Ketika masih berusia 8 tahun, Greta Thunberg kecil sudah sering dibiasakan oleh orang tuanya untuk lebih menghemat listrik dan tidak menggunakan kertas secara berlebihan, demi mencegah perubahan iklim. Hal-hal kecil dan sederhana yang dibiasakan dalam keluarganya tersebut,secara tidak langsung berhasil menanamkan benih-benih kecintaan seorang Greta terhadap kelestarian Bumi, terutama pada isu perubahan iklim.

Di usianya yang beranjak dewasa, Greta semakin serius dalam menyikapi isu perubahan iklim.Melakukan aksi di depan gedung Parlemen Swedia menjadi aktifitasnya setiap hari Jumat.  Dengan slogan bertajuk Friday for Nature, Greta dan teman-temannya sering bolos sekolah untuk melakukan aksi demonstrasi, menyuarakan keprihatinannya akan perubahan iklim yang semakin nyata.Bagi Greta, “kenapa aku harus belajar untuk masa depan yang mungkin tidak ada lagi, ketika tidak ada satu orang pun yang bergerak untuk menyelamatkan masa depan?”

Aksi demonstrasi yang dilakukan Greta pun mendapat sorotan media. Alhasil, seluruh dunia mendengar suara yang digelorakan oleh Greta. Ia pun hadir sebagai motivator yang memotivasi remaja di negara lain dalam melakukan hal serupa, menyuarakan kegelisahannya terhadap ancaman krisis iklim,mengajak semua orangmelakukan aksi penyelamatan bersama terhadap bumi sebelum terlambat.

Jika di Swedia, Greta hadir sebagai sosok pahlawan yangmengpengaruhi banyak orang agar peduli dengan keselamatan planet bumi. Di Indonesia, hal tersebut tidak ketinggalan. Menjelma dalam bentuk tumbuhan yang tumbuh secara liar di hutan dan merepresentasikan budaya masyarakat setempat. Tumbuhan sagu (Metroxylon sp.) hadir sebagai salah satu tumbuhan tropika yang berperan penting dalam mengatasi ancaman krisis iklim.

Secara ekologi, sagu merupakan tumbuhan palem tropika basah, memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar, air payau, dan lahan gambut.Kisaran habitat tumbuhnya cukup lebar, mulai dari lahan tergenang sampai dengan lahan kering, di dataran rendah, dan pesisir pantai. Pada habitat beragam itu tumbuh berbagai spesies sagu.MichielFlach (1983) menyebutkan bahwa habitat tumbuh yang baik untuk pertumbuhan sagu adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam, kaya mineral dan bahan organik, air tanah berwarna coklat dan bereaksi agak masam.

Sebagai habitat yang cocok bagi tumbuhan sagu, lahan gambut sebagaimempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, flora dan fauna yang berada diatas dan di sekitarnya. Lahan gambut merupakan sistem penyangga kehidupan dan berfungsi sebagai pengendali iklim global.

Namun, akhir-akhir ini pemanfaatan lahan gambut telah menimbulkan perdebatan hangat, karena di satu sisi merupakan suatu kebutuhan dan mampu memberikan keuntungan ekonomi, tetapi di sisi lain telah menimbulkan kerusakan lingkungan, berupa pencemaran udara dari asap kebakaran, penyusutan keanekaragaman hayati, kerusakan tata air, dan peningkatan emisi CO2 yang ikut berperan menimbulkan pemanasan global.

Menurut Herman (2016),Indonesia memiliki lahan gambut cukup luas dan diperkirakan sekitar 50% areal lahan gambut tropis berada di Indonesia. Sebagian besar lahan gambut telah digunakan untuk berbagai keperluan terutama untuk lahan pertanian dan hutan tanaman industri. Namun, dalam proses penggunaannya sebagian tidak memenuhi kaidah-kaidah keberlanjutan, sehingga mengalami kerusakan.

Selain sebagai pahlawan ekologi di Indonesia, peran yang tidak kalah penting dari pohon sagu adalah sebagai penyedia sumber bahan makanan pokok. Sagu memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang kaya karbohidrat.Bahkan, masyarakat pengonsumsisagu sudah sejak lama memanfaatkan pati sagu sebagai makanan sehari-hari.

