Foto Mara Whyte, ilustrasi dari laman theguardian.com

Seperti Apa Puasa Para Vegan di Inggris, dan Apa Rencana Menu Mereka saat Idul Fitri?

Oleh: Remona Aly
Jurnalis

Akhir bulan berpuasa bagi umat muslim segera tiba. Makin dekat akhir Ramadhan, begitu pula dengan “Veganadan”, penerapan pola diet nabati yang berkembang pesat selama empat minggu. Saya ingin menutup bulan Ramadhan dengan mengkonsumsi sesedikit mungkin daging. Tetapi tantangannya adalah ketika menerima undangan untuk iftar, hidangan yang disantap oleh umat muslim setelah berpuasa sepanjang hari selama 18 jam (ada tambahan 40 menit bagi yang tinggal di Skotlandia). Sang tuan rumah tak segan-segan menyediakan jamuan yang sangat khas berupa samosa domba, kebab, hingga ayam panggang. 

Ketika saya di rumah, menu berbuka puasa yang tersedia sangat vegan; salad buah segar dengan mangga, frambos, blueberry, dan melon madu yang ditaburi oleh potongan kurma, ditemani sepiring kacang polong yang digoreng dengan biji jintan dan dal kari serta terong kari. 

Masyarakat muslim pada abad ketujuh jarang makan daging. Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW lebih banyak mengkonsumsi jelai dan kurma. Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi, berkata: “Dan janganlah menjadikan perutmu sebagai kuburan bagi hewan-hewan”. Umar bin Khattab memperingatkan untuk melawan kecanduan daging. Tampaknya hal ini tidak berlaku bagi masyarakat muslim di Inggris yang meskipun hanya berjumlah 4,6% dari total populasi, mengkonsumsi lebih dari 20% daging domba dan kambing

Tukang daging halal biasanya meningkatkan jumlah penjualan daging selama Ramadhan, bulan yang sangat spiritual dan paling hemat dalam kalender Islam. Hasrat untuk menjauhi gaya hidup penuh kenikmatan adalah alasan utama mengapa veganisme menjadi populer. Gaya hidup semacam ini lebih sehat, etis, dan konon katanya, lebih Islami. Inisiasi Muslim Vegan (VMI) yang didirikan oleh dua orang muslim vegan asal Kanada dan Australia, mengatakan: “Jika umat Islam hendak menjadi kontributor yang relevan dan positif bagi masa depan planet bumi, maka syaratnya adalah menggeser paradigma dalam memperlakukan dan mendekati makanan.”  

Anita Nayyar, anggota VMI yang berusia 37 tahun, adalah seorang mualaf dalam Islam maupun veganisme. Dia menjadi vegan sekitar dua setengah tahun yang lalu tatkala mendengar kisah tentang Nabi Muhammad SAW yang menegur seorang sahabat karena mengambil seekor bayi ayam dari induknya yang menderita. “Nabi berkata tentang unggas seolah-olah dalam tutur khas yang dikenal manusia, bahwa hewan pun memiliki perasaan yang serupa dengan manusia.” jelas Anita. Saya mempertimbangkan hal serupa ketika membayangkan seperti apa perasaan sapi perah induk yang menangis saat dipisahkan dari anaknya, sehingga kita bisa mengambil susu. Anita mengatakan bahwa umat muslim mengabaikan kondisi penting supaya daging menjadi halal. Tidak sekedar harus disembelih sesuai tata cara Islam, melainkan juga harus berada dalam kondisi tayyab (murni dan sehat). “Saat kita makan daging hewan yang menderita atau hidup di dalam kandang sempit, berarti kita tengah memasukkan perasaan trauma ke dalam tubuh kita” ujarnya. “Sebagai contoh, saat menyantap chicken wing, kita wajib mempertimbangkan bahwa ketika hidup sang hewan mungkin belum pernah melihat cahaya matahari sedikit pun. Apakah itu Islami?” 

“Sejak menjadi seorang vegan, saya mampu terhubung dengan keyakinan secara lebih baik dan saya merasa tenang dalam batin.”

Anita juga merasa lebih enteng dalam urusan perut. Dia berbuka puasa dengan menu Baba Ganoush, Hummus, dan Kari Kacang Merah berbumbu paprika, cabe, bawang merah, bawang putih, dan jahe, beraroma ketumbar. 

Minggu depan, ketika Ramadhan ditutup dengan perayaan Idul Fitri, Nayyar akan menjadi tuan rumah pesta minum teh di kebunnya bagi para mualaf yang tidak bisa berlebaran bareng keluarga non-muslim mereka. Dia biasanya memanggang kue coklat vegan ala Nigella Lawson. Tetapi tahun ini dia hendak mencoba sebuah resep dari situs blog One Arab Vegan, yakni Kue Kurma Karamel, dengan menghabiskan seluruh sisa kurma yang biasanya digunakan untuk berbuka puasa. Saya juga pengen mencicip resep lain dari situs yang sama, yakni Donat Vanili Saffron yang disiram lapisan beraroma mawar, taburan bulir delima, dan kacang pistachio. Resep-resep ini membuat daya tarik vegan sangat mudah dipahami.

