Sebuah video pembelajaran berjudul “Teaser Analisis Kuasa bersama Cornelis Lay” diunggah oleh admin youtube resmi Departemen Politik dan Pemerintahan UGM pada tanggal 9 Agustus 2020 silam. Video yang direkam direkam pada bulan Juli 2020 silam tersebut sangat menarik karena memberikan gambaran yang sangat menarik mengenai pemikiran seorang Cornelis Lay, -yang dikenal dengan julukan mas Conny- yang mengandung spirit kuat environmentalisme.

Sebagai penegasan, dalam video yang berdurasi kurang dari 1 menit itu Cornelis Lay tidak secara eksplisit berbicara tentang topik politik lingkungan. Akan tetapi dari penjelasan sang intelektual jalan ketiga tersebut sejatinya kita dapat mengambil satu inspirasi penting terkait dengan kelestarian alam dan perlindungan pada sesama manusia jika melihatnya secara lebih kritis. Harapannya bagi siapa saja yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan dapat mengambil banyak pelajaran dari karya sang intelektual jalan ketiga tersebut.

Video berdurasi kurang dari 1 menit itu sebenanrya menyuguhkan satu penjelasan yang terbilang “simpel” akan tetapi memiliki makna mendalam. Cornelis Lay memulai penjelasannya dengan menganalogikan dua bentuk power –yang dimaknai sebagai daya/kekuatan-  yakni matahari dan nuklir. Bagi Cornelis Lay eksistensi matahari cenderung unik karena meskipun ia secara de facto memiliki power yang lebih besar dari nuklir, akan tetapi matahari tidak memiliki efek merusak sebagaimana nuklir.

Bagi Cornelis Lay matahari dapat dipakai sebagai contoh bagaimana power dapat dimaknai secara positif. Sebaliknya dalam kasus nuklir, meskipun terbilang memiliki power yang lebih kecil dari matahari, namun ia punya potensi dekstruktif yang lebih besar bagi kehidupan. Maka menurut Cornelis Lay sedari awal kita harus berfikir ekstra untuk memastikan agar bagaimana kekuatan destruktif itu dapat diminimalisir. Hal ini cenderung berbeda misalnya dengan matahari yang menurut Cornelis Lay tidak banyak butuh “perlakukan” khusus karena  power yang dihasilkannya tidaklah merusak.

Setidaknya melalui penjelasan Cornelis Lay dalam video berdurasi pendek tersebut dapat diambil dua refleksi penting terkait dengan isu lingkungan –dimana dua refleksi ini juga saling terkait-. Pertama, adalah refleksi terhadap contoh yang ditarakan oleh Cornelis Lay yakni matahari dan nuklir secara harfiah; Kedua adalah refleksi terhadap contoh tersebut secara lebih metaforik dalam membantu memahami problem tata dunia saat ini yang notabene tidak memiliki kepekaan terhadap isu lingkungan.

Terkait dengan refleksi pertama yang lebih bercorak telaah harfiah atas dua bentuk power yang disebutkan Cornelis Lay sejatinya sejalan dengan konsepsi energi yang ramah/tidak ramah lingkungan. Matahari adalah salah satu bentuk energi “bersih” sedangkan “nuklir” adalah bentuk energi “kotor”.  Matahari juga seringkali digolongkan sebagai energi terbaharukan, karena meskipun matahari sebagai sebuah entitas dinyatakan oleh studi-studi astronomi memiliki “ajalnya” juga, akan tetapi dapat dikatakan “ajalnya” terbilang sangatlah lama –jika dihitung dalam waktu kehidupan manusia di bumi ini- sehingga ia layak ditempatkan sebagai sumber energi yang relatif terbarukan. Berbeda dengan energi nuklir yang sudah tergolong energi “kotor” karena memiliki masalah radiokatif tinggi baik dalam upaya pengolahannya sebagai energi maupun dalam proses pengelolaan “sampah” nuklir sebagai sisa proses pengolahan tersebut.

Belum lama misalnya di Jakarta, tepatnya di perumahan Batan, ditemukan zat radioaktif. Temuan tersebut didapat setelah ditemukan pengecekan kondisi radioaktif di wilayah tanah kosong di sekitar perubahan tersebut yang kandungan radioaktifnya tidak normal. Setelah diselidiki lebih lanjut ternyata ditemukan zat radioaktif yang ternyata dimiliki secara ilegal oleh salah seorang pegawai Batan.

