori yang mestinya steril tersebut. Meskipun sudah dijelaskan adanya prosedur medis yang ketat namun nampaknya logia teritorialisme ini “begitu terhayati” oleh masyarakat sehingga mereka menerapkannya secara lebih “radikal” dibandingkan yang bisa dibayangkan dunia medis. Birokratisme juga mempersulit gerak negara karena briokrasi membayangkan adanya “normalitas” dan bukan “abnormalitas” sehingga di tengah situasi yang berubah ini birokrasi kesulitan beradaptasi.

Penulis sempat mendengar kesaksian dari teman di Jepang bahwa di negara tersebut- yang memiliki logika birokratisasi tinggi- bahkan memerangkap para pekerjanya untuk tetap datang ke kantor karena membutuhkan stempel untuk mencap satu dokumen.

Dari penjelasan di atas kita bisa berfikir ulang bahwa virus ini adalah virus yang inheren dalam dunia modern dan menariknya lagi logika modernitas sendiri gagal dalam menghadang laju perkembangan virus tersebut. Sehingga renungan AE soal potensi implikasi terhadap peradaban modern yang berciri teknologisme ini mestilah dimulai dari merefleksi kaitan antara modernitas dan virus Korona itu sendiri. Bagi penulis, Korona adalah “tanda” dimana jika masyarakat mampu mentadaburi “tanda” tersebut maka potensial merevolusi peradaban yang kita hidupai saat ini. Dengan kata lain mentadaburi Korona ini membuka peluang munculnya satu trajektori sejarah baru yang sama sekali berbeda dengan yang diproyeksikan para pengusung masyarakat teknologis seperti Harari dan para akademisi yang sepemikiran dengannya. Disinilah paradigma profetik menjadi relevan untuk mengelaborasi peluang titik balik peradaban yang disinggung AE dalam tulisannya.

Kuntowijoyo –sebagai peletak dasar paradigma profetik- memberikan penjelasan tentang masyarakat teknologis dalam karyanya “Islam sebagai ilmu”. Dalam buku tersebut Kuntowijoyo mengelaborasi fondasi dari masyarakat teknologis tersebut yang bermuara pada ide modernisasi. Bagi Kunto, modernisasi bercirikan pada logika diferensiasi (Kuntowijoyo: 2006). Diferensiasi ini kemudian berimplikasi memisahkan agama dan berbagai aspek kehidupan manusia lainnya termsuk dalam rancang bangun ilmu pengetahuan (Kuntowijoyo: 2006). Padahal bagi Kunto, Agama berposisi sebagai sumber etika (baik/buruk) yang penting bagi pengembangan ilmu (Kuntowijoyo: 2006). Namun dengan dominasi paradigma modern, agama dipaksa untuk berpisah dari ilmu yang membuat ilmu menjadi kehilangan basis etikanya. Ilmu menjadi sesuatu yang diklaim “bebas nilai” (Kuntowijoyo: 2006).

Padahal klaim “bebas nilai” itu kalaupun benar amatlah berbahaya. Sebab sebagaimana gelas yang kosong, maka akan mudah dituangi air. Berbeda dengan gelas yang telah diisi air maka alan sulit baginya untuk dituangi dengan air yang lain. Gelas akan menolaknya dan air yang coba dituang tersebut akan tumpah. Ketika agama dipisahkan dengan pengembangan ilmu maka eksistensi ilmu itu sendiri dengan mudah dikooptasi oleh paradigma lain yang juga memiliki “basis etikanya” sendiri.

Ironisnya Kapitalismelah yang menjadi paradigma baru menggantikan posisi agama dalam membentuk ilmu-ilmu kontemporer (Kuntowijoyo: 2006). Kapitalisme sendiri dikatakan Kuntowijoyo digerakkan oleh logika pasar (untung rugi) sehingga manusia dan kemanusiaan itu sendiri semata-mata direduksi menjadi logika pasar (Kuntowijoyo: 2006). Maka bisa kita saksikan sekarang ini bagaimana nalar kapitalisme mempengaruhi gerak pengembangan ilmu kontemporer. Ilmu menjadi semata-mata hak orang kaya, ilmu mesti disesuaikan dengan tuntutan dunia industri, dan penyesuaian lainnya yang menunjukkan logika pasar menjadi paradigma baru keilmuan.