Tetapi, kebijakan revolusi hijau pada masa orde baru yang bias beras mengakibatkan perubahan pola konsumsi masyarakat beralih dari pati sagu ke beras. Kebijakan bias beras yang mengharuskan seluruh masyarakat Indonesia harus makan nasi, telah menggeser sagu sebagai sumber pangan ke pinggiran. Kebijakan bias beras ini terus berlangsung di era Presiden JokoWidodo, yang salah satu impiannya ialah mencetak sejuta hektar sawah baru. Pangan lokal pun terlupakan, termasuk sagu.

Keberadaan sagu yang melimpah tersebut kemudian mulai dilirik ketika ancaman krisis iklim semakin nyata dan berdampak pada ancaman krisis pangan.

Ahmad Arif (2018), menjelaskan bahwa sagu yang sebelumnya diabaikan, telah diakui berbagai peneliti sebagai sumber pangan alternatif seiring dengan terjadinya perubahan iklim yang mengancam produktivitas biji-bijian yang selama ini menjadi sumber pangan utama. Sagu diketahui memiliki fleksibilitas penggunaan dan juga banyak kandungan nutrisi, baik yang bisa menjadikannya sebagai salah satu pangan fungsional, maupun produk olahan, serta berbagai fungsi lain seperti bahan baku gula dan bioethanol.

Untuk itu, di tengah ancaman krisis iklim yang berdampak pada menurunnya produktivitas pangan, keberadaan potensi sagu perlu diperhatikan. Karena, di satu sisi keberadaan sagu dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, di sisi lain sagu dapat berkontribusi dalam mengendalikan dampak perubahan iklim. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sagu dengan segala manfaatnya hadir sebagai solusi untuk menjawab persoalanyang berjalin kelindan tersebut.

Dengan demikian, potensi sagu dengan segala manfaatnyaharus tertanam dalam diri setiap manusia, menjadi sumber penghidupandan berkontribusi dalam mengatasi ancaman perubahan iklim. Artinya,manusia harus menerapkan filosofi sagu dalam hidupnya,menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama manusia, maupun terhadap alam.

Hal inilah yang tergambar dalam jiwa seorang Greta Thunberg, walaupun mengidap sindrom Asperger, tidak lantas mengurungkan niatnyamenyuarakan kegelisahan atas kehidupan dari ancaman krisis iklim. Meminjam kalimat Bunda Teresa, “hidup tidak akan berharga jika tidak bermanfaat bagi orang lain”. Maka, kehadiran Greta ibarat pohon saguyang tumbuh di lahan-lahan marjinal tetapi memberikan sejuta manfaat.

Di dalam pikiran, saya kemudian bertanya, apakah Greta mengetahui tumbuhan sagu? Jika ia mengetahui tumbuhan sagu, apakah ia tahu bahwa Indonesia adalah penghasil sagu terbesar di dunia?

Mungkin saja, Greta tidak mengetahui bahwasanya pohon sagu tumbuh melimpah di Indonesia dengan beragam manfaatnya. Sebagai sumber makanan layaknya masyarakat Maluku mengkonsumsi papeda dan sagu lempeng, seperti orang Makassar mengkonsumsi sinole dan kapurung, atau orang Gorontalo mengolahnya menjadi ilabulo.Atau, Greta mungkin tidak mengetahui bahwasanya di Papua, sagu menjadi simbol identitas masyarakatnya.Tetapi, bersemayam di dalam tubuh Greta terdapat jiwa-jiwa sagu, hadirsebagai pemberi manfaat bagi kehidupan di tengah ketidakmungkinan.

Jika di Swedia, Greta dengan lantang menyuarakan kegelisahannya terhadap perubahan iklim yang menggema ke seluruh penjuru dunia. Maka, di Indonesia, sagu hadir sebagai sumber penghidupan bagi warga dunia dari ancaman krisis pangan dan krisis iklim yang semakin nyata.

Komentar Pecinta RBK
Berbagi

Kuy, Kepoin RBK

Dapatkan berita dan info terbaru dari Rumah Baca Komuitas
SUBSCRIBE
close-link