Tulisan ini tentu tidak akan menelusuri secara lebih dalam soal kasus kepemilikan tersebut. Akan tetapi dari berita tersebut kita bisa melihat bagaimana dampak zat radioaktif yang dipendam di tanah sehingga menimbulkan efek radioaktif pada kawasan tersebut. Termasuk perlunya dilakukan pembersihan ekstra oleh tim khusus agar memastikan zat radioaktif di kawasan tersebut tidak meluas ke wilayah sekitar. Artinya masalah keberadaan zat radioaktif ini sangat membahayakan baik pada alam maupun manusia. Keberadaannya –baik dalam bentuk sampah atau bukan- sangatlah rentan merusak kesimbangan alam. Terlebih lagi bila zat itu bocor dan efek radioaktiya menyebar ke mana-mana tanpa dapat dilokalisir.

Sebagaimana dinyatakan oleh Cornelis Lay dalam video tersebut, nuklir memiliki power yang lebih kecil –bahkan tidak bisa dikomparasikan- dengan matahari. Akan tetapi eksistensinya membutuhkan pengawasan ekstra untuk memastikan ia tidak melepaskan sifat destruktifnya. Pernyataan Cornelis Lay tersebut sesuai dengan realitas yang dapat dengan mudah kita amati misal merujuk pada kasus penemuan zat radiokatif di perumahan Batan tersebut. Dalam kasus perumahan tersebut, diperlukan kerja keras untuk melokalisir efek radioaktif dari nuklir saat hendak memiindahkan bahan radioaktif dari dalam tanah.

Jika menyimak sejumlah pemberitaan -misalnya yang dirilis Medcom berjudul Gara-Gara Limbah Nuklir– kita dapat melihat gambaran “pendisiplinan” tersebut secara lebih jelas. Misal sejumlah pohon di area terkontaminasi mesti ditebang. Begitu pula mesti dilakukan pengerukan tanah sekitar yang dianggap terkontaminasi radioaktif. Pohon dan tanah yang diambil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam drum khusus untuk memudahkannya dibawa. Masyarakat juga dilarang melintasi wilayah yang diberi tanda kuning sebagai penanda bahwa wilayah tersbeut terkontaminasi. Masyarakat sekitar juga mesti diperiksa secara khusus untuk memastikan bahwa mereka tidak terpapar efek radioaktif tersebut. Dari satu kasus itu saja memperlihatkan kepada kita kebenaran pernyataan Cornelis Lay bahwa dibutuhkan usaha yang ekstra keras untuk “mendisiplinkan” efek destruktif dari nuklir.

Kasus tersebut mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan negara-negara lain yang secara masif menjadikan nuklir sebagai sumber energi utama mereka. Jerman misalnya –merujuk pada laporan Tempo berjudul Semua PLTN Ditutup, Jerman Bingung Buang Limbah Nuklirnya– menyatakan kebingungan untuk mengelola limbah nuklir mereka yang diperkirakan setara dengan 6 jam big ben. Padahal pada saat yang sama limbah atau sampah nuklir tersebut tidak bisa luruh (terurai) dengan mudah di alam dan membutuhkan setidaknya jutaan tahun. Jerman sendiri kemudian masih mencari lokasi penimbunan limbah nuklir tersebut yang diperkirakan relatif aman dari kebocoran. Padahal lokasi ini sulit dicari di Jerman karena membutuhkan kriteria aman dari gempa, adanya aliran air, dan batu yang tidak mengalami pengeroposan. Sementara lokasi yang biasanya dipakai untuk “mengubur” limbah tersebut yang biasanya dilakukan di sekitar instalasi nuklir juga tidak memungkinkan karena tidak mendukung penyimpanan hingga jutaan tahun.

