Ada apa dengan Babi, Sapi, dan Tukang Sihir?

Oleh: La Halufi)*

Tulisan ini merupakan sebuah catatan bedah buku rutin mingguan yang diinisiasi oleh Rumah Baca Komunitas (RBK) melalui salah satu programnya yakni Dejure. Bedah buku ini umumnya dilakukan pada buku-buku yang spesifik seperti tematik Antropologi, Lingkungan, ekonomi, politik, dan buku-buku progresif lainnya.

Bedah buku ini rutin dilakukan pada Jumat Malam, selain itu ada juga program Reboan yang dilaksanakan pada malam rabu dengan mengangkat tema-tema progresif, panas, menyenangkan dan pastinya mencerahkan.

Jumat malam 26 Juli 2019 mengangkat tema Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir dengan Pemantik/Pembedah Fauzan Anwar Sandiah (Cak Ozan). Buku ini merupakan buku Antropologi dan ditulis oleh Murvin Harris yang berkebangsaan Amerika.

Beberapa teman saya di social media bertanya terkait tema ini, apa maksud dari Sapi, babi, Perang dan Tukang Sihir?Menurut buku Sapi, babi, Perang dan Tukang Sihir yang ditulis antropolog Marvin Harris ini menyatakan bahwa semua komponen tersebut merupakan bagian dari adat dan budaya manusia yang memiliki penjelasan yang sangat praktis.

Bagi masyarakat Bali mengasumsikan dan bahkan mensucikan Sapi yang menurut mereka sapi merupakan representasi dari Dewi. Sampai mereka tidak ingin menyembelih atau memakan daging sapi. Bahkan ada yang mengisahkan jika di India pada tahun 1950-an ada peperangan yang mengakibatkan jatuhnya korban sebanyak 30 orang.

Peperangan tersebut dlatarbelakangi oleh sejumlah orang dengan etnis dan latang belakang yang berbeda dengan Hindu memotong dan memakan daging tersebut sehingga menimbulkan kemaran dikalangan pemeluk agama Hindu. Sampai ada sebuah Mitologi bahwa sapi merupakan makhluk suci.

Asumsi yang menjadi dasar sapi suci menurut Marvin Harris ialah karena Sapi merupakan actor terpenting pada masyarakat India dalam pertanian skala kecil. Dimana hewan ini digunakan sebagai hewan pemanjak area pertanian, kotorannya digunakan sebagai sumber energi, kotorannya digunakan sebagai bahan pembuat rumah dan dari kotorannya juga digunakan sebagai pupuk penyubur tanah.

Babi?? Ya, hewan ini memang dilarang dan diharamkan untuk dikonsumsi bagi maysrakat Muslim. Padahal babi memiliki nutrisi yang tinggi dibanding sapi. Ada beberapa alasan kenapa Babi diharamkan atau dialarang. Pertama, Dari aspek kesehatan babi memiliki cacing pipa dan juga parasite pembawa penyakit. Kedua, hewan ini memiliki beban konsumsi sama dengan orang dewasa. Artinya memilihara seekor babi sama beban tanggungan untuk makannya setara dengan porsi makan orang dewasa. Ketiga, perilaku hewan ini ialah perusak tanaman.

Bagi masyarakat New Guinea, babi adalah hewan yang disukai sebab babi merupakan sajian digunakan buat para arwah leluhur mereka dan para leluhur mereka juga menyukainya. Disampng itu, berlimpahnya pangan disana untuk memberi makan pada babi.

Perang?? Parang adalah salah satu aktifitas yang disukai manusia. Sepanjang sejarah manusia, perang telah terjadi dari generasi ke generasi. Salah satu indikator perang merupakan representasi dari kelebihan atau perebutan kalori/protein. Dengan kata lain, jika manusia kelebihan kalori/protein mereka akan melakukan perang atau kekerasan untuk menunjukan kekuatan. Sedangkan jika mereka kekurangan kekularan kalori mereka akan merampas atau merebut.