Jika dipertautkan dengan wabah Korona saat ini terlihat bahwa produk keilmuan (dalam hal ini alat-alat kesehatan) secara spesifik hanya dapat diakses oleh orang-orang berpunya. Ambil contoh senderhana saja, alat kesehatan berupa masker dan hand sanitizer yang dibutuhkan masyarakat luas sebagai langkah preventif menjaga diri mereka dari kemungkinan terjangkit Korona habis di pasaran. Kalaupun ada harganya sangat tinggi dan hanya dapat dimiliki oleh orang-orang berpunya. Dengan kata lain hukum pasar berlaku dalam soal akses terhadap akses terhadap alat-alat kesehatan.

Kemanusiaan direduksi menjadi sejauh mana ia memiliki uang untuk membeli alat-alat kesehatan tersebut. Jikalau bisa, sejauh mana kualitas dari alat-alat kesehatan yang dapat kita akses. Misal publik hanya dapat mengakses masker kain yang secara kualitas jauh di bawah masker medis dan n95 misalnya yang memiliki daya saring udara leih bagus.
Kembali pada pernyataan Kunto soal diferensiasi, ketercerabutan ilmu (dan pengembangan ilmu) dari etika agama membuat ilmu menjadi kehilangan aspek humanisasi. Padahal etika agama dinyatakan Kuntowijoyo mengisyaratkan produk keilmuan harus bermanfaat bagi manusia –termasuk tentunya dalam hal ini universalisme akses terhadap produk keilmuan tersebut-(Kuntowijoyo: 2006). Tetapi dalam sistem etika baru berbasis pada kapitalisme maka pasar yang menjadi patokannya. Siapa yang berpunya maka dia yang dapat mengakses alat-alat dan fsilitas kesehatan dengan lebih baik.

Bahkan menurut Harvey karena logika pasar mengendaki profit maka dia akan mengarahkan pengembangan ilmu (kesehatan) ke arah kuratif dan bukan preventif. Sehingga sakitnya seseorang menjadi satu aset yang penting bukan terjaganya kesehatan orang yang seringkali kurang menguntungkan (Harvey: 2020).
Lebih jauh jika kita merenungi ide Kuntowijoyo tentang problem paradigma modern yang melahirkan diferensiasi lebih luas sekedar perosoalaan akses pada alat-alat atau falilitas keseatan atau bahkan pada logika kuratif yang lebih mendominasi dari preventif. Dapat dikatakan Ilmu dalam dunia modern direduksi menjadi sekedar teknologi praktis untuk mengekspoitasi dunia seisinya. Padahal ketika ilmu direduksi maknanya semata sebagai sarana untuk mengekspoitasi alam secara lebih masif itulah pangkal dari munculnya wabah Korona semacam ini.

Telaah dari sejumlah saintis yang mengeksporasi asal usul munculnya virus Korona sampai pada kesimpulan mengejutkan bahwa ada keterkaitan antara ekspansi manusia secara masif ke habitat hewan-hewan yang secara natural menjadi carrier (pembawa) dari virus tersebut dengan kemunculan Korona. Mudahnya ketika habitat asli hewan tersebut rusak maka terbuka peluang mutasi virus untuk mencari carrier baru yang cocok bagi dirinya. Manusia menjadi “sasaran empuk” bagi virus ini yang diposiskan sebagai habitat barunya untuk berkembang biak (Wirawan: 2020; BBC Indonesia: 2020; Mukhaer: 2020). Dalam bahasa Harvey, Korona adalah semacam “unintended consequences” yang tidak terprediksikan oleh hasrat ekspoitasi alam oleh kapitalisme yang pada akhirnya justru “menghantam” sistem tersebut (Harvey: 2020).