Kasus Jerman diatas juga sama terjadi di banyak negara lain yang menjadikan nuklir sebagai sumber energinya seperti juga Jepang. Sebagaimana dilansir VOA –dalam artikel berjudul Masalah Limbah Nuklir Jepang Masih Belum Terselesaikan– bahwa pasca terjadinya gempa dan  tsunami di Fukushima sebanyak 9 juta kubik sampah radioaktif –kebanyakan adalah tanah yang terkena radioaktif- masih menjadi problem yang tidak terselesaikan.  Hal ini menyebabkan warga Fukushima banyak yang belum bisa kembali ke kampung halamannya selama sampah nuklir tersebut belum teratasi. Sebagaimana Jerman yang baru “sadar” akan pengolahan limbah nuklir pasca dilakukan penutupan rekator di negara tersebut, Jepang juga baru “menyadari” dampak negatif dari nuklir pasca adanya bencana alam. Bahkan menurut laporan VOA tersebut kalangan akademisi jepang memperkirakan dibutuhkan waktu 40 tahun untuk menangani masalah sampah nuklir –termasuk penutupan reaktor- di Fukushima. Itupun jika tidak ada bencana alam lain yang akan memundurkan prediksi para akademisi tersebut. Dari kasus Jepang maupun Jerman kita bisa melihat bagaimana alam dan manusia potensial menjadi korban dari energi yang destruktif tersebut. Dimana sekalipun telah didisiplinkan sedemikian rupa tidak ada jaminan bahwa ia dapat benar-benar terdisiplinkan. Sehingga ancaman nuklir bagi kehidupan di muka bumi sungguh sangat nyata.

Jika kita berkaca pada penjelasan Cornelis Lay bahwa power ala nuklir ini begitu destruktif sehingga ia mesti didisiplinkan sedemikian rupa, maka salah satu upaya pendisiplinan yang paling “masuk akal” mestinya adalah upaya preventif. Sebisa mungkin menghindari pemakaian energi nuklir tersebut. Persoalannya nalar ekonomi jangka pendek ternyata seringkali menjadi penyebabnya. Nuklir dan juga sumber energi lain yang tidak ramah lingkungan seperti batu bara misalnya dianggap sebagai sumber energi yang murah dan tidak dibutuhkan investasi besar untuk pengembangan energi ini karena relatif teknologi pengolahannya sudah ada. Logika ekonomi jangka pendek inilah yang mestinya jika merujuk pada penjelasan Cornelis Lay mesti “didisiplinkan” sedemikian rupa sehingga hasrat berlebihan tanpa mempertimbangkan masa depan ini dapat dikikis dari waktu ke waktu.

Faktanya di negara yang untuk berinvestasi besar bagi pengembangan energi surya yang terbilang “bersih” seperti Tokelau –sebuah negara di pasifik- mampu memetik hasil yang psoitif dari investasinya di sektor energi “bersih” tersebut.  Menurut telaah Wan Ulfa Nur Zuhra dalam artikel berjudul Mengkalkulasi Investasi Energi Matahari –dipublikasikan di Tirto- sebelum 2012, Tokelau merupakan negara yang hidup dalam kekurangan energi karena mengandalkan generator minyak. Akan tetapi sejak 2012 negara tersebut berupaya keluar dari ketergantungan energi dan memilih berinvesti pada tenaga surya. Menurut Zuhra uang yang tadinya dipakai untuk membeli minyak dipakai untuk membayar proyek pengadaan sel surya sebagai pembangkit listrik di negara tersebut.

Saat ini hasil dari proyek ini sudah dapat dirasakan masyarakat Tokelau yang tidak lagi mengalami kelangkaan energi. Memang betul bahwa untuk inveatasi surya negara terebut masih harus menutupi hutangnya akan tetapi berbeda dengan kebutuhan pembelian minyak bumi yang terus menerus menguras uang negara tersebut, hutang untuk membangun proyek energi ini relatif lebih kecil dan dalam jangka 9 tahun –sejak 2012- sudah akan tertutup. Setelah itu praktis negara Tokelau akan menikmati pasokan energi secara gratis. Masyarakat tidak lagi mengeluh soal krisis energi.

Lebih jauh, transformasi tersebut juga memungkinkan negara tersebut untuk mengurangi emisi karbon. Artinya sebagaimana dinyatakan oleh Cornelis Lay energi matahari ini tdak dibutuhkan suatu pendisiplinan khusus karena ia meskipun menghasilkan energi besar tetapi tidak nemimbulkan bermasalah berarti. Negara Tokelau misalnya tidak mesti kerepotan sebagaimana Jerman atau Jepang yang mesti berfikir panjang untuk bagaimana caranya membuang sampah nuklir mereka yang faktanya sangat sulit untuk diurai di alam.

