Sewaktu masih kecil bapak selalu mengajakku berkeliling menunggang kuda sembari mengunjungi kerabat keluarga yang rumahnya cukup jauh dari perkampungan tempat tinggal kami. Perjalanan begitu asik karena dibumbui dengan sedikit cerita dari bapak tentang keadaan hidup penduduk desa sewaktu beliau muda. “ Dulu sewaktu bapakmu masih kecil tak ada makanan seperti sekarang, jaman dulu paceklik terjadi sepanjang tahun namun masyarakat hidup dalam solidaritas yang sangat tinggi” ungkapnya.

Saya pun baru teringat ungkapan tersebut sejak kemarin sore setelah  membaca sebuah buku karangan Emha Ainun Najib yang berjudul Indonesia adalah bagian dari desa saya. Buku setebal 258 halaman tersebut menceritakan tentang “gerakan ekspansi kapitalisasi menuju pedesaan” . Emha yang kerap disapa “Cak Nun”  mengkritisi gaya hidup penduduk desa yang ingin terlihat modern sehingga rela menggadaikan identitas dirinya.  Lalu kaitan pemikian Cak Nun  dengan cerita tadi,  saya sebut sebagai suatu kesatuan hubungan yang linear. Artinya ada kesamaan unsur dalam tatanan pemikiran. Saya selalu mengamati gerak gerik bapak yang begitu gelisah menyaksikan perilaku masyarakat Desa yang mulai kehilangan identitas akibat modernitas. Bahkan isi ceramah beliau  di masjid pun selalu tentang memertahankan perilaku dan akhlak serta nlai-nilai luhur yang menjadi aset desa selama ini. Akan tetapi, Suatu hal  miris  terjadi , terkikisnya solidaritas serta lunturnya budaya sosial masyarakat akibat gaya hidup yang mengkiblat ke budaya Western terasa seperti mimpi buruk yang terus menghantui bagi yang yang masih memiliki kewarasan.

Sebagai orang Desa, saya sedikit setuju apabila ada ungkapan yang mengatakan bahwa orang kota dengan orang desa tak ada bedanya, yang beda hanya tempat berpijaknya saja. Pada kenyataannya, memang di zaman edan ini perubahan perilaku menjadi western, K-pop dan lainnya tidak hanya menyerang daerah perkotaan tetapi juga menyelusur masuk hingga ke rongga-rongga pedesaan. Secara tidak sadar, Masyarakat desa  seakan dipaksa untuk menerima arus globalisasi tanpa diijinkan untuk berpikir jernih terlebih dahulu bagaimana dampak dari globalisasi tersebut.

Dalam perspekif budaya, sudah sangat jelas bahwa nampaknya masyarakat salah kaprah dan menerjemahkan modernisasi secara buta. Artinya tidak dilakukannya penyaringan serta penyesuaian terhadap kearifan lokal yang sudah melekat pada diri mereka  selama berabad-abad. Sehingga yang terjadi adalah munculnya perilaku masyarakat yang kaget modernisasi. Masyarakat akhirnya tergiur untuk Membeli  Televise, HP, Motor ninja Satria dan lain-lain tanpa melihat bagaiaman kondisi perekonomiannya, semua itu dibeli hanya demi status sosial semata agar terlihat sama dengan penduduk lainnya. Akhirnya yang terjadi adalah penjualan lahan sawah maupun perkebunan kepada kaum-kaum pemodal. Di desa saya sendiri, banyak orang membeli smartphone padahal di sana tida ada sinyal, ini mengindikasikan bahwa pembelian produk produk tersebut bukan karena kebutuhan tetapi karena adanya Hegemoni budaya yang dimanifestasikan secara tersirat melalui Iklan-iklan Televisi yang sering ditonton oleh penduduk desa. Masyarakat desa diberikan suntikan doktrinisasi bahwa indikator masyarakat modern adalah mempunyai Gadget.  Seandainya saja orang seperti Nurholis Majid masih hidup iya pasti akan sangat geram melihat realita sosio Kultural masyarakat yang mulai terombang ambing diterjang pasang globalibalisasi dan modernisasi. Nurholis atau yang akrab disapa Cak Nur tersebut pernah mengatakan bahwa “modernisasi itu bukanlah westernisasi tetapi modernisasi adalah rasionalisasi”. Konotasi kata rasionalisasi yang dilontarkan Cak Nur memang mengandung implikasi yang luar biasa, namun pada zaman yang edan ini kata tersebut selama ini hanya melekat pada tataran ide,  belum termanifestasikan pada tatanan praksis.

