Relevansi Filsafat Ruang (1)
Prof. Dr. Hassan Hanafi
Pengantar: Tiga elemen setiap tempat adalah konjungsi antara ruang dan waktu. Ruang berlaku sebagai materi dan tempat sebagai bentuk. Ruang menyediakan alam dan waktu, menyediakan sejarah. Konjungsi ini tercipta melalui mediasi manusia: persepsi sebagai weltanschauung dan tindakan. Kota bukan sekadar pemukiman, melainkan ruang. Bangunan tidak dikonstruksikan secara iseng, tetapi menurut persepsi manusia. Perkotaan sekadar soal teknik, tetapi terlibat di dalamnya keseluruhan persepsi manusia. Konstruksi adalah salah satu manifestasi yang paling dini dari kebudayaan manusia.
Dewasa ini, dislokasi di antara ketiga elemen ini terjadi. Ruang telah absen karena dunia ini telah hilang dari kesadaran kaum muslimin. Waktu juga beringsut dan kaum muslimin terlempar di luar sejarah, tersangkut tidak di mana pun atau di luar tanah manusia. Kaum muslimin menghuni kota-kota yang di luar ruang, waktu, dan persepsi mereka sendiri; yang berarti di luar sejarah mereka.
Beberapa istana orang Arab atau bangunan pemerintah dibangun menurut kesatuan asali antara ketiga elemen ini. Akan tetapi hal itu adalah pengecualian di hamparan area dislokasi, diskontinuitas, dan disparitas. la juga dibangun oleh elit politik dan sosial sebagai perwujudan dari kesejahteraan dan kekuasaan, bukan sebagai persepsi historis dan intensional. Ia dapat dianggap sebagai museum kota, sesuatu yang tersisa dari masa lampau untuk dihargai dan dikenang.
Drama dari kota Arab sekarang adalah denaturalisasi ruang, diskontinuitas dalam waktu, dan “reifikasiā weltanschauung.
Ruang Natural
ISLAM memberikan pada komunitas Muslim keseluruhan bumi ini sebagai ruang untuk berbuat dan warisan. Manusia adalah khalifah Allah di bumi. Perannya adalah untuk menundukkan alam agar ia bisa beraktivitas di dalamnya dan menggunakannya demi kesejahteraan dirinya. Bumi adalah ruang untuk dijadikan hunian dan dibangun (QS 11: 61).
Alam digambarkan dalam al-Qur’an sebagai hamparan tanah yang hijau. Air jatuh dari atas (hujan) atau memancar dari bawah (mata air) yang mengubah gurun pasir yang gersang menjadi dataran hijau yang subur. Tanaman bertumbuhan, memberikan naungan dan buah-buahan. Manusia hidup di bumi dalam ruang natural ini, di lembah atau di gunung, untuk dapat menikmati alam, ciptaan, dan keindahan Tuhan (QS 14: 37). Air alami yang sejuk berguna untuk beribadah dan untuk minuman (QS 38: 42). Gambaran tentang surga juga dibuat dengan gambaran natural yang sama: hijau, air, pohon, naungan, buah-buahan, ketenangan, kesyahduan, dan kedamaian (QS 56: 89; 74: 14). Bahkan perabot rumah juga digambarkan seperti sofa, jambangan, permadani, dan gorden. Warna-warna yang menyenangkan juga dipaparkan pada alam untuk melukiskan keelokan alam (QS 35: 27).
Cahaya alam berpijar dari langit, matahari dan rembulan (QS 10: 5). Waktu alamiah di area pedoman untuk melaksanakan ibadah yang tertentu waktunya. Singkatnya, bumi penuh dengan tanda-tanda (ayat) Tuhan. Manusia menikmati tanda-tanda itu dan membangun di dalam- nya pemukiman dan cara hidup mereka.
Pada budaya klasik Muslim, filsafat alam merupakan bagian dari hikmah setelah logika dan sebelum metafisika la mendahului metafisika membuktikan betapa pentingnya alam. Kendati pun filsafat alam ini diterima dalam terminologi dualistik Yunani, sebagaimana tampak dalam tulisan Ibnu Sina, ia bagaimana pun juga hadir dalam kesadaran Muslim. Al-Farabi memahami filsafat alam dan metafisika sebagai ilmu yang tunggal. Ibnu Rusyd mengunggulkan Aristoteles ketimbang Plato karena ia memilih naturalisme Aristotelian ketimbang teosofi Platonian.
