Tulisan ini secara khusus dimaksudkan untuk mengenang salah satu intelektual kenamaan Indonesia asal Universitas Gadjah mada (UGM) Cornelis Lay –dikenal dengan julukannya mas Conny- yang meninggal pada hari selasa 4 Agustus 2020 silam. Cornelis Lay dapat dikatakan sebagai intelektual dan aktivis yang memiliki komitmen tinggi pada nilai kemanusiaan. Hal ini misalnya tercermin dari karya-karya yang dihasilkan oleh sang intelektual jalan ketiga tersebut yang secara mendalam mengupas tema-tema besar terkait dengan Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Politik Lokal, hingga isu keamanan. Dalam setiap tema yang menjadi topik bahasan dalam karya Cornelis Lay dapat dikatakan spirit pembelaan terhadap rakyat dan nilai-nilai kemanusiaan nampak jelas dalam karya-karya tersebut.

Ambil contoh  dalam membahas tentang tema keamanan, Cornelis Lay berupaya untuk mengembangkan satu paradigma baru dalam melihat keamanan yang tidak berpusat pada framework state sentris tetapi human sentris. Pendekatan lama mengacu pada negara sebagai obyek yang mesti “dilindungi” eksistensinya sehingga pendekatan ini rentan memicu berbagai pelanggaran atas hak asasi manusia. Alasannya karena demi melindungi eksistensi negara maka suara rakyat yang dianggap “mengancam” eksistensi negara secara akademik diberi legitimasi untuk “dibungkam” sedemikian rupa.

Dengan mengubah framework pendekatan keamanan tersebut menjadi human sentris –mengacu pada perkembangan terkini dalam dunia akademik global terkait dengan ide Human Security– maka obyek yang mesti dilindungi dapat digeser sedemikian dari negara ke rakyat. Sehingga secara akademik legitimasi negara untuk tetap eksis ditentukan oleh sejauh aman ia dapat memastikan keamanan rakyatnya bukan keamanan dirinya sendiri. Dari contoh tersebut dapat kita lihat bagaimana Cornelis Lay berupaya memperjuangkan spirit emansipasi, kritik terhadap kuasa dominan, dan juga pembelaan pada kemanusiaan secara lebih terang dengan mengintrodusir framework baru dalam mengkonstruksikan realitas.

Tema lingkungan ternyata juga mendapatkan perhatian yang besar dari sang intelektual jalan ketiga tersebut. Hal ini sangat beralasan mengingat isu lingkungan terkait erat dengan ide kemanusiaan itu sendiri.  Ketika alam rusak maka eksistensi manusia juga terancam. Sehingga kemanusiaan menjadi satu nilai yang esensial dalam perjuangan penyelematan lingkungan. Tulisan ini secara khusus mencoba mengelaborasi ide environmentalisme yang dikembangkan oleh Cornelis Lay. Harapannya siapapun yang memiliki perhatian pada isu lingkungan dapat mengambil inspirasi dari pemikiran sang intelektual jalan ketiga tersebut. Secara khusus tulisan ini merujuk pada artikel yang ditulis oleh Cornelis Lay pada Jurnal Sosial Politik UGM berjudul Nilai Strategis Isu Lingkungan dalam Politik Indonesia yang diterbitkan pada tahun 2007 silam.

Dari judulnya saja kita bisa melihat bagaimana kepedulian Cornelis Lay yang begitu tinggi terhadap isu lingkungan ini sejak lama. Melalui judul ini kita bisa menangkap maksud Cornelis Lay yang berupaya mengarusutamakan isu ini menjadi satu topik bahasan penting dalam studi ilmu politik di Indonesia. Langkah tersebut sangat penting mengingat secara tradisional kajian politik Indonesia –dan bahkan juga di level global- tidak menjadikan isu lingkungan sebagai bahan kajian utama mereka.

Jika kita membaca apa yang ditulis oleh Cornelis lay dalam artikelnya tersebut satu kesimpulan penting yang dapat diambil ialah Cornelis Lay berupaya mendudukkan isu lingkungan bukan semata sebagai obyek studi tetapi sebagai framewok berfikir sehingga tidak heran Cornelis Lay menggunakan istilah logika kerja lingkungan. Secara menarik Cornelis Lay kemudian mempertetangkannya dengan apa yang ia sebut sebagai “logika kerja politik”. Tentu yang dimaskud sebagai logika kerja politik adalah framework politik “tradisional” yang memang cenderung memiliki logika tersendiri yang sayangnya cenderung anti terhadap perlindungan lingkungan. Sehingga kemudian bagi Cornelis Lay yang menjadi penting adalah redefinisi politik itu sendiri yang dinyatakan oleh Cornelis Lay sebagai seni pengelolaan paradoks. Paradoks yang dimaksud ialah dua logika yang eksis tersebut. Dimana mengisyaratkan integrasi logika lingkungan ke dalam logika kerja politik sebagai langkah vital untuk memastikan terjadinya relasi baru antara manusia dan lingkungan yang lebih tidak terpisah satu sama lain. Dalam bahasa Cornelis Lay untuk menjamin terciptanya common future yang lebih sustainable.