Saya bahkan sering membayangkan melakukan suatu gerakan penolakan antiglobalisasi seperti yang dilakukan gerakan Zapatista di pedalaman Meksiko, namun rasanya  belum berani mengikrarkan gerakan tersebut pada dunia realita melihat kondisi masyarakat yang masih belum stabil. Untuk saat ini Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Franky Sahilatua bahwa saat ini pancasila perlu direvitalisasi agar menjadi rumah kita semua, rumah tempat segala puji nama tuhan,  untuk sesame, cermin keluarga yang menyatu, bersambung rasa, dan saling membagi penuh keadilan. Urgensi revitalisasi pancasila merupakan terobosan radikal yang harus dilakukan . Artinya pancasila harus diimplementasikan pada tataran praksis agar terciptanya masyarakat yang memiliki karakter dan beridiologi. Bukan beridiologi kapitalis maupun sosialis tetapi berideologi pancasila.  Revitatalisasi ini bukanlah hanya sebatas wacana dan formalitas semata tetapi harus dijadikan sebagai sebuah ketekunan dan keyakinan bahwa ini adalah sebuah Revolusi. Seperti yang dikatakan oleh Yudilaif dalam Bukunya “ Revolusi Pancasila “  bahwa revolusi pancasila bertujuan untuk menghancurkan berbagai bentuk sisa-sisa kebudayaan feodalistik dan kapitalistik imprealistik, untuk digantikan dengan kebudayaan baru yang lebih emansipatif, kebudayaan yang progresif sesuai dengan kepribadian luhur bangsa Indonesia.

Saya rasa memang jawaban dari kegelisahan atas kewarasan kita selama ini adalah revitalisasi pancasila. Masyarakat desa khususnya harus berani diberikan pemahaman dan sebuah pijakan ideologi agar tidak  terseok-seok seperti buih di tengah samudera. Revolusi mental merupakan misi dari revitalisasi pancasila. Mental setiap orang harus diasah agar mampu menghadapi dan membendungnya.

Pada tingkat kultural,  memang melawan kapitalisme dan pengikutnya seperti globalisasi dan modernisasi bukanlah suatu hal yang gampang bahkan mungkin mustahil, melawannya ibarat berdiri di antara sekawanan buaya di sungai. Namun  yang harus dilakukan tentunya adalah menyelamatkan diri. Suatu hal yang memang perlu kita lakukan saat ini adalah bagaimana menyelamatkan diri, keluarga dan orang-orang yang dicintai dari cengkraman jahatnya. Kalaupun tak bisa menyelamatkan diri setidaknya bisa menjinakkannya agar kejahatannya tidak terlalu merajalela dan leluasa. Pada bagian akhir dari tulisan ini saya ingin menuliskan sebuah puisi tentang kegelisahan saya selama ini.

Pulau antah berantah

Nun jauh di pulau seberang
Tempat matahari memulai pijaran cahaya
Bulan memulai petualangan
Bumi memulai rotasi
Ku dapat kabar burung
Perihal dikau yang dirundung  murung

Nun jauh dari pulau seberang
Tempat lebah memuntahkan madunya
Gunung  menyembunyikan emasnya
Ku dengar nyanyian pilu nan sendu dari seekor berudu
Tentang gembala kecil yang kehilangan rumput di padang ilalang
Tentang petani yang kehilangan lahan akibat bangunan
Tentang manusia yang mulai  kehilangan identitas akibat modernitas.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Rifki Sanahdi

adalah Pegiat Rumah Baca Komunitas asal Sumbawa. Kini sedang menempuh S2 di Queensland University, Australia

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link