Di dalam teologi, alam juga merupakan topik pertama dalam sistem kepercayaan Islam, bahkan mendahului sifat-sifat Tuhan. Alam digambarkan sebagai kontingen dan mungkin versus Tuhan sebagai Wujud yang niscaya (wajibul wujud). Filsafat alam juga merupakan bagian penting dalam aliran Mu’tazilah. Para naturalis seperti Mu’ammar, Tsumamah, al-Jahizh, dan an-Nazhzham mengekspresikan dengan jitu dimensi Islam tentang realitas. Mistisisme beranjak lebih jauh lagi dengan menjadikan dari alam ini suatu teofani Tuhan. Panteisme sampai pada batas mempertuhankan tanda-tanda Tuhan.
Islam dalam sejarah dikenal sebagai agama natural. Naturalisme tampak dalam kesenian Islam di kota-kota Arab. Kota Arab klasik didasarkan pada ruang natural: udara, matahari, tumbuhan hijau, air, dan langit. Alam adalah ciptaan Tuhan, manifestasi dari rahmat-Nya dan tanda keindahan-Nya. Gambaran ini selalu berada di balik naturalisme Islam di bidang seni dan merupakan landasan dari pembangunan perkotaan.
Lebih dari itu, hukum Islam adalah hukum yang natural. la tindakan natural sebagai tindakan yang baik. Ketidakbersalahan primitif, bara’at al-ashliyyah, adalah satu sumber hukum. Kebutuhan asasi hidup dijadikan sebagai landasan hukum. Di atas segalanya, Islam dalam sejarah dikenal sebagai agama natural. Naturalisme tampak dalam kesenian Islam di kota-kota Arab. Kota Arab klasik didasarkan pada ruang natural: udara, matahari, tumbuhan hijau, air, dan langit. Alam adalah ciptaan Tuhan, manifestasi dari rahmat-Nya dan tanda keindahan-Nya. Gambaran ini selalu berada di balik naturalisme Islam di bidang seni dan merupakan landasan dari pembangunan perkotaan.
Setelah kemerosotan budaya Islam, alam tidak hadir lagi dalam kesadaran Muslim. la menjadi negatif, hampa, dan cemar. Dunia menyirna dari pandangan dunia Muslim. Peran kekhalifahan merosot. Ketidakpedulian, kurangnya perhatian, dan hilangnya etos berkarya membentuk sikap kaum Muslim terhadap alam. Imperialisme mendesak kaum Muslim menyingkir dari dunia. Penindasan membatasi jangkauan mereka dan memerosotkan aktivitas mereka hingga batas minimum. Kemiskinan membuat makhluk Muslim berjuang untuk bisa bertahan.
Kemerosotan ini tampak di perkotaan. Perkotaan kini meru- pakan cerminan dari hilangnya alam. Ia mengalami denaturalisasi: wilayah tertutup, asing, kerontang, ambang batas, dan sebagainya. Ruang natural menjadi ruang artifisial. Bilik-bilik pemukiman dibuat hanya untuk survival. Kota kehilangan tipe dan enclave mereka.
Sayangnya, kebangkitan naturalisme diciptakan dari luar dan bukan dari dalam karena peniruan terhadap naturalisme. Barat bukanlah seperti penerusan terhadap ideal Islam klasik. Naturalisme modern terkait dengan materialisme dan sekularisme. la telah terpotong dari sumber ideasionalnya, yaitu pandangan dunia Islam. Bagaimana pun, nauralisme yang “diimpor” ini terbatas pada kaum elit. Bagi massa Muslim, alam telah rumpang, tempat di mana pencemaran manusia dapat dibuang. Jika ruang natural ini dapat dipulihkan kembali dalam kesadaran Muslim, niscaya kota Arab akan kembali lahir.
Kontinuitas Waktu
Daya tahan kota Arab dalam sejarah ditentukan oleh elemen kedua, yaitu kontinuitas waktu. Kontinuitas ini tampak dalam seni Islam. Seni Islam tidak merusak karya-karya seni terdahulu (kecuali berhala-berhala), tetapi membangunnya kembali dan memberinya tambangan dimensi dan fungsi yang baru. Islam tidak mengenal “museumisasi” seni yang berarti visi yang diskontinu mengenai sejarah seni. Setiap generasi menambah padfa generasi sebelumnya. Seni adalah karya akumulasi.