Dari penjelasan diatas kita bisa merenungkan bahwa logika diferensiasi membuka jalan lebar bagi ekspoitasi alam yang berlebihan. Hal ini terjadi akibat “pengosongan” ilmu dari agama (sebagai sumber etika) yang kemudian “dibajak” oleh logika Kapitalisme sehingga corak ilmu menjadi semakin destruktif dan dehumanitatif. Padahal jika merujuk pada agama, ada satu etika asasi yang tidak boleh dilanggar. Dalam Al Quran surah Ar Rum ayat 41 dijelaskan secara gamblang bahwa munculnya kerusakan di darat dan di laut itu akibat ulah manusia itu sendiri. Dijelaskan dalam tafsir As Sa’di, yang ditulis oleh seorang mufassir kenamaan asal Timur Tengah, bahwasanya salah satu bentuk kerusakan yang muncul ialah epidemik (wabah) yang menyebar luas, menjangkati banyak penduduk.

Menarik ketika As Sa’di menggarisbawahi kerusakan ini salah satunya akibat dosa-dosa manusia, yang termasuk di dalamnya adalah dosa “neglect and abuse of the natural environment” (mengabaikan dan merusak lingkungan hidup)” (as-Sa’di: 2018).

Penjelasan As Sa’di ini menjadi menarik ketika dihubungkan dengan etika Islam. Islam memberikan penekanan penting untuk menjaga lingkungan hidup. Ketika manusia justru berpretensi untuk mengekspoitasi alam secara serampangan maka itu adalah sebuah dosa yang memiliki konsekuensi. Penjelasan As Sa’di ini berkesesuaian dengan temuan akademisi yang telah disebutkan sebelumnya bahwa wabah ini tidak dapat dilepaskan dari perbuatan tangan manusia, yang digerakkan oleh logika modernitas dan kapitalistik sehingga merasa alam adalah “onggokan benda mati” yang dapat seenaknya diekspoitasi demi pemenuhan nasfu produksi dan komsumsi yang tidak sehat.

Berdasar penjelasan diatas, ketika etika Islam tentang alam dipisahkan dari pengembangan ilmu maka ilmu berbagai teknologi yang dihasilan bukan menjadi teknologi yang ramah lingkungan. Akan tetapi hukum Tuhan berlaku dimana ketika muncul pelanggaran maka kerusakan akan kembali kepada manusia itu sendiri. Kerusakan tersebut memiliki makna transendental yakni membuat manusia untuk sadar akan kekeliruannya dan bertaubat (as-Sa’di: 2018). As Sa’di juga menggarisbawahi bahwa adalah rahmat Allah untuk tidak menimpakan kerusakan secara total dari apa yang mereka perbuat (as-Sa’di: 2018). Dalam kasus Korona ini misalnya, kita bisa merenungkan pernyataan sebagian akademisi yang menyatakan bahwa Korona adalah salah satu virus saja dari kemngkinan virus-virus yang sama atau bahkan lebih berbahaya yang dapat menyebar ke manusia akibat habitat aslinya terganggu (Harvey: 2020).

Artinya jika Allah menghendaki maka berbagai virus yang membahayakan tersebut dapat meuncul pada saat yang bersamaan dan dapat berujung pada kepunahan manusia. Akan tetapi sebagaimana dinyatakan oleh As Sa’di, adalah bagian dari hukum Tuhan juga bahwa manusia tidak diganjar secara total dari perbuatan dosa yang mereka lakukan (as-Sa’di: 2018). Sebagai renungan saja di tengah mewabahnya Korona, Indonesia juga menghadapi ancaman demam berdarah. Bagaimana jika virus-virus lain muncul secara bersamaan? Bisa jadi korban yang jatuh semakin banyak dan situasi akan semakin memburuk.

Kembali pada renungan AE soal masyarakat teknologis yang potensial “terdisrupsi” akibat adanya Korona ini dapat dikatakan analisis yang sahih. Dalam artian Korona mampu melahirkan cakrawala baru yang potensial menunjukkan wajah asli masyarakat teknologis yang dianggap Harari dan yang berpemikiran sama dengan akan membawa ke era Homo-Deus. Korona membantu kita “mendekonstruksi” narasi besar tersebut dan membawa kita pada cara melihat yang lain dimana masyarakat teknologis ini justru potensial mengantarkan kita pada kepunahan manusia sebagai spesies yang menghuni bumi ini. Meminjam judul terjemahan dari Rita Abrahamsen, Korona adalah “tanda” yang membantu kita semua melihat sudut gelap kemajuan. Sudut gelap masyarakat teknologis. Sudut gelap kapitalisme. Sudut gelap diferensiasi yang dimbul akibat paradigma modern yang dominan dalam masyarakat kita.

