Kali ini saya serius, gak bercanda!

Kalian pernah ngerasain gak, gimana cita-cita kalian berubah bersama usia, situasi, kondisi dan kebutuhan ?

Dulu, sejak SD cita-cita saya ingin sekali jadi seorang tentara lebih tepatnya menjadi bagian dari komando pasukan khusus Indonesia. Saya ingat benar pada zaman ini Kopassus sering jadi perbincangan orang rumah dan semua keluarga. Bayangin aja, keluarga sering cerita tentang betapa heroiknya pasukan ini merebut tanah Papua kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

SMP cita-cita saya berubah, saya ingin menjadi seorang Polisi. Mungkin karena sekolah saya yang gak jauh dari Polres sehingga setiap pagi harus melihat gagahnya abang-abang Polisi mengenakan pakaian seragamnya. Tentu ini alasan selingan. Alasan khusus ya karena zaman itu Polisi menjadi primadona di mata gadis-gadis cantik.

Di SMA cita-cita saya terus mengalami transformasi (weis gila keren amat ya). Seingat saya, cita-cita di SMA adalah menjadi Walikota. Saya yakin cita-cita ini dipengaruhi oleh kondisi daerah yang baru saja dimekarkan menjadi daerah otonom baru. Maklum ya DOB biasanya persaingan untuk jadi kepala daerah lebih seru karena semua energi masyarakat diarahkan ke sana.

Saat kuliah, cita-cita saya terus mengalami perubahan. Kadang berpikir menjadi seorang praktisi, politisi, birokrat, akademisi, pengusaha pokoknya macam-macam. Kondisi ini dikarenakan saya sering bertemu banyak orang dengan isi kepala, cerita dan pengalaman yang berbeda-beda.

Bahkan hingga saat ini pun, cita-cita saya masih belum konsisten, sebaliknya berubah sesuai kondisi, waktu dan kebutuhan.

Beberapa minggu yang lalu saat korona mulai masuk ke Indonesia saya jadi nyesal, kenapa dulu saya gak kuliah ilmu kesehatan aja ya, pasti sekarang saya bisa membantu banyak orang.

Sampai saat ini pun, dengan melihat jumlah kasus korona yang semakin melunjak dan ekonomi yang tak tahu gimana nasibnya. Saya berpikir lagi, Indonesia saat ini membutuhkan lebih dari sekedar tenaga medis. Indonesia membutuhkan orang yang segala tahu.

Wajar kan, kalau pada ujungnya saya pun merubah cita-cita. Saya telah memutuskan atas nama bangsa dan negara saya hanya ingin menjadi Luhut.

Menjadi luhut adalah solusi. Tak ada persoalan ragu. Karena presiden yang ragu dan tak tahu bisa diganti the Lord yang maha berfatwa.

Luhut mengetahui masalah ekonomi melebihi pakar ekonomi, beliau juga mengetahui virus corona bahkan lebih dari seorang dokter. Urusan pemerintahan sangat dikuasainya lebih dari master atau profesor politik dan pemerintahan, apalagi hanya persoalan geopolitik dan biopolitik, Luhut tahu segalanya.

Saya meyakini bahwa menjadi Luhut itu luhur! Mungkin itu adalah cita cita mulia karena memang cita citaku menjadi The Lord.[]

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link