Buku ini menarik perhatian saya sebagai pembaca mulai dari cover yang sangat menarik karena menunjukan siluet kepala manusia dengan bentuk sebuah pohon yang gersang dan tandus tetapi di sisi lainya ada suapan embun yang memancar sehingga sebagaian pohon tersebut ada yang masih hijau. Saya punya pandangan bahwa dari cover ini saja menggambarkan masih ada harapan tentang dunia pendidikan kita untuk di perbaiki menjadi lebih baik lagi.

Bicara dunia pendidikan tidak pernah habis, selama sekolah-sekolah dan manusia masih ada dimuka bumi maka disana akan terus ada pendidikan. Setiap periodesasi zaman mengalami perubahan paradigma pendidikan tetapi masih dalam satu tujuan yang sama, yaitu mencerdaskan manusia. Dalam buku ini saya membaca ada tiga pembagian pemabahasan yatu tentang Falsafah Pendidikan, Konsep dan metode pendidikan dan yang terakhir falsafah pendidikan islam.

Judul Buku     : Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia

Penulis            : Haidar Bagir

Penerbit          : Mizan

Tahun Terbit   : 2019

jumlah Hal.      : 212 Halaman

Nomor Edisi    : ISBN 987-602-441-135-0

Melalui buku ini Haidar Bagir membuka halaman dengan menggambarkan bagaimana manusia hari ini berseteru dengan manusia buatan (Artificial Intelligence). Bahwa selalu ada perbandingan manusia harus seslalu lebih cerdas dari pada manusia buatan ini, dan ia pun membuat dua kata menarik yaitu “Saya Berimpi” bahwa setiap manusia hidup tentram dan damai, setiap aktivitas di dasari pada kesenangan serta penuh suka cita, bahkan kata penulis dalam buku tersebut “saya bermimpi hidup di kota-kota kecil,tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Dimana kehijauan dan kelestarian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya” Dengan memberikan gambaran ini,penulis dalam buku tersebut mempunyai imajinasi yang kuat tentang gambaran surgawi dengan konstruksi kedamaian, keindahan serta peradaban manusia yang sangat di dambakan.

Seperti yang saya sampaikan di atas dalam tiga pembagian buku ini, berbicara mengenai falsafah pendidikan dengan merujuk kepada sistem pendidikan di Indonesia. Hal ini memang menjadi perdebatan yang sangat menarik, karena  di Indonesia sendiri hampir setiap pergantian Presiden mengalami perubadahn paradigma pendidikan, bahkan yang lebih ekstrem lagi ketika pergantian mentri pendidikan maka kebayankan akan berubah juga kebijakan sistem pendidikan kita. Hampir semua tahapan di uji coba mulai dari UN adalah ujung tombak kelulusan sampai dengan bukan menjadi syarat wajib. Dari dinamika pendidikan yang terjadi di Indonesia Haidar Bagir mengatakan bahwa “ segenap proses pendidikan haruslah di tujukan untuk pengembangan seluruh potensi manusia demi pencapai kehidupa sejahtera, baik secara fisik, mental dan spiritual.”  Kemudian  ia mempertanyakan absenya falsafah pendidikan kita dalam ruang lingkup secara kebijakan  dengan mengembangkan bahwa kebijakan kita belum sepenuhnya memanusiakan manusia, yang dalam hal ini seluruh tuntutan pendidikan beriorentasi kepada kebutuhan profit bahwa tuntutan para pelajar kepada usaha dan menjadikan satu culture berfikir, bukan kepada mengembangkan dan membangun potensi dari para siswa.

Kebahagiaan dan merdeka

Beberapa bulan kemarin Mentri Pendidikan mas Nadiem memaparkan progam terbaru tentang merdeka belajar. Hal ini harus disadari entah bagaimanapun para siswa memiliki minat dan bakat masing-masing, oleh karena itu ada pengembangan baru tenang bahwa manusia mempunyai kecerdasan beragam dan tidak boleh disama ratakan. Ada anak yang bisa bermain musik dan bernyanyi tetapi lemah dalam matekatika, anak tersebut tidak lah bodoh. Dia cerdas dalam bidangnya sendiri, dalam pendidikan kita  pihak guru maupun orang tua berokusi kepada ilmu-ilmu yang wajib dalam Ujian Nasioanl seperti IPA dan Matematika diliuar pada itu kalau anak tidak pandai maka tidak jarang di cap sebagai orang yang tidak cerdas. Seperti yang tertulis dalam buku ini “sesungguhnya kecerdasan bisa mengambil bentuk berbagai bakat dan  kemampuan teknis seperti spasial, musikal, kinestetik dan naturalis” pungkas beliau yang merukan Presiden Direktur Mizan Group.

Melalui buku ini juga saya mendapat pencerahan dari berbagai macam perkspektif melalui pendidikan di beberapa Negara yang memang mempunyai paradigma pendidikan yang memanusiakan manusia. Bahkan dalam buku ini juga banyak mengungapkan pandangan pendidikan dari kacamata penulis untuk menggiring kita kepada impian manusia dan keberadaaan dunia yang rahmatan lil-alamin. Sehingga menjadi manusia pembelajar yang bijak sana yang beberapa kali disinggung oleh penulis melalui filsof terdahulu.

Buku yang sangat cocok dibaca bagi pegiat pendidikan bahkan orang tua sekaligus yang terkadang membangun pengajaran pendidikan kepada anak yang cenderung memaksakan kehendak orang tua. Bahkan dalam BAB terkahir di singgung bahwa pendidikan Agama Islam adalah pemebelajaran tentang budi pekerti namun ketika realitasnya hanya di jabarkan mengenai peperangan,padahal Nabi Muhammad SAW sendiri pada kehidupanya sebagai Nabi hanya 1% melakukan peperangan atau hanya 80 Hari dari total beliau lahir sampai meninggal. Ada banyak hal menarik ketika mempelajari sifat kenabian (profetik) untuk membuka cakrawala berfikir naak didik tentang seluruh aspek kehidupan yang damai dan sejahtera.[]

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Al Bawi

adalah Pimpinan Pusat IPM

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link