Dari renungan diatas maka pertanyaan yang kemudian muncul ialah bisakah manusia “membaca tanda” tersebut? Sehingga manusia tidak kembali mengulangi perbuatan yang sama, kembali pada normalitas dimana perusakan alam, peminggiran kaum miskin, dan arah pengembangan ilmu yang tetap mempertahankan corak dehumanisasi dan anti linkungannya sebagai efek dari bekerjanya logika diferensiasi ala modernitas? Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan literasi yang kuat pada diri seseorang. Akan tetapi dengan munculnya tulisan AE dan akademisi selainnya yang mencoba keluar dari debat soal Korona dalam logika medis ke arah isu peradaban adalah satu “pemantik” yang sangat dibutuhkan untuk mendorong semakin banyak orang untuk memikir ulang dunia dan logika berfikir yang selama ini dianutnya melalui wabah Korona ini. Terlebih dalam upaya “mentadaburi” wabah Korona ini kita diberikan peluang yang besar karena pada umumnya manusia berada di rumahnya. Di tengah munculnya budaya diam dalam bahasanya Yasraf (Pilliang: 2020). Budaya diam ini dikenal dalam filosofi jawanya dengan istilah “suwung” yang memungkinkan manusia untuk berhenti sejenak dan kemudian meemberikan kesempatan bagi dirinya untuk merenungi dunia di sekitarnya.

Harapannya adalah sikap bijak dapat diambil dari proses perenungan tersebut. Maka dalam tinjauan profetik bisa kita katakan Korona tidak hanya membantu kita untuk memikir ulang dunia yang kita tinggali tetapi juga memberikan konteks yang “kondusif” bagi upaya memikirkan ulang dunia tersebut.

Referensi

as-Sa’di, Abdur-Rahman Nasir. Tafseer as-Sa’di Volume 7. Riyadh: International Islamic Publishing House (IIPH), 2018.
BBC Indonesia. Virus corona: Eksploitasi alam ‘mendorong sejumlah wabah penyakit baru’. 4 9, 2020. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-52225061 (accessed 4 14, 2020).
Harvey, David. “Anti-Capitalist Politics in the Time of COVID-19.” Jacobin. 3 20, 2020. https://jacobinmag.com/2020/03/david-harvey-coronavirus-political-economy-disruptions (accessed 4 14, 2020).
Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Meodologi, dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Mukhaer, Afkar Aristoteles. “Eksploitasi Hewan Oleh Manusia Sebabkan Kita Rentan Terkena Virus.” National Geographic Indonesia. 4 9, 2020. https://nationalgeographic.grid.id/read/132096587/eksploitasi-hewan-oleh-manusia-sebabkan-kita-rentan-terkena-virus (accessed 4 14, 2020).
Pilliang, Yasraf Amir. “Virus De-globalisasi.” Kompas. 3 30, 2020. https://kompas.id/baca/opini/2020/03/30/virus-de-globalisasi/ (accessed 4 14, 2020).
Suryajaya, Martin. “Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona Atau Cerita tentang Dua Virus.” Martin Suryajaya. 3 30, 2020. https://www.martinsuryajaya.com/post/membayangkan-ekonomi-dunia-setelah-korona (accessed 4 14, 2020).
Wirawan, Miranti Kencana. “Studi: Eksploitasi Alam oleh Manusia Sebabkan Penyakit Zoonosis Seperti Covid-19.” Kompas. 4 8, 2020. https://www.kompas.com/global/read/2020/04/08/193943770/studi-eksploitasi-alam-oleh-manusia-sebabkan-penyakit-zoonosis-seperti?page=all (accessed 4 14, 2020).

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link