Penjelasan Cornelis Lay tentang dua bentuk power sebagaimana telah dijelaskan di atas tentunya dapat menjadi bahan refleksi bersama. Bagaimana energi tidak lagi dipandang sebagai persoalan ketercukupan saja tetapi bagaimana sumber energi itu sendiri mestinya menjadi bahan pembicaraan penting. Bisa saja -sebagaimana Jepang atau Jerman- kita terus menerus menjaga “status quo” dengan memilih sumber energi yang dipandang “murah” akan tetapi  apalah artinya jika sumber energi tersbeut memiliki sifat destruktif dan sulit untuk dikontrol dampaknya? Terlebih sumber energi tersebut tergolong sumber energi tak terbaharukan yang artinya setiap saat ia akan habis. Padahal tanpa persiapan yang matang maka kita akan kesulitan mencari sumber energi alternatif dan membiayai alih energi terbarukan terebut.

Semestinya kita sedari awal bisa belajar dari negara Tokelau yang walaupun relatif kecil dipandingkan Jerman dan Jepang namun sudah memiliki visi energi terbarukan dan bahkan telah melakukan alih energi sejak tahun 2012. Kita juga bisa balajar dari Jerman misalnya yang baru “sadar” ketika energi nuklirnya ditutup mereka memiliki “segudang” masalah terkait limbah yang tidak gampang untuk dipecahkan. Dengan kata lain mengenali bentuk power yang destruktif dan konstruktif bagi alam dan manusia menjadi satu perkara politik penting karena mentukan masa depan negeri ini terlebih yang tengah memasuki era pembangunan guna menghadapi era 4.0. yang notabene banyak membutuhkan  energi untuk memastikan kestabilan konektivitas digital antar satu wilayah dengan wilayah yang lain.

Setelah merefleksikan contoh yang diberikan Cornelis Lay secara “harfiah”, maka ada baiknya kita juga berupaya merefleksikan contoh yang diberikan Cornelis Lay tersebut secara lebih “metaforis” untuk semakin menyelami konektivitas antara power dan juga isu lingkungan. Secara eksplisit Cornelis Lay menayatkan satu pembeda antara nuklir dan matahari ailah matahari sebagai sebuah entitas yang memiliki power cenderung menyebar. Hal ini berbeda dengan nuklir yang cenderung memusat  power-nya sehingga cenderung memiliki efek destruktif. Harus dikontrol sedemikian rupa untuk memastikan dampak destruktifnya dapat diminimalisir.

Apa yang bisa ditarik dari penjelasan Cornelis Lay tersebut ialah dua bentuk power yang menghasilkan efek yang berbeda dikarenakan ada karakteristik khas yang melekat pada keduanya. Power yang menyebar sebagaimana matahari cenderung tidak menghasilkan efek destruktif sedangkan power yang memusat menderung destruktif. Bagi Cornelis Lay matahari walaupun kapasitas powernya jauh lebih besar dari nuklir tetapi dia tidak membutuhkan kontrol yang ekstra karena cenderung “minim” sisi destruktifnya. Dalam konteks keterkaitannya dengan ide lingkungan, maka penjelasan Cornelis Lay tersebut memberikan gambaran pada kita bagaimana mendefinisikan -atau upaya redefinisi- power agar memiliki visi penyelamatan lingkungan.

Konsepsi atau definisi power dalam konteks nuklir sebenanrya mengacu pada satu konsepsi power yang khas positivisme. Sebagaimana dinyatakan oleh Weber misalnya bahwasanya power adalah “chance that an individual in a social relationship can achieve his or her own will even against the resistance of others –sebagaimana dinukil dalam buku Methods for Critical Discourse Analysis karya Wodak & Meyer-. Jika mencermati secara seksama definisi Weber tersebut kita dapat melihat bahwa yang terpenting dalam konsepsi power ala positivisme adalah own will dan change yang artinya adalah menggapai perubahan berdasarkan visi saya sendiri (self). Dalam definisi semacam ini eksistensi the other bahkan hingga tingkat resistance tidak menjadi pertimbangan penting.

Konsepsi power semacam inilah yang memang salah satunya berujung pada pembuatan nuklir bahkan dalam bentuknya yang sangat destruktif yakni bom atom. Hal ini menjadi natural karena dalam benak positivisme ilmu, kontrol terhadap realitas menjadi penting –baik realitas alam atau realitas sosial-. Dalam upaya kontrol dan manipulasi realitas ini ada penjarakan yang tegas antara pemilik power dan juga realitas di sekelilingnya yang ingin dimanipulasi sedemikian rupa. Tidak heran sebagaimana dikatakan Cornelis lay bahwa ada pemusatan kekuasaan dalam logika semacam ini karena secara definitif memang kekuasaan ini justru terafirmasi jika dia bisa mempertahankan kehendaknya dari pengaruh lain.