Jalur kontinuitas bisa bersifat vertikal seperti dalam kasus candi-candi, atau horizontal seperti dalam kasus masjid-masjid dan kota-kota. Pada jalur pertama, kemajuan konstruksi tampak dalam lapisan lapisan periode dan gaya berbeda-beda: Mesir Kuno, Romawi, Koptik, Islam, dan sebagainya. Setiap candi dari agama mana pun dapat dijadikan landasan. Islam sebagai pewahyuan terakhir, menjadikan masjid sebagai pewaris dari tempat-tempat peribadatan sebelumnya. Pada jalur kedua, kemajuan berasal dari pusat ke pinggiran sebagaimana kasus kota Arab yang dibangun dari pusat yang berkisar pada satu titik vokal; masjid raya, pasar, pemandian umum, madrasah, toko-toko (waraqa) yang disebut Bazar.
Kontinuitas dalam waktu ini berkaitan erat dengan budaya Islam klasik. Tuhan adalah eternal, yang berarti abadi dalam waktu. Dunia juga abadi menurut para filsuf, terutama Ibnu Rusyd. Eskatologi juga didasarkan pada persepsi tentang kontinyuasi. Kematian bukanlah patahan antara dunia kini dan dunia kelak. Kehidupan setelah kematian adalah kontinyuasi dari kehidupan di bumi ini. Di surga atau neraka kehidupan adalah abadi dan selamanya. Karena waktu adalah sesuatu yang kontinu, maka rentetan Pewahyuan dilakukan dalam periode-periode waktu yang berturutan. Setiap nabi melanjutkan karya nabi-nabi yang sebelumnya dan melengkapinya. Ia mengungkapkan ajaran tauhid yang sama dalam konteks sosio-politik pada masanya. Abraham adalah seorang yang luruh (banif) dan Kakbah ia kukuhkan kembali dan murnikan. Semua nabi adalah Muslim.
Islam merupakan akumulasi dari sejarah pewahyuan yang panjang. Penghapusan (nasakh) dalam wahyu adalah untuk menghilangkan atau mengukuhkan, dari yang baik ke yang lebih baik, atau dari yang lebih baik ke yang terbaik. Mistisisme juga mengafirmasikan kontinuitas ini apakah dalam level kesadaran individual atau dalam kosmos. Tauhid itu sendiri adalah manifestasi dari kontinuitas.
Empat sumber yurisprudensi Islam menunjukkan model yang kontinu dari Qur’an ke hadis ke ijmak ke qiyas. Setiap sumber mengungkapkan suatu konfigurasi wahyu dalam sejarah. Para sejarawan juga melihat sejarah dunia semenjak penciptaan Adam sebagai suatu manifestasi dari hikmah Ilahiyah yang sama. Persepsi ideasional ini berada di balik homogenitas gaya dari kota Arab klasik.
Dewasa ini, waktu dalam kesadaran Muslim menjadi diskontinu. Kontinuitas tradisi dihancurkan oleh westernisasi. Aliran kebudayaan yang asing telah menyusupi dan bertanggung jawab atas heterogenitas dalam proses pengkotaan ini dan konversi Arabesque menjadi baja dan kaca dan dari model gang beratap menjadi square.
Demikian pula, jika kontinuitas dalam contoh-contoh ini dipertahankan begitu saja, maka itu tidak lebih kreatif tetapi sekadar imitasi terhadap masa lampau. Dalam kasus ini, ia tidak mengungkapkan otentisitas apa pun. Ia tidak berbeda dari westernisasi. Keduanya sama-sama penjiplakan. Kehilangan jati diri dan alienasi dari unsur lain sangatlah merusak terhadap kota Arab.
Penciptaan kompleks inferioritas vis a vis Barat, menjadi korban dari mitos Barat yang menjadikan dari kebudayaan Barat suatu model universal bagi seluruh kebudayaan, terjatuh di bawah kekuasaan produksi-massa Barat dan industri konstruksi, dan sebagainya, ke semua perwujudan westernisasi ini merupakan akar tunggang dari drama kota Arab dewasa ini, yaitu, dikotomi dari dua kota: kota lama dan kota baru. Bersambung.
*Tulisan ini pernah diterbitkan di majalah Suara Muhammadiyah edisi Februari 2001.