Dalam artikelnya Cornelis Lay sendiri memaparkan mengapa lingkungan mesti diintegrasikan dalam logika kerja politik tradisional. Bagi Cornelis Lay perkembangan yang terjadi di level global menunjukkan suka atau tidak pergeseran paradigma politik global mengikuti logika kerja lingkungan sudah terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai contoh Cornelis Lay menggarisbawahi soal menguatnya wacana akademik mengenai network governance dalam menjalankan pemerintahan di Eropa sebagai salah satu dampak menguatnya logika kerja lingkungan tersebut. Dalam logika pengelolaan negara bangsa tradisional teritorialisme menjadi satu hal fundamental yang tidak bisa diganggu gugat. Namun bagi Cornelis Lay “ortodoksi” semacam itu perlahan tapi pasti “disapu” oleh penguatan ide lingkungan hidup. Sehingga mislanya dalam upaya mengelolaan sungai Danube yang melintasi 10 negara Eropa tidak lagi dapat diatus berbasis sekat-sekat tradisional ala negara bangsa. Suka atau tidak adanya problem lingkungan pada sungai yang rentan mengancam 10 negara yang dilintasi sungai Danube tersebut memaksa mereka untuk berfikir out of the box dengan kemudian mengadopsi logika network governance untuk memastikan masing-maisng negara memiliki peran yang strategis dalam upaya memastikan aliran sungai Danube tersebut. Hal ini wajar sebab jikalau misalnya ada satu negara saja yang beralasan atas kedaulatan wilayahnya dan kemudian membuang polusi di sungai tersebut misalnya, dampaknya akan dirasakan penduduk di 10 negara tersebut karena pencemaran tidak bisa dibatasi oleh teritori tertentu. Dengan kata lain lingkungan di mata Cornelis Lay menjadi satu kekuatan baru yang bahkan mampu mendisiplinkan praktik bernegara. Sehingga upaya merekognisi logika kerja lingkungan adalah satu hal yang niscaya.

Dalam artikel tersebut Cornelis Lay juga menegaskan bahwa logika lingkungan tidak hanya “mendekonstruksi” logika hubungan antar negara, tetapi juga memicu transformasi yang tidak kalah radikal dalam suatu wilayah negara bangsa itu sendiri. Sebut saja penguatan posisi tawar masyarakat “adat” dalam berhadapan dengan struktur hegemonik negara bangsa di wilayah Eropa. Sebagai contoh orang Sami yang menempati wilayah Skandinavia sejak 4.000 tahun lalu. Dengan adanya negara bangsa baru di wilayah Skandinavia membuat ruang gerak mereka selama ini terbatasi dan status mereka menjadi marginal. Namun dengan penguatan logika lingkungan tersebut mampu membuat daya tawar mereka meningkat. Pada akhirnya perjuangan untuk mendapatkan rekognisi berhasil dilakukan dengan pengakuan dari PBB tentang hak Sami atas tanah, air, dan sumber daya alam di wilayah yang mereka tinggali. Rekognisi ini salah satunya dapat dilacak dari cara hidup orang Sami itu sendiri yang dinilai mampu menjalin hubungan lebih harmonis pada alam. Dengan kata lain masyarakat “adat” seperti Sami yang dahulu termarginalkan dalam politik nasional kini menjadi aktor penting yang mesti dihargai eksistensinya oleh negara. Menariknya tidak hanya satu negara yang berhasil didisiplinkan tapi banyak negara yang kesemuanya menjadi bagian dari wilayah tradisional hidup kaum Sami. Hal ini menunjukkan bagaimana politik rekognisi dapat tercipta dari penguatan logika lingkungan.