Berbeda dengan nuklir, Cornelis Lay menayatkan bahwa matahari tidak mengenal pemusatan tetapi penyebaran power. Jika dikaitkan dengan pembahasan tentang lingkungan hidup dapat dikatakan konsepsi power ala matahari memang sangat berbeda dengan model positivisme. Eksistensi matahari meskipun memiliki power besar tetapi dia eksis dalam rantai keterkaitan dengan entitas lain. Dalam bahasa studi ekologi, matahari adalah bagian dari ekosistem semesta ini yang saling menopang satu sama lain. Dengan kata lain kehadirannya tidak “memisahkan diri” dan membuat logikanya sendiri tetapi justru hidup dalam logika interaksi dengan elemen lain dalam semesta ini. Atau jika meminjam konsepsi metabolisme yang dipakai oleh sejumlah akadmeisi lingkungan kontemporer, matahari mampu menempatkan dirinya sebagai salah satu organ metabolisme. Bukan menjadi “parasit” yang mengganggu jalannya keseimbangan metabolisme semesta. Sehingga matahari berbeda secara fundamental dengan nuklir yang dihasilkan dari pikiran yang cenderung menegasikan kompleksitas web of life. Nuklir muncul dari pikiran yang memberikan prioritas pada “ke-aku-an” dan tidak memberi ruang dialog dan interaksi dengan pihak lain. Maka menjadi masuk akal ketika misalnya sampah nuklir tidak atau sulit untuk didaur ulang karena ia tidak terkait dengan metabolisme semesta. Berbeda dengan matahari misalnya yang sinarnya secara natural dapat ditangkap oleh pohon misalnya dan diolah tanpa meninggalkan satu bentuk sampah yang membahayakan web of life tersebut.

Penjelasan diatas menunjukkan pada kita bahwa Cornelis Lay memberikan kita satu penjelasan yang sekiranya menjadi renungan berharga dalam memikir ulang konsepsi power. Jika terus mempertahankan konsepsi power ala positivisme dan tidak bergerak ke konsepsi power ala matahari -yang notabene ramah lingkungan- maka kita akan terus menyaksikan kerusakan lingkungan yang semakin parah dari waktu ke waktu. Dimana kerusakan lingkungan tersebut adalah konsekuensi logis dari bekerjanya power yang destruktif tersebut. Lebih jauh, ketika nalar power ala positivisme sudah bekerja sedemikian rupa maka upaya mendisplinkannya akan sulit dan barangkali tidak menghasilkan suatu penyelesaian yang memuaskan.

Dari analogi tentang dua bentuk power yang dijelaskan oleh Cornelis Lay, sejatinya kita juga dapat berefleksi secara lebih jauh bahwa revolusi paradigmatik mutlak dibutuhkan untuk mengawal penyelematan lingkungan hari ini. Revolusi paradigmatik yang dimaksud ialah mengubah definisi/konsepsi power yang tidak kompatibel dengan ide besar penyelamatan lingkungan yang menyasratkan konektivitas dan bukan diskonekstivitas. Penyelamatan lingkungan menjadi terhalang oleh  konsepsi power yang “egoistik” atau power yang mementingkan “keakuan”.  Sebaliknya penyelamatan lingkungan membutuhkan konsepsi power yang peka terhadap the other. Konsepsi power yang secara natural mau membuka diri, menerima, dan bekerjasama dengan the other dalam upaya menjaga metabolisme semesta ini agar tidak bergerak ke arah “kematian semesta”.

Sebagai penutup, melalui penjelasan Cornelis Lay dalam video singkat tersebut bisa kita katakan satu sumbangsih besar bagi Cornelis Lay terhadap rancang bangun ilmu politik ialah visi greening politics. Bagaimana ilmu politik yang mendasarkan diri pada kajian tentang power mesti dikaitkan dengan aspek etis (aksiologis) dimana power mesti dipastikan agar tidak bergerak ke arah yang destruktif baik bagi manusia tetapi juga alam. Power mestilah bergerak ke arah yang konstruktif, mensejahterakan masyarakat (humanizing politics) dan juga berorientasi pada masa depan bumi ini yang pada akhirnya juga memiliki kontribusi pada survivalitas manusia sebagai spesies melalui visi greening politics-nya. Maka pantaslah kiranya warisan berharga dari Cornelis Lay tersebut terus menerus kita jaga dan kembangkan bersama-sama terlebih bagi para akademisi ilmu politik dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link