David Stelzer, seorang pemberi pelayanan pelanggan profesional berusia 30an, berasal dari Singapura dan sekarang menetap di London Utara, memutuskan menjadi vegetarian separuh waktu pada akhir Ramadhan, tapi kemudian menjalankannya sepanjang tahun. Dia mempertahankan kebiasaan tersebut hingga kini.  “Berat badan saya turun, perut saya terasa enteng, dan tidur lebih baik” ujarnya. Stelzer sahur dengan bubur bertabur kurma, ara, kacang, pisang, dan sesendok selai kacang. Selama seminggu, dia berbuka puasa dengan hidangan oriental seperti, mie, sayuran, dan tahu. Stelzer menjadi vegan karena alasan murni kesehatan. Sebagaimana diungkapkannya sendiri bahwa veganisme membantunya fokus beribadah dan bermeditasi. Saya bertanya apakah ia akan menghindari makan daging saat lebaran? Dia menjawab, “Mungkin itu akan menjadi hari libur vegan saya.”

Dawud Marsh, tinggal di London Timur, mengatakan tidak pernah makan daging selama 35 tahun. Bersama istrinya, ia menjalankan proyek untuk orang-orang dewasa difabel. Dawud menjadi mualaf sebelas tahun yang lalu. Menurut Dawud ada kecocokan antara menjadi seorang muslim sekaligus menjadi seorang vegan. “Produksi daging punya dampak negatif yang besar terhadap Bumi. Islam berkaitan dengan transformasi menjadi lebih baik, dan ketika saya menjadi muslim, cara pandang demikian sangat cocok.”

Sebagai seorang veteran Vegan, Marsh ingat bahwa ia harus puas dengan makanan sederhana (dan membosankan) seperti beras merah dan pasta cokelat. Dia bahkan menggiling sendiri tepung kedelainya. Lebaran kali ini dengan pilihan yang lebih beragam, dia menantikan nasi Biriyani. Dia juga menantikan gateau piment buatan istrinya, sejenis hidangan tradisional khas Mauritania, bola goreng renyah berbahan kacang polong, bawan bombai, dan ketumbar cincang halus, yang dipanggang dengan cabe hijau atau merah.

Seorang vegan muslim yang lebih baru bernama Mara Whyte, mahasiswa asal Birmingham berusia 23 tahun. Dia memutuskan menjadi seorang vegan setelah nonton film dokumenter Netflix tentang produksi makanan berjudul What the Health pada suatau malam tahun 2017. Saat ini dia aktif membagikan leaflet tentang veganisme dan kue vegan setiap akhir pekan di pusat kota. Banyak orang tertarik dengan apa yang dilakukannya, terutama karena dia adalah seorang muslim Inggris keturunan Pakistan yang hidup di antara sekelompok ateis kulit putih. “Orang-orang Islam mendatangiku dengan penasaran, mereka bertanya, mengapa aku terlibat dalam kampanye hak-hak hewan sementara banyak orang sekarang karena kelaparan di seluruh dunia. Mereka memang tidak tahu bagaimana kedua hal itu berkaitan, dan bagaimana gandum yang diproduksi oleh negara-negara berkembang sebagai pakan ternak telah menghabiskan sumber daya dan lahan mereka, mengakibatkan jutaan orang kelaparan. Saudara laki-lakinya bahkan ikut menjadi seorang vegan karena kesungguhannya itu. Untuk berbuka puasa, mereka menyantap salad buah segar dan Chana Chaat yakni salad buncis dan kentang yang maknyus bercampur kacang merah dan cincangan bawang putih.

Lebaran nanti, Whyte akan mengunjungi sanak famili dan kawan-kawannya, yang selalu menyediakan menu kari vegan secara khusus untuknya. Pernah suatu kali saat Whyte meminta hidangan vegan, dia disuruh mengambil kentang dari kari daging sapi. Begitulah kisah dan pengalaman para vegan.    

*artikel ini dialihbahasakan oleh Fauzan AS dari https://www.theguardian.com/food/2019/may/30/you-are-what-you-eid-ramadan-for-vegans (2 Juni 2019)

Mari Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rumah Baca Komunitas

MEMBACA | MENULIS | MENANAM

---

Rumah Baca Komunitas merupakan perkumpulan independen yang mempromosikan pengetahuan, kerja kolaboratif dan emansipatif terkait isu perbukuan, komunitas, dan lingkungan hidup