Kemunculan partai politik hijau juga menunjukkan bagaimana logika lingkungan telah memperngaruhi kerja elektoral. Sebelum merebaknya isu lingkungan hampir dapat dipastikan perdebatan tentang isu lingkungan di parlemen kalaupun ada akan menempati posisi yang marginal. Tetapi dengan adanya logika baru lingkungan tersebut yang terus meguat di eropa menjadikan munculnya partai politik baru bernama partai hijau. Sehingga poin penting yang perlu digarisbawahi dari penjelasan Cornelis Lay tentang partai hijau adalah dia dapat berkembang dalam ruang yang kondsif. Ruang baru yang memungkinkannya muncul dan mendapatkan perhatian dari masyarakat luas. Jikalau sekedar memahami partai hijau sebagai partai yang melahirkan wacana tentang perlindungan lingkungan sebagai cara dia membangun identitasnya maka akan gagal menangkap spirit perubahan yang lebih besar terjaid di wilayah Eropa tersebut –yang ditandai dengan kemunculan satu logika baru di tegah publik Eropa-. Dalam derajat tertentu memang partai hijau menjadi satu agensi tersendiri yang turut membantu menguatkan debat soal isu lingkungan di parlemen. Tetapi tanpa penguatan logika lingkungan yang lebih dahulu muncul akibat masifnya berbagai kerusakan lingkungan di berbagai wilayah Eropa maka sangat sulit bagi partai tersebut untuk eksis di tengah pesaing politik yang notabene memiliki akar sejarah lebih panjang dalam politik elektoral Eropa.

Berbasis kenyataan diatas maka tidak berlebihan jika Cornelis Lay menyatakan perlunya menjadikan lingkungan sebagai titik rujuk bagi politik. Dengan kata lain lingkungan mestilah diposisikan sebagai framework kerja politik secara global, termasuk dalam konteks Indonesia. Posisi inilah yang diperjuangkan oleh Cornelis Lay karena lingkungan di mata Cornelis Lay adalah bentuk dari ideologi humanisme global. Dengan kata lain ia adalah bentuk dari perjuangan menegakkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Satu spirit yang terus diperjuangkan oleh Cornelis Lay selama hidupnya.  Pengarusutamaan framework alternatif dalam berpolitik ini menjadi niscaya karena bagi Cornelis Lay secara de facto perkembangan di aras global menunjukkan bahwa secara natural framework itu telah bekerja tanpa membutuhkan rekognisi akademik atau politik apapun. Namun justru menjadi penting bagi akademisi maupun pengambil kebijakan untuk “merangkul” realitas baru tersebut dan  menjadikannya sebagi satu panduan baru dalam berpolitik. Sehingga harapannya berbagai efek engatif yang muncul dari kerusakan lingkungan misalnya sedari awal dapat dicegah. Di sisi lain dengan integrasi tersebut maka paradoks tentang kebutuhan manusia dan juga keniscayaan perlindunga lingkungan justru menjadi suatu hal yang urgen untuk dibicarakan sedini mungkin bukan menunggu munculnya berbgaai patologi yang menghampiri manusia di kemudian hari.

Sebagai penutup, dapat dikatakan Cornelis Lay adalah sosok yang berkomitmen penuh dalam upaya memperjuangkan perlindungan lingkungan sepanjang hidupnya. Sebagai contoh, saat terjadinya pandemi Covid-19 yang juga melanda Indonesia, Cornelis Lay kembali mengingatkan pada rekannya sesama akademisi dan juga publik secara umum –dalam diskusi tentang Covid-19 yang diselenggarakan Fisipol UGM- tentang pentingnya mengarusutamakan framework lingkungan tersebut sebagai cara untuk memastikan kelangsungan eksistensi manusia Indonesia. Bagi Cornelis Lay, tanpa merubah framework dalam tata kelola Covid-19 dan memilih tetap mempertahankan logika “normal” saja (birokratis) maka tidak akan sanggup mengatasi problem eksistensial tersebut.

Dengan kata lain Cornelis Lay kembali mengingatkan pada kita semua bahwa kerjasama antara semua belah pihak -baik dalam internal negara maupun masyarakat- adalah kunci mengatasi problem Covid-19 dan problem lingkungan lainnya. Meminjam bahasa Kuhn, Cornelis Lay kembali menekankan upaya revolusi paradigmatik sebagai kunci untuk mengatasi realitas “abnormal” semacam kasus Covid-19 akibat makin memburuknya kualitas ekologi global. Kesadaraan akan survivalitas manusia sebagai spesies adalah satu kode etik tertinggi yang mesti menjadi fondasi dari kerja politik kontemporer saat ini. Dalam framework politik alternatif tersebut kesadaran bahwa hanya dengan berbagi ruang eksistensi dengan spesies yang lain (termasuk virus yang selama ini disepelekan)  dan juga penjagaan terhadap ruang (alam/lingkungan) tempat hidup alami para spesies menjadi vital untuk memastikan masa depan yang cerah bagi manusia.

Dengan kata lain melalui idenya tentang framework politik alternatif Cornelis Lay telah meninggalkan suatu warisan ilmu berharga untuk membangun peradaban yang lebih baik. Sebuah strategi peradaban dengan tujuan menciptakan common future yang lebih menanusiakan manusia dan juga mampu mencegah destruksi lingkungan hidup. Sebuah warisan berharga yang mesti terus diperjuangkan oleh siapa saja yang berkomitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan juga kelestarian lingkungan hidup.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link