“Rumput-rumput tumbuh dengan suburnya di tembok dan pagar rumah. Maklumlah, musim hujan telah tiba”.

Di antara masa pandemi covid-19 yang belum berakhir ini, kiranya ketersediaan air ini yang patut kita syukuri. Kita tidak khawatir kekurangan air. Protokol kesehatan mengindikasikan pentingnya ketercukupan air, baik untuk cuci tangan, maupun mencuci baju. Usai bepergian, langsung mandi dan ganti baju. Wajar bila tugas mencuci di masa pandemi ini harus lebih intens.

Mengapa tugas mencuci baju menjadi lebih intens? Karena kini tiap saat harus sering-sering ganti masker dan ganti baju. Adapun cuaca kan tidak menentu. Kadang panas disertai angin, sehingga cucian bisa cepat kering. Ada kalanya pula tidak ada panas dan tidak ada angin. Baju ditanggung tidak bakal kering. Ada pula saatnya hujan, sejak pagi, siang, sore, malam, hingga pagi lagi. Ditanggung cucian awet basahnya.

Kadang pula pagi panas, menjelang dhuhur mendung, sore hujan. Kadang panasnya saat menjelang sore, disertai angin, lalu malamnya hujan deras hingga pagi.

Pertanyaannya, kapan waktu terbaik untuk mencuci? Jawabnya selagi kita sehat, mencucilah. Lau jemurlah. Saat ada panas, segera keluarkan.

Kini kita kembali ke soal rerumputan. Konsekuensi logis turunnya hujan, tanam-tanaman tidak kekurangan air. Tumbuh dengan cepat. Rumput pun tumbuh pula. Kita pun perlu rajin membersihkannya agar halaman dan tanaman tetap indah dan elok dipandang mata. Saya beruntung berkesempatan membersihkan rumput di RBK. Jumat bersih.

Saya datang dengan membawa cethok. Saya fikir sapu lidi sudah ada, ternyata sapunya di sana sudah ‘prunthes’. Daripada balik ke rumah, saya ke rumah Pakde Muh, tetangga depan RBK. “Pakde, kulo ngampil dhingklik kaliyan sapu,” kataku pada Pakde Muh. “Nggih,” jawab Pakde Muh. Menantunya yang mengambilkan, sebelum akhirnya berangkat kerja di pom bensin.

Mencabut rumput dimulai. Yang tumbuh di tanah, sela-sela konblok, juga yang menempel di tembok.

Beberapa waktu kemudian, Pakde Muh mendekatiku sambil membawakan ember sampah dan cethok bengkong. Ah, aku baru mengetahui ada cethok semacam ini. Memudahkan mencukil rumput yang tumbuh di sela-sela konblok, atau pun di sela batu bata. “Matur nuwun, Pakde,” ucapku. “Niki mangke kantun nggeret,” jelas Pakde Muh. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih atas kepedulian beliau, “Nggih, Pakde, nuwun.”

Saat sudah terkumpul, tiba-tiba Adi datang membantu. Dia mengumpulkannya di ember sampah, lalu membuangnya. Pemuda asal Surabaya ini kuliah S2 di CRCS UGM. Beasiswa. Konsentrasinya studi tentang ekologi.

Tentu saja saya senang. Tugas Jumat Bersih bisa kelar, dibantu Adi. Kami pun diskusi hal ekologi. Kegiatan bersih-bersih merupakan bagian kegiatan ekologi yang penting. Bila anak kampus membahas ekologi dengan diskusi buku, berbeda dengan cara belajar masyarakat. “Masyarakat itu belajarnya dengan melihat begini,” kataku, “mereka komentar, nah gini kan bagus.. seolah rumah ini ada orangnya.” Ya, rumah yang ditempati RBK ini memang rumah kosong. Pemilik rumah, Pak Karno dan Bu Karno, sudah wafat. Putra-putrinya pun sudah menempati rumahnya masing-masing. Ada yang di Yogya, Klaten, Aceh, juga Dubai.

Jangankan orang lain, kita pun senang saat melihat rumah atau kebun terawat indah, bersih dan tertata. Inilah cara kita mensyukuri nikmat sehat, masih diberi kesempatan menghirup udara segar, melihat ulat dan cacing, juga capung dan kupu-kupu yang beterbangan. Maha Kuasa Dia Sang Pencipta.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

About The Author

Sri Lestari Linawati

akrab disapa Lina. Pegiat literasi ini adalah penggagas BirruNA, PAUD Berbasis Alam dan Komunitas. Aktif di RBK, Komite SDN Kanoman dan kini mengabdi sebagai dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link