Hal ini biasa dilakukan oleh suku Yanomamo. Suku ini merupakan masyarat yang mendiami hutan Amazon di perbatasan Brazil dan Venezuela. Salah satu kebiasaan mereka ialah hidup secara Nomaden atau masyarakat hidupnya berpindah-pindah. Suku Yanomamo ini identic dengan sifat mereka yang garang, buas dan suka memperkosa (salah satu bentuk kelebihan kalori). Mereka juga tidak bisa berkebun, juga suka mengonsumsi pisang.

Suku Yanomamo ini suka membunuh bayi perempuan. Hal ini dikarenakan asumsi bahwa jika jumlah perempuan banyak maka populasi manusia akan membekak sebab perilaku sex mereka yang tinggi. Ini juga merupakan bentuk kelebihan protein. Satu laki bisa membuahi ratusan wanita yang pada akhirnya akan membuat mereka hamil dan meningkatnya populasi mereka.

Sehingga dari suku ini lebih dominan/banyak laki-laki ketimbang wanita. Laki-laki juga merupakan symbol prburuan. Sebab laki-laki harus mencari hewan buruan untuk memenuhi protein bagi keluarga. Ini juga sejalan dengan penjelasan bahwa jika banyak perempuan maka mereka (wanita) akan kekurangan kalori sebab laki-laki hanya akan melakukan sex sebagai bentuk kelebihan kalori ia miliki.

Salah satu isi buku ini juga membahas sikap manusia yang suka pamer atau Potlatch. Potlatch ialah masyarakat yang mendiami wilayah pesisir Pasifik Barat Laut. Kepala suku ini biasa menunjukan kekuasaan atau pamer dengan membakar kekayaan/rumah. Hal ini dilakukan jika ada suku lain yang berkunjung. Dan ini akan dibalas juga pada Kepala suku yang berkunjung tersebut kepada suku lain yang berkunjung ke mereka.

Hal ini juga dilakukan suku lain (saya lupa namanya, nanti saya cari lagi ya hehe) kebiasan mereka juga ialah membagi kekayaan kepada orang lain. Terkait pembakaran kekayaan/rumah ini dilakukan kerana setelah itu mereka lahan yang lain dengan memeproleh tenaga kerja baru (orang kampung lain yang datang untuk bekerja). Ini juga bentuk pamer dan ingin menunjukan bahwa balatentara yang mereka miliki besar. Artinya kuakatan mereka besar.

Mungkin bagi masyarakat modern bisa diasumsikan sebagai orang yang suka konsumsi jor-joran. Konsumsi jor-joran atau membabi buta ini analoginya seperti jika ini seseorang menaktrir temannya banyak (seratus ribu) rupiah maka teman tersebut akan membalas dengan traktiran yang lebih besar (seratus lima puluh sampai dua ratus ribu rupiah) dari apa yang ia dapat sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menunjukan kekuasaan dan pamer atas kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki.

Isi yang lain juga terjadi di Australia. Bagi masyarakat Australia dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki Nabi untuk urusan rezeki. Nabi ini mereka sebut sebagai Nabi Cargo. Kok kaya seperti pengiriman barang dipesawat ya? Ya, benar sekali. Nabi ini tugasnya atau dalam asumsi mereka nabi adalah orang yang membawa makanan. Kehadiran nabi ini tindai dengan keadaan alam disekitar manusia. Nabi akan hadir jika langit cerah. Itu artinya akan turun rezeki dari langit.

Salah satu ciri nabi menurut Buku Marvin Harris ialah memakan belalang dan madu. Nabi muncul dikarenakan problem kemiskinan dan pangan yang melanda bumi manusia. Atas persoalan tersebut maka muncullah agama yang dibawa oleh juru damai (baca: Nabi).

Untuk Tukang Sihir belum dibahas karena keterbatasan waktu. Jika sudah dibahas saya akan bagikan. Untuk lebih jelasnya silahkan beli bukunya.

)* Pegiat RBK, Mahasiswa Pasca Sarjana Ekonomi Pembangunan UGM

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup