Ekoliterasi, Titik Temu Ekologi dan Literasi

 Ekoliterasi, Titik Temu Ekologi dan Literasi

Saya sangat tertarik sekaligus terharu pada tema sekolah pemuda ekoliterasi yang disarikan oleh pegiat literasi dari pergumulannya, dari merawat obrolannya saban hari. Suara jernih itu dikerangkai dalam tema yang menggugat di hari sumpah Pemuda: Titik Temu Prakarsa Keadilan Iklim. Ada titik temu karena selama ini banyak hal dibiarkan terpisah, dipisahkan oleh gerak oligarki, atau oleh ego ekonomicus-antroposentris.

Selain titik temu ekologi dan literasi, pada sekolah pemuda ekoliterasi RBK ini mencoba menemukan banyak sekali tema dunia yang selama ini diceraikan dari pemikiran dan gerakan lingkungan diantaranya adalah mempertemukan agama dan lingkungan, ekologi dan agraria, iman dan lingkungan, gender dan iklim, gerakan sosial dan ekologi, kaum muda dan lingkungan, sekularisme dan islamisme dalam langgam ekologi, dan sebagainya.

Ekoliterasi dikenal dari gagasan Fritjof Chapra (2002) yang sejak 2013 silam dibaca, disinauni bareng, dan eksperimentasikan di Rumah Baca Komunitas. Ia memperkarakan gelagat ultra modernitas atau lebih halusnya skema modernisasi melalui pendekatan empirisnya dan ekosistemnya. Virus Rene Descrates “cogito ergosum” aku berfikir maka aku ada menjadikan modernitas dan masyarakat teknologi mengabaikan keadilan dan hak-hak alam. Kartesian atau rasionalitas mencetak watak masyarakat teknogis yang cenderung eksploitatif, destruktif, dan senang meresikokan alam/manusia. Selain di Rumah Baca Komunitas, IPM juga mempopulerkannya. Bahkan tiga tahun terakhir ini KHM mendayagunakan ekoliterasi sebagai fokus gerakan.

Titik Temu Ekologi dan Literasi

Dalam pemahaman penulis, literasi pasca reformasi mengalami perluasan spektrum bahkan literasi sendiri diartikan sebagai gerakan perebutan pengetahuan bukan hanya soal melek baca tulis sebagaimana literasi zaman orde baru yang mengalami defisit. Di era revolusi kemerdekaan gerakan intelektuali, gerakan pers anti kolonial jelas memberikan watak revolusi dan transformasi yang sangat kuat. Literasi bergerak di era kolonialisme kini dibangkitkan lagi pasca reformasi dalam arena pertempuran yang lebih luas baik luring maupun daring untuk memberkuasakan publik. Sebagaimana Unesco mendefinisikan, kini gerakan literasi nyaris adalah pengetahuan dan kapasitas manusia menyangkut seluruh segi kehidupan termasuk literasi lingkungan.

Di zaman oligarki ini, tentu saja dibutuhkan ribuan Multatuli yang menyuarakan derita alam semesta dan derita rakyat Indonesia. Sementara imperium oligarki berjingkrak karena kuasa paksanya selalu diaminkan wakil rakyat. Multatuli akan bilang lagi lebih nyaring: andai aku oligarki, pasti hari hari adalah pesta besar ke pesta besar, persetan dengan derita manusia di tengah wabah luka bumi yang kian merana.

Setidaknya ada tiga titik temu antara ekologi dan literasi. Pertama, keduanya dipertemukan oleh hakikat dan eksistensi pengetahuan. Pengetahuan adalah kekuasaan sehingga siapa memiliki pengetahuan akan mempunyai kuasa memakmurkan bumi atau menelantarkan bumi. Tuna literasi dan tak punya kepekaaan ekologi punya peluang besar membiarkan bumi rusak dan menjadi penonton atas segala bentuk skandal ekoterorisme yang notabene adalah terorisme bagi peradaban.

Emil Salim dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan majalah Prisma beberapa tahun silam mengafirmasi pentingnya pengetahuan dalam gerakan penyelamatan iklim. Selain Pak Emil menyerukan hadapi perubahan iklim seperti berperang, beliau juga secara kuat mendorong pentingnya ekoliterasi bagi kaum muda. Menurutnya, lemahnya pengetahuan (literasi) menjadikan banyak pihak yang jumlahnya mayoritas menjadikan abai terhadap isu krisis lingkungan, keadilan alam, dan keadilan antar generasi.

Kedua, titik temu ekologi dan ekoliterasi adalah demokratisasi. Ruang paling sempurna untuk gerakan ekologi dan literasi adalah demokrasi. Seiring zaman demokratisasi yang membonceng kebebasan termasuk memberikan ruang bagi suara alam untuk dijadikan argumentasi bagi pengambilan kebijakan politik pemerintahan. Adalah Vandhana Shiva, dalam buku earth demorcay, yang menurut penulis paling radikal menitiktemukan antara ekologi dan demokrasi bahkan terkait ekonomi budaya semua diekologikan sekaligus didemokratisasikan secara mutualisme. Intinya, demokrasi ekonomi dan demokrasi kebudayaan semuanya dapat diberlakukan tanpa menelantarkan hak-hak alam.

Terakhir, titik temu ekologi dan literasi adalah gerakan yang menjadikan keduanya memiliki interaksi dan resiprokasi sehingga ilmu lingkungan dan dampaknya pengetahuannya menjadi dinamis dan berkembang. Ekologi sudah eksis tetapi sistematisasinya dapat dibantu oleh kemampuan literasi suatu masyarakat. Sesungguhnya platform ekoliterasi ini sudah terlaluh sempurna untuk mengimajinasikan sebuah peradaban ekologis. Suatu peradaban yang lestari alamnya, lestari manusianya, lestari kebudayaannya. Tergambar jelas sebagai sebuah peradaban yang nir-oligarki dan nir-kapitalisme. Mungkinkah? Jika mau kita semua begitu, tidak ada yang tidak mungkin. Salam lestari, hijau berseri.

Bagikan yuk
Avatar photo

David Efendi

David Efendi adalah seorang akademisi dan peneliti di bidang ilmu pemerintahan yang aktif mengkaji relasi antara politik, masyarakat sipil, dan lingkungan. Ia mengajar sebagai dosen di Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan minat kajian yang mencakup politik lokal, gerakan sosial, demokrasi, serta tata kelola pemerintahan dan lingkungan.